
Erlan tidak langsung melajukan mobilnya. Dia terdiam beberapa saat di tempat parkir. Otaknya masih mencerna perkataan Hanes yang mengatakan jika dia itu mandul. Sedangkan Erlan tidak menemukan laki-laki lain selain Hanes yang tidur dengan Cherin. Sekarang Erlan tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menerima anak yang tidak berdosa itu.
Cukup lama Erlan duduk dengan menyandarkan kepalanya di setir mobil. Mata yang terpejam mengartikan Erlan sedang berpikir keras akan waktu empat bulan. Dia tentu menginginkan seorang anak, tetapi bukan dari rahim Cherin. Bahkan sejak mengenal Cherin, dia belum berniat untuk mempunyai anak.
"Argh! Sialann!" pekik Erlan memukul kemudinya. "Apa iya aku harus menikah dengan Cherin? Pantas saja dia begitu percaya diri mengatakan itu anakku. Dia pasti tahu jika Hanes itu mandul," gumam Erlan. Belum Erlan melajukan mobil, ada sebuah panggilan masuk dan itu dari istrinya. Segera Erlan mengatur napas agar tidak terdengar kesal.
"Hallo, Mas! Kamu dimana sih? Dari tadi aku telepon nggak diangkat,"
"Lagi ketemu klien, ada apa, Sayang?"
"Bohong! Aku di kantor kamu dan kata Kak Jio kamu nggak ada jadwal ketemu dengan klien." Ya, Erlan lupa mengatakan pada Jio kalau dia akan bertemu dengan Hanes. Itu artinya Erlan harus menceritakan berita yang telah dia dapatkan pada Diandra. "Mas! Kenapa kamu diam? Kamu dimana?" Diandra terdengar marah.
"Kamu di kantor?"
"Iya. Aku bawa makan siang buat kamu. Kamu dimana sih? Kenapa nggak dijawab?"
"Tunggu satu jam lagi ya? Aku akan segera ke kantor," kata Erlan segera menutup teleponnya tanpa basa-basi lagi. Erlan pun segera melaju dengan cepat untuk kembali ke kantornya.
...***...
Tiba di kantor, Erlan tidak langsung turun dari mobilnya. Lagi-lagi dia termenung cukup lama di dalam mobil. Entah apa yang harus dia katakan pada Diandra. Tentu saja Erlan tidak mau menambah kesedihan Diandra. Apalagi setelah cek up, Diandra terus meminta Erlan untuk mengehentikan kb nya karena Diandra merasa baik-baik saja dan ingin segera hamil.
__ADS_1
Jelas saja Erlan tidak mau membahayakan Diandra walaupun hasil cek up keduanya menyatakan banyak kemajuan. Namun Endometriosis harus tetap dipantau apalagi miom yang bisa tumbuh kapan saja. Erlan hampir kembali putus asa dengan apa yang telah dijalani selama ini. Bisa saja ini juga hukuman karena telah tidak sengaja mencampakkannya Cherin juga menyakiti Diandra.
"Tuhan ... aku tidak pernah minta apa-apa selama ini pada Mu. Tapi kali ini aku minta kebahagiaan untuk istriku. Tunjukkan kebesaran Mu dengan melepaskan semua masalah ini agar istriku bisa bahagia. Aku mohon ... jangan ambil kebahagiaan kami," gumam Erlan seraya membenturkan kepalanya beberapa kali pada kemudi mobil. Erlan pun menghela napas panjang kemudian segera turun dari mobil karena tidak mau membuat Diandra menunggu terlalu lama.
"Mas! Kenapa lama? katanya satu jam? ini udah satu jam lebih tiga puluh menit," protes Diandra dengan mulut yang mengerucut karena kesal terlalu lama menunggu Erlan.
"Macet, Sayang. Kan jam makan siang. Harusnya sih aku nyampe dari setengah jam yang lalu," jawab Erlan dengan santainya seraya memberikan kecukupan singkat di bibir yang mengerucut itu. Jio yang melihat keuwuwan Erlan dan Diandra hanya bisa mengelus dada lalu segera keluar dari ruang kerja Erlan karena dia tahu pasti akan ada hal panas yang terjadi.
"Kamu dari mana sih? Kenapa jaraknya juga jauh sampai butuh satu jam perjalanan?" tanya Diandra yang kini mulai bersikap biasa. Melihat suaminya yang terlihat begitu lelah, Diandra segera duduk merapat dan memeluk lengan Erlan kemudian mencium pipinya. "Apa ada masalah, hm?" tanya Diandra lagi seraya berbisik di telinga Erlan hingga hembusan napas Diandra membuat Erlan merinding.
"Kamu godain aku, hm?" kata Erlan dengan raut wajah manjanya. Erlan masih belum siap untuk menceritakan masalah Hanes. Apalagi melihat Diandra menangis. Itu adalah hal yang paling Erlan tidak bisa dia lihat.
"Aku tanya, ih. Ngapain juga repot-repot godain kamu karena kamu pasti belum apa-apa udah tergoda," ledek Diandra yang kemudian terkekeh. Segera Diandra menyiapkan makan siang untuk Erlan karena waktunya sudah lewat sejak satu jam yang lalu.
"Ish ... Mas! Jam istirahat udah lewat, buruan makan sebelum aku pecat kamu!" ancam Diandra, tetapi terdengar semakin menggoda dalam benak Erlan. Bukannya beranjak, Erlan malah semakin mendekatkan tubuhnya dan menempel dengan tubuh Diandra. Hembusan napas keduanya pun bisa dirasakan masing-masing.
"Kamu malah terdengar menggairahkan, Sayang! Sepertinya yang kamu bilang, aku selalu tergoda denganmu." Tanpa basa-basi lagi, Erlan segera melumatt bibir Diandra seraya meremass gundukan yang masih terbalut blouse. Entah kenapa gairah itu tiba-tiba muncul. Bisa saja karena rasa khawatir Erlan akan kehilangan istri tercintanya jika anak yang dikandung Cherin benar-benar darah dagingnya.
Tentu saja tidak semua wanita mau dimadu, mungkin tidak ada malahan. Bahkan Diandra sudah minta cerai sebelumnya jika anak itu benar-benar anak Erlan. Membayangkan dirinya benar-benar bercerai dengan Diandra sudah membuat Erlan hampir mati, apalagi benar-benar terjadi.
"Emh!" desahh Diandra membuat Erlan semakin bersemangat. Ciuman itu pun turun dari bibir ke leher dan meninggalkan jejak merah dibelakang telinga Diandra. "Ah ... Mas ... hentikan. Ini di kantor. Dirumah aja, hm?" pinta Diandra.
__ADS_1
"Nggak mau! Aku mau sekarang, Sayang!" Erlan tidak mendengarkan Diandra dan terus menjelajahi leher jenjang istrinya kemudian kembali pada bibir manis Diandra.
Namun tidak lama ciuman itu segera Diandra akhirnya karena ada suara ketukan pintu yang terdengar buru-buru. "Ada orang, tuh!" Segera Diandra mendorong tubuh Erlan agar bangun. Dia pun merapikan pakaian juga rambutnya.
"Sialann! Belum apa-apa udah ada yang ganggu," kesal Erlan kemudian membuka pintu ruang kerjanya. "Apa?" tanya Erlan dengan nada marah. Jio lah orang yang telah mengganggu keasikan Erlan bersama Diandra. Tangannya bahkan hampir melayang, tetapi masih dia tahan karena raut wajah Jio terlihat khawatir.
"Bos, Nona Cherin dilarikan ke rumah sakit," jelas Jio dan berhasil membuat Erlan membulatkan matanya.
"Bagaimana bisa?" tanya Erlan terkejut.
"Sebaiknya kita segera menyusulnya, Bos. Saya hanya dapat kabar dari asisten rumah tangga Nona Cherin," jelas Jio dan Erlan mengangguk paham. Erlan segera menghampiri Diandra.
"Sayang, kita harus segera ke rumah sakit," ajak Erlan pada Diandra.
"Loh, kenapa, Mas?"
"Cherin dilarikan ke rumah sakit. Mungkin terjadi sesuatu dengan kehamilannya," jelas Erlan dan Diandra segera beranjak. Mereka pun bergegas ke rumah sakit.
........
...Ada apa ya kira-kira 🤔...
__ADS_1
Yuk mampir juga kesini yang pasti gak kalah seru nih 👇