Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Kesedihan Diandra


__ADS_3

Diandra sedang asyik bermain ponsel. Wajahnya terlihat sangat bahagia karena sejak tadi senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sedangkan Erlan sampai geleng-geleng kepala menatap sang istri. "Sayang ... kok belum siap-siap sih? Lagi chat sama Cherin?" tanya Erlan seraya duduk di sisi Diandra.


Erlan bahkan hafal sekali kenapa Diandra bersikap seperti itu. Bahkan Diandra bisa lupa waktu kalau sedang chat atau mengobrol dengan Cherin. Erlan tidak pernah menyangka istri dan mantan pacarnya akan seakrab itu bahkan keduanya selalu kompak dan menyukai sesuatu hal yang sama. Padahal jika dipikirkan mereka berdua itu beda spesies. Loh kok jadi spesies?


"Iya, Mas. Maaf, aku keasikan ini. Tuan Hanes bener-bener romantis. Kata Mbak Cherin, sejak semalam dia dikasih kejutan terus sama Tuan Hanes buat merayakan anniversary yang ke dua puluh hari. Lucu nggak sih, Mas?" jelas Diandra masih dengan raut wajah yang sama. Lagi-lagi Diandra menyanjung suami Cherin.


Hanes dan Cherin memang telah menikah sejak dua puluh hari yang lalu. Setelah urusan perceraiannya, tanpa menunda lagi, Hanes segera menikahi Cherin. Namun tanpa dipublikasikan karena Cherin tidak mau di tuding pelakor yang menyebabkan perceraian seorang seperti Hanes yang namanya cukup terkenal di dunia entertainment. Bahkan nama Cherin di dunia model seperti hilang ditelan bumi. Tentu Cherin tahu jika itu perbuatan suaminya.


Cherin selalu bercerita pada Diandra apa saja yang dilakukan Hanes. Dari keromantisan bahkan saat Cherin mengerjai Hanes. Semuanya dia ceritakan pada Diandra tanpa terkecuali, termasuk bagaimana kelembutan Hanes dalam bercinta.


"Emang aku kurang romantis?" tanya Erlan dengan nada ngambek. Kali ini Erlan bukan cemburu karena Diandra menyanjung Hanes, melainkan Erlan sudah cukup bosan dengan apa yang dikatakan Diandra tentang Hanes. Laki-laki itu benar-benar menjadi topik utama Diandra setiap hari sebab apa yang diceritakan Cherin, Erlan juga mengetahui itu karena Diandra selalu menceritakan semuanya pada Erlan.


"Ya sebelas dua belas sama kamu, Mas. Sama-sama cemen dan takut ketinggian pula. Bener-bener suatu kebetulan yang hakiki," ledek Diandra membuat dirinya mendapatkan cubitan di hidup.


"Kami belajar sejak kecil. Nggak ada waktu buat pergi ke taman bermain. Males juga sama keramaian, jadi wajar dong kalau takut ketinggian," kata Erlan membela diri. Ya, sejak liburan mereka ke rainbow slide itu, Erlan dan Hanes mendapatkan julukan cemen dari istri mereka masing-masing.


"Nggak ada hubungannya sama sekali belajar dengan takut ketinggian. Baru juga perosotan dengan panjang 120m doang. Gimana kalau yang lebih panjang lagi?" Diandra masih meledek Erlan.


"Udah ah, buruan siap-siap!" titah Erlan mengalihkan pembicaraan.


"Hm, tapi aku seneng banget deh, Mas, Mbak Cherin bisa dapet kebahagiaannya. Semoga saja setiap hari dia selalu memberikan kabar bahagia ya, Mas!" Diandra pun memeluk Erlan karena dia juga mendapatkan kebahagiaannya walaupun kebahagiaan itu belum benar-benar sempurna.


"Sayang ... kita juga nggak kalah bahagia kok! Aku jauh lebih bahagia dan beruntung karena punya kamu yang berhati malaikat. Semua kebahagiaan yang Cherin dapatkan juga dari kebaikan kamu. Kalau saja kamu saat itu nggak mau melapangkan hati untuk memaafkan Cherin dan merawatnya, aku yakin hatinya juga tidak akan bergetar untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi," papar Erlan membuat Diandra mencium sebelah pipi Erlan. "Sayang ... kita harus berangkat! Kamu jangan membangunkan benda yang begitu sensitif untuk berdiri," keluh Erlan kemudian Diandra beranjak dari tempat duduknya seraya cengengesan.


"Dasar mesumm!" kata Diandra kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


"Terima kasih, Tuhan. Terima kasih masih terus memberikan kebahagiaan ini!" gumam Erlan lalu masuk ke dalam walk in closet untuk berganti pakaian.


Namun baru saja Diandra keluar dari kamar mandi, ponselnya kembali bergetar tanda ada pesan masuk. Diandra tentu buru-buru membuka ponselnya dan melihat pesan masuk yang pasti itu dari Cherin. "Astaga! Mas!" teriak Diandra segera masuk ke dalam walk in closet dengan wajah khawatir.


"Kenapa kayak orang kebakaran jenggot?" tanya Erlan yang sibuk memakai dasi.


"Mbak Cherin masuk rumah sakit, Mas!" jawab Diandra berhasil membuat Erlan terkejut.

__ADS_1


"Kok bisa? Sakit apa?" tanya Erlan lagi seraya meraih ponsel Diandra untuk melihat pesan yang masuk dari nomor telepon Cherin.


"Nggak dijelasin, Mas! Itu kayaknya yang kirim pesan suaminya, bukan Mbak Cherin. Ayo kita kesana sekarang, Mas! Aku pakai baju dulu."


"Tapi kit-"


"Udah batalin aja. Besok kan bisa! Ini lebih penting, Mas!" Diandra pun segera memilih pakaiannya dan dengan cepat memakainya di depan Erlan. Hanya helaan napas respon yang bisa Erlan tunjukkan. "Buruan, Mas! Malah liatin aku pake baju. Awas aja sampai mikir macem-macem!" ancam Diandra membuat Erlan langsung memeluknya padahal Diandra baru memakai pakaian dalam saja.


"Kenapa sih kamu lebih mentingin orang lain daripada diri kamu sendiri? Aku jadi iri loh!" kata Erlan kemudian mengecup leher Diandra seraya meremass buah yang menggantung di dadanya.


"Ish ... Mas!" bentak Diandra melepas paska tangan Erlan kemudian berbalik dan mendorong tubuh Erlan. "Aku nggak akan mau tidur sama kamu selama satu minggu kalau kamu nggak cepet siap-siap dan menjenguk Mbak Cherin!" ancam Diandra, lagi-lagi Erlan harus menghela napas panjang.


"Iya, Nyonya Erlan! Perintah dilaksanakan," kata Erlan yang segera merapikan dasinya dan memakai sepatu.


Tidak butuh waktu lama untuk bersiap, Diandra dan Erlan segera turun dari kamar dengan terburu-buru. Bahkan Diandra rela melewatkan sarapannya. "Aduh, Nek! Nanti aja sarapannya kalau udah tahu pasti keadaan Mbak Cherin," kata Diandra saat berpamitan pada Nenek juga Maminya.


Kedua wanita itu sudah tidak membenci Cherin seperti sebelumnya. Apalagi saat tahu Cherin sudah menikah dari cerita Diandra. Mereka juga kerap dijadikan pendengar setia tentang bagaimana kehidupan Cherin saat ini. Walaupun tidak sedetail yang diceritakan pada Erlan, tetapi Nenek dan Maminya tahu jika Cherin telah bahagia dengan kehidupan Cherin yang sekarang dan tidak khawatir lagi Cherin akan menggangu rumah tangga Diandra.


"Porsinya sedikit sekali, Erlan kok nggak dikhawatirkan sih? Jangan-jangan Erlan benar-benar bukan cucu Nenek," keluh Erlan langsung mendapatkan pukulan di lengannya.


"Siapa yang peduli sama kamu kecuali Diandra! Udah buruan berangkat, katanya buru-buru!" Nenek segera mendorong pelan tubuh Diandra agar segera berangkat.


"Makasih ya, Nek!" kata Diandra yang segera pergi bersama Erlan dengan memeluk kotak makan pemberian Nenek Harni.


"Ma, kenapa tiba-tiba sedih?" tanya Mami Hasna sesaat setelah kedua anaknya keluar dari rumah.


"Menurut kamu, apa mereka akan terlihat bahagia terus seperti itu tanpa kehadiran anak?" jawab Nenek Harni dengan suara beratnya.


"Ma ... ini belum juga ada satu tahun. Dokter bilang kita harus tunggu satu atau dua tahun baru bisa program hamil walaupun kemungkinan itu kecil, tapi Hasna yakin Diandra bisa melahirkan pewaris keluarga ini," sahut Mami Hansa seraya menggenggam tangan Mamanya.


"Mama mulai khawatir umur Mama nggak sampai sejauh itu. Tapi Mama berdoa semoga Diandra terus diberikan kebahagiaan." Keduanya pun berpelukan.


...***...

__ADS_1


"Mas, aku merasa Nenek akhir-akhir ini agak berubah sikapnya, kenapa ya? Saat aku tanya apa ada yang sakit, jawabnya nggak pa-pa," kata Diandra yang asik menikmati sarapannya di mobil bersama Erlan.


"Kamu serius?" Erlan tentu tidak bisa membedakan sikap Neneknya sendiri karena yang paling punya banyak waktu adalah Diandra.


"Hm. Tapi semoga saja itu cuma tebakan aku aja, Mas." Diandra kembali menikmati sarapannya hingga kotak makan itu benar-benar kosong.


Tiba di rumah sakit yang dimaksud, Diandra segera melakukan panggilan telepon dan langsung diangkat. Ternyata ruang rawat Cherin ada di poli kandungan. Awalnya Diandra ragu untuk masuk karena ruang rawat itu menandakan jika Cherin hamil. Ada rasa tidak biasa dalam diri, hanya logikanya terus memaksa untuk menjenguk Cherin.


"Mbak!" panggil Diandra pelan saat melihat Cherin sedang terbaring lemah dengan infus yang terpasang ditangan.


"Oh, hai!" sapa Hanes yang kemudian berjabat tangan dengan Erlan. "Ternyata nggak pa-pa. Dia lemah karena ada anggota baru ditubuhnya. Baru masuk lima minggu," jelas Hanes membuat Diandra benar-benar merasakan hal aneh dalam dirinya.


"Maksudnya ... Cherin hamil?" tanya Erlan dan Hanes langsung mengangguk.


Tidak ada waktu untuk memikirkan hal aneh yang menyerang tubuh Diandra. Segera Diandra menghampiri Cherin dan menggenggam tangannya. "Selamat ya, Mbak! Ya ampun ... aku seneng banget dengernya. Semoga sehat ibu dan calon baby," kata Diandra merasa dirinya penuh kepura-puraan.


"Aku juga nggak nyangka bakal secepat ini. Aku berdoa semoga kamu juga segera hamil dan mimpi aku tempo hari bisa benar-benar menjadi kenyataan," jawab Cherin semakin terlihat jelas raut wajah kesedihan Diandra. Bahkan sampai detik ini saja, Diandra tidak percaya diri kalau dirinya bisa hamil kembali.


"Selamat, Tuan Hanes!" ucap Erlan seraya memberikan tepukan di bahu Hanes.


"Ternyata kedua orang cemen itu bisa benar-benar akur begitu ya, Mbak." Cherin terkekeh. Begitu juga dengan Hanes dan Erlan. "Kamu bisa semakin puas mengerjai Tuan Hanes," bisik Diandra yang masih bisa di dengar jelas oleh kedua laki-laki yang berdiri tidak jauh dari brankar Cherin. Padahal Diandra sedang mengalihkan perhatiannya atas perasaan yang sedang kacau. Walaupun mereka semua terkekeh atas candaannya, tetapi tidak bisa dipungkiri jika Erlan bisa menebak apa yang dirasakan sang istri.


"Kamu juga nanti punya kesempatan yang sama, Sayang." Erlan meyakinkan Diandra, sayangnya hanya dibalas dengan senyuman terpaksa.


Erlan pun tidak berani berlama-lama menemani Cherin dan memaksa secara halus pada Diandra untuk segera pulang karena mereka juga ada urusan. Akhirnya Diandra menurut dan berpamitan pulang juga berjanji akan menjenguk kembali nantinya.


"Sayang, kamu kenapa berwajah palsu?" tanya Erlan setelah mereka berada di dalam mobil.


"Aku juga ingin hamil, Mas! Kita yang menikah duluan, tapi mereka yang punya anak duluan," jawab Diandra seraya menitikkan air matanya. Erlan langsung memeluk sang istri.


"Sabar ya? Baru tadi pagi kamu bilang senang dengan kebahagiaan yang di dapat Cherin, kenapa sekarang kamu malah iri padanya? Kita juga akan dapat giliran kebahagiaan ini, kok!" Diandra hanya bisa mengangguk dalam pelukan Erlan.


........

__ADS_1


__ADS_2