Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Keresahan Cherin


__ADS_3

Hanes semakin mengeratkan pelukannya karena sangat senang mendengar suara Cherin. Setelah dua hari berlalu, baru kali ini dia mendengar Cherin bicara lagi. Hanes sangat berharap syndrom baby blues yang dimaksud Dokter Amira sudah sembuh dan tidak perlu memakan waktu hingga dua minggu ke depan seperti kata Dokter Amira.


"Akhirnya kamu mau bicara juga, Sayang! Aku sangat takut dan khawatir. Jangan begitu lagi ya? Aku sangat mencintaimu, Cherinna Putri." Cherin pun menitikkan air mata dan membalas pelukan Hanes. Sungguh Diandra juga Erlan begitu terharu merasakan suasana tersebut. "Apa yang kamu rasakan, Sayang? Ada yang sakit? Mana yang sakit, biar Dokter tahu. Bilang apa yang sakit?" tanya Hanes seraya melepaskan pelukannya dan menangkup kedua pipi Cherin.


"Nggak ada, Mas! Semangat dari kamu udah buat rasa sakit itu sembuh," jawab Cherin walau masih dengan suara yang berat. Sorot mata Hanes benar-benar membuat Cherin tenang.


"Aku harus panggil Dokter Amira supaya memeriksa kamu, Sayang," kata Hanes hendak beranjak, tetapi Cherin menarik tangannya kemudian menggelengkan kepala tanda dia tidak mau Dokter Amira datang.


"Aku cuma butuh kamu, Mas. Aku ... aku haus!" Hanes mengerti dan segera mengambilkan air untuk Cherin minum. Air dalam gelas itu bahkan hampir saja habis. Cherin terlihat menarik napas seolah ingin meluapkan perasaannya. "Mas!" panggil Cherin seraya tertunduk.


"Iya, Sayang. Kenapa? Kamu butuh sesuatu? Katakan!" sahut Hanes menarik dagu Cherin agar dia tidak menundukkan kepalanya. Lagi-lagi sorot mata Hanes membuat Cherin tenang. Demi merasakan lega dalam dada, Cherin pun bertekad mengutarakan apa yang dia takutkan.


"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Cherin masih menatap Hanes.


"Tentu saja. Aku udah berkali-kali mengatakan itu, kenapa kamu masih bertanya?" jawab Hanes seraya memberikan kecupan singkat di kening Cherin.


"Kalau anak kita kenapa-kenapa ... apa ... apa kamu benar-benar akan terus mencintaiku? Lalu ... bagaimana dengan kedua orang tuamu, Mas. Mereka pasti sangat membenciku karena membuat menantu kesayangannya pergi. Aku ... aku bahkan nggak bisa jadi ibu yang baik. Aku nggak bisa jagain dia sampai-sampai dia harus lahir sebelum waktunya. Dia ... dia pasti tersiksa gara-gara aku, Mas!"


Ternyata benar kalau perasaan Cherin sedang bercampur aduk saat ini. Kekhawatiran yang berlebih-lebihan membuat dia hampir tidak bisa bicara dan terus merenung. Apalagi Hanes sangat mengharapkan seorang keturunan demi mengembalikan kepercayaan kedua orang tuanya.


"Sayang ... kamu jangan berpikir macam-macam, hm? Anak kita baik-baik saja. Dia nggak pa-pa. Walaupun butuh penanganan khusus, tapi dia sehat dan nggak kurang satu apa pun. Apalagi dia juga mendapatkan asupan ASI yang cukup dari Nona Diandra. Kamu udah menjaga dia selama ini, jadi ... jangan bilang kalau kamu bukan ibu yang baik, hm?"

__ADS_1


Cherin semakin mengeraskan tangisnya dalam dan segera memeluk Hanes. Dia benar-benar takut kalau akan sendirian lagi. Hanes adalah satu-satunya orang yang dia punya saat ini. Walaupun Diandra sudah menjadi teman baiknya, tetapi Erlan adalah mantan pacarnya, sudah pasti dia tidak mau merusak hubungan mereka jika Cherin ada ditengah-tengah Diandra tanpa sosok suami.


Apalagi saat mendengar Sandra telah merawat ibu Hanes bertahun-tahun lamanya, pastilah Cherin hanya akan dianggap pelakor bagi mereka. Ditambah lagi, kedua orang tua Hanes belum tahu kalau anaknya telah menikah.


"Mbak ... kami ada untukmu. Mbak Cherin jangan merasa sendirian lagi ya?" kata Diandra dan Cherin pun menoleh melepaskan pelukan Hanes. Kedua tangan mereka pun saling menggenggam satu sama lain untuk saling menguatkan. Diandra ikut menitikkan air mata. Walaupun Diandra merasa hidupnya sangat berat karena selama ini dia juga merasa sendiri, tetapi hidup Cherin juga akan berat andai Hanes berpaling darinya.


"Terima kasih udah mau jadi ibu susu untuk Cakra," ucap Cherin membuat Hanes berkaca-kaca.


"Namanya Cakra, Mbak?" tanya Diandra memastikan. Cherin pun mengangguk.


"Hm. Cakrana Putra Gautama. Kamu suka, Mas?" Cherin kini memalingkan wajahnya menatap Hanes yang kembali terbaru.


"Suka ... aku suka, Sayang. Namanya bagus. Aku tahu nama anak kita nggak akan kalah bagus dengan nama anak CEO itu." Hanes kembali memeluk Cherin. Namun perkataan itu mengundang lirikan sinis dari Erlan.


"Lalu bagaimana dengan mantan istrimu, Tuan?" tanya Diandra yang tentu ingin tahu apa yang terjadi dengan Sandra.


"Aku udah meminta seseorang untuk melaporkan dia ke pihak berwajib. Untungnya saksi disana ada yang dimintai keterangan. Cctv juga merekam dengan jelas bagaimana cara Sandra mendorong Cherin hingga pendarahan. Jadi aku rasa Sandra sudah dipenjara sekarang," papar Hanes.


Diandra dan Erlan hanya mengangguk. Namun ada sedikit kejanggalan dalam benak Erlan. Segera dia meraih ponselnya dan melihat berita yang sedang trending. Ternyata benar dugaan Erlan. "Sepertinya kalian harus buat klarifikasi tentang berita viral ini," kata Erlan menyodorkan ponselnya pada Hanes.


Memang Hanes sudah bisa menebak keributan itu akan menjadi sorotan publik. Apalagi statusnya sebagai pimpinan perusahaan entertainment cukup ternama dan status Cherin sebagai brand ambassador perusahaannya dulu. Hanes bahkan bisa menebak jika kedua orang tuanya juga tahu masalah ini.

__ADS_1


Layar ponsel Erlan hanya dilihat sebentar oleh Hanes. Dia pun menghela napas berat dan memang dia dan Cherin harus membuat klarifikasi. Namun itu bisa dilakukan nanti setelah Cherin sembuh.


Diandra kembali menggenggam tangan Cherin untuk menguatkannya. Keduanya saling mengangguk pertanda bahwa semuanya akan baik-baik saja karena Erlan juga nantinya bisa sedikit membantu perihal masalah Cherin yang dituding sebagai pelakor. Bahkan berita itu juga mengaitkan nama Erlan karena termasuk dalam bagian masa lalu Cherin.


"Sayang .. kamu jangan khawatir ya? Aku yakin semua ini bisa diatasi. Kamu fokus dulu untuk kesembuhan kamu. Kita akan buat klarifikasi setelah anak kamu sehat," kata Hanes mengusap ujung kepala Cherin. Hanya anggukan yang bisa Cherin lakukan karena sejujurnya dia takut karena media selalu melebih-lebihkan fakta yang sebenarnya.


"Tapi aku rasa klarifikasi itu semakin cepat semakin baik. Aku takut masalah ini malah tak berujung kalau ditunda. Apalagi wartawan sekarang ini semakin gila dan haus dengan berita viral. Aku yakin berita ini akan dijadikan makanan utama dengan beberapa bumbu yang akan semakin membuat Cherin terpojok."


Hanes membenarkan ucapan Erlan. Namun dia tentu tidak mau membuat Cherin tertekan semakin besar karena berita ini. Beberapa saat Hanes berpikir dan mungkin sebaiknya dia pergi ke perusahaannya.


"Oh ... ternyata kamu disini dengan wanita itu!" Sontak saja semua mata tertuju pada dua orang yang sedang berdiri diambang pintu dengan raut wajah marah. "Benar-benar nggak nyaka!" lanjutnya dan seketika Hanes sangat gugup melihat mereka.


........


Hari Senin nih!!! VOTE dong!!!


Kembang kopi juga jangan lupa ya hehe.


Oh iya, hari Jum'at nanti aku bakal kasih pulsa 10k untuk 2 komentar yang ngena' di hati aku. Jadi jangan cuma diem-diem aja ya, selalu tinggalkan komentarnya.


Jangan lupa juga follow aku aku ini dan masuk grup GC ya biar kita bisa saling berinteraksi. Kalian juga bisa follow ig aku @deliss_aa1

__ADS_1


...Terima kasih yang selalu setia disini!!!...


__ADS_2