Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Sebuah Kabar 2


__ADS_3

Diandra segera dilarikan ke rumah sakit dengan diiringi isak tangis dari Nenek Harni dan Mami Hasna. Mereka berdua tentu saja sangat khawatir juga syok dengan kondisi Diandra dan langsung menghubungi Erlan untuk segera pulang.


Tiba di rumah sakit, Diandra segera ditangani oleh Dokter yang memang sudah dihubungi oleh Mami Hasna dalam perjalanan ke rumah sakit tadi. Diandra dilarikan ke icu bahkan hingga dua jam kemudian tidak juga ada kabar dan Nenek Harni juga Mami Hasna tidak boleh melihat Diandra sama sekali sebelum hasil laboratorium keluar.


Serjio yang mendapatkan kabar dari Erlan segera menyusul ke rumah sakit untuk membantu menenangkan Nenek dan Mami Erlan. "Sudah, Nyonya! Kita harus tenang dan banyak berdoa," ucap Jio yang tidak tega dengan keadaan yang terjadi.


"Gimana aku bisa tenang kalau cucuku ada di dalam dan nggak ada kabarnya?" teriak Nenek Harni hingga beberapa orang di rumah sakit semakin memeperhatikannya mereka. Jio hanya mencoba menenangkan agar tidak menjadi pusat perhatian, tetapi nyatanya dia malah mendapatkan amukan.


"Iya, tapi ini rumah sakit. Yang sakit bukan Nona Diandra aja, nggak enak kalau kalian berdua terus berisik dan gaduh di rumah sakit walaupun kalian punya saham disini," kata Jio lagi dan akhirnya kedua wanita dihadapannya itu mulai memelankan suara tangisannya.


Untung saja tidak lama kemudian Dokter yang menangani Diandra keluar dan langsung dihampiri oleh mereka yang menunggu kabar keadaan Diandra. "Gimana dengan cucu saya, Diandra, Dok?" Nenek Harni bahkan mencengkram tangan Dokter Amira karena memang mereka sudah kenal lama.

__ADS_1


"Harusnya kalau Nona Diandra lagi hamil muda itu makanan dijaga, Nyonya. Dia terkena alergi makanan. Syukurlah bayi dalam kandungan tidak kenapa-kenapa. Tapi dia belum boleh dijenguk sampai besok pagi ya?" jelas Dokter Amira membuat Nenek juga Mami Erlan yang mendengar kabar itu kembali menangis, tetapi kali ini tangisan bahagia.


"Jadi Nona Diandra sedang hamil, Dok?" tanya Jio memperjelas karena memang tidak ada yang tahu kabar kehamilan Diandra.


"Jadi belum ada yang tahu kalau Nona Diandra sedang hamil? Kalau begitu selamat ya Nyonya Harni dan Nyonya Hasna. Tapi saya perlu bicara dengan Tuan Erlan, ini sangat penting," sahut Dokter Amira yang langsung mendapatkan tatapan khawatir.


"Kenapa dengan Diandra? Apa ada masalah? Katakan pada kami karena Erlan masih dalam perjalanan pulang dari Inggris, Dok!" kata Mami Hasna yang terlihat tidak tenang.


"Saya harus menyampaikan ini pada Tuan Erlan selaku suaminya, Nyonya. Sebaiknya Nyonya-nyonya ini pulang terlebih dahulu dan istirahat karena untuk saat ini Nona Diandra belum boleh di jenguk. Kalian hanya boleh melihat dari luar. Kalau besok Tuan Erlan pulang, segera untuk menemui saya ya, Nyonya. Saya permisi dulu, selamat malam." Dokter Amira pun pergi.


Entah apa yang sebenarnya terjadi dengan Diandra sampai-sampai mereka tidak boleh tahu sekarang dan harus Erlan yang tahu terlebih dahulu. Namun karena memang mereka harus mengikuti saran Dokter, akhirnya mereka menunggu Erlan tiba terlebih dahulu dan meninggalkan Diandra di rumah sakit sendiri walaupun dengan berat hati.

__ADS_1


...***...


Sepanjang penerbangan, Erlan tidak merasa tenang sama sekali apalagi setelah mendapatkan kabar jika Diandra belum boleh dijenguk. Erlan hanya bisa duduk diam di dalam pesawat seraya mengusap layar ponselnya bolak-balik untuk melihat foto-foto yang Diandra kirimkan seharian bersama Nenek dan Maminya.


Sebuah penyesalan terbesit saat dia sama sekali tidak sempat untuk membalas semua pesan yang Diandra kirimkan. Dia bahkan menangis menatap layar ponsel yang terus dia zoom agar wajah Diandra semakin dekat. Erlan bahkan memeluk dan menciumi ponselnya tersebut. "Maafkan aku, Sayang! Maafkan aku!" gumam Erlan penuh penyesalan.


Mendengar kehamilan Diandra, Erlan semakin bersalah karena merasa tidak bisa menjaga anak dan istrinya. Apalagi saat dia tahu kalau Dokter ingin membicarakan sesuatu yang penting padanya. Erlan tidak bisa menebak apa itu. Jadi Erlan benar-benar tidak tahan lagi untuk segera tiba di rumah sakit. Andai saja ada pintu Doraemon, maka pastilah dia tidak perlu melakukan penerbangan hingga lebih dari lima belas jam. Sungguh, otaknya tidak bisa berpikir jernih apalagi memikirkan urusannya di London yang belum usai.


........


...**Tolong ya jangan panggil aku dengan sebutan 'Tor' karena aku bukan debkolektor 🤣 ...

__ADS_1


...Buat kamu yang nggak suka dg ceritanya ini, silahkan skip aja tanpa ninggalin jejak. Dan mohon untuk nggak kasih bintang 1-4 karena itu sangat berpengaruh. Jika berkenan tolong tinggalkan HANYA bintang 5 saja supaya cerita Author ini bisa naik, TERIMA KASIH 🙏...


...Kembang, kopi, like, tips dan komentarnya jangan lupa ya 😘**...


__ADS_2