
Dua hari kemudian, Diandra sangat senang mendengar kabar jika operasi pencangkokan jantung Ibu Dona telah berhasil dan hasilnya cukup memuaskan. Untungnya saat itu Dokter langsung mendapatkan donor jantung untuk Ibu Dona dan bisa langsung segera melakukan tindakan operasi.
"Mas!" teriak Diandra membuat Erlan yang ada di kamar mandi langsung keluar tanpa baju dengan berlumpur busa sabun dan sampo.
"Kenapa, Sayang?" Erlan langsung menghampiri Diandra dan membalikkan tubuhnya untuk melihat apa terjadi sesuatu dengan Diandra. Bukannya menjawab, Diandra malah tertawa terbahak-bahak.
"Astaga ... kenapa kamu lucu sekali, Mas! Haha!"
Erlan yang tadi khawatir berubah menjadi kesal karena merasa dibodohi oleh istrinya. Matanya bahkan menahan perih demi menghampiri Diandra, tetapi ternyata Diandra sedang mengerjainya.
"Oh ... bagus ya ... bagus! Istriku sangatlah nackal! Kamu harus dikasih pelajaran emang!"
Diandra yang sejak tadi tertawa tiba-tiba berhenti seketika itu juga saat melihat Erlan mengubah raut wajah khawatirnya menjadi raut wajah mesumm. Terlihat Erlan melirik Ezra yang sedang sibuk bermain di box dengan begitu tenang. Diandra mulai curiga dan hendak berlari pergi menjauh, sayangnya tangan Erlan lebih cepet menangkap tubuhnya.
"Mas, ampun! Aku itu ... aku nggak maksud apa-apa, suwer!" ucap Diandra seraya mengangkat jari tangannya membentuk huruf V.
"Ter-lam-bat!" jawab Erlan dengan sengaja mengeja kata menandakan jika dia sedang marah kemudian menarik paksa tangan Diandra masuk ke dalam kamar mandi dan melepaskan semua yang menempel ditubuhnya.
"Ish ... Mas! Ichan sendiri, kasian!" keluh Diandra, tetapi tidak direspon oleh Erlan. Setelah sama-sama tanpa baju, Erlan segera menyalakan shower tanpa melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Diandra.
Erlan membilas rambut juga tubuhnya dari busa sampo dan sabun, kemudian menarik Diandra dalam pelukannya. Keduanya pun saling bertautan di bawah guyuran air yang menghangatkan tubuh.
Cukup lama Erlan dan Diandra saling berciuman mesra hingga ciuman itu berubah saling menuntut satu sama lain. Semakin lama maka semakin panas rasa yang menjalar ditubuh keduanya.
"Emh ... ah!" lolongan yang begitu terdengar seksi lepas begitu saja dari mulut Diandra saat Erlan mulai memberikan sentuhan-sentuhan manja padanya. Diandra yang sempat menolak dan berontak, kini menikmati permainan yang semakin memanas.
Untungnya Ezra menang anak yang pintar dan anteng. Jarang sekali yang namanya rewel dan jika rewel seperti memberikan sebuah firasat seperti sakitnya Nenek Harni dan Ibu Dona. Ezra yang sudah bisa melihat dan merespon selalu asyik dengan mainan yang menggantung dan berbunyi di depannya.
"Kenapa tadi teriak, hm? Sengaja mau bikin jantung aku copot? Emh!" bisik Erlan tepat ditelinga Diandra seraya menikmati lehernya dan meninggalkan tanda cinta disana.
Diandra yang sudah diambang kenikmatan sampai bingung bagaimana harus merespon, antara mendesah atau harus menjawab pertanyaan Erlan yang belum sempat dia jelaskan tadi.
"Ah, itu ... emh ... operasi ibu ah, berhasil, Mas!" jawab Diandra sambil sesekali mendesahh menikmati permainan Erlan yang selalu membuat Diandra melayang.
"Oh ... syukurlah! Seharusnya istriku berterima kasih, bukan? Emh ... ah! Ayo ... bilang terima kasih pada suamimu ini, ahh!" rayu Erlan yang terus meningkatkan hawa panas dengan sentuhan-sentuhan eksotis. Bahkan Erlan kini sudah berada di depan gundukan kembar yang menjadi makanan pokoknya anaknya.
"Iy-iya ... ah, Mas ... enak ... ah, maksudnya terima kasih, Suamiku Sayang, ahh!" Mendengar ungkapan terima kasih yang begitu menggairahkan, Erlan kembali melahap bibir manis Diandra seraya meremass gundukan kenyal milik istrinya dengan sangat lembut. Kini tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua selain saling bersaut suara kenikmatan.
Tidak mau berlama-lama menikmati indahnya bercinta, Erlan pun mempercepat goyangannya hanya dengan satu gaya karena khawatir juga jika Ezra tiba-tiba menangis sebab tidak ada yang menemaninya.
__ADS_1
"Emh! Sayang ... ah, aku ... aku sampai ... ahhh!" Akhirnya permainan panas di bawah guyuran air shower itu selesai.
Erlan dan Diandra mandi bersama diiringi tawa riang karena berapa kali pun mereka bercumbuu, rasanya tetap sama dan tetap nikmat. Itu karena keduanya benar-benar saling mencintai dan saling memiliki satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak ada rasa bosan ataupun rasa-rasa lainnya yang menggangu keharmonisan rumah tangga mereka.
...***...
"Mas, nanti aku mau ke rumah sakit ya jenguk Ibu. Soalnya Mami katanya sampai sini kemungkinan besok pagi karena berangkat malam dari sana. Jadi aku mau jenguk Ibu dulu di rumah sakit. Sama mau bawa makan buat Kak Pras. Katanya kangen sama masakan aku," kata Diandra meminta izin.
"Boleh, tapi aku juga ikut dong! Abis makan siang aja kita kesana bareng. Kamu nanti ke kantor aja dulu," jawab Erlan seraya memakai dasi di depan cermin.
Diandra yang senang karena Erlan benar-benar menganggap ibu dan saudara tirinya itu sebagai keluarga, segera menghampiri Erlan dan membantu memakaikan dasi berwarna navi tersebut.
"Aku bangga sekali punya suami seperti kamu, Mas! Semoga keluarga kita terus mendapat kebahagiaan yang tak terhingga ya, Mas."
"Iya, Sayang. Aku yang seharusnya bangga punya kamu karena berhasil merubah semua yang ada dalam diriku ini. Semua kebahagiaan datang setelah aku punya kamu. Jadi aku yang bangga punya istri seorang Diandra Ayunda," ucap Erlan lalu mencium kening Diandra cukup lama.
Diandra hanya memejamkan matanya menikmati ciuman hangat itu. Ciuman yang benar-benar menyalurkan rasa cinta amat dalam dari seorang Erlangga Saputra.
"Aku sangat mencintaimu, Mas."
"Aku lebih mencintaimu, Sayang."
"Apa aja, Sayang. Apa pun yang kamu masak pasti enak karena dibuatnya dengan cinta, emuah!" jawab Erlan lagi-lagi mendaratkan ciuman di kedua pipi Diandra.
"Oke! Kalau gitu kamu yang gendong Ichan ya ke bawah. Aku duluan!" Diandra pun beranjak setelah Erlan menganggukkan kepalanya. Dia masih harus memakai sepatu pantofel, jadi Diandra duluan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
Sebuah senyuman lebar langsung terpancar saat Erlan menatap punggung wanita yang telah menjadi istrinya hampir dua tahun itu.
...***...
"Mas, hari ini jalan-jalan yuk! Katanya ada baby spa bagus, lagi promo juga," pinta Cherin sambil fokus memakaikan baju pada Cakra perkembangan tidak jauh beda dengan Ezra. Sudah beberapa hari ini Cherin mulai belajar mengurus anaknya sendiri walaupun sesekali dibantu oleh baby sitter karena belum terlalu mahir seperti Diandra yang mengurus anak sendiri sejak lahir.
"Sama Nona Diandra aja ya? Sekalian kan Ezra juga diajak spa. Pasti seru! Soalnya aku lagi ada keperluan yang nggak bisa ditinggal hari ini," jawab Hanes membuat Cherin tiba-tiba murung.
Jadwalnya memang cukup padat dan banyak yang harus diurus karena sedang kedatangan brand ambassador dari Paris. Namun tiba-tiba Hanes merasa aneh karena ucapannya tidak mendapatkan respon.
Menyadari Cherin tak bersuara lagi, Hanes menoleh menatap Cherin yang malah duduk diam dengan menyilangkan kedua tangan dan kakinya. Bahkan Cakra belum memakai celana, tetapi Cherin malah duduk diam saja. Hanes tahu mungkin Cherin kecewa dengan jawaban darinya.
Hanes pun menghampiri Cherin kemudian duduk di atas tempat tidur dan memakaikan celana pada Cakra yang senyum-senyum sendiri sejak tadi bermaksud mengajak Mama dan Papanya bermain. Sayangnya sikap Cherin tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bermain, melainkan sedang marah.
__ADS_1
"Kenapa, hm? Kok tiba-tiba diem? Hari ini bener-bener nggak bisa ditinggal, Sayang. Kalau mau besok, aku usahakan. Tapi kalau hari ini ... maaf banget, nggak bisa! Kan kamu biasanya seneng banget kalau pergi sama Nona Diandra. Suami aja sampai dicuekin," ujar Hanes dengan nada bercanda seraya mengusap ujung kepala Cherin. Namun dengan cepat Cherin menepis tangan Hanes.
Hari-hari Hanes menang cukup berat di kehamilan Cherin yang kedua ini. Dia harus banyak sabar menghadapi Cherin yang sering marah bahkan memintanya untuk tidur di kamar tamu. Belum lagi tentang ngidam yang aneh-aneh dan harus segera dituruti demi si jabang bayi supaya tidak ileran.
Melihat Cherin yang tidak merespon dan malah mengerucutkan bibirnya, Hanes hanya menghela napas panjang dan hendak mengusap kembali ujung kepala Cherin, tetapi dengan cepat Cherin beranjak dari tempat tidur.
"Sayang ... kenapa sih? Aku kan kerja, bukan karena nggak mau anter kamu dan Cakra baby spa loh, serius!" kata Hanes mengikuti langkah kaki Cherin yang berdiri di depan jendela sedang menatap jauh keluar.
"Diandra benar-benar beruntung, Mas." Tiba-tiba Cherin bicara seperti omong kosong karena tatapan matanya berbeda. "Pasti dikehidupan sebelumnya ... dia itu banyak berbuat baik ya, Mas," ucap Cherin membuat Hanes mengangkat satu alisnya karena tidak mengerti kemana arah pembicaraan istrinya itu. Apalagi pandangan mata Cherin menunjukkan raut wajah sedih.
"Nona Diandra kenapa?" tanya Hanes kemudian meraih tangan Cherin dan mencium punggung tangannya. Cherin pun menatap Hanes.
"Bik ... Cakra bawa main dulu ya?" titah Cherin, dan baby sitter Cakra segera membawanya keluar dari kamar. "Hari ini Diandra nggak bisa keluar sama aku karena mau menjenguk ibunya yang baru aja operasi cangkok jantung, Mas! Makanya aku ajak kamu. Aku sedikit bosan di rumah," jelas Cherin lagi-lagi membuat Hanes bingung.
Bukan karena Cherin yang bosan di rumah, tetapi karena Diandra yang masih mempunyai seorang Ibu. Selama ini Hanes tidak pernah tahu kalau Diandra masih punya orang tua karena saat kelahiran Diandra, dia tidak melihat orang tua ataupun saudara lainnya.
"Nona Diandra masih punya ibu? Kok kita baru tau kalau dia masih punya ibu. Terus ... selama ini ibunya kemana kok baru nongol?" Hanes benar-benar belum mengerti apa-apa. Dia jadi sedikit tertarik dengan cerita Cherin.
"Hm. Selama ini dia dibesarkan dan tinggal dengan ibu tiri dan kakak tirinya, Mas. Sampai akhirnya mereka menjual Diandra pada Erlan dengan harga satu juta dollar. Erlan dulu terpaksa menikah dengan Diandra karena saat itu aku lebih mementingkan kamu di Paris daripada pernikahan aku dengan Erlan untuk menutupi rasa malunya sebagai pengganti mempelai wanita. Kamu pasti masih ingat waktu itu bagaimana kamu membujukku untuk tetap tinggal di Paris dan bersenang-senang sama kamu."
Hanes tertegun. Masa lalu itu memang tidak perlu banyak diingat. Namun adanya masa depan yang lebih baik juga karena belajar dari kesalahan di masa lalu, bukan? Hanes terdiam beberapa saat hingga dia kembali menghela nafas. Bukan karena menyesali perbuatannya dulu dengan Cherin. Namun karena sedih.
"Sayang, apa kamu nggak bahagia dengan aku sekarang? Kenapa kamu harus iri dengan kebahagiaan orang lain? Setiap orang itu udah punya porsi kebahagiaan masing-masing. Jadi, kita nggak boleh iri dengki dengan apa yang di dapat orang lain. Katakan apa yang kamu mau, maka aku akan mengabulkan demi kamu bahagia. Kalau kamu hari ini emang mau jalan, oke! Kita berangkat sekarang, hm?"
Hanes bicara panjang lebar demi menghibur hati Cherin yang menurutnya sedang iri dengan kebahagiaan yang Diandra dapat. Bisa saja Cherin juga akan membandingkan dirinya dengan Erlan karena Erlan adalah mantan kekasihnya selama lima tahun.
"Astaga ... kamu ini bicara panjang kali lebar udah kayak mulut tetangga aja, sih! Yang iri dengan kebahagiaan Diandra itu siapa, Mas? Emang aku bilang kalau aku iri?" jawab Cherin seraya mencubit lengan Hanes hingga Hanes merintih kesakitan.
"Aw! Sakit, Sayang! Terus itu tadi namanya apa kalau bukan iri dengan kebahagiaan Nona Diandra?" tanya Hanes ingin mendapatkan penjelasan.
"Aku hanya bilang kalau Diandra itu beruntung. Aku nggak bilang aku iri dengan dia," sahut Cherin membela diri.
"Tapi itu lebih kayak kamu mengatakan iri secara halus, Sayang!" Hanes masih kekeh.
"Ish ... Mas, aku bukan nggak bahagia sama kamu. Aku cuma inget sama kedua orang tuaku. Diandra beruntung masih punya orang tua dan saudara, sedangkan aku nggak punya. Aku hanya sedikit sedih aja kalau inget sama keluarga aku sendiri. Walaupun begitu, aku juga beruntung kok punya suami seperti kamu dan kedua orang tua yang juga menyayangi aku. Terima kasih ya, Mas!"
Cherin pun memeluk Hanes. Dia juga termasuk wanita beruntung karena masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbaiki hubungannya dengan Diandra.
Hanes sangat terharu dengan ungkapan terima kasih dari Cherin. Sungguh memang setiap orang punya porsi bahagianya masing-masing. Jadi, mari kita perbanyak bersyukur dengan apa yang kita dapatkan.
__ADS_1
........