
Erlan telah tiba di rumah sakit dari beberapa menit yang lalu dan sedang duduk di sisi brankar Diandra yang sedang terbaring lemah juga belum sadarkan diri sejak beberapa jam setelah melihat keadaan sang Nenek.
Air mata Erlan tidak berhenti membasahi pipi melihat keadaan sang istri yang begitu memilukan. Wajahnya pucat, bibirnya kering dan bagian dadanya basah karena ASI nya tidak dikeluarkan.
Cherin sudah meminta seorang perawat untuk membantu mengeluarkan ASI milik Diandra, tetapi belum juga datang. Padahal Ezra juga hanya ditinggali ASI sedikit di rumah tadi bersama Cakra.
Erlan belum bicara apa-apa pada Cherin bahkan dia belum bisa membuka mulutnya karena melihat kondisi sang istri. Dia hanya mencium beberapa kali tangan Diandra dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
Akhirnya setelah beberapa saat, Erlan pun menguatkan diri untuk memberikan support pada Diandra. "Sayang ... bangun! Aku udah datang. Tolong bangun, aku sangat merindukanmu, Sayang," ucap Erlan di dekat telinga Diandra. Namun orang yang dipanggil tidak memberikan respon. Erlan hanya bisa menghela napas panjang kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Aku mau ke ruang rawat Nenek," sambungnya pada Jio yang sejak tadi setia menemani Bosnya.
Jio hanya mengangguk paham kalau Erlan akan kesana sendiri dan Jio yang menunggu Diandra bersama Cherin. Jio tentu ikut sedih karena Nenek dan istri sahabatnya itu sedang ada di rumah sakit yang sama.
"Aduh ... kemana sih tuh Suster suruh pumping ASI Diandra kok belum kesini. Bajunya basah ini," keluh Cherin yang kini berdiri di sisi Diandra dengan rasa khawatir. Dia tidak tahu bagaimana rasa sakit yang dia alami, tetapi Cherin sungguh merasa sedih melihat kondisi Diandra yang tiba-tiba drop.
"Aku akan cari Suster nya," sahut Jio, tetapi belum dia pergi, ternyata Suster yang dimaksud Cherin datang.
"Kenapa lama sekali sih, Sus? Kasian ini bajunya juga jadi basah!" kata Cherin dengan nada kesal.
"Maaf, Bu! Tadi stok barangnya di apotik habis, jadi harus menunggu terlebih dahulu. Maaf atas keterlambatannya. Kalau begitu kita mulai sekarang ya, Bu," jawab sang perawat kemudian menarik gorden untuk menyeka ruang agar Jio tidak melihat apa yang sedang merek lakukan.
Setelah dua puluh menit, Cherin pun membawa beberapa kantung ASI eksklusif milik Diandra untuk segera dibawa pulang karena takut Ezra rewel. Tentu dia juga sudah memberi pesan pada ibu susu Cakra untuk tidak memberikan ASI sembarangan pada Ezra karena tidak mendapatkan pesan dari sang Ibu.
__ADS_1
"Jio, aku akan pulang dulu buat jagain Ezra juga. Kamu tunggu disini aja dan bilang sama Erlan nggak perlu khawatir masalah anaknya. Aku akan jaga baik-baik dia dan aku pastikan Ezra nggak akan kenapa-kenapa," kata Cherin pada Jio yang sedari tadi sedang sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah. Terima kasih sudah membantu!" jawab Jio dan Cherin hanya mengangguk kemudian segera pergi dari rumah sakit.
...***...
Mami Hasna langsung memeluk Erlan begitu Erlan datang. Untungnya Mami Hasna wanita kuat dan tidak ikut drop seperti Diandra. Sebelum Erlan masuk melihat keadaan Nenek Harni, dia dan sang Mami berbicara terlebih dahulu perihal apa yang disampaikan Paman Sam sampai Nenek Harni mengalami serangan jantung.
"Brengsekk! Tua bangka nggak punya terima kasih. Udah bagus dikasih bagian, masih saja tamak!" pekik Erlan benar-benar menahan amarahnya.
Erlan benar-benar beruntung malam itu dia tidak masuk jebakan Tuan Rocky saat diluar negeri. Feeling nya dari awal memang sudah tidak enak dan memilih untuk pergi ke toilet terlebih dahulu.
Ternyata jebakan itu benar-benar sudah direncakan oleh sang Paman. Namun Erlan tidak bisa berbuat apa-apa saat ini karena sang Nenek sudah kritis. Satu hal yang bisa dia lakukan yaitu memberikan pelajaran pada Paman Sam.
"Ah, Erlan ingat! Saat turun dari pesawat dan Jio sedang mengambil barang-barang kami, ada seorang wanita yang menabrak Erlan, Mam. Mungkin momen itu yang Paman tunjukkan pada Nenek. Mami jangan khawatir, Mami pulang aja gimana? Mami istirahat di rumah aja. Disini juga percuma Mami nggak bisa masuk nungguin Nenek."
"Tapi Mami pasti nggak tenang ada di rumah, Er. Kamu tahu Nenek kamu kritis dan Diandra juga ada dirawat. Tentu saja Mami nggak mau pulang. Kalau terjadi sesuatu dengan Nenek dan Diandra gimana?"
Erlan paham betul bagaimana perasaan sang Mami. Dia hanya bisa memberikan ketenangan lewat sebuah pelukkan. Kemudian Erlan masuk ke ruang rawat Nenek Harni setelah mengenakan pakaian khusus untuk masuk kesana.
Sama halnya seperti Diandra, Erlan begitu terpukul dengan kondisi sang Nenek. Diruangan itu hanya terdengar suara alat-alat medis yang menempel ditubuh Nenek Harni, wanita yang juga merawat serta membesarkan dirinya setelah sang Papi meninggal.
__ADS_1
Erlan bahkan hampir ambruk dilantai sebelum tangannya berhasil meraih tangan Neneknya. Dia hampir kehilangan kekuatan, tetapi dia berusaha kuat agar Neneknya juga kuat dan segera siuman.
Perlahan Erlan pun duduk dengan tubuh yang lemas di sofa di sisi Nenek Harni. Tangannya meraih tangan sang Nenek kemudian menciumnya. Ciuman itu terbatas karena adanya selang infus yang menempel disana. Tangis Erlan pun pecah.
"Nenek! Ini Erlan, Nek! Kenapa Nenek seperti ini? Erlan baik-baik aja dan nggak berbuat seperti yang Paman Sam katakan, Nek!" ucap Erlan dengan suara yang amat berat. Beberapa tetes air mata jatuh membasahi tangan Nenek Harni. Hal itu memberikan pergerakan kecil ditangan dan Erlan merasakan pergerakan itu.
Tidak pikir panjang lagi, Erlan segera menekan tombol untuk memanggil Dokter yang menangani Nenek Harni karena dia tahu jika Neneknya mendengar dan merespon. Hanya butuh dua menit saja Dokter dan dua perawat masuk ke ruangan itu. Mereka segera memeriksa alat vital Nenek Harni.
Mami Hasna ingin sekali ikut masuk, tetapi hanya boleh satu orang lain yang ada disana selain Dokter dan perawat. Kecemasan dan kekhawatiran kembali menyelimuti Mami Hasna yang hanya bisa melihat apa yang terjadi di dalam lewat kaca kecil di pintu ruangan tersebut.
Ternyata bukan hanya memberikan respon pergerakan, mata Nenek Harni mulai terbuka perlahan. Mulutnya juga ikut bergerak, dan segera dokter melepaskan alat yang terpasang di mulut Nenek Harni. Erlan pun kembali meraih tangan sang Nenek.
"Nenek udah sadar? Nenek baik-baik aja kan?" Erlan khawatir, Nek! Tolong jangan berpikir macam-macam, Erlan nggak melakukan apa pun yang dituduhkan Paman Sam, Nek! Dia hanya memfitnah Erlan," jelas Erlan dengan begitu serius dan air mata yang terus membahasi pipinya.
"E-Er-Erlan!" panggil Nenek lirih dan terbata.
"Iya, Nek, ini Erlan. Nenek cepet sembuh ya? Erlan mau kita pesta barbeque lagi, hm?" jawab Erlan seraya mencium tangan sang Nenek.
"M-m-mana m-mana Di-Dian-Diandra?" tanya Nenek lagi masih dengan keadaan yang sama. Tentu saja Erlan tidak akan memberitahu kalau Diandra drop karena kondisinya. Dia harus berbohong agar Neneknya tidak khawatir dan malah memperburuk keadaan.
"Ada, Diandra diluar, Nek! Tangan masuk ruangan ini hanya boleh satu orang. Jadi Nenek jangan khawatir. Nenek cepet harus cepet sembuh ya? Ezra pasti kangen banget sama Mbah Uyutnya," ujar Erlan seraya memberikan senyuman palsu pada sang Nenek. Sayangnya Nenek Harni kembali tidak sadarkan diri setelah mendengar Erlan banyak bicara.
__ADS_1
Dokter kembali memeriksa keadaan Nenek Harni juga memasangkan alat bantu pernapasan untuknya. "Kondisinya semakin tidak baik. Kami tidak bisa berbuat banyak, Pak. Sebaiknya kita segera keluar dari sini agar pasien bisa istirahat." Erlan hanya bisa menangis tanpa suara mendengar ucapan sang Dokter. Dia pun pergi sesaat setelah Dokter dan perawat keluar dari ruang rawat Nenek Harni.
........