Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Penjelasan Hanes


__ADS_3

"Siapa mereka, Mas?" tanya Cherin menatap Hanes yang masih terpaku melihat sosok pasangan yang masih berdiri diambang pintu ruang rawatnya. Bukannya menjawab, Hanes justru menghampiri orang asing tersebut dengan langkah kaki yang terlihat begitu berat.


Erlan dan Diandra hanya bisa diam saling menatap dan mengangkat kedua bahu tanda tidak mengenal mereka sama sekali. Akhirnya Erlan dan Diandra memilih mundur menjauh untuk memberikan ruang pada Hanes.


Hanes terus melangkah mendekati pria paruh baya dengan setelah batik berwarna hitam. Namun pria tersebut juga melangkah me dekati Hanes. "Ayah!" ucap Hanes lirih. Sayangnya baru beberapa langkah Hanes melangkah, sebuah tamparan mendarat sempurna di pipinya.


"Anak kurang ajar!" teriak pria paruh baya tersebut yang tidak lain adalah ayah Hanes yang bernama Tuan Hendrawan Gautama. "Berani-beraninya kamu menceraikan Sandra yang jelas-jelas setia sama kamu demi wanita penggoda itu, hah!" Lagi-lagi, tidak ada yang bisa menahan suara tinggi Tuan Hendra di ruangan itu kecuali istrinya, Nyonya Linda.


"Sabar, Yah. Kita harus dengarkan penjelasan anak kita dulu," kata Nyonya Linda seraya mengelus dada suaminya.


"Kamu mau buat Ibumu ini terkena stroke lagi, hah! Kenapa kamu merahasiakan semua ini? Kamu pikir kamu hebat udah buat media gempar dengan berita mu?" Masih dengan nada yang sama, Tuan Hendra kembali melayangkan tangannya. Namun kali ini ditahan oleh Erlan.


"Maaf, Tuan! Bisakah kita duduk dan bicara baik-baik! Ini rumah sakit, jangan buat keributan kalau tidak mau di seret oleh keamanan," ujar Erlan seraya melepaskan perlahan pergelangan tangan Tuan Hendra


"Siapa kamu berani-beraninya ikut campur?" Tuan Hanes benar-benar terlihat murka sampai tidak bisa menurunkan nada bicaranya.


"Yah, duduk dulu! Kita bicarakan ini pelan-pelan!" titah Hanes dan terpaksa Tuan Hendra menurut karena Nyonya Linda menarik tangannya untuk duduk.


"Hanes ... ceritakan, Nak! Kenapa bisa begini? Kenapa kamu menceraikan Sandra yang jelas-jelas mencintai kamu demi wanita yang mengelabui kamu itu?" tanya Nyonya Linda tentu dengan nada lembut, tetapi sayangnya lirikan matanya pada Cherin memancarkan aura tidak suka.


Suasana ruangan itu benar-benar tegang. Diandra kembali duduk di sisi brankar Cherin untuk segera menggenggam tangannya. Diandra tahu jika Cherin pasti sangat ketakutan saat ini. Sungguh cinta tanpa restu itu akan sulit.


"Mbak, jangan takut! Aku yakin semuanya akan baik-baik saja," bisik Diandra dan Cherin hanya mengangguk pelan walaupun sebenarnya air mata yang sejak tadi dia bendung ingin segera keluar.

__ADS_1


Erlan duduk di sisi Hanes dan mengusap pelan bahunya agar tenang dan bicara pelan-pelan tanpa rasa amarah yang menguasai. "Bicara baik-baik," ujar Erlan pelan dan Hanes hanya mengangguk.


"Ayah, Ibu ... dia Cherin, wanita yang udah Hanes nikahi beberapa bulan yang lalu. Dia baru saja melahirkan anak Hanes dan anak itu laki-laki," ucap Hanes langsung mendapatkan tatapan tajam dari sang Ayah.


"Mustahil! Jelas-jelas kamu itu mandul. Bagaimana bisa kamu dikelabui oleh wanita jalangg itu, hah!" teriak Tuan Hendra lagi.


"Yah, tenang! Jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit, bukan hutan!" geram Hanes menahan amarahnya.


"Nak, bagaimana bisa kamu mempunyai anak jika semua laporan medis kamu itu menyatakan kamu mandul. Bahkan kamu dan Sandra udah pergi ke tiga rumah sakit. Hasilnya sama!" sahut Nyonya Linda yang juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya.


"Buk, Sandra udah bohong. Hanes nggak mandul! Kita bisa tes DNA kalau anak itu benar-benar anak Hanes. Sandra yang udah memalsukan semua laporan medis itu karena Hanes juga udah cek ulang kesehatan Hanes. Semuanya normal dan baik-baik saja," elak Hanes, tetapi respon kedua orang tua Hanes masih tidak percaya.


"Berarti benar kalau kamu tidur dengan wanita itu selama masih menjadi suami Sandra? Kamu selingkuh dari Sandra kan? Kamu ... kamu mengkhianati cinta Sandra! Laki-laki macam apa kamu, hah!" pekik Tuan Hendra masih dengan amarahnya.


Kedua orang tua Hanes terlihat berpikir dan saling menatap satu sama lain. Ada benarnya jika Hanes tidak mencoba tidur dengan wanita lain, maka selamanya Hanes hanya akan dibodohi oleh Sandra. Hanes hanya akan tahu jika dia adalah laki-laki yang tidak sempurna. Dia juga akan terus menyalahkan dirinya sendiri dan disalahkan oleh kedua orang tua Hanes atas meninggalnya sang Nenek.


Beberapa kali Hanes mencoba mengatur napas. Berharap kali ini penjelasan bisa meredakan amarah sang Ayah juga membuka pikirannya. Bukan hanya itu, dia berharap Ayah dan ibunya bisa menerima Cherin sebagai menantu. Hal itu akan membuat Cherin mendapatkan kasih sayang dari orang tua yang selama ini dia idamkan.


"Ayah bisa melakukan tes DNA sendiri kalau ayah nggak percaya. Anak yang dikandung Cherin itu benar-benar cucu kalian. Bahkan seharusnya kalian udah punya dua cucu, tapi sayangnya anak pertama kami keguguran dan yang kedua ini juga hampir tidak bisa kami besarkan karena perbuatan Sandra."


Hanes masih mencoba membuka hati dan pikiran kedua orang tuanya. Sandra benar-benar hebat bisa mencuci otak mereka. Namun tentu wajar jika Sandra hebat karena Sandra dianggap menantu yang baik yang selalu merawat ibu mertuanya yang terkena stroke hingga keadaannya pulih dan bisa berdiri seperti saat ini.


"Kamu yakin semua ini ulah Sandra?" tanya Nyonya Linda masih terlihat ragu. Hanya sorot mata sang ibu mulai melemah menandakan kalau Nyonya Linda mulai menerima kenyataan.

__ADS_1


"Iya, Buk. Kalau kalian liat berita, pasti kalian tahu bagaimana Sandra mendorong kursi roda Cherin yang sedang hamil besar di swalayan," jawab Hanes mulai tenang.


"Kami nggak liat berita itu secara keseluruhan. Kami langsung menemui Sandra di kantor polisi. Kami kesini untuk memintamu mencabut laporan atas nama Sandra," sahut sang Ibu jelas membuat Hanes kembali naik darah.


Erlan tahu jika Hanes sedang ingin kembali marah dan Erlan lagi-lagi hanya bisa mengusap bahu Hanes agar bisa lebih tenang lagi.


"Buk! Mana mungkin Hanes mencabut laporannya. Dia hampir membunuh anak Hanes, Buk! Calon cucu kalian," geram Hanes seraya mengepalkan kedua tangannya.


"Itu tujuan awal kami, tapi sekarang mungkin Ayah juga berubah pikiran," kata Nyonya Linda melirik suaminya yang sedang menatap Cherin.


Hanes pun menghela napas panjang dan merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel. Dia mencari berita yang memang sangat viral di dunia maya itu. Hanes akhirnya memberikan rekaman cctv yang menunjukkan Sandra dengan sengaja melewati dirinya kemudian mendorong kursi roda Cherin hingga Cherin mengalami pendarahan.


Tentu saja Ayah juga ibunya terkejut melihat rekaman itu. Keduanya tidak percaya kalau sebenarnya Sandra lah yang bermuka dua. Sandra lah yang sebenarnya penyebab kekacauan keluarga Gautama.


"Ini ... benar-benar ...." Nyonya Linda tidak habis pikir bagaimana ada wanita yang setega itu menyakiti sesama wanita. Apalagi Cherin sedang hamil besar.


"Jadi kita yang telah dibodohi Sandra, Buk!" kata Tuan Hendra kini bernada penuh penyesalan.


"Iya, Yah. Selama ini kita percaya kalau Sandra itu benar-benar mencintai anak kita satu-satunya. Tapi ternyata ... kita yang bodoh termakan sandiwara wanita ular itu." Hanes kembali mengehela napas. Raut wajahnya mulai tenang karena hati dan pikiran Ayah juga Ibunya mulai terbuka.


Hanes pun melirik Cherin yang juga terlihat menghela napas lega. Dia tersenyum pada Diandra yang juga tersenyum padanya. "Jadi ... apa kalian mau lihat cucu kalian Cakrana Putra Gautama?" tanya Hanes langsung mendapatkan tatapan serius dari orang tuanya. "Itu nama cucu kalian," lanjut Hanes langsung mendapatkan senyuman manis. Seketika itu juga Hanes beranjak dari tempat duduknya untuk kemudian memeluk kedua orang tuanya. Rasanya juga sudah sangat lama Hanes tidak mendapatkan kehangatan pelukan tersebut.


........

__ADS_1


__ADS_2