
Hari ketiga di rumah sakit, Diandra benar-benar merasa sedih karena sampai hari itu juga dia belum bisa menjenguk anaknya karena keterbatasan pergerakan. Perut yang dibelah itu membuat Diandra hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Walaupun sejak kemarin dia sudah bisa miring, tetapi di hari ketiga, dia bahkan belum bisa berjalan lebih dari dua langkah karena rasa sakit di bagian perutnya.
Sama seperti hari sebelumnya, Cherin juga datang menemani Diandra karena dia juga merasa bosan tinggal di rumah sendiri, sedangkan Hanes sibuk di kantor dengan modelnya yang datang dari Paris kemarin.
Menjelang siang hari, Diandra memaksa untuk belajar berjalan bersama Erlan karena dia benar-benar ingin melihat anaknya. Syaratnya dia harus bisa melangkah lebih dari tiga langkah dan duduk dengan santai. Akhirnya Erlan menuruti kemauan istrinya karena dia sendiri tidak melihat anaknya dalam beberapa menit saja sudah rindu, apalagi Diandra yang belum melihatnya sama sekali.
Perlahan langkah kaki itu maju, tetapi rasa sakit dibagian perutnya tidak bisa disembunyikan. Diandra beberapa kali merintih kesakitan karena tekanan dari kakinya. Namun Erlan dengan sabarnya terus membantu Diandra.
Nenek Harni juga Mami Hasna sudah pulang sejak beberapa waktu yang lalu karena Erlan tidak tega mereka belum istirahat sejak Diandra melahirkan dan terus di rumah sakit tanpa mau pulang. Sedangkan Cherin duduk di sofa tanpa mengalihkan pandangan dari Diandra. Terkadang dia juga ikut mengaduh saat Diandra mengaduh.
"Udah ya, Sayang? Aku nggak tega liat kamu merintih terus. Kita pelan-pelan aja. Nanti lagi, sekarang istirahat dulu," kata Erlan kemudian membopong Diandra kembali ke atas tempat tidur pasien. Diandra hanya bisa menurut kali ini. Sekeras apa pun dia berusaha, tetap saja perut paska operasi itu masih sangat sakit.
Setelah makan siang bersama Cherin. Bahkan Cherin dengan senang hati menyuapi Diandra, ada seorang perawat yang datang dan bertanya pada Diandra apakah sudah bisa duduk atau belum karena Diandra sudah diperbolehkan untuk ke ruang NICU melihat anaknya yang ternyata sedang rewel. Itu juga kalau Diandra sudah bisa duduk di kursi roda. Tentu saja Diandra terkejut mendengar anaknya rewel. Akhirnya Diandra memaksa untuk pergi kesana.
Dibantu Erlan, Diandra pun dinaikan ke kursi roda. Walaupun rasa sakit itu tidak bisa disembunyikan, tetapi Diandra tetap memaksa untuk bertemu dengan anaknya. "Aku nggak pa-pa, Mas! Lebih penting anak kita," ujar Diandra seraya menggigit bibir bawah. Cherin ingin sekali membantu, terapi pergerakan dia saja terbatas karena kehamilannya.
"Jangan terlalu dipaksakan, Diandra! Takutnya kamu nanti lama sembuh kalau kamu maksa," kata Cherin yang tentu khawatir dengan kondisi Diandra. Raut wajahnya benar-benar terlihat sedang menahan rasa sakit.
"Iya, Mbak. Nggak pa-pa! Aku harus kesana sekarang. Ini bahkan udah hari ketiga, tapi aku sama sekali belum bertemu sama Ezra," jawab Diandra dan akhirnya Erlan pun mendorong kursi roda tersebut menuju NICU. Cherin hanya mengekor walaupun dia tidak bisa masuk, setidaknya dia bisa melihat dari luar jendela.
Erlan membantu Diandra memakai pakaian khusus untuk masuk ke ruang tersebut. Setelah semuanya steril, Diandra pun masuk dan begitu berbinar saat melihat seorang bayi di dalam incubator yang terus menggerakkan tangan juga kakinya dengan sesekali mengeluarkan suara khas bayi.
Walaupun sangat bahagia akhirnya bisa melihat anaknya, tetapi tentu hatinya sangat sedih karena alat-alat yang terpasang di tubuh bayi mungil itu. "Mas, dia pegang tangan aku," kata Diandra yang begitu senang jari telunjuknya dipegang erat oleh Ezra. Sesekali Ezra juga mengoek layaknya bayi menangis, tetapi tidak terlalu sering.
__ADS_1
"Dia tahu kalau itu tangan ibunya," jawab Erlan seraya mengulas senyum. Hatinya benar-benar sangat bahagia karena saat ini keluarga kecilnya sedang berkumpul bersama.
"Mas, kayaknya dia pengen ***** deh. Nangisnya kayak gitu. Kasian, Mas! Aku pengen gendong dia sebentar aja buat kasih ASI, boleh ya, Mas! pinta Diandra dan Erlan pun celingukan mencari perawat yang menjaga ruangan tersebut dan akhirnya ada seorang perawat menghampiri mereka saat tangan Erlan terangkat tanda memanggil perawat tersebut.
Setelah menjelaskan kemauan Diandra, sang perawat tentu tidak mengizinkan Diandra memangku bahkan memberikan ASI secara langsung karena ada beberapa alat yang masih terpasang dan tidak mungkin untuk Ezra keluar dari incubator begitu saja.
"Tapi saya ibunya, Sus. Saya yakin dengan sentuhan saya anak saya akan segera sembuh. Lagian dia nangis, Sus. Kasian!" mohon Diandra.
"Maaf sekali lagi, Bu. Kami tidak bisa mengeluarkan bayinya sampai benar-benar layak untuk keluar. Anda hanya diizinkan menjenguk dan mengajaknya bicara lewat lubang yang telah di sediakan. Saya permisi dulu ya, Bu. Anda boleh sedikit lebih lama lagi disini."
Perawat itu pun pergi setelah menjelaskan hal yang tidak Diandra terima. Raut wajah kecewa terpancar jelas. Diandra hanya bisa memasukkan tangannya agar sang anak terus menggenggam tangan itu. "Maafin Ibu ya, Ezra. Ibu belum bisa gendong kamu, Nak. Tapi ibu yakin Dokter dan perawat disini lebih tahu apa yang terbaik buat kamu," ucap Diandra seraya mencium kaca incubator.
"Sabar ya, Sayang. Kita akan melewati ini bersama lagi. Kita doakan semoga Ezra kuat dan kita bisa segera pulang. Kamu juga harus semangat untuk segera sembuh, hm?" Diandra hanya mengangguk walaupun tetesan air mata harus jatuh karena terharu dengan perkataan suami.
"Nggak ada yang kurang dalam diri kamu, Sayang. Kamu sudah memberikan banyak sekali kebahagiaan untukku juga untuk keluarga kita. Kamu sempurna dan kamu yang terbaik!" Erlan kembali mendaratkan ciuman singkat di kening Diandra.
...***...
"Udah mau sore, Mbak! Sebaiknya Mbak Cherin pulang dan istirahat. Jangan sampai kesehatan Mbak Cherin terganggu gara-gara jagain aku." Diandra terus memaksa Cherin untuk pulang.
"Kamu nggak suka ya aku nemenin kamu?" Cherin terlihat kecewa.
"Mbak kan lagi hamil. Lagian Mbak besok bisa kesini lagi. Sekarang Mbak pulang dan istirahat. Kemaren Mbak udah jagain aku sampai malam, sekarang jangan pulang malam-malam. Takutnya Tuan Hanes malah marah."
__ADS_1
"Dia nggak mungkin marah sama aku. Dia takut aku bener-bener kabur sama anaknya," jawab Cherin yang kemudian terkekeh.
"Iya yang suaminya udah bucin parah kayak suami yang lagi main ponsel itu," ledek Diandra melirik Erlan. Namun Erlan hanya menghela napas karena memang pada kenyataannya seperti itu.
"Hm. Kalau gitu aku pulang sekarang ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku loh!"
"Iya bawel. Makasih ya udah mau capek-capek jagain aku," kata Diandra seraya merentangkan kedua tangannya.
"Aku nggak capek, ish!" jawab Cherin kemudian keduanya berpelukan. "Aku pulang ya!" Cherin pun melepaskan pelukannya dan pulang bersama supir yang sudah menunggunya di luar. Tentu Hanes tidak membiarkan Cherin berjalan sendirian demi jaga-jaga kalau ada heters yang mengenalnya.
Sayangnya saat di parkiran, Cherin tiba-tiba mendapatkan lemparan telur yang tepat mengenai kepalanya dan pecah seketika itu juga. "Dasar pelakor!" seru seorang wanita yang Cherin tidak paham siapa dia. Segera sang supir berdiri dihadapan Cherin.
"Nyonya, tolong jangan buat keributan di rumah sakit!"
"Minggir kamu, sialann!" teriak wanita tersebut. Namun dengan cepat supir itu membuka pintu mobil dan meminta Cherin segera masuk lalu mengunci pintu mobil tersebut. "Aku bilang minggir, brengsekk! Jangan jadi pecundang!" teriak wanita itu seraya menggedor-gedor kaca mobil.
Segera sang supir masuk ke bagian kemudi dan melajukan mobilnya segera sebelum terjadi hal buruk lainnya. "Pak, kenal wanita tadi?" tanya Cherin seraya memberikan pecahan telur di kepalanya dengan tisu basah.
"Iya, Nyonya. Dia mantan istri Tuan Hanes." Sontak saja Cherin terkejut mendengar hal tersebut.
"Pantesan kayak setan kehabisan sajen," jawab Cherin dengan kesalnya. Dia ngatain aku pelakor tapi dia nggak ngaca siapa yang udah jahat!" lanjut Cherin segera mengambil ponselnya untuk menceritakan kejadian tersebut pada Hanes.
........
__ADS_1