
"Apa? Jadi kalian nunggu di luar rumah sampai kami masuk ke kamar baru masuk rumah?" Diandra sedikit terkejut bahkan hampir tersedak makanan karena ternyata semalam Jio lah yang menjemput mereka dari bandara karena Nenek Harma tidak suka naik taksi atau angkutan umum lainnya.
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba sebuah rencana untuk mengerjai Erlan dan Diandra terlintas begitu saja dibenak Mami Hasna dan parahnya, Jio serta Meli setuju-setuju saja dengan rencana Mami Hasna. Nenek Harma sendiri juga setuju karena ingin melihat lucunya ekspresi wajah Erlan dan Diandra.
Tiba di rumah, ternyata Erlan dan Diandra sedang duduk bersenda gurau di ruang tamu. Andai malam itu mereka masuk tiba-tiba, maka rencana Mami Hasna akan gagal. Akhirnya mobil yang dikemudikan Jio tidak jadi masuk dan memilih untuk menunggu Erlan juga Diandra ke kamar.
"Bikin kesel emang!" protes Erlan yang kembali kesal menatap Maminya yang terus meledeknya. Ternyata Jio dan Meli tidur di rumah karena waktu sudah tengah malam. Makanya Jio bisa datang pagi-pagi sampai Erlan heran karena bukan kebiasaan Jio. Apalagi Meli yang juga tiba-tiba hadir ditengah-tengah mereka tadi.
"Haha! Tapi asli lucu banget, Er. Andai aja tadi Mami rekam ekspresi wajah kalian yang anggep Nenek Harma itu hantu, pasti viral, haha!" Mami Hasna benar-benar bahagia.
Erlan tidak jadi meneruskan kekesalannya karena senang melihat tawa Mami Hasna yang begitu lepas. Tawa itu tidak dia dapatkan sejak kepergian Nenek Harni.
"Hati-hati aja, Mam! Takutnya Mas Erlan bales," kata Diandra memperingati mama mertuanya.
"Ya gampang! Nanti Mami bakal cari rencana lain, wek!" jawab Mami Hasna menjulurkan lidahnya pada Erlan. Dia hanya bisa membalas kebahagiaan Maminya itu dengan senyum.
Kedatangan Nenek Harma benar-benar merubah suasana di rumah yang belum lama kehilangan Nenek Harni. Diandra dan Erlan tidak hentinya bersyukur dengan kebahagiaan yang baru datang itu.
Setelah sarapan, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan keinginan Nenek Harma yang akan menjenguk Kakaknya, Samuel. Walaupun Erlan sedikit keberatan, tetapi Mami Hasna dan Diandra setuju. Sedangkan Meli harus pulang karena anaknya rewel dan Jio harus ke kantor karena banyak pekerjaan yang tertunda.
Erlan sendiri akan menemani para wanita kesayangannya itu pergi ke pemakaman dan ke penjara. Karena Diandra ingin ikut, jadi dia menyusui Ezra terlebih dahulu juga meninggalkan beberapa pouch asi.
"Ya ampun ... Ezra gemesin banget sih!" Nenek Harma sedang menggendong Ezra yang sejak tadi berceloteh tidak jelas dan terus tersenyum karena diajak bicara oleh Nenek Harma.
"Ayahnya juga gemesin, Nek!" kata Erlan menyaut. Mendengar Erlan yang narsis, Diandra langsung mencubitnya. "Sakit, Sayang!" keluh Erlan seraya mengusap tangannya yang dicubit, tetapi Diandra tidak merespon lagi.
"Em nanti kalau udah dewasa, jangan kayak Ayah kamu ya, Nak. Erza harus jadi laki-laki baik dan bertanggung jawab," nasehat Nenek Harma pada Ezra yang terus tersenyum dan tertawa.
"Erlan juga pria baik-baik, Nek!" kata Erlan membela dirinya sendiri.
"Sekarang! Emang sebelumnya kamu baik sama aku, Mas?" sinis Diandra dan Erlan langsung cengengesan.
"Hehe ... kan dulu, Sayang. Yang penting itu kan sekarang, loh!" sahut Erlan lalu mencium sebelah pipi Diandra.
"Ck, lagu lama!" kata Diandra malas.
"Mam, cerita apa aja sih sama Nenek? Sampai kayaknya Nenek udah tau semuanya tentang Erlan dan Diandra," tanya Erlan penasaran pastinya.
"Mami kamu itu nggak berhenti bicara sepanjang perjalanan pulang. Bahkan di pesawat aja terus ngoceh nyeritain kamu sama istri kamu. Tapi emang Nenek yang minta," sahut Nenek yang kemudian fokus lagi menatap Ezra yang masih hu-ha pada Nenek Harma.
__ADS_1
"Em ... tapi makasih ya, Nek. Makasih udah memilih tinggal disini padahal anak-anak Nenek melarang. Tapi kalau Nenek kangen mereka, tinggal bilang aja. Nanti Erlan yang akan antar. Sekalian kenalan sama anak-anak Nenek." Nenek Harma pun memberikan Ezra pada Diandra kemudian duduk diantara Erlan dan Diandra.
"Nggak! Nenek juga sayang sama kalian. Apalagi saat Mami kalian bilang adik Nenek udah meninggal. Nenek paham pasti kalian sangat kehilangan. Sebenarnya penampilan Nenek sekarang beda dengan penampilan sebelumnya. Tapi demi menghibur kalian, Nenek meminta Mami kalian buat merubah Nenek menjadi orang yang kalian rindukan."
Nenek Harma merengkuh bahu Erlan dan Diandra kemudian menempelkan kepala mereka sebagai tanda kasih sayang yang begitu dalam antara nenek dan cucu yang baru dipertemukan.
...***...
Tangis di pemakaman pun pecah saat Nenek Harma melihat gundukan tanah yang telah dia taburi bunga. Pastilah ada rasa menyesal yang begitu dalam karena selama belasan tahun tidak pernah bertemu dengan adiknya. Sekalinya bertemu, hanya batu nisan yang bisa ditemui. Mereka dipisahkan oleh bencana alam dan sekarang dipertemukan dengan kematian salah satu diantara mereka.
Cukup lama Nenek Harma memeluk batu nisan adiknya itu. Entah sudah berapa puluh kata yang dia ungkapkan disana sebagai pelampiasan rasa rindu yang tidak akan pernah terobati.
"Udah, Nek! Nanti kaki Nenek kesemutan kalau lama-lama jongkok disini!" kata Diandra merengkuh bahu Nenek Harma.
Tentu saja dia paling tahu bagaimana perasaan Nenek Harma sebab dia juga pernah ada di posisinya. Memeluk batu nisan sampai kakinya tidak kuat berdiri lagi andai Cherin dan Meli tidak memapahnya saat itu.
"Hm. Nenek juga udah selesai. Kita langsung ke penjara aja ya," pinta Nenek Harma langsung mendapatkan anggukan semua orang.
...***...
Semua orang sedang menunggu kedatangan Paman Sam di sebuah ruangan khusus untuk pengunjung. Erlan yang memang meminta ruangan itu hanya ada keluarganya saja. Diandra bahkan membawakan masakan untuk Paman Sam. Walaupun secara tidak langsung Paman Sam yang membunuh Nenek Harni, tetapi Diandra sudah memaafkannya.
"Paman mau nggak ya Mas makan masakan aku?" bisik Diandra yang terlihat ragu sedang menggenggam sebuah kotak makan untuk Pamannya nanti.
"Maaf, tapi tahanan menolak untuk bertemu kalian," kata seorang polisi yang bertugas menjemput Paman Sam. Tentu saja mereka terkejut sekaligus kecewa.
"Maaf, Pak! Tolong sampaikan kalau ada seseorang yang sangat ingin menemuinya. Andai dia masih menolak, katakan saja kalau dia akan menyesal," ucap Erlan membujuk polisi tersebut untuk kembali menjemput Paman Sam dan untungnya polisi itu mengangguk mengerti.
"Kalau Kak Sam nggak mau, ya udah nggak pa-pa. Kita pulang aja," ujar Nenek Harma seraya tertunduk sedih.
"Sabar ya, Nek! Paman pasti mau bertemu sama Nenek," kata Diandra kemudian menggenggam tangan Nenek Harma.
Beberapa saat kemudian, pintu ruang itu kembali terbuka. Jelas saja semua yang ada di dalam ruang sangat berharap itu adalah orang yang mereka tunggu. Namun ternyata yang masuk lagi-lagi polisi.
"Paman saya tetep nggak mau, Pak?" tanya Erlan menatap polisi yang masuk ke ruang berukuran 2x2 M tersebut. Ternyata dugaan mereka salah, Paman Sam masuk dengan kedua tangan yang di borgol dan menundukkan kepala seperti seorang yang malu untuk bertemu.
Polisi yang menjaga Paman Sam menuntunnya untuk duduk di sebuah kursi yang memang sudah disediakan disana. Tangan yang terborgol itu pun dia naikan ke atas meja sebagai penopang tubuhnya yang lemah. Sang Paman masih tertunduk dan tidak ingin melihat siapa saja yang ada diruang itu.
"Paman, aku ... bawakan makan siang untuk Paman. Ini ya, nanti di makan. Diandra nggak tahu apa kesukaan Paman. Tapi semoga Paman suka dengan masakan Diandra," kata Diandra menyodorkan kotak makan yang dia bawa tadi di meja di depan Paman Sam.
__ADS_1
"Ada apa kamu memaksa menemui ku? Bukannya kamu dan suami kamu seharusnya marah? tanya Paman Sam masih dengan kepala yang menunduk.
Sungguh, Nenek Harma benar-benar sedih melihat keadaan Kakak satu-satunya itu. Tangis tanpa suara masih dia lakukan hanya demi ingin melihat ekspresi wajah Kakaknya. Andai Samuel begitu menyayangi Harma, makan dia akan tahu siapa yang menemuinya siang itu.
"Kami hanya ingin berkunjung dan melihat keadaan Paman. Kamu juga udah memaafkan kesalahan yang Paman lakukan tempo hari. Jadi Paman bisa tenang dan semoga Paman bisa menjadi lebih baik saat keluar nanti. Kami sudah ikhlas kehilangan Nenek kare mungkin memang takdirnya seperti itu."
Diandra bicara panjang lebar sampai membuat Paman Sam menitikkan air matanya. Tetesan air mata itu terlihat jelas jatuh di atas meja yang dia gunakan sebagai tempat untuk menopang tubuhnya.
Nenek Harma langsung tersenyum lebar melihat sang Kakak yang seperti menyesali apa yang telah dia perbuat pada adiknya.
"Kak, apa kabar?" ucap Nenek Harma langsung membuat Paman Sam mendongak dan menatap Nenek Harma.
Tetesan air mata itu semakin deras saat keduanya saling memandang. Cukup lama, dan akhirnya dengan bibir yang bergetar, Paman Sam pun kembali bersuara.
"Harmaya Putri! Kamu ... kamu masih hidup? Kamu masih hidup, Dik?" Setelah menyebutkan nama lengkap adiknya, tangis Paman Sam semakin keras. Dia bahkan memukul meja beberapa kali hingga terjadi benturan antara borgol dan tangannya yang membuat tangan itu langsung memerah.
"Iya, Kak! Aku Harma," jawab Nenek Harma kemudian menghampiri Paman Sam dan memeluknya yang sedang duduk menundukkan kepala. "Harma rindu sekali, Kak! Untungnya Harma masih bisa ketemu sama Kakak walaupun nggak bisa bertemu sama Harni. Kakak kenapa jadi begini, hm? Kakak orang yang bertanggung jawab sama aku dan Harni. Kenapa begini Kak?"
Paman Sam tidak langsung menjawab. Dia masih terdiam seribu bahasa. Entah karena penyesalannya atau karena rasa rindunya pada sang adik. Yang paling pasti, semua rasa itu sedang bercampur aduk dalam relung hatinya.
"Sudah, Kak!" Nenek Harma mencoba menenangkan Paman Sam yang terus menangis.
"Aku ... aku bener-bener nggak sengaja. Aku nggak berniat membunuh Harni, Harma! Sumpah demi apa pun. Aku ... aku hanya minta pembagian hartanya lebih adil karena kami punya hubungan darah. Cuma itu, dan ... dan ternyata hal itu malam membuat dia terkena serangan jantung. Aku nggak tau, sungguh aku nggak tau kalau kondisi dia seburuk itu. Aku bukan Kakak yang baik bukan? Aku ... aku pembunuh adikku sendiri, maafkan aku Harma. Maafkan aku!"
Nenek Harma mengerti maksud dari Kakaknya. Harta telah membuatnya lupa diri untuk sesaat karena memang dulu kehidupan mereka sangatlah sederhana. Tidak ada kemewahan sama sekali saat mereka masih tinggal dengan orang tua mereka.
"Iya, Kak! Iya ... Harma tau. Sudah ... semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Kejadian ini bisa sebagai pelajaran agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi, Kak! Sudah ... jangan menangis lagi!" Nenek Harma masih mengusap punggung Paman Sam agar tangisnya mereda.
Beberapa saat kemudian, Paman Sam pun berani menatap Nenek Harma dengan mata yang masih berkaca-kaca. Nenek Harma menangkup kedua pipi Paman Sam dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Kamu ... bagaimana kamu masih hidup Harma? Bagaimana kabar kamu selama ini?" tanya Paman Sam dan Nenek Harma hanya tersenyum.
"Aku baik, Kak! Ceritanya sangat panjang. Waktu kita nggak akan cukup buat jelasin semuanya. Kakak harus bersikap baik dan segeralah keluar dari sini. Harma janji saat itu tiba, Harma akan menceritakan semuanya."
Paman Sam pun mengangguk paham. Nenek Harma melepaskan tangannya yang menangkup pipi Paman Sam kemudian duduk di sisinya setelah itu membuka kotak makan yang dibawa Diandra tadi.
"Masakan yang dibuat cucu kamu ini enak lo, Kak! Kalau sama restoran bintang lima. Kakak harus makan yang banyak ya, Harma akan suapi Kakak," ujar Nenek Harma lalu mengambil sendok dan memberikan suapan demi suapan pada Kakaknya.
Suasana di ruangan sempit itu benar-benar terasa begitu hangat karena mereka telah saling memaafkan satu sama lain.
__ADS_1
........
...Maaf ya klo banyak typo 🙏...