
Erlan dan Jio tiba di negara tujuan. Belum juga sampai di hotel, Jio mendapatkan pesan dari sekertaris Paman Sam. Terlihat Jio mengehela napas dan memberitahukan pesan itu pada Erlan. Benar saja mereka harus bertemu dengan seorang investor yang diminta Paman Sam, terpaksa Erlan dan Jio menemui investor itu terlebih dahulu.
"Ck, dasar tua bangka merepotkan! Sengaja dia nambah pekerjaan kita supaya lebih sibuk disini," gerutu Erlan yang sebenarnya sangat malas bertemu orang tersebut. Jio tidak merespon karena sudah pasti Paman Sam akan menambah-nambah perkejaan mereka.
Akhirnya Erlan tiba di kamar hotelnya. Jio juga masuk ke kamarnya yang ada disebelah kamar Erlan. Setelah membersihkan diri dan bersiap, Erlan pun keluar dari kamarnya yang ternyata Jio sudah menunggu dia di luar. Namun ternyata pakaian yang dipakai mereka berdua sama persis. Yaitu sama-sama mengenakan setelan jas berwarna Navy dan benar-benar terlihat mirip. Hanya saja Jio memakai kacamata. Jadi ada perbedaan sedikit diantara keduanya.
"Kenapa selera kita jadi sama?" protes Jio yang kesal karena salah kostum. Entah kenapa setelah sekian tahun, baru kali ini mereka bisa memakai warna jas yang sama walaupun ada sedikit perbedaan style.
"Yang penting bukan mencintai wanita yang sama, udah buruan dimana tempatnya?" Erlan memukul bahu Jio. Seketika itu juga Jio hanya bisa kembali menarik napas panjang kemudian mengarahkan tangannya ke depan agar Erlan berjalan mengikuti arah tangannya.
Tiba di sebuah Bar yang masih ada di hotel tersebut, Erlan merasa ada yang aneh. Seharusnya meeting bukanlah di Bar, melainkan disebuah tempat kusus yang tenang tanpa gangguan. "Saya hanya mengikuti petunjuk, Bos. Katanya ini juga Bar khusus, jadi mari kita masuk!" kata Jio seolah tahu keraguan Erlan dan membuka pintu.
Seketika itu juga suara dentuman musik DJ langsung menusuk telinga Erlan. Dia sedikit terganggu dengan suara itu karena Erlan tidak pernah ke tempat seperti itu. Begitu langkah kaki mereka masuk, beberapa wanita seksi menghampiri dan menggoda Erlan juga Jio. "Hei, pilih aja! Lumayan kan!" ledek Erlan tidak membuat Jio merespon candaan itu. "Eh, aku lupa belum kasih kabar istriku. Kamu duluan aja temuin investor gila yang ngajak kita ketemuan disini." Erlan kembali keluar dari ruangan berisik tersebut kemudian mencari toilet untuk menghubungi Diandra.
Erlan benar-benar mengejar waktu demi segera menyelesaikan urusan diluar negeri tersebut, jadi dia tidak memikirkan istirahat begitu tiba di tempat tujuan. Walaupun disana sudah tengah malam, tetapi Erlan tahu jika di tempat istrinya masih sore.
Jio mencari orang yang bernama Tuan Rocky sesuai dengan ciri-ciri yang disebut dalam pesan masuknya beberapa saat lalu. Cukup bingung dia mencari keberadaan orang tersebut diantara banyak orang sedang menikmati pesta dan bergoyang bersama wanita-wanita cantik.
Untungnya ada seorang bodyguard memberikan petunjuk bahwa dia sedang ditunggu di ruangan paling ujung. Jio paham dan mengikuti arahan bodyguard tersebut. Namun saat tiba disana, Jio terkejut karena melihat sosok wanita yang dia kenal beberapa tahun lalu.
Wanita itu sendiri tidak peduli dengan Jio dan seolah tidak kenal dengannya. Tangan wanita tersebut terus mengayun meraba-raba tubuh Tuan Rocky bersama dengan beberapa wanita lainnya. "Benar-benar investor gila," gumam Jio kesal.
"Hallo, Mr. Erlangga!" sapa Tuan Rocky membuat Jio mengangkat satu alisnya. Dia pikir Jio adalah Erlan. Tentu Tuan Rocky belum begitu paham dan tetap menyambut hangat kedatangan Jio dengan segera menjabat tangannya lalu mengajak Jio duduk bersebelahan. "Have a nice day! Come on!" kata Tuan Rocky memberikan Jio segelas minuman berwarna coklat padanya dan memaksanya untuk segera meminum.
"No! I'm not drink this-"
"Haha ... come on, enjoy this place, Mr. Erlangga!" desak Tuan Rocky yang diiringi tawa semua orang disana. Terpaksa Jio meminum wine yang disodorkan tersebut.
Tuan Rocky kembali tertawa seraya menepuk bahu Jio dan kembali mengisi gelas kosong yang Jio pegang. Seberapa keras Jio menolak, Tuan Rocky terus menuangkan minuman memabukkan itu sampai Jio benar-benar mabuk dan hampir tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Okey! You can have fun with Safira, Mr. Erlangga, haha!" ucap Tuan Rocky memberi kode pada wanita bernama Safira tersebut untuk membawa Jio pergi.
Safira pun memapah Jio keluar dari ruangan itu. Dengan langkah sempoyongan, Jio mengikuti Safira tanpa sadar. Keduanya pun masuk ke dalam kamar hotel yang telah disiapkan sebelumnya.
"Ah, kenapa aku sangat pusing? Tubuhku juga rasanya sangat aneh," gumam Jio. Sedangkan Safira akan menjalankan tugasnya. Dia pun menjatuhkan tubuh Jio di atas tempat tidur. Safira segera meraba tubuh Jio dengan sentuhan yang khas dan membuat rasa dalam diri Jio semakin aneh.
"Mari kita bermain, Tuan Erlangga!" bisik Safira membuat Jio segera bangkit dan duduk di tepi ranjang.
"Safira! Aku bukan Erlangga!" ucap Jio sedikit meninggikan suaranya.
"Apa kamu begitu mabuk sampai lupa nama sendiri? Benar-benar payah!" jawab Safira kemudian segera melepaskan dress mini yang dia pakai. Melihat Safira yang hanya mengenakan kain berbentuk kaca mata di dadanya juga kain segitiga dibagian intimnya, membuat Jio semakin panas dingin. Apalagi warna merah kain tersebut seolah menambah semangat Jio untuk segera menikmati apa yang ada di depan matanya.
Safira menyunggingkan senyum. Dia pun meliukkan tubuhnya di depan Jio. Benar saja Jio langsung terpancing dan beranjak dari tempat tidur itu untuk segera menyentuh tubuh Safira yang menggoda. Namun tanpa sadar ternyata Safira meletakkan sebuah kamera kecil di atas nakas sebelum keduanya benar-benar bermain panas.
"Aku harap aku bisa melakukan tugasku dengan baik. Semangat Fira, demi Ibu kamu!" batin Safira menyemangati dirinya sendiri.
"Safira, aku menginginkanmu!" ucap Jio lirih. Rasanya sangat panas!" Jio segera memeluk Safira dan menempelkan bibirnya. Keduanya masih sama-sama kaku karena itu untuk pertama kalinya baik Jio maupun Safira.
Merasa semakin gerah, Jio segera melepaskan baju yang masih utuh ditubuhnya dengan cepat karena tidak mau melewatkan hal yang begitu nikmat itu. Safira juga melepaskan dua kain berwarna merah yang masih menempel di tubuhnya. Keduanya kini benar-benar tanpa sehelai benang dan kembali melanjutkan permainan mereka.
Desahann demi desahann lolos dari mulut masing-masing karena kenikmatan. Mereka melakukan hal terlarang, tetapi rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata itu tidak membuat mereka berhenti begitu saja sebelum apa yang seharusnya keluar itu tuntas.
Malam yang mereka lewati pun menjadi malam panjang karena Jio tidak melakukannya hanya satu kali, tetapi berkali-kali karena pengaruh alkohol juga obat yang dimasukkan ke dalam minuman yang diberikan Tuan Rocky berdosis tinggi.
"Emh ... ahhh ... ini sangat sempit dan nikmat!" Lolong Jio saat permainan panas itu berakhir. Jio langsung menjatuhkan tubuhnya di sisi Safira dan tertidur karena lelah.
"Dasar brengsekk! Yang aku dengar dia udah nikah. Tapi masih bisa mengatakan hal menjijikan seperti itu. Terserahlah! Aku juga menikmati permainannya. Yang paling penting tugasku selesai," batin Safira yang kemudian terlelap bersama Jio.
...***...
__ADS_1
Sejak semalam Erlan menghubungi Jio, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Jio memang hanya menggetarkan ponselnya tanpa memberikan nada dering. Saat dia kembali dari toilet, Erlan tidak mendapatkan jejak Jio maupun Tuan Rocky yang katanya investor sangat berpengaruh di perusahaan anak cabangnya. Akhirnya Erlan pun kembali ke kamar bahkan meminta pelayan untuk membuka kamar Jio. Namun nihil, Jio tidak ada di kamarnya malam itu.
Lelah karena perjalanan panjang, Erlan pun memilih untuk tidur di kamarnya. Hingga pagi menjelma, Jio masih belum menjawab panggilannya. "Sialann! Apa yang terjadi semalam? Kenapa mereka menghilang begitu saja," gumam Erlan kesal.
Beberapa saat kemudian, ada pesan masuk di ponselnya. Pesan itu dari sang Paman. Namun Erlan bertanya-tanya apa maksud dari pesan tersebut. "Menikmati? Bukti nyata? Apa maksudnya?" gumam Erlan lebih memilih tidak merespon pesan tersebut. Dia pikir jika sang paman salah kirim.
Erlan pun memilih untuk berendam air hangat terlebih dahulu baru membersihkan diri dan kembali ke kamar Jio dengan menekan tombol kamar itu beberapa kali, tetapi pintu itu masih tertutup rapat. "Brengsekk! Kemana Serjio kamprett ini! Dia yang paling tahu jadwal hari ini," gumam Erlan hanya bisa menahan rasa kesalnya.
...***...
"Aw, pusing sekali kepalaku!" Jio berusaha membuka matanya yang masih terasa sangat berat. Pengaruh alkohol yang dia minum benar-benar membuat kepalanya pusing. Namun ada hal aneh lainnya yang memaksa dia untuk segera membuka mata, yaitu sebuah tangan yang menumpang di atas perutnya.
Jio terkejut bukan main saat melihat ada wanita di sisinya. Bahkan wanita itu sedang memeluk mesra tubuh Jio yang tanpa pakaian. Rasa terkejut Jio itu membuat wanita yang mengejutkannya terbangun.
"Em udah pagi ya? Saatnya aku pulang berarti," gumam Safira kemudian turun dari tempat tidur. Jio semakin terkejut melihat tubuh Safira yang polos dengan langkah kaki yang sedikit aneh.
"Safira! Kenakan bajumu!" panggil Jio dengan nada tinggi. Safira tidak menjawab. Tanpa disuruh pun dia juga akan memungut bajunya. Jio juga turun dari tempat tidur dan segera mengambil celananya untuk dipakai. "Safira, kamu bisa jelaskan ini? Kenapa ... maksudnya semalam kita melakukan hubungan suami istri?" tanya Jio dengan suara berat.
"Kamu pikir kita sama-sama nggak pake baju itu abis ngapain? Berenang?" sahut Safira dengan nada sinis.
Safira yang sudah mengenakan kembali pakaiannya segera menarik selimut berwarna putih yang ada di atas tempat tidur. Ada bercak merah disana. Bercak merah itu adalah bukti dan tanda bahwa keduanya telah melakukan hubungan intim tanpa menikah terlebih dahulu.
"Ta-tapi ... tapi ak-"
"Tuan Erlangga yang terhormat, aku hanya menjalankan tugasku. Dan kalau aku hamil, aku akan mencari mu untuk bertanggung jawab karena aku dilarang minum pil pencegah kehamilan sebelum melakukan tugasku. Sekarang aku harus pergi dan memberikan bukti percintaan kita semalam."
Safira mengambil sebuah kamera kecil yang dia letakkan di atas nakas semalam. Pangkal pahanya yang sedikit sakit membuat langkah kakinya terbatas. "Safira, aku bukan Erlangga! Aku Serjio. Kita pernah satu sekolah, tapi kamu tiba-tiba menghilang tanpa kabar," ucap Jio langsung membuat Safira mematung dan menjatuhkan kamera kecil yang dia pegang. "Jadi sebenarnya sasaranmu adalah Erlangga? Ck, aku rasa tugasnya gagal total!" sambung Jio seraya menyunggingkan senyum. Safira masih diam tanpa kata.
........
__ADS_1
Senin Nih, Vote Kembang Kopinya Dong 😬