Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Jio dan Safira


__ADS_3

Safira terpaku cukup lama. Kamar hotel yang tadinya dingin tiba-tiba menjadi panas karena rasa gugup juga takut. Kedua tangannya mengepal erat. Laki-laki yang harusnya tidur bersamanya itu adalah Erlangga, bukan Serjio. Tentu saja dia terkejut karena tugasnya benar-benar gagal total. Kamera yang merekam semua aksi panas dirinya dengan Jio tidak ada gunanya lagi.


"Ng-nggak mungkin! Harusnya uang itu udah di transfer kan? Ini bukan salahku kan? Tuan Rocky sendiri yang memintaku untuk pergi dengannya," gumam Safira yang tiba-tiba menjadi gemetar. Dia rela menjual tubuhnya karena dia masih perawan hanya demi uang dua puluh ribu dollar untuk biaya ibunya di rumah sakit.


Awalnya Safira tidak punya niat untuk pergi ke seorang mucikari yang sedang mencari gadis perawan. Namun dia sangat terdesak demi sang Ibu yang harus mendapatkan penanganan khusus karena penyakit gagal ginjal dan jantung bengkak.


Safira memang bukan gadis biasa. Walaupun dia hanya lulusan sekolah menengah atas, tetapi otaknya cerdas dan gadis itu giat belajar beberapa bahasa asing. Dia bahkan berkerja sebagai guide disebuah tempat wisata di Jakarta. Banyak turis yang menyukai keramahan Safira. Namun gajinya tidak cukup untuk mengobati penyakit sang Ibu.


Kondisi sang Ibu yang memburuk membuat Safira harus berpikir keras sampai akhirnya dia menemui seorang mucikari yang memberikan uang sangat cukup asalkan dia mau menurut. Safira bertekad untuk memberikan mahkotanya demi biaya perawatan yang tidak sedikit itu. Siapa sangka takdir berkata lain.


"Hm. Ternyata begitu! Kamu menjual tubuhmu demi uang? Kamu rela pergi ke luar negeri demi dollar? Berapa uang yang kamu butuhkan, katakan! Aku akan memberikannya. Tapi ... kamu harus menikah denganku. Tubuhmu hanya milikku mulai hari ini dan seterusnya."


Ucapan Serjio membuat Safira terkejut, tetapi sedikit lega. Siapa yang sangka takdir memberikan dia seorang yang ingin menikah dengannya setelah mereka menghabiskan malam pertama tanpa ikatan cinta. Setidaknya kalau dia hamil laki-laki itu mau bertanggung jawab karena dia tidak boleh minum obat pencegah kehamilan. Namun bagaimana dengan tugas yang dia dapatkan dari mucikari yang mengirimnya itu karena dia melayani orang yang salah.


"Safira, liat aku!" titah Jio dengan suara datar. Sang pemilik nama tidak berbalik walaupun Jio memberikan waktu beberapa menit. Akhirnya Jio yang menghampiri Safira dan memeluknya dari belakang. "Aku serius! Sudah lama aku mencari keberadaan mu. Aku menyukai mu sejak kita masih sekolah." Sungguh Safira ingin sekali terbang ke angkasa karena pernyataan cinta itu.


"Ba-bagaimana mu-mungkin?" Safira gugup. Padahal dia telah bermain panas beberapa kali dengan Jio semalam. Namun pelukan yang dia rasakan kali ini jauh berbeda. Pelukan itu memberikan rasa hangat dan sebuah ketenangan.

__ADS_1


Jio pun membalikan badan Safira. Merengkuh kedua bahunya dan menatap lekat kedua mata dengan iris berwarna coklat. Kini keduanya saling berhadapan dan seolah berinteraksi lewat sorot mata. Safira benar-benar lupa siapa laki-laki yang ada dihadapannya itu. Aneh bukan? Jio langsung mengenali Safira sedangkan Safira tidak ingat sama sekali dengan Jio.


"Aku menunggumu lebih dari sepuluh tahun, Safira. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu nggak ada kabarnya saat memasuki semester dua? Aku mencari mu bahkan mencari tempat tinggal mu. Tapi kamu udah pindah. Selama ini aku berharap kembali dipertemukan dengan wanita yang sudah mengambil sebagian hatiku, dan ... hari ini harapanku dikabulkan Tuhan. Safira ... aku benar-benar mencintaimu. Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku, hm?"


Gugup? Tentu saja! Bahkan lidah Safira tiba-tiba kaku. Pertama kali dalam hidupnya ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta bahkan langsung mengajaknya menikah. Wanita manapun pasti bahagia dan merasa paling beruntung dalam hidupnya.


"A-a-ap-apa ya-yang ka-kamu katakan i-tu benar?" Jio pun memeluk Safira kemudian mencium ujung keningnya dan membelai rambut lurus yang panjangnya hanya sebahu.


"Aku sangat serius! Kamu adalah cinta pertama yang aku cari selama ini, Safira!" jawab Jio dengan suara lembutnya.


"Apa kamu bisa membantuku lepas dari sini? Kamu bisa bawa aku pulang dengan selamat? Aku ragu dan takut, Jio!" ucap Safira tentu berharap banyak pada laki-laki yang baru saja melamarnya. Jio semakin mengeratkan pelukannya seolah pertanda bahwa Safira akan baik-baik saja.


"Istirahatlah di kamarku. Aku akan membawamu kembali ke Indonesia dengan selamat. Urusan disini, kamu jangan khawatir! Aku bisa mengatasinya. Kamu hanya perlu beristirahat, hm?" Jawaban Jio benar-benar menjadi angin segar untuk Safira. Walaupun uang yang dijanjikan mucikari tersebut belum ditransfer, setidaknya Jio sudah berjanji akan memberikan gantinya.


Safira pun mengangguk dalam pelukan Jio. Kedua sudut bibirnya memancarkan senyum yang begitu manis dengan lesung pipi yang menggemaskan. Entah perasaan apa yang dia rasakan saat ini. Rasa itu benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Terima kasih! Terima kasih sudah menjadi malaikat untukku, Jio! Aku akan menuruti apa yang kamu katakan," ujar Safira seraya menitikkan air matanya.

__ADS_1


Jio pun melepaskan pelukannya. Sorot mata mereka kembali bertemu, tetapi kali ini raut wajah keduanya berbeda. Ada pancaran cinta di mata masing-masing. Bukan hanya Safira yang bahagia tentunya, Jio jauh lebih bahagia karena menemukan cinta pertamanya yang telah dia tunggu lebih dari sepuluh tahun.


"Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu kembali, Safira!" Wanita dihadapannya itu hanya mampu mengangguk pelan diiringi senyum yang begitu manis. "Bolehkan aku melakukannya lagi? Kamu begitu menggemaskan!" Entah kenapa pikiran kotor Jio kembali hanya karena melihat wajah cantik Safira.


Normal tentunya jika Jio ingin melakukan permainan panasnya lagi karena semalaman dia melakukan hal itu tanpa sadar. "Jio! Kamu mesumm ternyata!" jawab Safira seraya mencubit pinggang Jio.


"Aku ... em ... kamu menggemaskan, Safira. Aku ... benar-benar ingin melakukannya Dalma keadaan sadar," pinta Jio serius. Safira ragu. Walaupun dia melakukan dengan sadar semalam, tidak bisa dipungkiri jika ada sedikit rasa ingin mengulang kembali permainan panas dengan laki-laki yang akan menikahinya.


"Apa kamu nggak sibuk?" tanya Safira lirih. Dia harus jual mahal terlebih dahulu karena malu jika harus mengiyakan langsung.


Jio pun memikirkan perkataan Safira. Dia hampir melupakan apa tujuannya ke negara itu. Bahkan insiden salah sasaran ini juga harusnya segera dia laporkan pada Erlangga. "Astaga ... sebenarnya hari ini seharusnya aku sibuk, tapi ... hanya sebentar saja, hm?" Otak Jio tentu masih terfokus pada wanita dihadapannya. Urusan dengan Erlangga akan dia selesaikan setelah satu ronde tambahan. Anggap saja sebagai imun pagi agar pekerjaan yang akan dikerjakan nanti berjalan dengan lancar.


........


...Wah ... Jio modus 🤣...


...Apa aku buat kisah kusus Jio dan Safira ya 😬...

__ADS_1


__ADS_2