Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Erlan Putus Asa


__ADS_3

Sibuk mencari bukti, Erlan sampai mengabaikan istrinya sejak kemarin. Dia bahkan tidak pulang karena kesana-kemari bersama Jio untuk membuktikan jika bayi yang dikandung Cherin bukanlah anaknya. Namun sampai keesokan harinya, Erlan dan Jio tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dari Cherin. Bahkan semua bukti memang mengarah pada Erlan. Apalagi Erlan dan Cherin sudah bersama selama lima tahun. Itu artinya hubungan antara dia dan Diandra akan benar-benar terancam.


"Brengsekk! Kenapa jadi begini? Aku yakin sekali itu bukan anakku," teriak Erlan di kantor. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul enam sore dan sejak kemarin Erlan belum pulang. Sudah ada beberapa suruhannya untuk mencari tahu tentang Cherin, tetapi sampai detik itu juga belum ada yang menemukan bukti mencurigakan.


"Kalau begini, kita harus menunggu Nona Cherin melahirkan, baru kita bisa melakukan tes DNA. Selain itu … tidak ada jalan lainnya," sahut Jio malah memperkeruh suasana.


"Gila lo? Gimana dengan Diandra? Lo tahu gimana rasa cinta aku sama dia dan gimana dengan kesehatan Nenek kalau tahu masalah ini dan … arght!" Erlan menjambak rambutnya sendiri bahkan menendang angin karena kesal. Rasanya dia juga sangat ingin menghajar orang untuk meluapkan amarahnya. "Aku harus temui Cherin sekarang juga dan minta penjelasan," lanjut Erlan bergegas pergi diikuti Jio.


Tiba di apartemen Cherin, Erlan buru-buru masuk tanpa permisi karena memang kode akses untuk masuk tidak diganti. "Eh, Honey! Akhirnya kamu kesini juga? Mau jenguk anak kita ya?" kata Cherin yang sedang duduk santai di sofa seraya memakan buah.


Erlan tidak langsung menjawab, bahkan kedua bola matanya terus menatap perut Cherin. Dia pun duduk di sofa tepat di depan Cherin. "Aku yakin itu bukan anakku!" ucapnya membuat Cherin tertawa.


"Haha … Honey, kamu pikir aku wanita gampangan? Aku setia sama kamu sejak kita pertama bertemu. Kamu nggak lupa dong kalau waktu itu kamu yang memaksa aku bahkan kamu selalu bilang akan pelan-pelan. Jangan jadi laki-laki brengsekk yang udah dapet mainan baru lalu melupakan mainan lama," jawab Cherin masih menikmati buah mangga.


"Aku yakin aku nggak pernah mengeluarkannya di dalam. Aku selalu mengeluarkan di luar," kekeh Erlan masih dengan keyakinannya.


"Maksudnya di atas perutku? Haha … Honey … coba deh kamu tanya sama Dokter, walaupun dikeluarkan di luar, tapi nggak menutup kemungkinan jika ada benih yang masuk ke dalam rahimku. Memang saat kamu melayang kamu langsung mencabutnya? Nggak kan? Sudahlah … terima aja. Ini memang anak kamu. Kamu nggak mau kan jadi Ayah yang jahat untuk kedua kalinya?"


Erlan diam. Seberapa yakin dia, tidak membuat Cherin ketakutan ataupun terlihat menyembunyikan sesuatu. Wajahnya sangat santai. Mungkin karena dia juga model makanya dia pandai berakting. "Kamu sedang bersandiwara bukan?" tanya Erlan lagi-lagi membuat Cherin tertawa.

__ADS_1


"Honey … ini anak kamu. Darah daging kamu dan calon pewaris keluargamu. Bagaimana kamu bisa bertanya seperti itu. Kalau kamu masih nggak yakin, begitu anak ini lahir, kita akan melakukan tes DNA. Gimana?" Cherin benar-benar menantang Erlan. Bahkan dia sama sekali tidak takut untuk meminta melakukan tes DNA saat anak yang dia kandung itu lahir. Artinya Erlan benar-benar dalam pilihan sulit.


"Kenapa kamu sangat yakin itu anakku?" Erlan masih ingin mendesak Cherin. Sorot matanya tidak lepas dari raut wajah Cherin. Namun dia tidak menemukan kebohongan sama sekali. Bisa saja anak itu memang anak Erlan.


"Kamu pikir, ini anak siapa? Anak Jio? Heh! Erlangga, aku udah kasih kamu pilihan untuk melakukan tes DNA saat anak ini lahir kalau kamu nggak percaya ini anak kamu. Bereskan? Tapi … ya karena aku keluar dari duniaku, kamu harus bertanggung jawab atas kehamilanku dengan memenuhi semua kebutuhanku."


"Baiklah. Kita akan tunggu anak itu lahir. Tapi syaratnya kamu nggak akan bicara apa pun pada Nenek dan Mami sampai ada bukti anak yang kamu kandung itu benar-benar anakku,"


"Kamu gila ya? Aku model dan tiba-tiba keluar rumah dengan perut besar? Apa yang akan mereka pikirkan? Aku nggak mau! Nikahi aku segera sebelum perutku semakin besar! Itu bentuk tanggung jawab kamu dengan anak yang tak berdosa ini."


"Itu nggak mungkin!" Erlan pun beranjak dari tempat duduknya karena terkejut dengan perkataan Cherin. Erlan benar-benar sedang menahan amarahnya karena terlihat sedang mengepalkan kedua tangannya.


"Kalau begitu kamu tinggal aja di apartemen sampai anak itu lahir, nggak perlu keluar rumah dan semua kebutuhan kamu akan aku penuhi," jawab Erlan masih berusaha tenang.


"Kamu nggak punya otak? Kamu membiarkan wanita hamil sendirian di rumah? Kamu pikir aku nggak perlu kontrol kehamilanku? Kamu dengar ya Erlangga, semua orang juga tahu kalau sebenarnya wanita yang akan kamu nikahi itu aku, bukan Diandra. Jadi mereka pasti berpikir Diandra itu perebut. Kalau sampai aku mengatakan kamu menghamili model ternama dan tidak bertanggung jawab, kamu pikir apa sebutan yang pantas untuk istri yang kamu banggakan itu? Mereka jelas akan mendukungku. Sadarlah … dia nggak akan bisa hamil karena penyakitnya," teriak Cherin ikut beranjak dari tempat duduknya dan benar-benar marah pada Erlan.


Kini Erlan hanya bisa kembali mengacak-acak rambutnya. Jika masalah ini sampai ke telinga media, maka bukan hanya reputasi keluarganya yang akan buruk, tetapi Diandra juga akan kena imbasnya andai Erlan tidak menikahi Cherin. Belum lagi sahamnya pasti akan turun jika Cherin benar-benar membocorkan kehamilannya.


"Selain menikah, pasti ada pilihan lain kan?" Erlan kembali duduk karena merasa semua tulangnya telah remuk. Tubuhnya lemas. Tentu saja dia tidak mau menyakiti hati Diandra. Apalagi harus menikahi Cherin, apa yang akan terjadi dengan wanita yang begitu dia cintai itu? Erlan sangat putus asa.

__ADS_1


"Nggak ada cara lain. Kamu harus menikahiku dan membiarkan aku tinggal di sisimu. Kamu pikir hamil sembilan bulan itu hal mudah? Jangan jadi laki-laki pengecut, segera nikahi aku atau aku katakan semuanya ke media bahwa Erlangga Sa-"


"Beri aku waktu untuk berpikir," Erlan pun pergi. Dengan langkah kaki yang berat, Erlan meninggalkan apartemen Cherin.


Di dalam mobil, Erlan sama sekali tidak bersuara. Tatapannya kosong dan Jio juga tidak berani bertanya sama sekali. Sampai akhirnya mobil itu pun terparkir di depan rumahnya. "Bos, kita sampai," kata Jio membuat Erlan menitikkan air matanya.


"Aku harus gimana? Kalau aku menikahi Cherin, maka … aku pasti kehilangan Diandra. Dia baru saja melewati masa sulitnya dan sekarang … sekarang dia berada … bagaimana ini … aku … aku harus gimana?" Tangis Erlan pun pecah. Bahkan dia hanya bisa meringkuk memeluk kedua kakinya.


"Bos … sebaiknya kita bicarakan ini dengan Nyonya. Mere-"


"Mustahil! Kamu tahu kesehatan Nenek buruk." Erlan benar-benar terlihat putus asa.


........


...Jangan lupa tinggalkan komentarnya....


Mampir ke karya temen author juga ya, dijamin gak kalah seru, cek 👇


__ADS_1


__ADS_2