
Sejak mendapatkan telepon dari Diandra, Meli merasa curiga jika ada sesuatu yang terjadi dengan Diandra dan akhirnya Meli segera mendatangi Diandra di rumah begitu mendapatkan kabar dari asisten rumah tangga jika Diandra pulang. Benar saja kecurigaan itu karena Erlan tidak pulang dan Diandra juga tidak keluar dari kamar. Meli bingung dan hendak bicara dengan Nenek Harni, tetapi ditahan karena ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebab Diandra bahkan melewatkan makan malam dan sarapan.
"Permisi, Nona! Saya bawakan makan, ayo Nona makan. Sejak kemarin Nona tidak makan bahkan tidak minum juga," bujuk Meli yang duduk di sisi tempat tidur Diandra. Jangankan untuk makan, bangun dari tempat tidur aja Diandra begitu enggan. "Nona, apa yang harus saya katakan pada Nyonya kalau Nona seperti ini? Sedangkan mereka masih beberapa hari lagi di luar kota," lanjut Meli membuat Diandra akhirnya mau duduk menatapnya.
"Aku harus gimana, Mbak? Mas Erlan punya anak dari wanita lain, sedangkan aku susah untuk punya anak? Mereka sengaja melakukan hal itu agar mendapatkan restu. Aku cuma wanita nggak penting. Untuk apa aku makan? Untuk apa juga aku hidup jika orang yang aku cintai mengkhianati cintaku?" keluh Diandra dengan cairan bening yang membasahi pipi membuat Meli tahu akar permasalahannya.
"Jadi Nona Cherin hamil?" tanya Meli dan Diandra mengangguk pelan. "Saya sudah bisa menebak itu semua Nona. Mereka memang sudah bersama sejak lama dan juga, Tuan sampai menentang Nyonya demi menikahi Nona Cherin. Tapi Nona, apa Nona akan seperti ini? Nona akan lemah begini? Pastilah Nona Cherin semakin bahagia jika melihat keadaan Nona sekarang," jawab Meli membuat Diandra sedikit kebingungan.
Meli malah tersenyum menatap Diandra kemudian meraih tisu dan memberikan pada Diandra agar menghapus air matanya terlebih dahulu. "Maksudnya bagaimana, Mbak?" tanya Diandra setelah merasa tenang tanpa isak tangis.
"Coba Nona pikirkan saja apa yang akan saya katakan ini." Meli menjeda ucapannya untuk mengatur napas. "Tuan dan Nona Cherin sudah kenal lama sebelum Tuan mengenal anda. Tapi setelah Tuan mengenal anda, sikap Tuan begitu banyak perubahan menjadi lebih baik bahkan di kantor. Sikap Tuan setelah menikah dengan Anda membuat Nyonya begitu bahagia bahkan sekarang rutin minum obat demi untuk sehat terus dan bisa lebih lama bersama Nona. Saya sangat yakin jika Tuan tidak berhubungan lagi dengan Nona Cherin setelah mengenal anda, jadi jika Nona Cherin hamil saat ini pastilah usia kandungannya juga melebihi usia pernikahan Tuan dengan Nona yang artinya, Tuan tidaklah berkhianat karena kejadian itu sebelum kenal dengan Nona. Apa Nona paham maksud saya?"
Diandra terlihat berpikir. Namun jika dipikir lebih jauh lagi, Erlan memang terlihat sedih bahkan tidak mau menerima kehamilan Cherin. Walaupun begitu, Erlan akan punya anak dari wanita lain dimana saat Diandra belum bisa program hamil. Diandra berpikir jika cinta Erlan akan luluh saat lahirnya anak Cherin. Namun seketika Diandra ingat dengan perkataan Erlan yang tetap akan memilih dirinya dari pada anak karena anak-anak akan menjalani hidupnya sendiri setelah berumah tangga sedangkan Erlan ingin tetap ada di sisi Diandra dan menua bersama.
__ADS_1
"Nona, sebenarnya saya tidak terkejut anda mengatakan Nona Cherin hamil, tapi Nona ... saya ... sebenarnya saya bahkan tidak yakin itu anak Tuan," ucap Meli dan kini Diandra semakin antusias mendengarkan Meli.
"Maksudnya anak yang di kandung Cherin bukan anak Mas Erlan? Bagaimana bisa? Mereka udah bersama bahkan lima tahun lamanya," sahut Diandra membuat Meli kembali tersenyum.
"Justru karena itu, Nona. Jika Tuan berniat membuat Nona Cherin hamil demi mendapatkan restu dari Nyonya, pastilah Tuan akan melakukan hal itu sejak lama. Tuan pasti tidak perlu menentang keras Nyonya hingga kondisi kesehatannya terganggu. Jadi Nona jangan seperti ini karena akan membuat Nona Cherin merasa menang. Kita harus sabar menunggu kelahiran anak itu karena hanya dengan cara itu kita bisa tahu anak yang dikandung Nona Cherin itu darah daging Tuan atau bukan. Kalau Nona lemah begini, bagaimana Nona menghadapi wanita yang akan merebut paksa suami Nona? Nona harus kuat dan percaya dengan apa yang akan Tuan lakukan. Saya yakin Tuan juga tidak percaya dengan kehamilan mantan pacarnya itu," jelas Meli membuat Diandra mulai menerima kenyataan.
Apa yang dikatakan Meli memang ada benarnya. Seharunya Diandra sadar dengan sikap Erlan selama ini yang terus menerus membuat dirinya bahagia tanpa batas. Diandra mulai mengingat kembali apa saja yang telah dia lalui bersama Erlan. "Sepertinya Mas Erlan memang benar-benar mencintaiku. Kalau dia berniat mengkhianati ku, pasti sejak awal tau aku sakit, dia sudah meninggalkan ku. Nyatanya Mas Erlan tetap di sisiku," gumam Diandra, tetapi Meli mendengar perkataan Diandra dengan jelas. "Sekarang aku harus apa, Mbak? Aku merasa nggak ingin hidup lagi jika Mas Erlan punya anak dari wanita lain. Aku nggak punya napsu untuk makan bahkan rasanya aku ingin mati saja karena lelah dengan siksaan dari semesta," ujar Diandra dan seketika langsung mendapatkan pelukan dari Erlan.
"Sayang! Maafkan aku. Maafkan aku!" ucap Erlan dengan isak tangisnya. Meli pun segera pergi dari kamar tersebut. "Sayang, aku mohon ... jangan tinggalkan aku disaat seperti ini. Aku sangat butuh dukungan kamu. Aku yakin anak yang dikandung Cherin bukan anakku dan aku sedang mencari bukti. Tolong ... bantu kuatkan aku karena aku sangat yakin itu bukan anakku. Aku bahkan rela kehilangan anak itu dari pada kehilangan kamu," kata Erlan masih memeluk Diandra.
"Sayang, apa kamu nggak makan sejak kemarin? Kenapa kamu berpikir untuk pergi meninggalkan suamimu ini setelah kamu memberikan banyak kenangan indah untukku. Apa kamu sejahat itu? Apa kamu pikir aku nggak akan menyusul mu saat kamu pergi?" Lagi-lagi apa yang dikatakan Erlan membuat hati Diandra luluh. Kini Diandra sangat yakin dan meneguhkan hati untuk percaya sepenuhnya pada Erlan.
"Apa kamu mau menyuapi aku, Mas?" tanya Diandra membuat Erlan sedikit terkejut.
__ADS_1
"Sungguh? Kamu mau aku suapi? Kamu maafin aku, Sayang?" tanya Erlan balik masih dengan posisi yang sama.
"Kamu nggak mau nyuapi aku? Kalau gitu aku akan makan sendiri," jawab Diandra seraya melepaskan dengan kasar genggaman tangan Erlan. Segera Erlan bangkit dan mendorong tubuh Diandra agar berbaring di atas tempat tidur kemudian menindihnya.
"Sayang ... aku ... aku sangat mencintaimu. Terima kasih. Terima kasih kamu mau memaafkan aku dan percaya padaku," ucap Erlan segera melumatt habis bibir Diandra. Keduanya sempat terbuai akan ciuman itu hingga akhirnya Erlan menyudahi ciumannya dan kembali duduk bersama Diandra. "Aku akan dengan senang hati menyuapi istriku," Erlan segera meraih piring yang atas di atas nakas kemudian memberikan suapan pertama untuk Diandra.
"Sini!" pinta Diandra agar piring itu diberikan padanya.
"Kenapa? Ak-"
"Aku yakin kamu juga belum makan. Jadi aku juga akan menyuapi suamiku. Kita makan bersama, hm?" ucapan Diandra berhasil membuat Erlan kembali menitikkan air matanya. "Jangan nangis, Mas! Kita akan melewati semua ini bersama. Aku percaya padamu karena kamu juga begitu percaya padaku."
........
__ADS_1
...Jangan lupa mampir sini juga ya👇 ...