Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Keromantisan Erlan


__ADS_3

Malam bulan madu yang benar-benar panjang bagi Erlan dan Diandra. Entah berapa kali mereka berdua melakukan pertempuran panas di atas tempat tidur hingga pagi pun menjelma. "Emh … udah pagi, Mas. Ayo bangun!" kata Diandra seraya menggeliat dan melepaskan pelukannya dari Erlan. Walaupun matanya sangat berat untuk dibuka karena begadang, tetapi Diandra memaksa untuk bangun sebab cahaya matahari yang masuk lewat jendela membuat matanya silau.


"Sayang … emh masih ngantuk nih," jawab Erlan yang malah menutup wajahnya dengan bantal saat Diandra membuka semua gorden agar kehangatan matahari bisa masuk ke dalam kamar.


"Ayo, Mas! Liat deh menara Eiffel di pagi hari nggak kalah indah sama malam," ujar Diandra yang berdiri di depan jendela menikmati udara dingin dan hangatnya sinar matahari. Benar-benar kota yang sangat tepat sekali untuk didatangi bersama pasangan. Diandra begitu bahagia dengan hari-hari yang telah dia lewati bersama dengan Erlan.


Mendengar Diandra bicara, Erlan pun terpaksa menyingkirkan bantal yang menutupi wajahnya. Dengan berat hati juga Erlan turun dari tempat tidur sambil mengucek matanya agar rasa kantuk itu segera hilang. Ia kemudian berdiri disisi tempat tidur dan mencari keberadaan istrinya. Alangkah terkejut Erlan saat melihat Diandra tanpa busana berdiri di depan jendela.


"Astaga! Sayang! Kenapa kamu nggak pake baju sih?" tanya Erlan yang langsung masuk kamar mandi dan mengambil handuk kimono berwarna putih untuk dipakai istrinya. "Gimana kalau ada yang liat dari luar? Gimana kalau dari arah jauh sana yang lagi pegang teropong atau teleskop? Kalau sampe ada yang lihat tubuh kamu selain aku, pasti bakal aku congkel matanya," lanjut Erlan yang kemudian mencium kening Diandra.


"Kamu sendiri, kenapa nggak pake baju?" Diandra terkekeh melihat Erlan yang tanpa busana malah uring-uringan padanya yang tidak pakai baju.


"Eh! Hehe kalau aku kan nggak kelihatan. Tapi ini sedikit berdiri gara-gara liat kamu nggak pake baju, loh!" jawab Erlan cengengesan.


"Pakai celana sana! Takutnya nanti burung-burung disana ngira itumu teman mereka lagi," ledek Diandra membuat Erlan yang kini terkekeh. Bukannya menuruti permintaan Diandra, Erlan justru memeluk Diandra dari belakang dan menyembunyikan juniornya di balik tubuh Diandra. "Ish … Mas!" Diandra merasa geli saat milik Erlan mengganggu pinggulnya.


"Apa sih! Emh … ini nyaman sekali. Kita lakukan lagi, yuk! Tapi di kamar mandi!" ajak Erlan seraya menggoyangkan pinggul agar miliknya semakin membuat Diandra merasakan hasrat yang kembali bangkit.


"Ya ampun … Mas! Kita semalam begadang dan pagi ini mau melakukan lagi? Bukannya kamu mau ajak aku jalan-jalan? Lagian … aku udah laper, loh!" sahut Diandra dengan suara manja. Hal itu malah membuat Erlan semakin terbakar gairahnya.


Tak menunggu lama lagi, Erlan membalikkan tubuh Diandra dan melumatt bibir istrinya seraya mendorong perlahan untuk masuk ke dalam kamar mandi. Setelah masuk kamar mandi, Erlan pun melepaskan lumatannyaa.


Diandra lagi-lagi melihat taburan kelopak bunga mawar merah di kamar mandi itu. Walaupun tidak ada lilin, tetapi nuansa merah putih di kamar mandi kembali membuat Diandra kagum akan keromantisan suaminya.


"Suka?" tanya Erlan dengan senyum menggoda. Diandra mengangguk dan melompat lalu melingkarkan kedua kakinya di pinggang Erlan juga kedua tangan yang melingkar di leher.

__ADS_1


"Aku benar-benar mencintaimu, Mas! Kamu sangat baik dan begitu romantis. Terima kasih untuk semua ini," Cukup lama memeluk Erlan, Diandra pun menatap Erlan dan menangkup kedua pipi suaminya kemudian memberikan kecupan singkat di bibir Erlan lalu kembali mengalungkan tangannya di leher dan memeluk Erlan dengan erat.


"Ah, rasanya aku ingin kembali berkeringat di dalam bathtub, Sayang," ucap Erlan segera melangkah lalu masuk ke dalam bathtub bersama dengan Diandra yang masih memeluknya. Aksi panas itu pun terulang kembali.


...***...


Erlan selesai mandi terlebih dahulu karena diusir oleh Diandra dari kamar mandi. Sebenarnya Erlan masih ingin berlama-lama berendam air hangat bersama istrinya di bathtub, tetapi karena Diandra takut milik Erlan kembali bangun, segera ia mengusirnya.


Setelah beberapa menit, Diandra pun keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar setengah dada dan rambut yang terbungkus oleh handuk. Tentu saja pemandangan itu membuat Erlan panas dingin. Namun sekuat mungkin Erlan menahannya karena tidak mau Diandra marah.


"Sayang, kenapa kamu nggak buka kado yang ada di meja putih itu?" kata Erlan seraya menunjuk kotak kado di atas meja dengan dagunya.


"Oh, aku lupa. Semalam bahkan kamu nggak kasih aku kesempatan untuk turun dari tempat tidur, Mas! Gimana aku ada waktu buat buka kado dari kamu?" sahut Diandra dengan mengerucutkan bibirnya. Erlan malah terkekeh.


Diandra pun membuka kotak kado yang besar terlebih dahulu. Di dalamnya ada sebuah baju berwarna putih lengkap dengan topi putih. Segera Diandra mengambil baju itu dan menempelkan di tubuhnya. "Cantik banget," puji Erlan.


"Orang kaya itu bebas,"


"Ya, harusnya aku nggak tanya tadi," sahut Diandra kemudian pergi untuk berpakaian. Setelah itu Erlan membantu Diandra memakai makeup tipis dan keduanya keluar untuk sarapan.


"Nggak enak ya makanannya?" tanya Erlan menatap Diandra yang terlihat kurang suka dengan menu sarapan khas Paris itu.


"Iya, Mas. Enak masakan aku," jawab Diandra dengan pedenya.


"Tapi ini makanan mahal, loh!"

__ADS_1


"Mahal juga percuma kalau nggak cocok di lidah. Kita langsung ke menara Eiffel aja yuk! Aku nggak sabar liat menara itu dari dekat," pinta Diandra dan Erlan pun mengangguk. Keduanya bergandengan tangan melangkah bersama menuju menara dengan sejuta cerita cinta.


Setibanya di depan menara Eiffel, Diandra mendongak menatap menara tersebut dengan wajah terkagum-kagum. Namun kekaguman dengan menara tersebut kalah dengan munculnya balon merah dengan jumlah banyak yang berbentuk hati. Diandra memutar tubuhnya melihat balon terbang di sekitar menara Eiffel itu.


"I love you, Diandra Ayunda!" teriak Erlan yang jaraknya cukup jauh dari Diandra. Segera Diandra berlari ke arah Erlan dan memeluknya.


"I love you too, Erlangga Saputra!" teriak Diandra. Tiba-tiba suara tepuk tangan yang meriah terdengar dan Diandra segera melepaskan pelukannya. Sorot matanya kembali berbinar melihat beberapa orang bertepuk tangan dengan membawa balon merah berbentuk hati. "Mas … ka-kamu … kamu menyiapkan ini semua?" Diandra terbata saking kagumnya karena keromantisan Erlan tiada hentinya.


Erlan mengangguk dan beberapa orang yang bertepuk tangan tadi melepaskan balon yang mereka pegang. Seketika Diandra melepaskan topinya dan mencium Erlan, tetapi Diandra menyembunyikan ciumannya dengan topi yang dia pegang karena malu dengan orang-orang sekitar.



"Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan, Mas? Aku sungguh bahagia dengan semua keromantisan kamu ini," ucap Diandra setelah puas mencium Erlan.


"Tentu saja masih banyak, Sayang. Asalkan kamu bahagia, semuanya akan aku lakukan," jawab Erlan diiringi senyuman manis.


"Terima kasih!" kata Diandra masih dengan mata yang berbinar.


"Wah … aku sangat kagum dengan keromantisan anda, Tuan Erlangga! Ternyata anda bisa sangat romantis seperti ini ya?" Tiba-tiba seseorang menyapa mendekati mereka berdua. Erlan dan Diandra terkejut karena kedatangan sosok wanita cantik dengan tatapan sinis.


........


...Jangan lupa selalu tinggalkan like komentarnya ya >⁠.⁠<...


Yuk mampir juga ke karya temen author ya. Nggak kalah seru loh. Cek 👇

__ADS_1



__ADS_2