Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Berhasil Tapi Menyesal


__ADS_3

Erlan dan Diandra keluar dari kamar saat jam makan malam tiba. Itu juga karena ada asisten rumah tangga yang memanggil. Tadinya Erlan berniat tidak keluar kamar karena Ezra dipaksa tidur oleh Erlan bahkan dia sempat berdebat dengan Diandra.


Akhirnya perdebatan itu selesai saat suara ketukan pintu membuat mereka mau tidak mau harus turun. Tentu Ezra ikut serta karena dia belum juga mau tidur. Padahal Erlan sudah berharap Ezra tidur lebih cepet dan Erlan bisa segera menuntaskan apa yang tertunda tadi. Hari sebelumnya Ezra selalu tidur pulas bahkan sejak jam tujuh malam. Entah kenapa malam ini dia memilih untuk terus membuka mata dengan sesekali tersenyum.


"Uluh-uluh, cucu Oma belum bobo ya?" Mami Hasna segera mengambil alih Ezra dari pangkuan Diandra dengan perlahan.


"Mam, Ez tidur sama Mami aja sama Nenek juga biar aku bisa kangen-kangenan," kata Erlan tanpa rasa malu sama sekali. Raut wajahnya bahkan menunjukkan rasa melas yang mendalam. Seketika itu Diandra langsung mencubit pinggang Erlan. "Aduh ... duh, sakit, Sayang! Aku kan orangnya jujur. Aku nggak mau kejadian tadi ke ulang gara-gara Ezra bangun dan aku harus bermain solo lagi," sambung Erlan kemudian duduk di kursi makan.


"Nggak pa-pa kalau Diandra bolehin Mami tidur sama Ezra. Mami malah seneng tidur ada temennya, iya kan, Ez?" sahut Mami Hasna seraya menciumi Ezra lalu ikut duduk di kursi makan tepat di sisi Nenek Harni.


"Iya, Mbah Uyut juga mau kok nenenin Ezra. Kalau kalian mau kangen-kangenan, ya silahkan aja!" kata Nenek ikut membela Erlan. Wajahnya seketika langsung berseri mendengar kedua wanita itu begitu pengertian, berbeda dengan Diandra yang terlihat menghela napas berat.


Sebagai seorang ibu yang baik, baginya dia tidak akan merasa tenang kalau sang anak tidak ada di depan mata. Mandi saja dia pakai jurus cepat karena takut anaknya rewel dan mencarinya. Biasa kalau bayi itu sudah bau keringat sang ibu, pasti bawaannya rewel terus.


Walaupun memang sebenarnya Diandra terlalu posesif, mau bagaimanapun Ezra sudah menjadi bagian hidupnya dan dia tidak akan pernah punya anak lagi, jadi Diandra sangat berat kalau harus membiarkan Ezra tidur dengan orang lain selain dirinya.


"Tuh, ibu dengerin! Para wanita itu lagi berebut anak kita, bisa buat kesempatan main berronde-ronde nanti, yes!!!" Erlan benar-benar bahagia, tetapi Diandra juga tidak bisa menolak. Antar suami dan anak, sungguh dia bingung ingin memilih yang mana yang harus diutamakan.


Diandra pun menikmati makan malamnya dengan perasaan gelisah. Padahal Ezra anteng-anteng saja dipangkuan Oma nya. Mungkin sudah menjadi naluri keibuan dia menjadi seperti itu. Akhirnya Diandra menyerah dengan menyiapkan tiga kantung ASI pada Mami juga Neneknya.

__ADS_1


"Udah nggak usah khawatir! Ezra akan baik-baik aja sama kali. Kalian main-main lah yang puas, nggak usah mikirin apa-apa, oke?" ujar Mami Hasna seraya menerima tiga kantung ASI dari Diandra kemudian pergi. Sungguh hatinya berat, tetapi dia juga tidak tega dengan Erlan yang sudah berbulan-bulan main dengan tangannya sendiri.


"Akhirnya! Yess!!!" Erlan melompat-lompat di atas tempat tidur seraya melepaskan kaos oblong yang dia pakai dan meleparkan kesembarang arah setelah mendengar pintu kamarnya tertutup.


"Mas, ish ... geli liat tingkah kamu." Diandra ingin beranjak ke kamar mandi untuk memberikan diri terlebih dahulu. Namun sayangnya Erlan segera turun dari tempat tidur dan menarik tangan Diandra ke dalam pelukannya.


"Kamu tahu, Sayang, aku ... agak gugup. Sama seperti malam pertama kita. Tapi malam itu nggak segugup malam ini sih," kata Erlan masih memeluk Diandra.


"Udah kayak orang pacaran aja, ish! Aku mau sikat gigi dulu, Mas! Lepasin gih!" Erlan malah mengeratkan pelukannya seolah tidak mau berpisah dengan Diandra. Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu bersama sang istri karena takut tiba-tiba Ezra rewel.


"Kita harus segera melakukannya sebelum Ezra mengganggu waktu pacaran kita, Sayang," ucap Erlan kemudian melepaskan pelukannya lalu membopong tubuh Diandra kemudian membawa tubuh itu ke atas tempat tidur.


"Capek banget, Mas," kata Diandra seraya menguap karena ngantuk.


"Rasanya lega banget, Sayang. Terima kasih ya, servis kamu selalu memuaskan," ujar Elena kemudian memeluk Diandra dari belakang dengan sama-sama masih bertubuh polos.


"Udah, ish! Jauh-jauh sana! Takut ada yang bangun lagi," usir Diandra sedikit mendorong tubuh Erlan. Merasa tidak tenang melihat box tempat tidur Ezra kosong, Diandra pun beranjak dari kasur lalu memungut pakaiannya. "Aku mau turun dulu liat anak kita," pamit Diandra sambil merapikan rambutnya kemudian keluar dari kamar.


Belum juga sampai diujung tangga, Diandra sudah mendengar tangisan Ezra. Buru-buru dia menuju kamar Mami Hasna dan membuka pintu kamar itu dengan perasaan khawatir. "Ichan!" Diandra pun merebut Ezra dari pangkuan Mami Hasna yang terlihat kewalahan. "Cup cup ... anak Ibu, kenapa?" Diandra segera mengeluarkan ASI nya dan langsung dihisapp oleh Ezra.

__ADS_1


"Tadi udah tidur pas di gendong, eh ... di tiduri malah nangis. Mungkin nggak biasa tidur di atas kasur Mami," jelas sang Mami membuat Diandra semakin tidak tenang kalau harus meninggalkan Ezra. Apalagi tangan Nenek Harni mulai tidak sehat karena penyakit asam uratnya. Jadi Nenek Harni juga tidak bisa diandalkan.


"Nggak pa-pa, Mam! Diandra bawa Ichan ke kamar aja." Diandra pun beranjak tanpa melepaskan ASI dari mulut Ezra.


"Kalian udah selesai main-mainnya?" Pertanyaan Mami Hasna sebenarnya sangat memalukan, tetapi mau bagaimana lagi, besok-besok Diandra akan melakukan dengan hati-hati dan disaat yang benar-benar tepat tanpa melibatkan Nenek juga Maminya.


"Udah, Mam! Udah capek. Kalau gitu Diandra ke kamar dulu ya, Mam! Nenek juga cepet istirahat, ini udah tengah malam." Keduanya pun mengangguk dan Diandra berlalu.


Erlan yang baru saja keluar dari kamar mandi sedikit terkejut melihat Ezra dibawa oleh Diandra. "Loh, kok kamu bawa, Sayang! Nggak jadi tidur sama Mami sama Nenek?" tanya Erlan yang kemudian mencium sebelah pipi Ezra.


"Dia nangis, Mas! Kayaknya nggak nyaman tidur di kasur Mami. Mungkin karena baru pertama kali juga," jawab Diandra lalu merebahkan Ezra di atas tempat tidurnya dan mengambil bedong. Suasana malam itu sedikit dingin karena baru saja turun hujan. Padahal AC di kamar itu tidak dihidupkan.


"Anak Ayah nggak mau tidur sama Nenek ya? Maunya sama Ibu ya?" Erlan mencoba bicara dengan Ezra yang masih membuka mata dengan tatapan yang masih belum tentu arahnya. Diandra kembali memberikan ASI pada Ezra setelah selesai di bedong supaya tidur semakin lelap.


Benar saja, tidak memakan waktu lama Ezra pun benar-benar tidur dan Diandra membaringkan tubuh Ezra di atas tempat tidurnya dengan dua guling di sisi kanan kiri Ezra dan memberikan selimut.


"Aku nggak mau ya Mas kejadian ini terulang lagi. Besok-besok harus semakin sabar dengan anak kita satu-satunya ini. Kita nggak akan bisa mengulang waktu bersamanya. Suatu saat kita akan berpikir bahwa anak kita ini tumbuh dengan cepat dan akan merindukan masa kecilnya. Aku harap kamu mengerti dengan ucapanku, hm?"


"Iya, Sayang. Maaf ya! Besok aku akan lebih sabar lagi. Kita tidur ya? Udah ngantuk banget, nih!" Diandra mengangguk dan akhirnya mereka bertiga tidur lelap hingga pagi menjelma.

__ADS_1


........


__ADS_2