
"Mas, aku ke dapur dulu. Tiba-tiba pengen mie instan." Diandra beranjak dari tempat tidurnya karena merasa lapar.
"Mau aku temenin?" tanya Erlan yang baru saja selesai mandi.
"Nggak usah. Kamu istirahat aja duluan. Besok kan kamu kerja," jawab Diandra kemudian keluar dari kamarnya. Sebenarnya Erlan ingin sekali menyusul Diandra, tetapi dia memang harus memberikan ruang untuk Diandra sendiri.
Aktivitas Diandra di dapur mengundang Nenek Harni keluar dari kamarnya. Raut wajah sedih Diandra terlihat jelas oleh mata yang penglihatannya mulai menurun itu.
Erlan dan Diandra tiba di rumah pukul sebelas malam yang artinya Nenek juga Mami mereka sudah tidur. Ternyata sang Nenek belum tertidur. "Nak, kamu lagi apa?" tanya Nenek mengejutkan Diandra yang memang sedang melamun. Bahkan nyaris saja mie instannya dibuang dan bungkus mienya yang dimasak.
"Eh, Nenek! Kok belum tidur?" Diandra sadar akan kekonyolannya langsung salah tingkah bahkan terlihat gugup. Tentu saja Diandra tidak mau menceritakan apa yang telah terjadi pada sang Nenek. Namun memang bagaimanapun caranya menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium baunya.
"Nenek emang belum tidur. Entah kenapa Nenek nggak bisa tidur malam ini. Perasaan Nenek tidak enak," jawab Nenek semakin mendekati Diandra yang sedang berdiri di depan kompor.
"Oh, ini Nenek apa mau juga mie instan? Biar sekalian Diandra buatin," tanya Diandra yang padahal sudah bingung menyembunyikan raut wajah sedihnya.
"Ada apa?" Nenek balik bertanya membuat Diandra menatap sang Nenek.
"Hm? Ada apa gimana maksudnya, Nek?" Diandra tertunduk menatap mie yang sudah dia masukan ke dalam air mendidih di atas kompor.
"Nenek tahu sebenarnya kalian menyembunyikan sesuatu dari Nenek 'kan? Bahkan Meli juga ikut-ikutan diam. Sebenarnya apa yang sedang kalian sembunyikan? Raut wajah sedihmu juga nggak bisa terus kamu sembunyikan Diandra. Ceritakan sama Nenek, ada apa?"
Diandra semakin tertunduk. Kini matanya tidak lagi fokus dengan mie instan yang dia masak karena mulai berkaca-kaca. "Nggak! Aku nggak boleh kasih tahu apa yang terjadi. Siapa yang tahu kesetanan Nenek akan memburuk, dan ... aku nggak akan mau itu terjadi," batin Diandra mencoba menahan semua rasa yang ingin dia ungkapkan pada Nenek yang sejak tadi menatapnya.
"Nak! Nenek hanya menebak saja. Apa ini ada hubungannya dengan wanita majalah dewasa itu? Beberapa bulan ini dia tidak ada kabarnya. Meli juga terlihat mengelak saat Nenek tanya. Apa benar dengan apa yang Nenek tebak ini?"
__ADS_1
Lagi-lagi Diandra tidak bisa mengelak. Mungkin karena mereka memang sudah seperti keluarga sendiri, jadi mereka sudah mempunyai ikatan batin dan merasakan kesedihan yang dirasakan.
"Nggak ada, Nek! Cuma kebetulan aja kali. Atau mungkin dia sedang di luar negeri," jawab Diandra yang harus fokus dengan mie instan yang mulai lembek. Diandra mengalihkan pandangannya dan mulai memiriskan mie instan yang dia masak untuk segera dimasukan ke dalam mangkuk. "Semoga saja Nenek nggak terus bertanya," batin Diandra lagi yang benar-benar harus menyembunyikan raut wajahnya. "Hm ... Diandra laper, Nek. Yakin nih Nenek nggak mau?" Diandra pun beranjak dari dapur ke meja makan dengan membawa semangkuk mie instan kuah dan segelas air putih.
"Nggak! Nenek udah makan malam tadi. Kamu makan aja yang tenang. Nenek temani disini. Erlan udah tidur?" Nenek menatap ujung tangga yang menuju arah kamar Erlan.
"Belum, tadi abis mandi. Kerjaan dia banyak dan aku bantuin sedikit tadi," sahut Diandra seraya melahap mie yang dia masak.
Nenek Harni membiarkan Diandra menghabiskan mie instan itu karena dia tidak mau jika cucu kesayangannya tersedak saat dia mengajukan pertanyaan padanya. "Emang kamu tadi nggak makan malam? Kok tumben makan mie?" hanya pertanyaan basa-basi yang bisa Nenek Harni tanyakan.
"Udah dong. Mungkin karena cuacanya dingin jadi tiba-tiba pengen yang anget-anget. Dulu Diandra sering kok makan mie tengah malam begini buat menghibur hati Diandra kalau lagi sedih dan kangen sama ayah. Dulu ayah sering sekali masakin Diandra mie instan, jadi Diandra merasa tiba-tiba tenang aja kalau abis makan mie. Apalagi makan cabe utuh begini. Rasanya plong sekali," jawab Diandra tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
"Kalau gitu abiskan biar kamu semakin tenang," jawab Nenek semakin yakin jika Diandra memang menyembunyikan sesuatu.
"Sekarang kamu bisa cerita karena kamu udah lega. Apa yang buat kamu sedih sampai-sampai kamu harus makan mie instan supaya merasa lega?" Kali ini Diandra tidak bisa mengelak lagi.
"Baiklah. Tapi Nenek janji nggak akan kenapa-kenapa setelah Diandra ceritakan ini," kata Diandra tiba-tiba merasa lemas dan tertunduk.
"Apa wanita majalah dewasa itu hamil anak Erlan?" Seketika Diandra langsung mendongak menatap sang Nenek.
"Bagaimana Nenek bisa tahu?" Kini wajah Diandra terlihat serius. Namun berbeda dengan wajah Neneknya yang terlihat santai. Diandra pikir Neneknya akan syok dengan kabar itu.
"Nenek hanya menebak. Lalu bagaimana kondisinya?"
"Dia keguguran, Nek. Dan ... dan kami sedang menunggu hasil tes DNA dari bayi itu. Mas Erlan terus mengelak jika anak itu bukan anaknya."
__ADS_1
"Nenek percaya dengan Erlan. Anak itu memang sedikit keras. Bukan sedikit sih, emang keras kepala. Tapi sejak menikah denganmu ... semuanya berubah. Makannya Nenek bahagia sekali kamu bisa meluluhkan hati Erlan. Nenek yakin sejak menikah denganmu, Erlan tidak melakukan hal itu lagi. Kalau saja memang anak itu anak Erlan, Nenek yang akan menghukumnya. Kamu jangan khawatir dan jangan sedih lagi."
Diandra pun tersenyum. Ternyata sang Nenek tidak terkejut dan wajahnya biasa saja. Sepertinya memang semua itu sudah diprediksi oleh Nenek Harni.
"Maaf, Nek. Diandra juga percaya dengan apa yang diyakini Mas Erlan. Tapi entah kenapa walaupun anak itu keguguran, Diandra merasa ada sesuatu yang mengganjal. Hati Diandra nggak tenang, Nek. Apa mungkin karena dia pernah dan sering tidur dengan wanita itu. Atau ... mungkin hanya kecemburuan saja,"
"Iya, Nenek paham. Walaupun anak itu masih hidup, Nenek hanya akan menerima cucu dari kamu, Nak. Bukan wanita majalah dewasa itu. Nenek tidak akan rela memberikan semua ini padanya. Walaupun Nenek juga akan memberikan sedikit karena darah daging Erlan,"
"Tapi, Nek! Diandra belum tentu bisa hamil. Diandra ...."
"Nak! Tidak ada yang tidak mungkin dengan kuasa Tuhan. Nenek masih yakin kamu bisa hamil. Dokter Amira itu Dokter cukup ternama. Kamu jangan pikirkan apa pun lagi dan kita harus yakin anak itu bukan anak Erlan."
"Tapi, Nek. Kasian dia sendiri di rumah sakit. Diandra pernah di posisinya."
"Hatimu memang lembut, Diandra. Disana ada perawat yang akan merawatnya. Erlan juga tidak akan membiarkan dia kenapa-kenapa walaupun dia membencinya saat ini. Nenek yakin dia memberikan pengobatan yang terbaik juga. Bukan karena dia masih mencintainya, tapi karena kemanusiaan. Kamu harus istirahat. Ini sudah lewat tengah malam."
Diandra hanya mengangguk. Dia tidak mau berdebat dengan sang Nenek. Segera dia beranjak dan mencuci mangkuknya. "Diandra naik dulu ya, Nek. Nenek juga harus cepet tidur. Jangan mikirin apa-apa juga."
"Iya. Nenek baik-baik aja." Keduanya pun berpelukan dan masuk ke kamarnya masing-masing.
........
...Nungguin ya? Dari kemarin sudah banget lulus review 🥲...
...Kasih tau ya kalau ada typo 😁...
__ADS_1