
Saat waktunya jam makan malam, Mami Hasna hendak mengantarkan makanan untuk Diandra karena Erlan ada sedikit perkerjaan di ruang kerjanya. Walaupun Mami Hasna sedih, tetapi sekuat hati dia berusaha tersenyum seperti biasa supaya Diandra tidak mengintrogasi dirinya.
Beberapa kali Mami Hasna menghela napas ragu untuk masuk ke dalam kamar. Dia bahkan menyusun banyak kata demi menghibur Diandra nantinya. Namun saat tangannya menyentuh knop pintu, tiba-tiba pintu tidak bisa dibuka karena terkunci dari luar.
"Diandra ... ini Mami bawa makan malam, Sayang!" panggil Mami seraya mengetuk pintu. Sudah cukup lama sang Mami di depan pintu, tetapi tidak ada respon dari dalam. Mami Hasna mulai panik dan segera ke ruang kerja Erlan. "Diandra ngunci diri di kamar, Er!" kata Mami Hasna membuat Erlan bergegas menuju kamarnya.
"Sayang! Kamu sedang apa?" panggil Erlan seraya mengetuk pintu cukup keras. Namun tidak ada jawaban. "Mam, kunci cadangan dimana?" tanya Erlan dan sang Mami segera mengambil kunci cadangan kamarnya.
Tentu saja pintu itu tidak bisa dibuka karena selain kunci dari dalam masih menempel di pintu, Diandra juga menambah kunci lainnya di pintu tersebut. Erlan tidak kehilangan akan dan naik ke lantai tiga. Dia ingat jika pintu balkonnya tidak dikunci.
Brug!
Erlan melompat dengan segala cara agar bisa mendarat di balkon kamarnya. Walaupun dia merasakan sakit karena terjatuh, Erlan tidak peduli dan langsung masuk ke dalam kamar. Langkahnya langsung terhenti saat melihat Diandra sedang memeluk kedua kakinya dengan kepala yang tenggelam diantara kedua kakinya di atas tempat tidur.
Aura kesedihan sudah terpancar jelas. Erlan bisa menebak jika Diandra sudah tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Terbukti dengan ponsel Diandra yang ada di lantai. Pasti Diandra sudah mencari tahu apa penyakitnya. Erlan memutuskan untuk duduk di sisi Diandra dan memeluknya. Tentu Diandra terkejut dengan kedatangan Erlan dan segera mengangkat kepalanya.
"Kenapa kamu bisa masuk, Mas?" tanya Diandra menatap Erlan yang tiba-tiba meneteskan air matanya karena tidak kuasa melihat wajah sedih Diandra dan mata yang bengkak karena terlalu lama menangis.
"Sayang, kamu kenapa menangis sampai wajah kamu jelek begini?" kata Erlan pura-pura tidak tahu apa-apa. Erlan mengambil tisu yang ada di atas nakas dan mengusap lembut wajah Diandra yang basah karena air mata.
__ADS_1
"Nggak usah pura-pura kamu, Mas! Mau sampai kapan kamu menyembunyikannya dariku andai aku nggak denger sendiri kalau aku mengidap endometriosis?"
Bibir Erlan mengulas senyum lebar walaupun matanya masih menujukkan dengan jelas pancaran kesedihan karena ada tetesan air dari mata tersebut. "Nggak apa-apa, Sayang. Bisa sembuh kok. Kamu jangan mikir macam-macam. Setelah melahirkan, kita akan berobat, hm?"
Diandra langsung memeluk Erlan bahkan kembali menangis. Kali ini bukan menahannya seperti tadi, tetapi tangisnya langsung pecah. Diandra merasakan sesak di dadanya. Tangan mencengkram punggung Erlan sekuat mungkin. Erlan membiarkan Diandra meluapkan kesedihannya hingga beberapa menit.
Setelah Diandra merasa lebih tenang, dia pun melepaskan pelukannya. Erlan merengkuh kedua bahu istrinya dan menatap lekat-lekat. "Jangan sedih! Kita akan melalui semuanya bersama. Kalau sakit, jangan coba-coba menahannya atau menyembunyikan sakitnya dariku. Kamu nggak sendirian. Ada aku yang akan selalu menemanimu, Sayang." Erlan pun memberikan kecupan singkat di kening.
"Maafin aku ... maafin aku, Mas! Aku wanita yang sangat merepotkan mu. Maafin aku!"
Tidak ada kata lain selain meminta maaf yang Diandra ucapakan. Seberapa besar Erlan menguatkan dirinya, tetap saja dia sedih karena Erlan menikahi wanita penyakitan seperti dirinya. Diandra meyakinkan diri sendiri jika memang keadaan akan baik-baik saja, tetapi tetap tidak bisa karena rasa kecewanya lebih dalam.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Semua ini bukan kemauanmu dan juga bukan kemauanku. Semua ini takdir yang akan kita lalui bersama, hm?"
"Bukan kamu yang akan melewati sendiri, tapi kita, Sayang. Kita yang akan melewatinya bersama."
"Aku takut, Mas! Aku takut!" Erlan kembali memeluk Diandra untuk memberikan rasa nyaman dan ketenangan. "Aku ... aku nggak mau kehilangan kamu, Mas!"
"Nggak akan. Kamu nggak akan kehilangan aku. Kamu dan aku akan melewati bersama." Erlan pun mencium ujung kepala Diandra dan mengusap punggungnya. Rasa yang amat sangat nyaman itu membuat Diandra tenang walaupun hanya sesaat.
__ADS_1
"Bagaimana kalau sebenarnya aku nggak hamil, Mas?"
"Kamu hamil, Sayang. Kamu beruntung. Sudah, jangan membahas hal itu lagi. Sekarang kamu harus makan, minum obat dan istirahat. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Uangku banyak, kamu nggak perlu khawatir, hm?"
Kini Diandra bisa mengulas senyum walaupun hanya tipis karena kepercayaan diri Erlan. "Kemu masih bisa bercanda, Mas?" Diandra mencubit perut Erlan.
"Aw ... geli, Sayang. Jangan begitu, takut ada yang bangun. Aku ambilkan makan ya? Tadi Mami udah siapin semuanya."
"Aku mau kamu yang suapin, Mas!"
"Perintah dilaksanakan, istriku!"
Erlan pun beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan Diandra makan. Entah harus bersyukur dengan cara apa, Diandra merasa benar-benar beruntung mempunyai suami yang begitu pengertian seperti Erlan.
........
Kembang kopi like komennya ditunggu ya 😘
........
__ADS_1
MAMPIR KE KARYA INI JUGA YUK, NGGAK KALAH SERU LOH 👇