Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Berdebat Nama


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Cherin memaksa diri untuk menjenguk Diandra setelah mendapatkan pesan darinya kalau dia telah melahirkan. Hanes yang tidak bisa mengelak pun akhirnya menuruti permintaan Cherin karena Cherin juga sekalian kontrol. "Mas! Kamu naik mobil lelet banget, sih!" protes Cherin yang sejak dari rumah meminta agar Hanes melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia segera sampai di rumah sakit.


Hanes tentu hanya bisa tersenyum tipis menanggapi kemauan istrinya. "Sayang, kamu tuh lagi hamil besar! Sabar dong! Nggak liat macet?" jawab Hanes tentu dengan nada lembut dan fokus mengemudi dengan hati-hati.


Hanes tidak pernah bicara dengan nada tinggi pada Cherin. Sejak menikah, Hanes memperlakukan Cherin dengan sangat baik apalagi setelah tahu Cherin hamil. Kehamilan Cherin juga membuat hormonnya meningkat hingga Cherin mudah tersinggung dan akibatnya Hanes harus tidur di luar.


Wajar saja jika Cherin tidak sabar ingin bertemu dengan Diandra. Walaupun dia tahu jika Diandra baik-baik saja, tetapi rasa bersalah karena tidak bisa menemaninya membuat Cherin benar-benar ingin segera memeluk Diandra. Apalagi Cherin juga sangat ingin melihat anak laki-lakinya karena namanya masih dirahasiakan oleh Diandra.


"Ya kamu nggak mau nyalip sih!" keluh Cherin yang hanya bisa meremass tangannya karena kesal dengan Hanes.


"Iya. Nanti kalau udah sampe tol, kita percepat ya laju mobilnya," jawab Hanes masih dengan nada lembut.


Entah kenapa pagi itu begitu macet sampai Cherin beberapa kali menghela napas karena bosan sekaligus kesal. "Mas, lama banget sih?" Lagi-lagi Cherin mengeluh, tetapi Hanes memilih diam dari pada salah bicara.


...***...


Tiba di rumah sakit, Cherin terus menarik tangan Hanes agar mempercepat langkah kakinya. Namun lagi-lagi Hanes memilih diam dan tetap berjalan normal karena mengingat kondisi kehamilan Cherin.


"Mas! Buruan sih!"


"Iya pelan-pelan aja. Nanti juga sampai kok! Kamu kan lagi hamil besar. Walaupun kata Dokter kamu udah bisa banyak aktivitas, tapi tetap aja kamu harus hati-hati, Sayang."


"Bawel! Buruan ah!"


Cherin tetap memaksa Hanes untuk berjalan lebih cepat hingga akhirnya keduanya pun tiba di ruang rawat Cherin. Namun langkah kaki itu langsung berhenti saat melihat Nenek Harni juga Mami Hasna sedang duduk di luar ruang rawat itu.


Ini memang bukan pertama kalinya Cherin bertemu mereka. Dulu Cherin pernah bertemu satu kali di rumah karena Erlan memaksa Cherin untuk berkenalan dengan keluarganya sebagai tanda keseriusan Erlan ingin menjadikan dia sebagai istri.


Sayangnya Nenek dan Mami tidak suka dengan penampilan Cherin yang begitu seksi. Apalagi wajah judes terlihat jelas karena Nenek dan Mami memandang Cherin dengan tatapan tidak suka.


Walaupun Diandra pernah mengatakan Nenek Harni dan Mami Hasna sudah tidak membencinya karena dia telah menikah dengan Hanes, tetapi tetap saja rasa takut dan canggung menyerangnya.

__ADS_1


"Sayang, jadi nggak? Tadi nggak sabar, sekarang malah ngelamun," protes Hanes seraya menggoyangkan badan Cherin agar sadar dari lamunannya. Cherin pun menghela napas panjang dan menguatkan diri untuk bertemu Nenek Harni juga Mami Hasna.


Kaki yang sejak tadi diam, kini kembali melangkah. Cherin mengubah raut wajah kesal menjadi wajah ramah dengan senyum tipis menghiasi bibir. Kedua tangannya menggenggam kuat lengan Hanes karena cukup gugup.


"Selamat pagi, Nek! Selamat pagi, Tante!" sapa Cherin dengan ramahnya.


"Selamat pagi, silahkan masuk!" jawab Mami Hasna tidak kalah ramah.


"Terima kasih!" sahut Cherin kemudian segera menarik lengan Hanes agar cepat masuk. "Diandra!" teriak Cherin seraya membentangkan kedua tangannya lalu memeluk Diandra yang masih terbaring di atas tempat tidur pasien.


"Akhirnya datang juga," kata Diandra yang membalas pelukan Cherin. Sayangnya pelukkan itu tidak bisa lama karena perut Cherin membatasi itu semua. "Perutnya besar banget ya!" Diandra terkekeh. Cherin pun mengusap perutnya.


"Heem. Anakku ini katanya udah tiga kilo. Katanya aku terlalu banyak makan jadi berat badan dia juga ikut naik. Kalau udah masuk trimester ketiga, aku di suruh diet, nggak boleh banyak makan manis. Kesel kan!" keluh Cherin masih mengusap perutnya. Diandra kembali terkekeh.


"Nikmati aja. Kamu hamilnya nggak kayak aku, Mbak. Enak kamu masih bisa makan banyak, sedangkan aku tiap makan keluar lagi," jawab Diandra dan Cherin menjadi sedih.


"Aku minta maaf karena nggak bisa membalas kebaikan kamu. Dulu kamu merawat aku waktu sakit, pas kamu sakit aku nggak bisa ngapa-ngapain. Apalagi suamiku itu terlalu mendengarkan kata dokter," keluh Cherin seraya melirik sinis Hanes yang duduk santai di sofa bersama Erlan.


"Belagu!" sahut Erlan.


"Ya bagus dong, Mbak. Artinya Tuan Hanes sayang dan peduli sama Mbak Cherin," ujar Diandra.


"Iya, kalau nggak sayang aku kabur sama anaknya," jawab Cherin masih dengan nada kesal. Diandra lagi-lagi terkekeh. Tentu Diandra sangat senang melihat Cherin bahagia dengan Hanes. Apalagi Hanes yang begitu mencintai Cherin layaknya Erlan yang mencintainya.


"Sayang banget dong!" sahut Hanes. Erlan malah tertawa terbahak-bahak. "Apa sih!" sinis Hanes.


"Nggak pa-pa! Nggak pa-pa!" jawab Erlan kemudian berusaha untuk tidak tertawa lagi.


"Anak kamu mana? Aku mau liat!" tanya Cherin celingukan mencari keberadaan anak Diandra.


"Masih di NICU, Mbak. Kan prematur! Aku aja belum ketemu sama dia," jawab Diandra membuat Cherin terkejut.

__ADS_1


"Loh, kok bisa? Kamu kan lahiran dari semalam. Kenapa bisa belum ketemu?"


"Aku belum bisa bangun, Mbak. Ini baru belajar miring. Abis itu belajar berjalan. Baru aku bisa jenguk dia di NICU."


"Duh ... kasian banget! Tapi syukurlah kamu bisa melewati semua ini. Mungkin kalau aku pasti udah gantung diri. Kamu emang manusia berhati malaikat. Kamu kayak bahagia setelah ini." Cherin menggenggam tangan Diandra kemudian tersenyum manis. Diandra membalas senyum itu.


"Siapa nama anak, lo? Jangan sampe nama anak kita sama!" kata Hanes.


"Ezra Ichan Saputra," jawab Erlan.


"Hm. Lumayan keren namanya. Tapi anak Tuan Hanes nanti nggak akan kalah keren," ujar Hanes masih dengan nada sombong.


"Panggilannya siapa? Ezra?" tanya Cherin pada Diandra.


"Ichan kayaknya bagus ya, Mbak! Lucu!" jawab Diandra.


"Nggak! Panggilannya harus Ezra. Aku nggak mau anakku di panggil nama tengahnya. Harus nama depan. Ezra anak Erlan. Keren kan?" ujar Erlan tak kalah sombong dengan Hanes.


"Mas!" Diandra hendak protes.


"Iya, Sayangku! Kamu mau apa, hm?" Erlan pun beranjak karena dia pikir Diandra butuh sesuatu.


"Nggak nyambung banget!" kesal Diandra membuat Erlan bingung.


"Ezra juga bagus kok! Tapi kok kayak bagus Erza ya! Lebih enak di ucapnya," usul Cherin.


"Ya udah nama anak kamu aja yang Erza," sahut Erlan sinis. Diandra hanya bisa menghela napas panjang atas jawaban Erlan.


........


...Ada yang percaya kalau ini benar-benar TAMAT? 🤣🤣🤣🤣...

__ADS_1


__ADS_2