Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Keputusan


__ADS_3

Diandra masih menatap Cherin dengan wajah meremehkan. Tentu saja dia tidak mau jika Cherin menganggap dirinya lemah. Walaupun memang sebelumnya demikian. "Kenapa kesal? Aku mengatakan sebuah kenyataan, Nona Cherin," ucap Diandra benar-benar membuat Cherin naik pitam. Wajahnya memerah menahan amarah. Kedua tangan itu masih mengepal kuat dan sebuah hentakan kaki menandakan bahwa Cherin begitu ingin menghabisi Diandra. Andai tidak ada Erlan di sisinya, sudah pasti Cherin akan melakukan hal yang tidak-tidak.


"Terserah! Masuk dan duduklah kalian dimana saja semua kalian. Kalau butuh apa-apa ambil saja. Nggak mungkin juga kalian minta wanita hamil untuk melayani," jawab Cherin dengan terpaksa berpaling dan duduk di sofa single dengan menumpangkan satu kakinya di atas kaki lainnya. Kedua tangannya bersedekap dan sorot mata itu tidak lepas dari wajah Diandra yang terus tersenyum, tetapi lebih terlihat meledek.


"Ya, kami kesini bukan untuk meminta apa-apa sama kamu melainkan memberikan sebuah kesepakatan," jawab Diandra kemudian duduk bersebelahan dengan Erlan.


"Aku nggak akan basa-basi. Aku akan membawamu tinggal di rumah selama kehamilan kamu. Tapi ... aku tidak akan menikah denganmu sampai aku tahu anak yang kamu kandung itu benar-benar darah daging ku," sahut Erlan langsung to the poin.


"Gila kamu, Erlangga? Kamu buat aku hamil dan sekarang kamu nggak mau bertanggung jawab? Laki-laki macam apa kamu?" teriak Cherin langsung beranjak dari tempat duduknya. Lagi-lagi dia harus menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangan dan mata yang membulat. Baru kali ini ada laki-laki yang tidak mau seorang keturunan.


"Aku nggak lepas tanggung jawab. Aku sudah bilang kalau kamu boleh tinggal di rumah sampai kamu melahirkan dan kita melakukan tes DNA. Apa itu bukan bentuk tanggung jawab? Lagi pula aku yakin itu bukan anakku, makanya kita tunggu anak itu lahir baru kita bicarakan pernikahan," ujar Erlan semakin membuat Cherin marah.


Sebenarnya hati Diandra merasa tercabik-cabik jika mengatakan pernikahan. Sejujurnya dia juga takut jika anak itu benar-benar anak suaminya. Walaupun dia percaya sepenuhnya dengan Erlan, tetap saja hatinya masih belum bisa terima jika Erlan memiliki anak dengan wanita lain apalagi dengan kondisinya sekarang yang belum memungkinkan untuk hamil.


"Heh!" Cherin menyunggingkan senyum kemudian kembali duduk. "Ternyata Tuan Erlangga benar-benar laki-laki yang sangat kejam. Kita bersama selama lima tahun dan bahkan hampir setiap hari kita melakukan hubungan suami istri. Kamu selalu bersemangat dengan suara desahanmu. Tapi sekarang? Kamu melupakan semua itu padahal jelas-jelas aku hamil anak kamu. Semua orang juga tahu hubungan kita. Aku benar-benar tidak menyangka, Tuan Erlangga laki-laki sekejam itu," ucap Cherin dengan senyum yang begitu sinis.


"Aku sudah bertanggung jawab, jadi apa masalahnya? Andai aku yakin itu anakku, makan aku akan segera menikahimu, tapi aku kurang yakin jika itu anakku, makanya kita tunggu dia lahir baru kita bahas masalah kedepannya," ujar Erlan masih dengan wajah dingin.

__ADS_1


"Jadi aku selayaknya wanita simpanan?" tanya Cherin masih meremehkan.


"Ya itu sih terserah anda jika anda merasa seperti itu, tapi yang jelas suami saya tidak merasa punya wanita simpanan, Nona Cherin," sahut Diandra.


"Baiklah kalau kamu nggak mau menikah denganku. Aku akan mengurus anak ini sendiri dan mengatakan pada media jika ayahnya tidak bertanggungjawab. Kamu pikirkan sendiri bagaimana hebohnya setelah media tahu kehamilanku. Haha ... Erlangga ... kamu benar-benar laki-laki bodoh. Bisa-bisanya kamu mau mempertahankan wanita yang nggak bisa hamil dan membuang aku yang jelas-jelas hamil anak kamu. Kita bahkan bersama selama bertahun-tahun. Sungguh luar biasa!"


Kini Diandra merasa Cherin benar-benar mengandung anak suaminya. Hatinya sangat hancur saat melihat betapa yakin dan tidak takut apa pun saat Cherin berbicara. Apalagi yang dia katakan benar adanya. Erlan dan Cherin sudah bersama selama bertahun-tahun dan itu tidak menutup kemungkinan akan ada cinta yang tumbuh kembali. Kepercayaan diri Cherin membuat Diandra hampir menangis.


"Cukup! Jangan bahas masa lalu lagi karena aku juga sudah memberikan popularitas padamu. Kita impas! Aku juga tidak lari dari tanggung jawab. Kita hanya perlu menunggu enam bulan setelah itu kita bisa bicarakan masalah kedepannya," jawab Erlan kini bernada tinggi.


"Heh! Baiklah. Bagaimana dengan Nenek tua itu? Apa dia menerima cucunya?" tanya Cherin tentu ingin tahu bagaimana tanggapan keluarga Erlan.


"Haha ... mereka nggak tahu? Astaga ... sebenarnya kalian ini sedang merencanakan apa? Aku hamil calon pewaris keluargamu, Erlangga, dan kamu menyembunyikan semua ini? Kamu benar-benar laki-laki tidak punya otak dan hati. Bisa-bisanya kamu menyia-nyiakan anakmu ini? Baiklah kalau itu mau kalian, tapi aku punya permintaan. Anggap saja sebagai ngidam."


"Apa?"


"Kalian nggak perlu repot-repot pergi ke luar negeri. Berikan saja aku uang 10 triliun dan belikan aku rumah untuk aku tinggal nanti. Aku bosan disini. Aku ingin rumah mewah beserta asisten rumah tangga dan mobil sport. Aku bahkan nggak tahu bagaimana nasibku setelah melahirkan, jadi aku harus punya jaminan hidup juga. Aku akan tinggal di rumah itu dan penuhi semua kebutuhan yang aku mau diluar uang yang aku minta tadi. Kalau kalian setuju, segera penuhi kemauanku dan kita tinggal tunggu anak ini lahir saja."

__ADS_1


"Dasar wanit-"


"Mas, kita penuhi saja permintaannya. Harta bisa kita cari, sedangkan kebahagiaan keluarga kita akan susah dipertahankan. Aku nggak masalah. Lagi pula dia sangat yakin itu anak kamu. Aku malah senang nggak perlu ke luar negeri," sahut Diandra. Walaupun terdengar gila, tetapi Diandra setuju dengan permintaan Cherin. Baginya uang itu bukanlah jumlah besar.


"Baguslah. Sekarang kalian boleh pergi. Aku sangat lelah duduk sejak tadi. Oh ya, tolong pesankan rujak untukku. Pesan online juga tidak masalah karena rasanya aku ingin sekali makan rujak dengan bumbu yang sangat pedas. Sekarang pergilah kalian," ujar Cherin masih dengan nada sombongnya.


Diandra ingin sekali menangis. Raut wajah Cherin benar-benar membuat Diandra ketakutan. Rasa percaya dirinya hilang begitu saja. Andai jika Cherin bersandiwara atau berselingkuh, pastilah ada satu hal yang akan membuat dirinya ketakutan. Namun Diandra tidak melihat semua itu dalam diri Cherin.


"Sayang ... itu terlalu banyak!" protes Erlan.


"Kita harus segera pergi, Mas. Dan ... belikan juga pesanan rujaknya kalau kamu nggak mau anak kamu ileran," kata Diandra segera beranjak dari tempat duduknya.


"Heh! Tadi syok jadi wanita kuat. Dasar penyakitan. Honey ... cepat susul tuh istri tercinta kamu sebelum dia bunuh diri," ucap Cherin benar-benar membuat Erlan kesal. Segera Erlan ikut beranjak menyusul Diandra.


........


Hai ... mulai kesal? hehe dan lanjut besok ya. Kalian bisa mampir dulu ke sini ya 👇

__ADS_1



__ADS_2