
Beberapa bulan lalu, malam hari dimana Erlan datang ke apartemen Cherin untuk mengakhiri hubungannya, di waktu yang sama juga saat itu Cherin telah selesai berhubungan intim dengan Hanes. "Kenapa meninggalkan jejak di dada begini, Tuan?" tanya Cherin sedikit kesal.
"Huh! Kenapa? Bukannya pacar kamu udah nggak butuh tubuhmu?" Hanes balik bertanya dengan sinis nya. "Sudahlah, ini malam terakhir kita. Kalau bukan karena wanita itu tiba-tiba sakit, aku juga malas kesini," lanjut Hanes segera mengenakan pakaian.
"Tapi ... bagaimana dengan kehamilan aku, Tuan?" Cherin menggenggam tangan Hanes seraya memasang wajah memohon. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa dan ragu anak siapa yang dia kandung.
"Sudah aku bilang kalau aku itu mandul, jadi itu pasti anak pacar kamu atau laki-laki hidung belang lainnya yang menjajah tubuhmu itu," jawab Hanes segera menepis tangan Cherin.
"Tidak, Tuan! Aku hanya tidur dengan Tuan dan Tuan tidak pernah mencabutnya saat keluar. Sedangkan Erlan selalu mengeluarkan di luar, Tuan," sahut Cherin dengan nada memelas.
"Persetann! Mana aku tahu kamu suka menjual tubuhmu atau tidak. Kamu berani memberikan tubuhmu demi popularitas, artinya bukan hanya aku yang sudah tidur denganmu. Jangan pernah temui aku lagi hanya untuk mempertanggung jawabkan anak haram itu!" Hanes segera beranjak dari tempat tidurnya kemudian mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seseorang. "Hapus cctv yang menunjukkan aku masuk ke apartemen Cherinna Putri sekarang juga!" titah Hanes segera mematikan ponselnya dan pergi dari apartemen Cherin dengan wajah kesal. Malam itu juga adalah pertemuan pertamanya dengan Erlan.
Cherin berusaha menahan amarahnya. Matanya kini terfokus pada botol wine yang ada di atas meja. Wine itu telah dia campurkan dengan obat perangsangg yang sengaja dia masukan saat mendapatkan pesan dari Hanes bahwa dia akan ke apartemennya dan berharap kalau Hanes mau bertanggung jawab atas kehamilan Cherin.
Namun rencana hanya tinggal rencana. Ternyata Hanes datang sudah dalam keadaan menahan hasratnya dan begitu masuk langsung menggauli Cherin dengan buasnya bahkan Cherin sangat kewalahan. Sepertinya obat yang diminum Hanes mempunyai dosis lebih tinggi dari obat yang dia masukkan ke dalam botol wine yang telah dia siapkan.
Cherin yang begitu kesal hendak membuang apa pun yang ada di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, tetapi tiba-tiba Erlan datang dan Cherin mengurungkan niatnya.
"Honey! Akhirnya kamu datang juga. Kenapa kamu melupakan aku sih?" kata Cherin dalam pelukan Erlan. Amarah yang tertahan kini hilang seketika saat Erlan datang. Apa yang telah dia siapkan untuk Hanes akan dia umpan kan pada Erlan walaupun sebenarnya tubuh Cherin sudah cukup lelah karena melayani Hanes.
__ADS_1
"Aku mau bicara serius denganmu," jawab Erlan segera melepaskan pelukan Cherin. Saat itu jantung Cherin tiba-tiba berkerja lebih cepat. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan Erlan. Secepatnya Cherin berpikir untuk menyusun rencana agar Erlan mau minum dan menjebaknya agar Erlan mau mengeluarkan benihnya di dalam rahim Cherin kemudian mengakui jika kehamilannya itu karena ulah Erlan.
"Oh, apa tentang pernikahan kita? Baiklah, ayo masuk! Kebetulan aku punya wine untuk menemani kita ngobrol," sahut Cherin segera menutup pintu dan menarik Erlan masuk kemudian keduanya duduk di sofa.
Cherin tahu jika mata Erlan sedang fokus pada botol minum memabukkan yang ada di atas meja. Tentu Cherin tidak kehabisan akal dan mencari alasan apa pun agar Erlan menjadi miliknya malam itu.
"Honey, jangan bilang kalau kamu lupa ini hari apa?" tanya Cherin. Erlan hanya mengangkat satu alisnya dan mencoba mengingat hari yang dimaksud Cherin. Dalam hati Cherin begitu bersorak gembira karena Erlan tidak tahu niat jahatnya. Apalagi hari yang dimaksud juga hanya sebuah alasan saja. "Oh ... astaga! Kenapa kamu selalu lupa dengan hari penting kita, Honey? Baiklah ... aku nggak masalah karena kamu udah datang, saatnya kita minum."
Cherin pun menuangkan wine ke dalam gelas yang ada dihadapan Erlan. Segera Cherin menyodorkan gelas tersebut pada Erlan dengan senyuman manis. Erlan masih tidak ingat dengan hari apa yang dimaksud Cherin. Namun tangannya tiba-tiba menerima gelas yang berisi wine yang disodorkan oleh Cherin kemudian meneguk habis isinya. Lagi-lagi Cherin menyunggingkan senyum dan kembali bersorak dalam hati lalu menuangkan lagi wine ke dalam gelas yang di pegang Erlan.
"Aku masih nggak ingat ini hari apa?" tanya Erlan setengah mabuk karena secara tidak sadar dia telah meminum lima gelas wine yang disediakan Cherin demi mengingat hari yang dimaksud Cherin.
"Benar-benar bodoh! Lima tahun kita bersama, bahkan kamu tidak bisa membedakan aku sedang berakting atau tidak. Tapi baguslah, kamu memang harus jadi milikku malam ini, Erlangga!" kata Cherin dalam hatinya. "Udah nggak pa-pa kalau nggak inget. Kamu mau datang dan menemaniku disini aja aku udah sangat bahagia, jadi kamu mau bicara apa, Honey?" tanya Cherin yang ikut menenggak wine.
...***...
Pertanyaan Erlan benar-benar membuat Cherin membatu. Hanes mengatakan jika cctv yang berhubungan dengan dirinya telah di hapus. Namun Erlan masih bisa menemukan perselingkuhannya dengan Hanes. Saat itu juga Cherin tiba-tiba menjadi bisu.
Suasana sendu di ruang rawatnya berubah menjadi tegang. Apalagi tatapan mata Erlan yang penuh aura membunuh itu membuat Cherin mati kutu. "Kenapa diam? Kamu pikir aku bodoh? Aku telah melakukan tes DNA untuk mencari kebenaran tentang anak yang kamu kandung itu. Bukan! Maksudnya anak yang telah kamu bunuh dengan sikapmu sendiri!" ucap Erlan yang semakin membuat nyali Cherin ciut.
__ADS_1
"Mas! Jangan bilang begitu!" protes Diandra, tetapi mata Erlan masih menatap Cherin dengan aura membunuhnya. Begitu juga dengan Cherin yang tidak bisa mengalihkan pandangannya dari tatapan Erlan.
"Kamu sengaja menjebak ku malam terakhir itu 'kan? Andai saat itu Jio tidak datang, mungkin aku benar-benar terjebak dengan perangkap mu. Malam itu juga aku melakukan kesalahan lagi terhadap istriku demi menuntaskan hasrat yang sengaja kamu ciptakan. Kamu tahu, aku jadi menyakiti istriku gara-gara kamu." Erlan menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Mas! Kita juga belum tahu hasilnya. Jadi kamu nggak berhak menghakimi Mbak Cherin. Bagaimana kalau anak itu benar-benar anak kamu karena Tuan Hanes mandul? Kamu mau minta maaf dengan cara apa pada Mbak Cherin, Mas?" kata Diandra dengan nada tinggi.
Cherin kini mengalihkan pandangannya pada Diandra. Wanita yang dia sakiti lagi-lagi membela dirinya. Cherin sangat terharu dengan sikap baik Diandra.
"Sayang ... sudah aku bil-"
"Cukup! Sampai hasil tes DNA itu keluar, kamu nggak berhak menghakimi Mbak Cherin. Dia butuh istirahat karena baru saja kehilangan anaknya. Kita pulang sekarang?" Tanpa berpamitan pada Cherin, Diandra segera keluar dari ruangan itu.
"Lihat istriku! Dia masih membelamu padahal jelas-jelas kamu sudah jahat padanya. Aku masih yakin anak itu bukan anakku. Entah itu anak Hanes atau ada laki-laki lain yang tidur denganmu. Aku nggak peduli! Sampai kamu melakukan cara licik untuk bisa mengubah hasil tes DNA itu, maka ... jangan harap kamu masih bisa hidup dengan tenang! Camkan itu!"
Erlan segera pergi menyusul istrinya. Sedangkan Cherin benar-benar tidak bisa berkutik dan hanya ada sebuah penyesalan yang begitu mendalam. "Apa ini hukuman? Tuhan ... aku ... aku harus bagaimana?" Cherin pun kembali menangis sendirian di ruang rawatnya.
........
...Hai ... yang suka genre religi, author ada karya baru terbit nih. Mampir dan masukin daftar favorit ya 😊🙏 ...
__ADS_1
...Ditunggu di karya "Jodoh Yang Rumit"...