Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Minta Maaflah


__ADS_3

Diandra tidak bicara bahkan tidak menanggapi apa pun yang dibicarakan oleh Erlan si sepanjang perjalanan pulang. Dia benar-benar kesal dengan Erlan karena merusak suasana baiknya bersama Cherin. Ketulusan Cherin meminta maaf itu terlihat jelas. Rasa kehilangan terhadap anaknya juga sangat nyata. Diandra merasa jika Cherin sudah menyesali perbuatannya dan akan berusaha menjadi lebih baik lagi.


Namun Erlan merubah suasana itu menjadi menegangkan karena membahas masalah tes DNA. Padahal sebelumnya dialah yang melarang membahas semua itu sampai Diandra merasa tidak tenang karena memikirkan masalah anak siapa yang dikandung Cherin.


"Udah dong marahnya, kan aku cuma mau buktiin ke kamu kalau aku itu setia sama kamu, Sayang. Aku bener-bener yakin kalau anak itu bukan anak aku, makanya tadi aku bahas masalah Hanes. Aku kan juga mau tahu gimana respon dia. Kenapa kamu semarah ini sih?"


Sekeras apa pun Erlan merayu Diandra, tidak membuat istrinya itu menoleh sama sekali. Fokus Diandra benar-benar tidak teralihkan dari luar jendela mobil. Entah kenapa rasanya Diandra tidak rela melihat raut wajah Cherin tadi. "Tuan, kita ke kantor atau ke rumah dulu?" tanya supir yang membuat Erlan jadi bimbang untuk kembali ke kantor dengan sikap Diandra yang tidak mau bicara dengannya.


"Pulang aja, Pak!" jawab Erlan dengan lemahnya. Kini dia pasrah dan ikut diam sampai tiba di rumah.


"Sayang ... kamu kemana aja?" tanya sang Mami yang menyambut Diandra pulang. "Loh, kamu nggak ke kantor?" tanya Mami Hasna lagi menatap Erlan dengan raut wajah kusut.


"Diandra langsung ke kamar ya, Mam! Capek makan hati," kata Diandra tanpa membahas apa pun dengan sang ibu mertua.


Mami Hasna pun menarik tangan Erlan untuk duduk di sofa. Terpaksa Erlan mengikuti sang Mami bukan menyusul Diandra ke kamar. "Kamu ngapain anak, Mami?" tanya Mami Hasna menatap tajam pada Erlan. Bukannya menjawab, Erlan hanya mengangkat kedua bahunya menandakan dirinya tidak tahu apa-apa. "Awas aja kalau kamu apa-apain Diandra! Urusannya sama, Mami!" ancam Mami Hasna seraya pergi dari sofa tersebut.


Erlan hanya bisa menghela napas panjang kemudian beranjak untuk menyusul Diandra di kamar. "Sayang!" panggil Erlan dengan penuh kelembutan. Namun tidak ada sebuah jawaban di dalam kamar itu. Perlahan Erlan menutup pintu kamarnya dan mencari keberadaan Diandra. Ternyata istrinya sedang fokus menatap layar ponselnya di balkon. "Sayang," panggil Erlan lagi dan Diandra masih tidak menjawab.


"Hallo Mbak Meli, iya ... temenin aku jalan-jalan yuk! Aku bosan di rumah," kata Diandra berbicara dengan Meli di balik panggilan teleponnya.


"Sayang ... aku bisa temani kamu jalan-jalan. Kenapa harus ngajak Meli?" tanya Erlan hanya mendapatkan lirikan sinis.


"Oh ... nggak pa-pa. Biar nanti aku urus surat pemecatan dia aja karena jam segini udah pulang kerja. Mbak Meli buruan kesini aja ya?" kata Diandra kemudian menganggukkan kepalanya lalu menutup panggilan telepon itu.


"Sayang!" Erlan berjongkok di depan Diandra yang sedang duduk di sofa balkon. "Aku benar-benar minta maaf kalau aku salah. Bukan ... maksudnya aku ngaku salah dan aku minta maaf," kata Erlan seraya menggenggam tangan Diandra kemudian mencium punggung tangannya dengan lembut.

__ADS_1


"Kalau aku nggak maafin, kamu mau apa?" tanya Diandra masih dengan nada sinis.


"Ya ... aku bakal minta maaf terus sampai kamu maafin aku lah. Pokoknya aku bakal turutin apa mau kamu asal kamu mau maafin aku," jawab Erlan tanpa mengubah posisi dan suara lembutnya.


"Kamu mau turutin semua mau aku? Yakin?" ulang Diandra langsung mendapatkan anggukan. "Kalau begitu aku bakal maafin kamu kalau kamu mau minta maaf sama Mbak Cherin," lanjut Diandra dan Erlan sangat terkejut dengan permintaan Diandra.


Bagaimana dia harus minta maaf pada Cherin kalau jelas-jelas Cherin lah yang bersalah dalam situasi ini. Akar masalah yang terjadi berawal dari Cherin yang mengaku hamil anak Erlan.


"Say-"


"Mau atau nggak?"


"Tapi kenapa permintaan kamu harus begitu? Kalau itu aku nggak bisa, Sayang."


"Iya, tapi bukan itu juga." Erlan pun beranjak dan duduk di sisi Diandra dengan masih menggenggam tangannya. "Sayang ... Cherin yang salah kenapa aku yang harus minta maaf?"


"Kamu nggak lihat bagaimana dia yang begitu tulus minta maaf sama aku dan menyesali perbuatannya? Mas! Kalau ada orang yang mau berubah, kita harus memberikan dia support sepenuhnya agar dia benar-benar menjadi lebih baik lagi. Tapi bahkan kamu bilang jangan pernah bahas masalah anak itu, sedangkan kamu sendiri malah merusak suasana hati mantan pacarnya kamu itu. Dulu kamu mencintainya, Mas. Dulu kamu begit-"


"Sayang! Please! Itu hanya dulu, oke? Sekarang aku hanya ada kamu dan cuma kamu yang akan jadi prioritas aku."


"Kamu sayang kan sama aku?"


"Ya tentu! Itu udah sangat jelas."


"Kalau gitu andai besok anak itu anak Cherin dan kamu, minta maaflah dengan tulus dan bantu dia berubah menjadi lebih baik. Aku merasa dia itu mau merubah sikapnya."

__ADS_1


"Iya. Aku akan menuruti apa pun mau kamu, Sayang." Diandra hanya tersenyum tipis menanggapi jawaban Erlan. "Kalau begitu kamu jangan jalan-jalan sama Meli, dong. Aku kan juga mau jalan-jalan sama istriku yang manis dan super baik hati ini," goda Erlan seraya mencolek dagu Diandra.


"Nggak!"


"Ih ... kok jahat sih!" Erlan menunjukkan wajah gemasnya. Diandra hanya terkekeh kemudian masuk ke dalam kamar karena hawa di balkon semakin panas. "Sayang ... ayo dong! Aku udah bolos kerja nih, masa kamu malah jalan-jalan sama Meli sih?" Erlan mengekor pada Diandra.


"Yah ... gimana ya? Aku udah nggak mood jalan-jalannya. Aku mau kasih tahu Mbak Meli dulu lalu tidur aja," kata Diandra yang mana kedua ibu jarinya terlihat sedang mengetik sesuatu.


"Sayang," panggil Erlan dengan manjanya dan menempelkan hidungnya pada hidung Diandra.


"Ish ... apaan sih! Udah ah, jangan ganggu! Aku mau tidur,"


"Ikut ...."


"Nggak! Kamu balik aja ke kantor sana!"


"Nggak mau. Tanggung tinggal dua jam lagi udah jam pulang. Perjalanan aja jauh, mending enak-enak sama istri," jawab Erlan kemudian ikut berbaring di atas tempat tidur dan langsung memeluk Diandra.


"Ish ... apaan sih nempel-nempel? Sana! Jauh-jauh!" Usir Diandra mencoba melepaskan pelukan Erlan. Namun semakin diandra berontak, semakin semangat Erlan menggoda istrinya. Pada akhirnya Erlan berhasil merayu Diandra dan bermain panas sebelum keduanya tertidur lelap hingga sore hari.


........


Kalian juga tidur! Jangan begadang ya hehe tapi nggak tahu juga ini bab bakal lolos jam berapa 🥲


Yang nungguin hasil tes DNA, mana suaranya? 🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2