Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Akhirnya Berakhir


__ADS_3

Diandra kembali dilarikan ke rumah sakit karena sejak pagi hingga menjelang siang dia tidak berhenti mual muntah. Erlan bahkan menangis melihat bagaimana penderitaan istrinya itu. Erlan tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa selain menangis.


"Er, sabar! Kamu harus lebih kuat dari Diandra! Kalau kamu lemah, siapa yang akan menguatkan dia? Siapa yang akan kasih dia support kalau bukan kamu!" nasehat sang Mami membuatnya harus segera menghapus air mata yang membasahi pipi.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, Dokter Amira pun menjadwalkan operasi caesar untuk Diandra hari itu juga karena kondisi Diandra benar-benar mengkhawatirkan. Apalagi tekanan dari miom cukup membahayakan sang baby.


"Tenang aja, Pak! Usia tiga puluh tujuh minggu itu sudah cukup matang dan semua organ sudah berfungsi dengan baik walaupun setelah baby lahir nanti ada beberapa alat mendis yang harus menempel. Tapi saya pastikan anak anda akan baik-baik saja asalkan anda percayakan semuanya pada kami." Dokter Amira meyakinkan Erlan untuk tidak khawatir dengan kelahiran anaknya yang prematur.


Sebenarnya jadwal operasi caesar Diandra masih dua minggu lagi, tetapi kondisinya sangat tidak memungkinkan untuk di diamkan saja. "Dokter yakin ini benar-benar jalan terakhir?" tanya Erlan kembali memastikan.


"Seperti yang saja jelaskan sebelumnya kalau Sebenarnya kita bisa menunggu satu sampai dua minggu lagi. Saya tahu Bu Diandra bisa menahan rasa sakit yang dia alami, tetapi miom itu menekan si baby. Saya tidak bisa jamin keselamatan baby kalau kita menundanya lebih lama untuk melakukan tindakan operasi caesar ini," papar Dokter Amira membuat Erlan cukup ragu untuk memutuskan sendiri karena Diandra belum sadar.


Tentu saja Erlan takut ada kekecewaan yang mendalam saat Diandra tahu kalau dia tidak bisa hamil lagi. Namun hanya itu jalan satu-satunya agar Diandra bebas dari endometriosis juga miom yang bisa tumbuh lagi.


Erlan juga takut jika Diandra marah dan semakin sedih saat tahu dia sudah tidak punya rahim. Wanita mana yang tidak akan sedih saat kehilangan anggota badan yang berharga itu. Apalagi Erlan ingat percakapan Diandra dengan Neneknya kalau dia akan melahirkan Erlan-Erlan junior, yang artinya Diandra tidak cukup dengan satu anak saja. Erlan pun menghela napas panjang untuk memutuskan karena Dokter pasti lebih tahu apa yang terbaik untuk pasiennya.


Erlan tidak tahu kalau Diandra pernah memikirkan hal ini sebelumnya dan tebakannya tidaklah meleset karena ternyata memang benar endometriosis yang diidapnya melekat di rahim. Begitu juga dengan miom yang akan terus tumbuh dan menyakiti tubuhnya.


Jika rahim Diandra tidak diangkat, maka akan sangat berbahaya dengan kesehatan dan keselamatan Diandra. Namun memang ada konsekuensi yang harus Diandra terima yaitu tidak akan pernah bisa punya anak lagi. Erlan tidak mau terlalu lama mengambil keputusan karena kondisi istri dan anaknya harus segera diselamatkan.


"Bagaimana, Pak?" tanya Dokter Amira yang tidak sabar menunggu keputusan Erlan.


"Baiklah! Saya percayakan keselamatan istri dan anak saya, Dok! Saya berharap Dokter bisa menyelamatkan keduanya. Saya benar-benar berharap semuanya selamat. Tolong ... lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya, Dok. Tapi jika harus memilih, selamatkan istri saya terlebih dahulu." Erlan tentu tidak pikir panjang untuk menyetujui permintaan Dokter Amira.


Baginya keselamatan Diandra lebih penting walaupun Dokter Amira sudah meyakinkan kalau anaknya bisa diselamatkan. Tentu satu anak dengan penuh perjuangan itu sudah cukup dan Erlan tidak banyak protes tentang pengangkatan rahim istrinya. Erlan juga tidak memasalahkan apa anak yang akan lahir prematur itu laki-laki atau perempuan. Asalkan ibu dan bayi selamat.


"Baiklah. Tanda tangan disini, Pak." Dokter Amira menunjukkan sebuah garis yang harus diisi dengan tanda tangan Erlan. "Operasinya bisa memakan waktu tiga sampai empat jam tergantung bagaimana kondisi sebenarnya. Bantu kami dengan doa ya, Pak!"


Erlan hanya mengangguk kemudian duduk menunggu di ruang operasi bersama dengan Mami dan Neneknya.


Ternyata kelahiran anaknya tidak memakan waktu lebih dari satu jam. Ada seorang perawat yang keluar dari ruang operasi menghampiri Erlan dengan menggendong seorang bayi dengan berbalut bedong. "Pak Erlan, selamat ya anaknya laki-laki. Pak Erlan bisa ikut saya karena baby-nya harus dibawa ke ruang NICU." Erlan mengangguk dengan senyuman lebar dan mata yang tidak teralihkan dari bayi yang masih memejamkan mata itu.


"Ikut!" kompak Nenek Harni dan Mami Hasna.

__ADS_1


"Maaf, Bu! Hanya satu orang yang boleh masuk ke ruang NICU."


"Udah, tunggu disini! Nanti Erlan foto dan video baby-nya ya?" Nenek dan Mami pun mengangguk.


Erlan pun mengekor pada perawatan yang membawa anaknya. Erlan sangat gemas dan ingin sekali menggendong bayi yang sedang dimandikan itu. Kedua tangannya terus bergerak dan kepala yang miring kanan juga miring kiri seolah sedang mencari ASI.


Selesai dimandikan, perawat itu memasukan baby tersebut ke dalam incubator dan memasangkan beberapa alat di dada, hidung juga mulut bayi. Rasanya tidak tega melihat keadaannya anaknya yang harus memakai banyak alat.


"Anaknya sehat dan tidak kurang satu apa pun ya, Pak. Lahir hari Selasa pukul 19.30 dengan berat 2.4 kg dan panjang 44 cm. Waktu Pak Erlan di ruangan ini hanya lima menit setelah itu silahkan keluar tanpa melihat kondisi sekeliling apalagi menyentuh sembarangan ya?" papar sang perawat langsung mendapatkan anggukan.


Erlan segera meraih ponselnya dan mengambil beberapa gambar untuk ditunjukkan pada Nenek juga Maminya. Tidak lupa Erlan merekam kelucuan anaknya itu beberapa detik karena tidak bisa lebih lama di dalam sana. Erlan juga memasukan jari telunjuknya lewat lubang kecil yang memang disediakan agar sang anak bisa menggenggam jari itu.


Betapa langsung menetes air mata Erlan saat merasakan genggaman tangan mungil yang cukup erat di jarinya. Erlan tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan rasa bahagianya itu. Dia sangat tidak rela melepaskan jari telunjuk yang masih digenggam oleh anaknya, tetapi waktunya hampir habis dan akhirnya Erlan berpamitan.


"Ayah keluar dulu ya, Nak! Kita akan ketemu lagi nanti," ucap Erlan seraya mencium kaca incubator lalu melepaskan perlahan jari telunjuknya dari jari mungil yang masih keriput itu.


Keluar dari NICU, Mami dan Neneknya langsung menyodorkan tangan untuk meminta ponsel Erlan karena tidak sabar ingin melihat baby yang berhasil berjuang bersama ibunya.


"Akhirnya aku dipanggil Nenek, Mah!" ucap Mami Hasna kegirangan.


...***...


Rasa bahagia itu tidak berangsur lama karena Diandra tidak kunjung keluar dari ruang operasi. Lampu tanda operasi masih berjalan tidak juga padam. Erlan mulai cemas bahkan tidak berhenti mondar-mandir di depan pintu ruang operasi itu.


"Mam, gimana ini!" Erlan pun memeluk sang Mami untuk mencari ketenangan. Nenek pun memeluk Erlan untuk memberikan keterangan juga pada cucunya.


"Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja! Diandra wanita kuat, pasti bisa melewati semua ini!" kata Mami Hasna dan Erlan hanya mengangguk pelan bahkan ingin kembali menangis.


Beberapa saat kemudian, Dokter pun keluar dari ruang operasi. Erlan bergegas menghampiri. "Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Erlan tidak sabar.


"Operasi berjalan lancar. Semuanya sudah bersih dan setelah ini Bu Diandra tidak akan merasakan rasa sakit lagi. Selamat ya, Pak!" jawab Dokter Amira membuat Erlan menghela napas lega. "Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap. Kalian bisa mengikuti pasien tapi hanya satu orang yang boleh menemani pasien walaupun kamarnya VVIP ya. Saya permisi dulu."


Kepergian Dokter Amira meninggal senyum diiringi tangis kebahagiaan untuk Erlan. Mami Hansa memeluknya dan mengucapkan banyak selamat pada Erlan karena berhasil melewati kekhawatirannya. "Sudah ... kamu nggak boleh nangis di depan Diandra. Dia pasti dalam keadaan sadar saat keluar dari ruang operasi. Kamu sambut istri kamu ya!" kata Mami Hasna dan Erlan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Aku nggak tahu harus mengungkapkan rasa bahagia ini dengan cara apa, Mam!"


"Katakan apa yang ingin kamu katakan pada Diandra nanti." Erlan mengangguk. Tidak lama setelah itu, sebuah brankar terdengar keluar dari ruang operasi dan Diandra benar-benar dalam keadaan sadar walaupun terlihat sedang menahan rasa sakit.


"Mas! Gimana anak kita?" tanya Diandra dengan nada lemah.


"Anak kita laki-laki, Sayang. Dia baik-baik aja dan nggak kurang satu apa pun. Terima kasih atas perjuangan kamu yang luar biasa ini, Sayang. I love you! Aku sangat mencintaimu, Diandra Ayunda!" jawab Erlan seraya menggenggam tangan Diandra dan menciuminya tanpa henti sampai tiba di ruang rawatnya.


Namun Erlan merubah raut wajahnya saat Diandra benar-benar membuka matanya dan menatap penuh tanya. "Kenapa? Kok tiba-tiba sedih?" tanya Diandra yang sebenarnya dia sudah tahu apa yang akan terjadi.


"Kamu ... kamu nggak ... kam-"


"Aku nggak bisa hamil lagi maksudnya?" Diandra memperjelas apa yang Erkan ragu katakan.


"Kamu tahu, Sayang?"


"Aku udah mencari tahu semuanya lewat internet, Mas. Makanya aku kekeh menguatkan diri agar anak kita bisa lahir. Mungkin aku akan mengecewakanmu dan juga Nenek karena hanya memberikan satu keturunan," tutur Diandra membuat Erlan kembali menciumi tangan istrinya.


"Nggak, Sayang! Ezra kita sudah cukup memberikan kebahagiaan untukku."


"Siapa, Mas?"


"Ezra Ichan Saputra nama anak kita, Sayang. Dia sang penyelamat yang mempunyai tekad kuat."


"Bagus sekali namanya, Mas! Oiya, apa kamu udah ngabarin Mbak Cherin?"


"Belum. Mana aku kepikiran orang lain selain kamu."


"Kapan aku bisa bertemu dengan Ezra, Mas?"


"Kamu harus sembuh dulu. Kamu harus belajar miring dan setelah itu belajar berjalan. Kita akan bertemu bersama dengan anak kita." Sama seperti Erlan, Diandra tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya itu dengan ucapan apa pun. Hanya tetesan air mata yang diiringi oleh senyuman manis respon Diandra untuk menunjukkan rasa bahagia yang tiada tara tersebut. Perjuangan tidaklah sia-sia. Masa sedih dalam kesendirian tidak akan lagi dia rasakan karena hari-harinya akan diisi oleh tangis malaikat kecil bernama Ezra Ichan Saputra.


........

__ADS_1


...End ya 🤣...


__ADS_2