
Hari ini tak terasa genap sudah Baby Ezra berusia satu bulan. Suara celotehannya yang hanya bisa hu-ha saja membuat satu isi rumah tertawa senang dengan respon Ezra jika diajak bicara. Bagaimanapun tingkah laku Ezra, selalu jadi bahan tertawa semua orang.
"Uluh ... Ichan nya Ibu ... mau mandi ya?"
"Makin pinter ya anak Ibu satu ini ...."
"Hm, Ayah lagi mandi juga, nanti Ichan di gendong Ayah ya!"
Diandra bicara dengan anaknya seolah anak itu menjawab setiap kata yang terlontar dari mulut Diandra. Sambil membuka baju Erza, Diandra kembali mengobrol dengannya.
"Aduh ... makin gemoy ya Ichan ... pinter nya anak Ibu!" kata Diandra seraya menggoyangkan dada Erza dan menempelkan hidungnya.
"Sayang ...." Erlan datang dengan suara mendayu. Raut wajahnya benar-benar seperti seorang yang teraniaya.
"Apaan sih? Mau mandiin Ichan nya Ibu dulu, Yah," jawab Diandra kemudian menggendong Ezra dan menciumi dada sang anak.
"Kapan sih selesai nifasnya. Udah satu bulan loh! Aku capek main solo terus, emh!" keluh Erlan seraya memeluk Diandra dari belakang dan mencium lehernya.
"Ish ... Ayah! Sabar dong! Kan Dokter Amira juga belum bolehin dalam waktu dekat ini," sahut Diandra lalu mendorong tubuh Erlan dengan sebelah tangannya.
"Tapi aku nggak tahan udahan. Berapa bulan coba, masa kamu setega itu sih nggak urus suami kamu?" Erlan kembali mendekat dan masih mendayu manja pada Diandra.
"Astaga! Buruan sana ah siap-siap! Nanti kita telat, gimana coba?" Diandra segera masuk ke dalam kamar mandi untuk memandikan anaknya. Dia sengaja merawat Ezra sendiri tanpa baby sitter karena ingin menikmati masa-masa menjadi seorang ibu yang hanya akan dia rasakan satu kali itu saja.
Semua keperluan sang anak tidak pernah dilakukan oleh orang lain, bahkan Nenek ataupun Maminya. Dan mereka juga memaklumi sikap Diandra yang ingin menjadi ibu seutuhnya untuk Ezra.
__ADS_1
Perlahan tubuh mungil yang semakin berisi itu masuk ke dalam bak mandi dengan tatapan tak tentu arah. Tangan dan kakinya seperti seorang yang berontak karena tidak berhenti bergerak meninju juga menendang sehingga air di bak mandi itu mengenai Diandra. Dia malah terkekeh senang saat momen tersebut bisa setiap hari dirasakan.
"Du du du ... anak Ibu, pinter banget cih! Kalau besar mau jadi apa ya nanti?" tanya Diandra seraya mengusap perlahan tubuh Ezra dengan sabun kemudian membilasnya. Setelah selesai, Diandra kembali duduk di atas tempat tidur dan mulai mengelap tubuh sang anak dengan handuk lalu mengoleskan minyak telon.
"Wangi banget anak Ibu ya, mau kemana cih?" Lagi-lagi Diandra bicara dengan Ezra walaupun sang anak hanya menanggapi hu-ha saja.
"Sayang, liat nih kumis aku mulai tumbuh karena nggak pernah kamu urus, jadi panjang," protes Erlan seraya keluar dari walk in closet dengan hanya memakai celana kolor.
"Loh, kok kamu belum siap-siap sih, Mas?" Diandra pun menghela napas berat melihat penampilan sang suami yang bahkan belum mengenakan pakaian yang telah dia siapkan.
"Aku mau kamu cukurin kumis aku dulu. Ini berewoknya juga mulai tumbuh. Cariin krim cukur dulu dong, terus cukurin ya!" pinta Erlan seraya duduk di sisi Diandra dengan mata genitnya yang terus berkedip memohon agar Diandra mau menuruti permintaannya.
"Baiklah. Aku ambil dulu krim dan alat cukurnya. Kamu bisa kan pakein Ichan popok?" tanya Diandra yang langsung mendapatkan anggukan.
Memang kemarin Erlan kehabisan krim cukur sampai beberapa hari Diandra belum sempat meminta asisten rumah tangganya untuk membeli. Baru semalam Diandra meminta salah satu asisten rumah tangga untuk membeli kebutuhan suami juga anaknya tersebut. Diandra pun keluar dari kamarnya dan bertanya pada asisten rumah tangga yang pergi belanja semalam.
"Sayang ... dia yang salah! Kenapa kamu malah marah sama aku?" kesal Erlan masih dengan nada manjanya.
"Memang bayi bisa salah apa sampai kamu mau marah-marah sama dia?" jawab Diandra masih menatap Erlan dengan tatapan tajam.
"Lihat nih! Dia pipis dan mancur sampai basah perut dan celana aku waktu mau aku pakein popok!" sahut Erlan menundukkan kepalanya agar Diandra tahu jika bagian perut dan celananya basah karena pipis Ezra.
Bukannya kembali marah, Diandra malah tertawa terbahak-bahak. Sayangnya suara tawa itu membuat Ezra kaget dan menangis. Segera Diandra menggendong Ezra dan mengeluarkan sebelah ASI yang menjadi makanan utama sang anak.
"Ichan Sayang ... anak Ibu bener-bener pinter ya! Ibu bangga sama Ichan!" kata Diandra seraya membelai kepala Ezra dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
"Oh ... kamu mau mencoba merebut perhatian istriku ya?" ujar Erlan menatap kesal pada Ezra dan menekan bulatan kenyal yang sedang diemut oleh anaknya. Hal itu membuat Ezra kebingungan mencari makanannya.
"Mas! Jahat banget sih kamu! Lepas!" Diandra pun memukul tangan Erlan agar melepaskan tangan yang menekan dadanya.
"Sayang ... aku juga mau itu. Pokoknya aku mau nanti malam kita main panas titik!" tegas Erlan, tetapi seketika itu juga langsung mendapatkan pukulan di bahunya. "Sayang ... aku juga butuh kamu, bukan dia aja, please!" mohon Erlan dengan mata yang terus mengedip genit dan senyum yang aneh.
"Iya, kita tanya dulu sama Dokter Amira nanti," jawaban Diandra membuat Erlan bersorak gembira seraya berjingkrak-jingkrak seolah anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
"Yes!!! Nanti malam harus sepuluh ronde! Aku bakal minum obat supaya semakin bertenaga!" ujar Erlan lalu mengepalkan kedua tangannya sejajar dengan dada saking semangatnya menyambut nanti malam. Diandra hanya terkekeh menanggapi sikap Erlan.
"Udah buruan mandi sana! Kita bisa telat kalau kamu terus seperti itu. Ambil sekalian alat cukurnya dan karena lagi seneng, cukur sendiri kumis sama berewoknya ya?" ledek Diandra, tetapi langsung mendapatkan anggukan dari sang suami.
Tentu saja Erlan tidak masalah mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh diwajahnya karena rasa senang akan bermain panas berronde-ronde dengan sang istri nanti malam. Erlan pun segera meraih pisau juga krim cukup yang ada di atas tempat tidur dan beranjak untuk masuk kamar mandi. Dia juga harus kembali mandi karena terkena ompol Ezra.
"Akhirnya ... setelah sekian purnama aku bakal ehem-ehem lagi sama istri tercintaku!" gumam Erlan yang masih di dengar oleh Diandra. Lagi-lagi Diandra semakin terkekeh mendengar hal itu.
Setelah Ezra tenang, Diandra pun memakaikan baju pada sang anak lalu menitipkan pada Maminya karena dia juga harus segera bersiap sebab akan pergi ke suatu acara yang begitu penting.
........
...Visual Baby Ezra Ichan Saputra...
versi di bedong 👇
__ADS_1