
Pagi ini Ezra bangun lebih cepat dari biasanya. Bahkan matahari saja belum muncul untuk menghangatkan seisi bumi. Sebenarnya Erlan dan Diandra masih sangat mengantuk. Apalagi Diandra yang kecapean meladeni suaminya beberapa kali.
"Duh, jam berapa sih, kok Ezra udah bangun aja! Ayah masih ngantuk nih! Masih gelap juga diluar," keluh Erlan yang merasa terganggu dengan ocehan anaknya. Sejak beberapa menit yang lalu, Ezra pindah tidur yang mana dia ada ditengah-tengah orang tuanya. Merasa masih malas, Erlan pun memunggungi sang anak.
Semakin hari perkembangan Ezra semakin meningkat. Celotehan anak itu semakin banyak walaupun hanya hu-ha saja. Diandra yang mengulurkan jarinya agar di pegang oleh Ezra akhirnya memberikan cubitan pada Erlan. "Bisa-bisanya anak sendiri digituin." Erlan pun kembali menghadap Ezra.
Pertengkaran mereka berdua membuat Ezra seperti akan menangis. "Cup ... cup ... anak Ayah, kenapa? Mau main-main ya? Mau diajak ngobrol ya?" kata Erlan berusaha membuat Ezra gagal menangis. Ternyata tidak semudah itu karena Ezra malah benar-benar menangis.
"Cayang Ibu, mau enen ya? Sini yuk enen yuk!" Diandra meraih tubuh Ezra kemudian mengeluarkan gundukan ASI dan langsung dilahap oleh Ezra.
"Aku juga mau dong! Aku yang sebelahnya, Sayang," pinta Erlan dan satu tangannya sudah meremass satu gundukan kenyal milik Diandra yang masih tertutup piyama.
"Mas! Kok kamu nggak malu sih dilihat anak kita?" Diandra yang kesal langsung menepis tangan Erlan. "Pake baju dulu sana! Bisa-bisanya kamu berebut ASI dengan anak sendiri!" sambung Diandra lalu kembali fokus pada Ezra yang mulai menutup matanya. Sepertinya anak itu kembali mengangguk.
"Kenapa sih! Sebelum dia, aku yang berkuasa loh. Jadi nggak boleh protes! Tuh liat, ih anak kita udh mau bobo lagi, yes! Aku harus dapat imun sebelum berangkat kerja." Erlan terus menatap Diandra dengan senyum manisnya hingga Diandra salah tingkah.
"Ih ... Mas! Jangan liatin aku kayak gitu!" Diandra pun memutar tubuhnya karena bisa saja kedua pipi itu menjadi merona karena Erlan.
"Em ada yang malu-malu nih! Istriku malu-malu tapi mau kan?" goda Erlan tepat berbisik ditelinga Diandra hingga bulu kuduknya berdiri.
"Mas!"
"Iya, Sayangku ... Cintaku ... Istriku ... ada apakah!" jawab Erlan, tetapi suara manja itu malah membuat Diandra semakin salah tingkah. Untungnya Ezra benar-benar kembali tidur. Perlahan Diandra bangkit dari kasurnya dan berjalan menuju box tempat tidur Ezra lalu menidurkan anaknya disana.
"Kamu tuh ya, jail banget sih!" protes Diandra seraya mencubit lengan Erlan. Namun bukannya kesakitan, Erlan menarik tubuh Diandra hingga jatuh di atas tubuh Erlan. "Mas!" Diandra hampir saja meninggikan suaranya karena terkejut dengan perlakuan Erlan.
"Jangan berisik! Anak kita bisa bangun nanti. Lagian masih gelap, mau berjemur juga matahari mungkin nggak muncul karena semalam hujan deras." Erlan mulai melancarkan aksinya dengan memberikan kecupan singkat di bibir Diandra pertanda dia tidak boleh banyak bersuara.
Diandra pun menurut. Keduanya saling menatap dan lama-kelamaan Diandra bisa merasakan bagian bawah Erlan semakin mengeras. Padahal mereka baru saling bertatap mata saja.
__ADS_1
"Udah, ah! Aku mau siapin keperluan Ezra sama keperluan kamu, Mas." Diandra hendak beranjak dari tubuh Erlan, tetapi jelas saja Erlan tidak membiarkan tubuh itu pergi begitu saja. Erlan pun membalikkan badan dan kini posisinya ada di atas tubuh Diandra.
"Satu ronde aja, Sayang. Cuma sebentar!" kata Erlan segera melumatt bibir manis Diandra. "Emh ... emh!" desahh Erlan pun lolos. Dia tidak mau membuang waktu karena takut sebelum tuntas, anaknya bangun. "Ah, Sayang! Aku sangat menginginkanmu, emh!" kata Erlan kembali menggoda sang istri seraya melepaskan semua pakaian Diandra dan bermain panas tanpa mengeluarkan banyak suara.
Beruntungnya hingga tiga puluh menit kemudian, Erlan meregang dan terkapar lemas di sisi Diandra yang juga sedang mengatur napasnya yang masih memburu. "Abis ini ajak Ichan keluar, Mas! Kalau nggak muncul juga mataharinya ya bawa masuk lagi aja," kata Diandra yang masih terlihat kelelahan.
Erlan melirik Ezra, lalu melirik jendela kamarnya yang ternyata sudah mulai terang. Namun Erlan masih enggan beranjak dan malah kembali memeluk Diandra yang mana keduanya masih sama-sama polos.
"Mas, kalau kamu kayak gitu, bisa-bisa kamu minta lagi nanti. Sanaan, ah!" usir Diandra hendak melepaskan pelukannya.
"Nggak pa-pa sih! Kan anak kita juga masih tidur. Kita nggak tau loh kapan kesempatan manja-manjaan begini. Nyaman banget rasanya, Sayang. Kamu wanita yang sangat hebat bisa melayani suami dengan baik sekaligus mengurus anak sendiri. Pasti berat ya?"
Tiba-tiba Diandra menjadi terharu karena Erlan tahu pasti apa yang dia rasakan. Awalnya memang berat mengurus anak sendiri tanpa baby sitter karena dia ingin menikmati masa-masanya menjadi seorang ibu yang baik. Kali ini dia juga harus mencuri waktu agar bisa melayani suaminya, tentu saja itu bukan hal yang mudah ditengah-tengah lelahnya mengasuh anak kemudian harus memuaskan suami.
"Nggak, Mas! Semuanya akan ringan atas dukungan dari kamu. Aku akan menikmati semua proses ini, Mas! Hanya satu kali aku akan merasakan masa ini," jawab Diandra kini membuat Erlan sedih. Bagaimanapun memang Diandra tidak akan bisa hamil lagi. Namun ada sisi baiknya dari semua kesedihannya, yaitu Diandra tidak merasakan rasa sakit lagi. Dia sudah bebas dari semua rasa sakit yang menyiksanya.
"Hm. Aku akan selalu mendukungmu, Sayang. Gimana kalau kita nanti jalan-jalan? Aku akan pulang lebih cepat," tawar Erlan membuat Diandra berpikir.
"Hm, iya juga. Nanti kalau udah boleh dan kamu pengen pergi ke suatu tempat, bilang ya? Biar kamu juga nggak bosen di rumah terus. Ezra juga harus tau dunia luar. Syukur-syukur ketemu jodohnya nanti," ledek Erlan langsung mendapatkan cubitan.
"Bikin kesel deh! Bayi baru lahir udah kamu pikirin jodohnya. Biar dia cari sendiri, jangan dijodohkan-jodohkan segala."
"Kita aja hasil perjodohan, tapi bahagia banget!"
"Ya beda, Mas! Awalnya kan terpaksa, bukan cinta! Biar anak kita cari cintanya, nggak usah dicariin. Udah ah, ayo bangun! Kamu nanti telat ke kantor, gimana?"
"Emh, nggak mau! Posisi ini anget banget, Sayang. Kayaknya milikku bangun lagi deh, main sekali lagi yuk!"
"Mas!"
__ADS_1
"Emh, please!"
"Nggak! Ak-" Sayang sekali penolakan Diandra tidak berlaku karena Erlan kembali melumatt bibirnya dan keduanya pun bermain panas lagi untuk menghangatkan tubuh masing-masing.
Beberapa menit kemudian suara ketukan pintu membuat Erlan mau tidak mau harus mempercepat permainannya yang sudah di ujung tanduk. "Ah, sialann! Siapa sih ganggu aja!" kesal Erlan masih berusaha untuk mengeluarkan hasratnya.
"Buruan, Mas! Itu suara Nenek!" kata Diandra meminta Erlan segera mengakhiri permainannya.
"Kamu enak udah keluar, aku belum Sayang. Ah ... dikit lagi ini, bentar! Tunggu sampai benar-benar keluar. Abaikan aja nenek tua itu, ah ... aku ... kel-" Akhirnya Erlan mendapatkan kenikmatannya dan tidak membiarkan miliknya keluar dari rasa hangat di bawah sana.
"Mas, berat. Turun ish, aku mau buka pintu!" Diandra memukul bahu Erlan karena berat menopang tubuh sang suami yang masih tersengal-sengal.
"Iya, makasih ya, Sayangku!" Erlan pun beranjak setelah memberikan kecupan singkat di kening Diandra. "Mungkin Nenek udah nggak sabar mau ketemu cucunya, jadi dia nekad gangguin kita," gerutu Erlan yang sebenarnya kesal karena mengganggu waktu panasnya.
"Siapa tau ada hal penting lain, Mas!" Diandra segera beranjak dan memakai kembali pakaiannya. "Kamu mau langsung mandi dan siap-siap, apa mau berjemur dulu, Mas?" tanya Diandra yang hendak keluar dari kamar.
Selama ini Erlan memang tidak pernah melewati masa berjemur dengan Ezra. Dia lebih memilih telat masuk kantor dari pada tidak berjemur dengan anaknya. "Pertanyaan yang nggak perlu dijawab," sahut Erlan kemudian mengambil baju dan dia akan membawa Ezra turun nanti. Diandra hanya tersenyum karena Erlan selalu meluangkan waktu untuk menemani anaknya berjemur di halaman rumah.
...***...
Diandra pun berjalan menuju dapur yang mana disana sang Nenek sedang berbicara dengan salah satu asisten rumah tangga. Perhatian Nenek Harni teralihkan saat melihat Diandra turun sendirian. "Loh, Ezra mana?" tanya sang Nenek yang ternyata tebakan Erlan benar kalau Neneknya itu hanya mencari Ezra.
Memang sejak kelahiran Ezra, tidak ada yang tidak ingin mencari keberadaan bayi itu setelah membuka mata. Semua penghuni rumah besar itu selalu menunggu kedatangan Ezra. "Tadi masih tidur, Nek. Dia bangun lebih awal, eh dikasih nen tidur lagi," jawab Diandra seraya mengambil teh hangat yang sudah tersedia di meja makan dan menyeruputnya.
"Ini Ezra datang, Mbah Uyut." Suara Erlan mengalihkan pandangan Nenek Harni yang langsung sumringah melihat sang cicit turun bersama Ayahnya.
"Kok baru turun sih? Mbah Uyut udah nungguin dari tadi, loh!" protes Nenek Harni yang langsung mencium Baby Ezra tanpa merebutnya dari tangan Erlan. Asam uratnya sedang kumat, jadi dia tidak berani menyentuh cicitnya.
"Tadi kan kangen-kangenan dulu. Itu juga kalau Nenek nggak ganggu pasti kita masih belum turun," jawab Erlan seketika membuat Diandra batuk-batuk. Benar-benar seperti anak kecil yang terus menerus mengadu.
__ADS_1
........