
Silahkan siapkan tissue terlebih dahulu.
Erlan sedang berlarian menggebu dari tempat parkir menelusuri lantai rumah. Beberapa saat lalu, Erlan mendapatkan kabar jika Diandra pingsan dan terjadi pendarahan dengan kehamilannya. Tentu tanpa pikir panjang lagi Erlan segera menyusul sang istri. Rasa khawatir, takut dan entah rasa apalagi telah menjadi satu dalam benak Erlan. Bahkan sepanjang perjalanan dia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus keluar.
Memang seharusnya dia sudah siap dengan keadaan ini jauh-jauh hari karena sejak awal Dokter Amira sudah menjelaskan semuanya tentang kondisi kehamilan Diandra. Namun nyatanya mental Erlan belum siap menerima kondisi sang istri saat ini sampai-sampai Erlan menangis.
Dokter Amira sudah mengatakan sejak awal jika ada hal yang tidak normal dalam rahim Diandra. Dokter mengatakan ada beberapa jaringan yang menempel di luar dinding rahim. Jaringan itu juga bisa menjadi penyebab kenapa Diandra dulu sering mengalami nyeri saat haid dan setelah menikah dia selalu kesakitan usai berhubungan badan dengan Erlan. Begitu juga dengan kista yang membuat kandungan Diandra lemah.
Tiba di ruangan tempat dimana Diandra berbaring, Erlan segera memeluk Diandra yang belum sadarkan diri. Rasa yang tidak bisa dia ungkapkan membuat Erlan semakin terisak dengan kondisi Diandra.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya, Dok?" tanya Erlan seraya mengusap air matanya dan kini berdiri berhadapan dengan Dokter Amira. Sebenarnya Erlan sudah bisa menebak apa yang sedang terjadi melihat Nenek juga Maminya yang berdiri saling menguatkan di sisi brankar Diandra.
"Maaf, Pak. Kandungan Ibu Diandra tidak bisa diselamatkan. Anda sudah tahu betul kondisi ini," ujar Dokter Amira yang seketika membuat Erlan lemah. Pipinya yang baru saja kering dari air mata yang telah dia usap, kini kembali basah karena tak kuasa menahan kabar kematian calon anaknya.
"Lalu bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Erlan lagi walau dengan nada lemah, tetapi Dokter Amira bisa mendengar dengan jelas.
"Ibu Diandra harus melakukan kuretasi, Pak. Kami akan memindahkan pasien," jawab Dokter Amira dan kedua perawat yang ada di belakang Dokter Amira pun mendorong brankar Diandra untuk berpindah ruangan.
Sedih? Tentu saja! Orang tua mana yang tidak akan sedih kehilangan anak yang akan mengisi rumahnya dengan tangis dan tawa. Seberapa kuat Erlan mencoba bertahan, tetap saja air mata itu tidak berhenti mengalir.
"Yang sabar, Er. Nenek yakin setelah semua ini kita bisa mendengar tangis bayi, hm? Biar Diandra sembuh total dulu," Nenek Harni merengkuh bahu Erlan.
"Kamu nggak boleh terlihat lemah di mata Diandra, Er. Ambil positifnya. Takdir sedang meminta kamu untuk fokus dengan kesehatan Diandra. Kamu harus kuat, Mami paham perasaan kamu. Kita semua kehilangan, tetapi kita juga harus fokus dengan kesehatan Diandra. Mami yakin dia yang paling kehilangan diantara kita semua," ujar Mami Hasna dan langsung mendapatkan pelukan dari Erlan. Nenek Harni pun ikut memeluk mereka berdua.
__ADS_1
Belum juga Erlan menenangkan dirinya, ada seorang perawat yang datang memberikan sebuah kendi yang mana isi kendi itu adalah calon anaknya. Dengan tangan yang gemetar, Erlan pun menerima kendi tersebut lalu melihat isinya. Tangisnya semakin pecah saat apa yang dia lihat itu sudah berbentuk walaupun ukurannya sangatlah kecil dengan kulit transparan.
"Nak, Ayah harap kamu nggak marah sama Ayah apalagi sama Ibu, ya? Ibu sudah sangat berjuang dalam kesakitannya mempertahankan mu. Hanya saja takdir berkata lain. Ayah ikhlas atas kepergianmu dan tunggu kami di surga," kata Erlan kemudian menutup kembali kendi tersebut dan pulang untuk menguburkan calon anaknya.
...***...
Proses kuretasi berjalan lancar. Diandra sudah dipindahkan ke ruang rawat saat Erlan kembali. Hatinya belum siap untuk mengatakan semuanya. Erlan bahkan tidak sanggup melihat betapa sedih dan pilunya perasaan Diandra saat dia tahu kabar kematian calon anaknya. Bahkan Erlan sudah ratusan kali dan kata yang dia susun untuk menyampaikan apa yang terjadi pada istrinya.
Nenek dan Maminya sengaja menunggu diluar karena Erlan tahu jika mereka semua tidak akan tahan dengan suasana saat Diandra bangun nanti.
Jantung Erlan serasa akan copot saat tiba-tiba jari jemari Diandra bergerak tanda dia akan sadar. Erlan segera mengatur napas untuk menguatkan hati. Seulas senyum lebar terlihat saat Diandra membuka kelopak matanya. Meskipun sebenarnya dia begitu rapuh, tetapi Erlan tidak boleh menunjukkan semua itu dihadapan istrinya. Dia tahu disini yang paling kehilangan adalah Diandra, bukan dia saja.
"M-Mas!" panggil Diandra lirih.
"Hm. Ada apa, Sayang?" jawab Erlan tanpa menunjukkan rasa sedihnya.
"Nggak lama. Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Perutku sakit, Mas. Kenapa pangkal pahaku juga sakit? Apa anak kita baik-baik saya? Nggak terjadi hal buruk kan dengan anak kita?" Erlan masih mengulas senyum kemudian mencium kening Diandra.
"Kamu harus sabar. Walaupun takdir berkata lain, tapi kita masih bisa mencobanya lagi," jawaban Erlan membuat dada Diandra sangatlah sesak. Namun walaupun demikian, Diandra berusaha untuk duduk. Erlan dengan cepat mengatur posisi Diandra agar nyaman.
"Nenek sama Mami kemana, Mas?"
__ADS_1
"Ada diluar,"
"Bisa panggilkan mereka? Aku mau bicara." Erlan mengangguk. Beberapa saat kemudian Nenek Harni dan Mami Hasna berdiri di sisi Diandra.
"Ada apa, Nak?" tanya Nenek Harni dengan tatapan sendu.
"Mas Erlan ... Nenek dan Mami. Diandra harap kalian bisa sabar karena aku penyakitan dan nggak bisa jaga calon pewaris kalian," kata Diandra tertunduk lesu.
"Say-"
"Maaf ... maafkan Diandra. Diandra mohon bersabarlah sedikit lagi. Diandra yakin masih bisa hamil. Diandra harap Nenek dan Mami nggak akan meminta Mas Erlan untuk menikah lagi demi memiliki pewaris," seketika itu juga ruang rawat Diandra menggema suara tangis dari Nenek Harni dan Mami Hasna. Keduanya langsung memeluk Diandra.
"Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?" tanya Mami dengan suara yang berat.
"Kamu cucu Nenek. Apa yang kamu pikirkan tidak akan terjadi. Ada banyak cara untuk mendapatkan anak, bukan hanya serta merta dengan menikah lagi," sahut Nenek Harni.
"Diandra rela saham atas nama Diandra Nenek cabut. Diandra nggak butuh itu. Diandra hanya butuh Mas Erlan yang begitu mencintai Diandra. Bisakan kalian sabar? Hanya sebentar saja," kata Diandra semakin membuat tangis diruangan itu menggema.
Nenek dan Mami pun melepaskan pelukannya. "Sayang ... kamu nggak akan tergantikan oleh wanita manapun. Aku hanya akan menjadikan kamu istriku satu-satunya," sahut Erlan kemudian menggenggam tangan Diandra dan menciumnya.
"Bahkan hanya sesaat pun Nenek nggak pernah memikirkan cucu lain, Nak."
"Mami juga nggak pernah memikirkan anak menantu lain selain kamu, Sayang,"
__ADS_1
"Terima kasih ketulusan hati dan kesabaran kalian. Diandra yakin Diandra bisa hamil lagi." Semua orang mengangguk dan kembali berpelukan.
........