
Dua bulan telah berlalu begitu saja. Selama itu juga Diandra hanya menghabiskan waktunya di rumah bersama Nenek dan Mami juga belajar dengan Meli karena Erlan tidak membiarkan Diandra kecapean sampai tiba cek up pertama setelah operasi pengangkatan kista dan miom.
Cek up pertamanya benar-benar memberikan hasil yang bagus. Setelah ini, Diandra tidak akan lagi merasakan sakit saat haid juga setelah berhubungan badan. Bahkan sudah dari satu bulan lalu Erlan tidak pernah libur untuk menggauli istrinya. Namun endometriosis harus tetap dipantau dan kembali cek up setelah dua bulan lagi.
Erlan pikir Diandra pasti bosan karena selama beberapa bulan hanya diam di rumah, jadi Erlan berencana mengajak Diandra pergi ke Paris alih-alih untuk melaksanakan bulan madu mereka. "Serius, Mas? Tapi dulu itu, aku bercanda loh. Aku bahkan nggak tahu Paris itu dimana dan seperti apa," kata Diandra yang sebenarnya sangat antusias dengan ajakan Erlan. Dia jadi ingat akan dimana saat Erlan menawarkan apa yang dia mau tempo dulu di hotel.
"Bagiku kamu bercanda atau nggak, itu bukan hal penting. Lagian kamu juga pasti bosan di rumah dan ... kita juga belum bulan madu, hm!" ujar Erlan seraya memeluk Diandra dari belakang. Wajahnya berbinar saking senangnya akan merasakan dunia luar. Keduanya saling bertatap lewat pantulan cermin.
"Makasih ya, Mas! Kamu suami terbaikku. Terima kasih kamu terus berusaha membahagiakan aku yang padahal belum bisa membahagiakan kamu,"
"Hei! Kamu bilang apa sih?"Erlan membalikkan badan dan merengkuh kedua bahu istrinya yang tiba-tiba terlihat sedih. "Kita akan mendapatkan apa yang kita nantikan. Kamu lupa satu bulan ini aku sangat bahagia karena kamu udah nggak kesakitan. Jadi ... jangan mengatakan itu lagi. Kita akan menghabiskan waktu kita berdua sebelum ada yang merebut kasih sayang kamu untuk aku,"
"Hah? Siapa?"
"Anak kita dong,"
"Ish ... masih lama, Mas. Ya udah kalau gitu aku siap-siap dulu ya?" Erlan mengangguk dan melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Nggak usah banyak bawa baju, Sayang. Kita bisa beli baju sepuasnya disana."
"Iya, bawel!"
Beberapa saat kemudian, Erlan dan Diandra telah bersiap. Tiket pesawat sudah di siapkan Erlan dari beberapa hari yang lalu dan dia sengaja baru memberitahukan Diandra sebagai kejutan.
"Loh ... mau kemana?" tanya Nenek yang melihat Erlan sedang menyeret koper.
"Mas Erlan ngajak jalan-jalan ke Paris, Nek," jawab Diandra kemudian menghampiri dan memeluk lengan Neneknya.
"Kenapa mendadak? Meli kan ngambil cuti dua hari," jawab Nenek sedikit kecewa.
Meli memang tugasnya sekarang beralih menjadi sekertaris Diandra. Apalagi paska operasi, Nenek jelas tidak mau cucu menantunya itu terlalu kecapean. Sayangnya anak Meli sakit dan harus di rawat, jadi kepergian Diandra yang mendadak membuat sang Nenek khawatir.
"Meli bisa nyusul nanti, Nek. Kami rencana di Paris satu minggu," kata Erlan dan Nenek pun mengiyakan.
"Awas ya kamu macem-macem sama cucu Nenek ini sebelum Meli datang? Jangan buat dia cape, ngerti!" ancaman Nenek membuat Erlan dan Diandra terkekeh.
__ADS_1
"Ya nggak mungkin dong, Nek!" jawab Erlan kemudian sang Nenek pun memeluk Diandra. "Kamu hati-hati ya? Kalau ada apa-apa segera hubungi Meli," lanjut Nenek.
"Iya, Nek. Oh ... Mami mana?" Diandra celingukan mencari keberadaan sang ibu mertua.
"Nggak ada. Udah pergi dari satu jam lalu. Lagian kenapa mendadak sih kamu, Er. Kan bisa bilang dari semalam." Nenek masih kesal.
"Namanya juga kejutan, Nek. Ya udah kita berangkat sekarang ya? Takut ketinggalan pesawat," kata Erlan seraya menggenggam tangan Diandra kemudian keduanya naik mobil setelah puas berpelukan dengan Nenek Harni.
...***...
Tiba di bandara Soekarno-Hatta, Diandra benar-benar terlihat seperti orang kampungan. Banyak hal yang baru pertama kali dia lihat dan itu membuat dia terkadang bersorak dan meloncat kegirangan menunjukkan hal baru dan kekagumannya pada sesuatu. Apalagi saat berada di lantai dua di ruang tunggu, Diandra tidak mengalihkan matanya melihat beberapa pesawat yang sedang berjejer diluar.
"Naik pesawat enak, Mas?" tanya Diandra membuat beberapa penumpang lainnya menoleh padanya.
"Iya, dong. Nanti kita akan sering naik pesawat kalau kamu suka," jawab Erlan dengan senang hati tanpa menghiraukan tatapan orang-orang disekitarnya.
Perjalanan menuju Paris itu benar-benar menyenangkan walaupun Diandra terkesan kampungan. Wajar saja karena memang itu adalah hal pertama untuknya.
__ADS_1
........
Maaf ya bab ini sebenarnya belum mateng mau di up, tapi aku mau otw pulang ke Lampung dulu. Besok kemungkinan aku libur jadi jangan ditungguin ya 😌🙏