
Hanes benar-benar merawat Cherin dengan penuh kasih sayang. Memenuhi apa pun kemauan Cherin. Menyuapi makan dan membantu minum obat dengan begitu sabar. Walaupun Cherin merasa sudah sangat baik, Hanes tetap memaksa Cherin untuk dirawat beberapa hari ke depan hingga keadaannya benar-benar pulih. Bahkan Hanes memohon pada Diandra untuk menemani Cherin saat dirinya pergi mengurus beberapa hal termasuk perceraiannya dengan sang istri.
Tentu saja Erlan kurang setuju dengan permintaan Hanes. Bahkan Cherin juga tidak mau merepotkan Diandra. Namun karena Nenek juga Maminya setuju, Diandra akhirnya memaksa Erlan untuk mengiyakan permintaan Hanes. Jadi Erlan meminta Meli untuk menemani Diandra juga beberapa pengawal di luar ruangan.
"Aku udah bilang, aku udah lebih baik. Aku mau pulang aja istirahat di rumah. Aku nggak mau ngerepotin kamu terus," kata Cherin masih kekeh ingin pulang. Padahal dia sendiri bingung mau pulang kemana karena merasa tidak pantas untuk pulang ke rumah pemberian Erlan, sang mantan pacar, tetapi memang hanya itu tempat tujuannya.
"Sudahlah, Mbak. Yang penting fokus dulu sama kesehatan Mbak Cherin. Kalau udah bener-bener sehat, gimana kalau kita jalan-jalan bersama? Sepertinya double date seru," ucap Diandra mencoba menghibur Cherin seraya mengupas buah apel.
"Kamu mau? Memang suami kamu mau?"
"Mas Erlan nggak akan menolak apa yang aku pinta."
"Kamu benar. Dia laki-laki beruntung yang dapet malaikat tak bersayap seperti kamu. Sedangkan aku ...."
"Tuan Hanes juga baik kok! Mungkin hanya butuh waktu aja buat Mbak Cherin mengenalnya. Dulu aku juga begitu. Makan apel, Mbak!" Diandra menyodorkan kupasan buah apel pada Cherin. Dia juga ikut menikmati apel tersebut.
"Apa Tuan Hanes benar-benar akan mencintaiku sebesar cinta Erlangga padamu?" Diandra terkekeh.
"Mbak, coba buka dulu aja hati Mbak Cherin. Kenali Tuan Hanes lebih jauh lagi. Aku yakin kalau Tuan Hanes juga bisa sangat sayang sama Mbak Cherin. Satu hal yang perlu Mbak Cherin rubah,"
"Apa?"
"Jangan panggil Tuan!"
"Maksudnya aku harus panggil Tuan Hanes 'sayang'?" Cherin tentu sedikit keberatan, tetapi memang bukan tidak pernah dia memanggil Hanes dengan sebutan sayang. Saat keduanya memadu kasih dan menuntaskan hasratnya masing-masing, pasti kata-kata itu keluar dari mulut mereka. Hanya saja tidak ada perasaan apa pun selain napsu demi terbang bersama.
__ADS_1
Namun kali ini perasaan itu tentu saja berbeda. Hanes telah menyatakan cintanya dengan sungguh-sungguh bahkan sampai berlutut pada Cherin. Saat ini dia belum begitu yakin dengan cinta dari Hanes, tetapi memang tidak ada salahnya mencoba memulai apa yang sangat dia harapkan yaitu cinta sejati.
"Hm. Dulu Mas Erlan juga gitu. Saat aku panggil 'Mas' wajahnya cukup berseri. Siapa tahu itu juga berlaku untuk Tuan Hanes," saran Diandra memang patut dicoba. "Buatlah permintaan yang cukup nggak masuk akal atau yang susah untuk dipenuhi. Mbak Cherin liat aja seberapa dia berjuang untuk kemauan itu. Dari sana Mbak Cherin bisa tahu apa Tuan Hanes benar-benar cinta atau cuma sandiwara. Dan ... coba buat dia marah. Katanya kita juga akan tahu seberapa cinta seorang laki-laki saat dia marah tapi masih lembut dengan kita."
"Terima kasih! Aku akan mencoba saranmu. Tapi untuk yang terakhir, kayaknya aku nggak mau mencoba itu. Kamu nggak lupa kan dia bagaimana saat aku hanya akan memesan tiket pesawat. Menurutmu apa dia bukan marah? Aku bahkan nggak tahu gimana dia bisa tahu aku pesan tiket pesawat." Mereka berdua pun terkekeh dan mengisi waktu dengan mengobrol juga bertukar cerita terutama saat masa kecil mereka. Diandra kembali menceritakan kisah sedihnya sejak meninggal sang Ayah. Begitu juga dengan Cherin.
...***...
Beberapa hari setelah kepulangan Cherin dari rumah sakit, rencana untuk double date pun terlaksana. Cherin dan Diandra meminta untuk berlibur ke Lembang, Bandung. Selain cuacanya yang sejuk, Diandra pernah melihat berita tentang perosotan rainbow yang begitu menggodanya untuk mencoba.
Cherin memilih pulang ke apartemen milik Hanes atas permohonan Hanes tentunya. Beberapa hari terlewatkan, Hanes benar-benar bersikap baik padanya. Tidak ada kekerasan ataupun melakukan hubungan intim. Hanya untuk memegang tangan Cherin saja, Hanes selalu minta izin. Cherin cukup senang dengan perubahan sikap itu.
Perceraian Hanes dengan istrinya juga belum selesai. Ada banyak yang harus diurus terkait harta gono-gini. Awalnya sang istri tidak mau bercerai dengan alasan sangat mencintai Hanes. Namun karena Hanes sudah mengetahui kebohongannya, akhirnya pernikahan itu sampai ke meja hijau.
"Sayang, ini dingin, bukan segar," sahut Hanes yang terus menggosok telapak tangannya mencari kehangatan.
"Kalau kamu nggak suka, kamu bisa pulang, Mas!" sinis Cherin membuat Hanes hanya bisa tersenyum menunjukkan deretan gigi putihnya.
Benar yang dikatakan Diandra kalau Hanes semakin tergila-gila pada Cherin saat panggilan 'Tuan' menjadi 'Mas'. Bahkan Hanes terus membujuk Cherin untuk memanggil dia dengan sebutan 'Mas'. Bahkan istrinya saja hanya memanggil nama, bukan 'Mas'. Makanya Hanes sangat suka saat Cherin memberikan panggilan sayang itu.
"Iya, maaf. Tapi ini beneran dingin Sayang. Peluk dong!" pinta Hanes ikut membentangkan kedua tangannya berharap Cherin mau memeluknya. Tentu bukan tanpa alasan Hanes begitu karena sejak tadi dia melihat keromantisan Erlan juga Diandra yang saling memeluk. Bahkan keduanya benar-benar membuat Hanes iri karena terlihat sangat serasi juga romantis.
"Sayang, sepertinya kita disini jadi obat nyamuk mereka," ucap Erlan meledek Hanes. Tentu saja Hanes langsung merubah raut wajahnya menjadi sinis dan menurunkan kedua tangannya yang tidak disambut oleh Cherin.
"Hei, Tuan Erlangga Saputra! Aku yang merasa jadi obat nyamuk diantara kalian itu. Kalian sejak tadi peluk-pelukan, enak banget! Lah aku? Dicuekin terus sejak tadi," protes Hanes membuat Erlan dan Diandra terkekeh. Erlan semakin semangat membuat Hanes panas dingin.
__ADS_1
"Sayang, cium dong!" pinta Erlan segera menarik tengkuk Diandra dan berciuman dihadapan Hanes. Disela ciuman itu, Erlan mengajak jari tengahnya pada Hanes yang membuat Hanes semakin kesal.
"Brengsekk!" teriak Hanes yang langsung mendekati Cherin.
"Apa!" sinis Cherin lagi yang melanjutkan langkah kakinya mencari pemandangan indah lainnya.
"Sayang ... mereka jahat banget! Harusnya aku juga dapet itu ... em ... itu loh. Kan ... em ... udah lama nggak itu ...." Hanes benar-benar bertingkah seperti anak kecil yang minta permen.
"Mas! Mereka suami istri. Wajarlah! Suka-suka mereka mau ciuman mau pelukan mau ini itu, ish!" sahut Cherin membuang muka yang kemudian melanjutkan langkahnya menikmati pemandangan hijau di depan mata. Hanes hanya bisa menghela napas panjang. Sedangkan Erlan tertawa terbahak-bahak karena puas melihat Hanes yang tersiksa.
"Mas, jangan gitu! Kasian Tuan Hanes," bisik Diandra dan terpaksa Erlan menghentikan tawanya. Hanes memberikan tatapan membunuh pada Erlan seraya mengepalkan kedua tangannya.
"Jangan diambil hati, Tuan!" bujuk Diandra membuat Hanes kembali menghela napas.
"Nona, tolong itu suaminya dikondisikan!" kata Hanes dengan geramnya karena ingin memberikan bogem pada Erlan.
"Hei! Jangan bicara macam-macam dengan istri saya, Tuan Hanesta Gautama!" ancam Erlan yang lebih terdengar meledek. Hanes masih mencoba menahan sikap Erlan yang terlihat begitu puas atas perasaannya saat ini.
"Sialann! Awas aja kalau aku sudah menikah nanti! Bangkee!" umpat Hanes membuang muka kemudian mencari keberadaan Cherin. "Sayang!" Hanes pun berlari ke arah Cherin. Erlan kembali tertawa melihat perubahan raut wajah Hanes.
"Mas, kasian itu jangan digodain terus!" Erlan mendapatkan cubitan di pinggangnya karena terus meledek Hanes.
"Aw! Sayang ... kamu kok belain dia sih! Harusnya kamu belain aku dong!" protes Erlan tidak di respon Diandra karena dia juga ikut menyusul Cherin. "Sayang!" teriak Erlan manja seraya menghentakkan kakinya beberapa kali. Namun Diandra tidak menoleh sama sekali. "Kenapa aku merasa hari ini akan begitu menyenangkan! Terima kasih Tuhan karena telah memberikan kebahagiaan ini," gumam Erlan kemudian mengikuti langkah kaki Diandra. "Sayang, tunggu dong!"
........
__ADS_1