
Aneh bukan, jika yang di depan Erlan adalah hantu, kenapa rasa pelukkan itu begitu hangat. Lebih aneh lagi, andai yang dialami Erlan itu mimpi, tidak mungkin tentunya dia bisa merasakan hembusan napas nenek yang sedang memeluknya tersebut.
"Dasar anak nackal!" seru Nenek tersebut seraya memukul dada Erlan setelah dia melepaskan pelukannya. Erlan memutar otaknya untuk berpikir keras. Apa yang dia rasakan benar-benar nyata, bukan mimpi atau halusinasi. Bahkan pukulan itu juga terasa sedikit sakit.
"Nggak mungkin! Kenapa ... kenapa suara dan gaya bicaranya sama persis dengan Nenek? Sebenarnya ... sebenarnya, apa yang telah terjadi? Kenapa hanya aku dan istriku yang bisa melihatmu, Nek?" ujar Erlan masih terheran-heran. Nenek di depannya itu malah tertawa melihat sikap Erlan dan sekali lagi, Nenek itu memukul dada Erlan.
"Mas!" Diandra pun menghampiri Erlan dan kembali memeluk lengannya. Bukan hanya Erlan tentunya yang butuh penjelasan dengan apa yang sedang mereka alami itu. Namun Diandra lebih berharap kalau Nenek yang didepannya itu nyata dan bisa dia peluk.
"Sayang ... ini ... ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi ataupun hantu. Aku rasa ini juga bukan halusinasi kita," ujar Erlan dengan nada sangat serius pada Diandra, tetapi apa yang dikatakan Erlan membuat Mami Hasna dan Jio tidak lagi bisa menahan tawanya.
Seketika itu juga mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya itu, nenek yang amat mirip dengan Nenek Harni itu dihampiri oleh Mami Hasna kemudian di tuntun oleh Mami Hasna untuk duduk di sofa ruang keluarga.
Jio yang tadi katanya tidak melihat keberadaan sang nenek, jadi ikut menuntun nenek itu di sisi lainnya. "Benar-benar ... aku dianggap hantu sama mereka, Has. Jio, sebaiknya mereka di kasih kopi biar melek matanya. Bisa-bisanya hantu secantik aku, aneh! " kata Nenek itu yang lagi-lagi ditanggapi tawa oleh Mami Hasna dan Jio.
Erlan dan Diandra benar-benar dibuat bingung. Mereka akhirnya mengekor untuk ikut duduk di ruang keluarga. Erlan bahkan menyimpan dendam pada Jio yang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sayang ... abis penjelas ini, aku mau bunuh laki-laki bernama Serjio itu. Kalau aku dipenjara, kamu tunggu aku ya?" kata Erlan yang di dengar jelas oleh Jio.
Diandra hanya merespon dengan mencubit lengan Erlan. Mereka akhirnya duduk berkumpul di ruang keluarga. Bahkan Meli juga tiba-tiba muncul dan duduk disana dengan raut wajah yang terlihat menahan tawa juga. Entah dari mana arahnya, tiba-tiba saja Meli duduk padahal tidak terlihat masuk rumah tadi.
"Mas, kayaknya aku juga bakal nyusul kamu dipenjara. Soalnya aku juga pengen bunuh Mbak Meli rasanya," kata Diandra yang kesal melihat Meli sedang terkekeh.
"Hus ... kalian apa-apaan sih?" seru Mami Hasna seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Mami yang merencanakan ini semua, jadi jangan ada yang membunuh Jio ataupun Meli, paham?" lanjut Mami Hasna dengan lirikan tajam pada Erlan dan Diandra yang terlihat masih kesal.
"Jadi ... siapa Nenek itu? Kenapa kalian tadi pura-pura nggak liat Nenek itu? Jelaskan ... apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Erlan yang penuh dengan aura membunuh.
Tatapan matanya juga tidak berpaling sama sekali dari Nenek yang mirip dengan Neneknya yang telah meninggal. Bukan hanya mirip lagi, tetapi bagai pinang dibelah dua kali menurut pribahasa karena sama sekali tidak ada perbedaan.
"Erlan ... Diandra, kenalkan ... ini namanya Nenek Harma. Dia adalah Kakak Nenek Harni. Lebih tepatnya ... kembaran Nenek kalian yang udah meninggal," jelas Mami Hasna seketika itu Erlan dan Diandra langsung menganga sekaligus melotot saking terkejutnya.
"Bagaimana bisa Nenek punya kembaran?" tanya Erlan yang masih belum percaya sama sekali atas penjelasan Maminya.
Setelah sekian tahun lamanya, aneh bukan kalau tiba-tiba Nenek yang selama ini merawat dan membesarkan Erlan sejak dia masih duduk di sekolah dasar tiba-tiba mempunyai kembaran. Padahal selama ini tidak ada yang membahas masalah tersebut. Dan Erlan juga tidak pernah bertemu dengan orang yang begitu mirip dengan Nenek Harni itu.
__ADS_1
"Iya ... dia Nenek kalian juga. Selama ini Nenek Harma terpisah dengan Nenek Harni juga Paman Sam karena ada bencana gempa bumi yang benar-benar memporak-porandakan tempat tinggal Nenek saat itu. Usia Nenek saat terpisah sudah lima belas tahun. Nenek Harma dianggap meninggal karena memang tidak ada jejak apa pun baik jasad ataupun korban yang selamat. Kasus orang yang belum ditemukan juga ratusan, jadi Paman dan Nenek Harni menyerah mencarinya hingga berbulan-bulan."
Penjelasan Mami Hasna hampir bisa diterima oleh Erlan. Dia sedikit ingat saat sang Nenek masih hidup dan Nenek membawa Erlan ke tempat kelahirannya, Erlan diajak ke sebuah makam. Namun karena masih anak kecil, Erlan belum terlalu paham masalah itu dan dia juga tidak banyak bertanya.
"Jadi Nenek Harma bukan hantu, Mam?" tanya Diandra dengan polosnya. Pertanyaan Diandra malah mengundang tawa lagi.
"Bukan Diandra Sayang ... ini Nenek yang bisa kamu peluk juga. Nenek Harma ini benar-benar tidak ada bedanya dengan Nenek Harni. Kalau Nenek masih hidup, Mami yakin kalian nggak akan bisa bedain mereka," papar Mami Hasna langsung membuat Diandra berkaca-kaca menatap Nenek Harma.
"Kalau gitu ... apa boleh Diandra peluk Nenek Harma?" tanya Diandra lagi, tetapi kali ini dengan suaranya yang berat dan terdengar sangat sedih.
"Bolehlah! Kenapa juga nggak boleh dipeluk sama cucu sendiri," jawab Nenek Harma seraya merentangkan kedua tangannya. Sedetik itu juga Diandra langsung beranjak dan memeluk Nenek Harma.
Sungguh, Diandra memang tidak bisa membedakan mana Nenek Harni dan mana Nenek Harma. Bahkan bau tubuh mereka juga sama persis. Diandra benar-benar bahagia bisa menumpahkan rasa rindunya pada Nenek Harni yang telah meninggal beberapa bulan lalu.
Erlan yang melihat Diandra sesenggukan saking bahagianya, ikut terharu dengan suasana itu. Dia juga sempat meneteskan air matanya, tetapi segera dia seka air mata itu karena bukan waktunya menangis, melainkan waktunya berbahagia ada sosok Nenek Harma ditengah-tengah keluarganya sekarang.
"Nenek! Nenek jahat banget! Kenapa tadi Nenek bertingkah seperti hantu? Kalian sengaja kan mau buat Diandra mati berdiri?" kata Diandra masih dalam pelukan Nenek Harma. Tidak ada yang berniat menjawab apa yang ditanyakan Diandra. Mereka membiarkan Diandra menumpahkan rasa rindunya itu.
"Jadi ... selama ini Nenek Harma dimana, Mam?" tanya Erlan masih butuh banyak penjelasan tentang nenek Harma.
"Nenek hilang ingatan, Er. Nenek juga tinggal di panti asuhan saat itu hingga Nenek mendapatkan pekerjaan. Ternyata ada yang menyukai Nenek saat Nenek menginjak umur dua puluh lima tahun. Kami menikah dan punya dua anak," jelas Nenek Harma menjeda bicaranya seolah merasakan sedih yang mendalam.
"Lalu, Nenek sekarang udah ingat semua tentang masa-masa Nenek bersama Paman Sam juga Nenek Harni?" tanya Erlan yang sangat tidak sabar dengan penjelasan Nenek Harma.
"Satu tahun yang lalu, Nenek diajak jalan-jalan sama anak Nenek setelah meninggalnya suami Nenek dua tahun lalu."
"Kakek udah meninggal?" Erlan kembali menyela.
"Mas! Dengerin dulu kenapa sih? Sabar!" seru Diandra kesal bahkan melemparkan bantal kecil yang ada di sofa.
"Iya, Kakek kalian udah meninggal karena gagal ginjal dua tahun lalu. Ternyata saat Nenek menginjakkan kaki yang ternyata itu adalah tempat kelahiran dan tempat tinggal Nenek dulu di sana, Nenek langsung ingat semua kenangan bersama Nenek Harni juga Paman Sam, tetapi tidak ada yang tau juga kabar Nenek Harni setelah Nenek bertanya kesana-kemari. Tapi Nenek nggak menyerah. Anak-anak Nenek juga bantu mencari kabar. Hingga Nenek bertemu dengan Tante Rossa yang katanya dulu tinggal bertetangga dengan Nenek Harni. Akhirnya Tante Rossa menghubungi Mami kalian," jelas Nenek Harma membuat Erlan benar-benar lega.
Diandra bahkan beralih memeluk pinggang Nenek Harma saking bahagianya bisa mempunyai pengganti Nenek Harni yang memang tidak bisa dibedakan sama sekali.
__ADS_1
"Oh ... berarti sebenarnya kalian semua udah berencana mengerjai aku sama istriku kan? Mau aku pecat, hah?" ujar Erlan menatap bergantian Jio dan Meli yang langsung salah tingkah melihat marahnya Erlan.
Apalagi Jio yang tadi berpura-pura tidak melihat Nenek Harma. Erlan benar-benar merasa bodoh dihadapan Jio tadi. Erlan yakin dalam hati Jio sangat ingin tertawa melihat Erlan yang menganggap Nenek Harma itu hantu. Tiba-tiba Erlan merasa kesal mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.
"Maaf, Bos! Nggak sengaja! Suwer!" jawab Jio sedikit menahan tawa.
"Maaf, Tuan. Itu ... sebenarnya emang nggak sengaja," kata Meli yang ikut membela diri.
"Udah ... nggak usah dimarahin. Ini semua ide Mami. Tapi Mami sangat senang berhasil ngerjani kamu. Sumpah! Itu tadi kamu sama Diandra lucu banget loh anggap Nenek Harma hantu, haha!" tawa Mami Hasna benar-benar mengejek Erlan.
"Pagi-pagi buta begini mana ada hantu. Lagian ... hantu bisa ya siapin sarapan, kesukaan kalian lagi," sahut Nenek Harma. Diandra sedikit malu. Namun berbeda dengan Erlan yang masih berwajah kesal.
"Menyebalkan!" gumam Erlan dan Jio juga Meli hanya bisa menahan tawa. Andai saja mereka tertawa, pastilah benar-benar akan pecat.
"Nah ... karena kita semua udah kumpul begini, gimana kalau kita ke makam. Nenek Harma juga mau berkunjung kesana," usul Mami Hasna.
"Iya. Nenek juga rindu sama adik yang cuma beda dua menit itu lahirnya. Sayang sekali Nenek telat untuk ingat semuanya. Mungkin kalau Nenek lebih cepat sedikit, bisa ketemu sama Nenek Harni," kata Nenek Harma yang jelas sekali terlihat sedih. "Nenek bahkan nggak nyangka sama sekali dengan Kak Samuel. Bisa-bisanya dia begitu jahat dengan adik sendiri," lanjut Nenek Harma yang sedikit menitikkan air matanya.
Diandra pun menyeka air mata itu dan memeluknya kembali. Memberikan tepukan di punggungnya agar merasa lebih baik. Memang takdir itu tidak ada yang tahu. Bahkan harta memang membuat orang baik menjadi jahat adalah hal yang sudah lumrah.
"Sudah-sudah! Sekarang bukan waktunya bersedih. Kita sarapan, abis itu kita ke makam ya?" ujar Mami Hasna dan semuanya mengangguk.
Mereka semua pun kembali ke ruang makan dan sarapan dengan canda tawa. Nenek Harma begitu antusias ikut dengan Mami Hasna dan mendengar apa yang disukai dan tidak disukai oleh Erlan juga Diandra.
Walaupun sulit untuk mendapatkan izin dari kedua anaknya, Nenek Harma bersikukuh untuk tinggal bersama Mami Hasna dan ingin merasa lebih dekat dengan Nenek Harni.
Pada akhirnya, Nenek Harma tetap memilih Diandra dari pada Erlan yang membuat Erlan seperti dejavu, tetapi tidak menutup kemungkinan rasa bahagia yang amat dalam sedang Erlan rasakan melihat betapa Erlan kembali merasakan kehangatan yang sempat hilang.
........
Yang nungguin cerita Serjio dan Safira, udah publish ya. Judulnya " Wanita Kesayangan SERJIO" silahkan loncat kesana dan jangan lupa klik lovenya biar nggak ketinggalan update 😬
Disini masih 2 bab lagi, jadi tunggu aja ya jempolnya mau istirahat dulu 😌
__ADS_1