
Cherin benar-benar menikmati permainannya dengan Erlan. Keduanya begitu semangat dan saling berbalas permainan panas. Kini hanya tinggal sisa kain segitiga yang ada di tubuh mereka berdua. Pengaruh obat yang dimasukan Cherin benar-benar membuat malam itu begitu indah.
"Aku benar-benar mencintaimu, Diandra. Sangat mencintaimu," ucap Erlan berkali-kali mengatakan cinta, tetapi salah sasaran.
"Aku juga mencintaimu, Erlangga. Sangat mencintaimu. Ah! Aku nggak kuat. Ayo kita melayang bersama, Sayang!" ucap Cherin di tengah hasratnya yang telah memuncak.
"Dengan senang hati, Diandra. Terima kasih mau menerima cintaku, Sayang! Ah!" desah Erlan semakin bergairah memainkan dua benda kenyal milik Cherin. "Kenapa aku merasa benda ini berbeda, Sayang? Apa karena aku mabuk?" tanya Erlan yang bergantian menyesap gunung kembar milik Cherin. Namun Cherin tidak menghiraukan desahann Erlan.
"Jangan pikirkan itu. Kita pindah ke kamar yuk? Disini nggak bebas," ucap Cherin seraya meniup telinga Erlan.
__ADS_1
Erlan pun membopong tubuh Cherin. Namun seperdetik kemudian wajahnya mendapatkan bogeman dari Jio. Seketika tubuh Cherin dan Erlan tersungkur ke lantai.
"Brengsekk! Mau mati, lo?" teriak Erlan mengusap ujung bibirnya yang berdarah. Lagi-lagi Jio memberikan pukulan keras di pipi lainnya. "Serjio!" teriak Erlan lagi, tetapi Jio tidak merespon lalu membantu Erlan bangun. Sayangnya bukan benar-benar membantu, tetapi untuk memberikan pukulan di perutnya.
"Jio! Kamu gila ya? Hentikan!" teriak Cherin mendorong tubuh Jio. Bukannya berhenti, Jio kembali mendaratkan pukulan di perut Erlan. "Serjio! Berhenti!" teriak Cherin lagi. Akhirnya Jio berhenti dan menyunggingkan senyum menatap Cherin.
"Memang kenapa? Baru kekasih, bukan istri. Erlan sahabatku, jadi aku rasa dia mau berbagi tubuh wanita murahann seperti kamu. Itung-itung aku belajar. Kamu mau? Milikku tidak kalah jantan dengan milik Erlan. Ayo Cherin, tubuhmu membuat tubuhku panas dingin," kata Jio terus melangkah dan hampir menempel pada tubuh Cherin yang hanya menggunakan kain segitiga di bagian intimnya.
"Brengsekk! Menjauh dari istriku!" Erlan bangkit dan memberikan pukulan di wajah Jio walaupun tidak begitu keras.
__ADS_1
"Lo, bajingann! Sadar! Dia Cherin, bukan Diandra istri lo," teriak Jio mencoba menyadarkan Erlan yang berdiri saja tidak bisa tegak. Nafas yang memburu membuat Erlan menampar pipinya sendiri berkali-kali demi bisa memfokuskan pandangan dan menatap wanita di sisinya. Retina matanya tidak bisa melihat dengan jelas wanita itu Cherin atau Diandra.
Jio segera bangkit dan mengambil botol air mineral yang atas di atas meja. Segera Jio membuka botol itu dan menyiramkan airnya. "Sadar, Bajingann! Lo bilang cinta Diandra tapi tidur dengan kekasih gelap lo ini, hah!" Jio benar-benar tidak habis pikir dengan Erlan yang menurutnya plin-plan.
Erlan pun mengusap wajahnya yang basah dan kembali menatap wanita di sisinya yang sedang gemetar ketakutan. Kini Erlan bisa melihat dengan jelas wajah Cherin yang sedang memelas. "Aku benar-benar bodoh bisa dua kali terjebak akal bulus kamu. Aku harap aku nggak akan pernah bertemu lagi denganmu, atau aku akan menghancurkan karier yang kamu banggakan itu. Sialann!" Erlan mengepalkan kedua tangan bahkan mengeraskan rahangnya untuk menahan gejolak amarah di dada.
Jio memberikan pakaian Erlan yang berserakan di lantai. Segera Erlan memakainya dan pergi dari apartemen Cherin. "Aku akan cari cara lain, Erlangga. Kamu nggak bisa menampakkan ku begitu saja," gumam Cherin sesaat setelah pintu apartemennya tertutup.
........
__ADS_1