Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Hanes dan Sandra


__ADS_3

Hanes membopong tubuh Cherin untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat karena kondisinya tiba-tiba drop. Aliran darah di bagian paha nya terus keluar, sedangkan tubuhnya berkeringat dingin dan Cherin tidak berhenti merintih. "Sayang ... kamu harus bertahan!" Hanes menggenggam tangan Cherin seraya fokus mengemudi. Setelah mendapatkan rumah sakit yang tidak terlalu besar dari rumah sakit tempat Dokter Amira, Hanes buru-buru keluar dan membopong tubuh Cherin kembali agar segera di tangani di UGD.


Entah harus bagaimana Hanes bersikap karena tidak diperbolehkan masuk saat Dokter memeriksa keadaan Cherin. Dia sangat khawatir bahkan rasanya ingin sekali menghajar orang saat ini juga karena cukup lama lama Cherin di UGD bahkan Hanes tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mondar-mandir dan menitikkan air matanya.


"Tuhan ... tolong selamatkan istri dan anakku," jerit Hanes dalam hati seraya mengepalkan kedua tangannya. "Wanita itu harus diberikan pelajaran!" ucap Hanes dalam hati.


Memang selama menikah dengan Hanes, Sandra merawat ibunya yang sakit stroke karena kematian Nenek Hanes yang tiba-tiba. Kabar kemandulan Hanes saat itu benar-benar membuat keluarganya jadi kacau. Bahkan Ayahnya tidak mau bertemu dengan Hanes karena menyalahkan Hanes yang sering mabuk juga seorang pengguna saat masa remaja. Terlebih lagi setelah Neneknya meninggal. Hanes menjadi orang yang paling disalahkan.


Sandra yang mencintai Hanes hampir setiap hari pergi ke rumah orang tua Hanes untuk merawatnya. Bahkan orang tua Hanes meminta Sandra agar bercerai dengan anaknya, tetapi Sandra kekeh tetap ingin hidup bersama Hanes. Sandra benar-benar bisa merebut hati Ayah Hanes dengan selalu membantu menjaga dan merawat Ibu mertuanya padahal ada seorang suster juga yang menjaga.


Namun karena kebohongan Sandra terbongkar, Hanes menggugat cerai Sandra tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Padahal kedua orang tuanya sangat menyayangi Sandra karena Ibu Hanes saat ini kondisinya semakin membaik. Itu juga di cap sebagai jasa Sandra.


Walaupun alasan Sandra adalah cinta, tetapi karena kebohongannya, Nenek Hanes meninggal, ibunya stroke dan ayahnya membenci Hanes. Namun Hanes masih memberikan hartanya hampir 30% pada Sandra sebagai tanda terima kasih karena Sandra terus mengungkit jasa merawat ibunya yang stroke, padahal semua itu juga salah Sandra.


Rasanya Hanes benar-benar ingin menjerit atas apa yang telah dilakukan Sandra. Andai kali ini dia kehilangan anak bahkan istrinya, Hanes benar-benar berpikir akan membunuh wanita itu.


"Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Hanes buru-buru menghampiri Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.


"Pasien harus segera melakukan operasi caesar, Pak. Tapi di rumah sakit ini sedang terkendala alat. Jadi kamu akan merujuk rumah sakit lain ya?" Seketika itu Hanes langsung lemah. Bagaimana bisa Cherin harus caesar padahal usia kandungannya bahkan belum genap sembilan bulan.


Tanpa menunggu lagi, Hanes segera memenuhi prosedur rujukan Cherin dan pergi menggunakan ambulans. Cherin tidak sadarkan diri saat di dalam ambulan. Hanes benar-benar terpukul bahkan terus memegang tangan juga perut Cherin dengan penuh penyesalan. Andaikan dia tidak menuruti kemauan Cherin untuk membeli es krim, pastilah kejadian ini tidak akan terjadi.

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti kuat. Kamu bisa melalui semua ini, hm?" bisik Hanes dengan suara yang berat.


Tiba di rumah sakit rujukan, ternyata rumah sakit itu adalah rumah sakit Dokter Amira dan tiba di UGD, Dokter Amira telah menyambut brankar Cherin kemudian segera masuk ke ruang operasi setelah memberikan sepatah kata agar Hanes tenang.


"Kenapa dengan istrimu?" tanya Erlan tiba-tiba duduk di sisi Hanes. Secara kebetulan tadi Erlan melihat Hanes mendorong brankar Cherin saat di pintu masuk. Jadi Erlan segera menghampiri Hanes.


"Dia harus caesar. Tadi di dorong jatuh sama mantan istriku," jelas Hanes tentu membuat Erlan terkejut.


"Sabar! Kamu harus kuat karena kekuatanmu juga kekuatan untuk istrimu. Aku doakan semoga semuanya selamat," kata Erlan seraya menepuk bahu Hanes.


"Thanks!" jawab Hanes lirih.


Erlan pun menemani Hanes hanya beberapa menit saja karena Diandra harus kembali belajar berjalan dan berjanji akan kembali lagi setelah selesai dengan mengajari Diandra berjalan.


"Tapi kondisi kamu masih lemah, Sayang!" Seberapa keras Erlan menolak, sekeras itu juga Diandra memaksa. Akhirnya Erlan pun menuruti permintaan Diandra dan membawanya ke tempat Hanes menunggu Cherin menggunakan kursi roda.


"Kenapa kesini? Kesehatan Nona Diandra juga belum pulih," tanya Hanes sebenarnya tidak heran jika Diandra memaksa untuk datang.


"Bagaimana Mbak Cherin, Tuan? Bagaimana ini bisa terjadi?" Diandra balik bertanya karena sangat khawatir dengan kondisi Cherin juga bayinya.


"Aku sendiri nggak tahu kenapa ini bisa terjadi. Mantap istriku mendorong kursi roda Cherin hingga dia jatuh bahkan tertimpa kursi roda. Dia juga pendarahan, makanya harus segera caesar," papas Hanes semakin membuat Diandra khawatir.

__ADS_1


"Mbak Cherin ... Mbak pasti kuat. Mbak dan anak Mbak pasti baik-baik aja kan?" kata Diandra menatap pintu ruang operasi.


"Sayang, kamu nggak boleh lama-lama disini. Kamu juga harus ingat kesehatan kamu, Sayang," ucap Erlan.


"Iya, Nona. Nona harus segera kembali. Nanti kalau Cherin udah keluar, pasti akan aku beritahu," sahut Hanes.


"Baiklah. Tolong beri kabar apa pun itu tentang kondisi Mbak Cherin," jawab Diandra dan Erlan pun mendorong kursi roda istrinya untuk kembali ke kamar inap. Tidak bisa dipungkiri jika Erlan juga khawatir dengan kondisi Cherin. Apalagi anak yang dia kandung begitu diharapkan oleh Hanes.


...***...


Pagi-pagi setelah sarapan dan minum obat, Diandra belum juga mendapatkan kabar dari Hanes tentang kondisi Cherin juga anaknya. Erlan sendiri mencari keberadaan Hanes, tetapi tidak ketemu. "Kenapa nggak tanya resepsionis sih, Mas?" bentak Diandra membuat Erlan cengengesan karena kebodohannya.


"Astaga ... maaf, Sayang! Aku nggak kepikiran hehe ...." Diandra hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali menanggapi kebodohan CEO yang terkenal itu. Kenapa bisa-bisanya dia mencari keberadaan Hanes hanya dengan mencari keberadaan tanpa bertanya ke bagian resepsionis.


"Emang di telepon juga nggak bisa?" tanya Diandra lagi dan kembali membuat Erlan cengengesan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.


"Ya ampun ... Mas! Kamu tuh mikir apa sih? Sekarang cepet telpon dan antar aku kesana!" Erlan segera menganggukkan kepalanya dan meraih ponsel yang ada di saku celana. Namun sayangnya beberapa kali panggilan itu terhubung, Erlan tidak mendapatkan jawaban dari Hanes. "Gimana?" tanya Diandra lagi.


"Nggak diangkat, Sayang. Aku ke bagian resepsionis dulu aja ya?" Erlan hendak keluar, tetapi ternyata secara bersamaan Hanes masuk ke ruang rawat Diandra. "Kenapa nggak angkat teleponku?" tanya Erlan, tetapi raut wajah Hanes membuat Erlan dan Diandra semakin khawatir.


"Tuan, nggak terjadi apa-apa kan dengan Mbak Cherin dan anaknya?" tanya Diandra dengan nada berat. Hanes hanya tertunduk. "Tuan, jawab!" teriak Diandra, tetapi Hanes semakin menundukkan kepalanya.

__ADS_1


........


__ADS_2