Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Baby Blues


__ADS_3

Diandra langsung meminta Erlan untuk pergi menjenguk Cherin setelah Hanes mengatakan jika Cherin mengindap baby blues syndrom. Setelah keluar dari ruang operasi, Cherin tidak berkata apa pun bahkan tidak mau makan ataupun minum walau hanya sedikit. Tatapan matanya kosong dengan wajah yang sangat pucat. Diandra benar-benar sedih melihat keadaan Cherin saat ini.


Hanes bilang kalau Cherin terus murung dan seolah tidak punya semangat untuk hidup. Diandra tentu semakin sedih. Padahal seharusnya semua wanita bahagia dengan kelahiran anaknya. Menyambut anak tersebut dengan suka cita. Nyatanya tidak dengan Cherin. Hatinya seperti sedang terluka tanpa adanya obat untuk menyembuhkan luka tersebut.


"Mbak Cherin," panggil Diandra seraya meraih tangan kirinya. Awalnya Cherin hanya menatap keluar jendela. Namun setelah mendengar panggilan Diandra, ekor matanya mulai melirik, tetapi kembali menatap keluar jendela. "Mbak ... semuanya akan baik-baik aja, hm?" ucap Diandra lagi. Namun Cherin tidak memberikan respon kembali.


Diandra hanya menghela napas panjang. Tangannya meraih ujung kepala Cherin dan membelai wanita yang telah menjadi teman ngobrolnya sejak kemarin. Padahal Cherin menemani Diandra dua hari dirumah sakit, tetapi tidak ada tanda-tanda apa pun yang Diandra rasakan. Namun pagi ini terasa begitu hampa tanpa tawa dari Cherin.


"Apa yang Dokter bilang?" tanya Erlan pada Hanes yang sejak tadi duduk lemas di sofa bersama Erlan.


"Kata Dokter, cuma aku yang bisa meyakinkan dia dan melewati masa ini. Tapi bahkan aku bicara apa pun, dia nggak kasih respon sama sekali," jawab Hanes dengan keputusasaannya. Bahkan Hanes hampir saja bernada tinggi melihat Cherin yang terus murung dan tidak melakukan apa pun di atas tempat tidur.


"Mbak ... aku Diandra, Mbak nggak lupa kan sama aku?" Cherin tetap tidak memberikan respon. Tubuh lemah yang terbaring itu benar-benar seperti mayat hidup. Hanya ekor mata saja yang bergerak, sedang tubuh lainnya tetap dengan posisi yang sama sejak semalam.


"Bagaimana keadaan anak kamu?" Erlan menepuk bahu Hanes yang sejak tadi tertunduk dengan kesedihannya.


"Sama seperti anak kamu, dia ada di NICU dengan penanganan lebih khusus. Anak itu laki-laki, tetapi detak jantungnya masih sangat lemah. Beratnya juga hanya 1.8 kg. Dia butuh ASI, tapi milik Cherin belum keluar karena memang belum matang usia kehamilannya, jadi kemungkinan ASI milik Cherin nggak keluar," papar Hanes dan Diandra pun memutar kursi rodanya mendekati Hanes.


"Apa Mbak Cherin tahu masalah ini?" tanya Diandra dan Hanes mengangguk. "Sepertinya memang cuma Tuan Hanes yang bisa meyakinkan Mbak Cherin. Kalau Tuan Hanes benar-benar mencintai Mbak Cherin, berikan dukungan penuh atas apa yang dia alami saat ini. Satu-satunya orang yang dia punya hanya Tuan Hanes," lanjut Diandra. Hanes kembali menghela napas berat.


"Aku udah berusaha sejak semalam, tapi nggak bisa. Dia tetap diam." Hanes benar-benar putus asa.


"Aku akan berbagi ASI dengan anak kalian. Lagi pula dia juga laki-laki. Nggak akan masalah kalau Ezra berbagi." Hanes seolah mendapatkan angin segar mendengar perkataan Diandra.

__ADS_1


"Terima kasih, Nona! Aku akan berusaha lagi untuk meyakinkan Cherin," jawab Hanes dengan sangat antusias.


"Katakan saja kalau Tuan nggak akan berubah apa pun yang terjadi. Yakin kan dia kalau anak kalian akan baik-baik saja. Dokter disini pasti bisa menyelamatkannya. Tuan Hanes harus benar-benar sabar dan berusaha lebih keras lagi. Perasaan Mbak Cherin pasti sangat kacau karena melahirkan sebelum waktunya. Apalagi yang membuat dia seperti itu adalah mantan istri Tuan. Bisa jadi juga batinnya saat ini sedang tertekan. Jadi, tolong ... berikan support lebih untuknya."


Hanes mengangguk paham dengan perkataan Diandra. "Kamu jangan lemah. Kamu satu-satunya kekuatan untuk istrimu, ingat itu!" kata Erlan dan Hanes kembali mengangguk.


...***...


Ini adalah hari kelima Diandra di rumah sakit. Tubuhnya mulai bisa melakukan banyak pergerakan bahkan duduk pun mulai nyaman. Diandra juga senang karena ada satu alat yang terlepas dari tubuh Ezra, anaknya. "Mas, liat deh anak kita, kayak udah sedikit berisi ya?" kata Diandra yang masih membiarkan jari telunjuknya di genggam oleh Ezra.


"Iya, Sayang. Semoga anak kita segera bisa keluar dari tempat ini ya, aku nggak sabar pengen gendong dia," jawab Erlan yang hanya bisa mengusap kaca incubator anaknya.


"Anak Mbak Cherin yang mana, Mas?" tanya Diandra seraya celingukan melihat beberapa tabung incubator, tatapi tidak bisa menebak yang mana anak Cherin.


"Nak, kamu cepet sehat ya? Ibu udah nggak sabar pengen gendong. Tapi kemungkinan hari ini Ibu pulang. Kamu harus segera sehat biar bisa kumpul sama Mbah Uyut dan Nenek," kata Diandra berusaha mengobrol dengan Ezra.


Cukup lama Diandra dan Erlan di ruang NICU karena mereka hanya bisa satu kali dalam satu hari untuk bertemu dengan Ezra. Namun saat Diandra dan Erlan akan keluar, Hanes masuk ke dalam untuk bertemu dengan anaknya.


"Tuan, an-" Diandra ingin menyapa dan menanyakan yang mana anaknya, tetapi dengan cepat perawat meminta Hanes masuk sedangkan Diandra dan Erlan keluar. Ada rasa kecewa memang di raut wajah Diandra, tetapi tentu dia tahu jika ruang NICU bukan tempat bebas.


"Kamu mau ke kamar atau mau berte-"


"Ke kamar Mbak Cherin, Mas!" Erlan pun mengangguk dan mendorong kursi roda Diandra ke kamar rawat Cherin.

__ADS_1


Tiba di kamar, Cherin sedang di periksa oleh Dokter Amira. Cherin sudah mulai memberikan respon walaupun hanya anggukan dan senyuman tipis. Keadaan itu sudah merupakan suatu kemajuan.


Beberapa saat kemudian, Dokter pun pergi dan Erlan segera mendorong kursi roda Diandra mendekati Cherin. "Mbak ... kamu udah baikan?" tanya Diandra antusias seraya menggenggam tangan Cherin.


Memang keadaan Cherin semakin baik karena saat ini brankar miliknya mulai naik agar kepala Cherin lebih tinggi supaya mudah untuk makan ataupun minum. Pagi menjelang siang itu, Cherin juga tengah sarapan dan meminum obatnya. Diandra benar senang saat mendengar apa yang dikatakan Dokter Amira tadi.


Cherin hanya bisa merespon dengan anggukan. Lidahnya masih berat untuk mengucapkan kata. Diandra tentu paham dan maklum dengan hal tersebut. "Syukurlah ... kamu bisa melewati semua ini, Mbak! Aku yakin semuanya baik-baik saja. Semangat, Mbak!" kata Diandra seraya mengepalkan tangannya menunjukkan rasa semangat. Lagi-lagi Cherin hanya bisa tersenyum tipis.


Tidak lama kemudian, Hanes masuk dengan senyum merekah. "Say- eh ... ada tamu. Kebetulan aku udah foto anakku, kalian mau liat?" tanya Hanes dan segera Diandra mengangguk. Hanes pun memberikan ponselnya pada Diandra.


"Imut banget, mirip Ezra ya, Mas!" kata Diandra meraba layar ponsel Hanes.


"Namanya juga bayi, mukanya pasti mirip semua. Kalau udah besar pasti mirip Ayahnya," jawab Erlan yang ikut menatap layar ponsel itu.


"Nggak mau! Aku mau Ezra mirip aku. Kalau mirip kamu bisa-bisa nggak ada cewek yang mau jadi istrinya karena takut duluan," sinis Diandra dan Erlan hanya bisa pasrah. "Eh, Mbak Cherin juga pasti mau liat anaknya." Segera Diandra memberikan ponsel Hanes pada Cherin.


Melihat layar ponsel itu, Cherin langsung menitikkan air matanya karena seolah merasakan rasa sakit yang diderita sang anak dengan beberapa alat yang menempel. Memang baru hari ini Hanes di perbolehkan melihat anaknya. Jadi Cherin juga baru bisa melihatnya walau hanya foto saja.


"Tuan, siapa nama anaknya?" tanya Diandra penasaran.


"Aku nggak punya nama yang bagus buat dia. Biar Mamanya saja yang kasih nama," jawab Hanes dan Cherin tersenyum menatap Hanes.


"Terima kasih, Mas!" ucap Cherin seketika itu membuat Hanes langsung memeluknya.

__ADS_1


........


__ADS_2