Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Akhirnya Pulang


__ADS_3

Satu minggu berlalu begitu saja. Hari ini Ezra diperbolehkan pulang karena berat badannya sudah naik menjadi 2.5 kg dan berat itu sudah ideal. Suka cita juga bahagia terpancar jelas di wajah Erlan dan Diandra. Apalagi Nenek Harni dan Mami Hasna yang tidak sabar menggendong sang primadona di keluarga itu.


"Duh ... mana sih kok nggak nongol-nongol!" keluh Nenek Harni dengan meremass kedua tangannya yang terlihat sangat tidak sabar menunggu Ezra keluar dari ruang NICU.


"Sabar, Mah! Kan lagi di dandani sama Suster. Tapi Hasna juga nggak sabar pengen gendong cucu," jawab Mami Hasna yang kemudian merengkuh kedua bahu sang Mamah. Erlan dan Diandra hanya terkekeh.


"Diandra!" panggilan itu membuat Diandra mau tidak mau harus menoleh karena sudah tidak asing dengan suara tersebut.


"Mbak! Kok nekad kesini sih?" jawab Diandra seraya memeluk Cherin yang baru saja datang. Cherin hendak beranjak dari kursi rodanya, tetapi dengan cepat Diandra menahan tangan Cherin agar tetap duduk. "Aku udah bilang tunggu Mbak benar-benar pulih, kenapa harus kesini?" protes Diandra lalu melepaskan pelukannya.


"Nggak pa-pa. Aku sekalian jenguk Cakra. Aku juga kangen sama dia. Lagian aku juga mau liat Erza, masa nggak boleh sih!" jawab Cherin dengan raut wajah sedihnya. Diandra hanya terkekeh.


"Iya. Ezra pasti seneng dijenguk aunty." Diandra pun mengusap bahu Cherin.


"Cucuku!" teriak Nenek Harni dan Mami Hasna bersamaan saat Ezra baru saja keluar dari NICU. Tubuh baby mungil yang terbungkus oleh gedong bermotif mobil itu sudah muncul dengan seorang perawat. Hanya satu tangan yang terbungkus gedong, sedangkan satu tangannya dibiarkan bergerak bebas.


Mami Hasna terlihat menahan tangan Nenek Harni yang akan meraih Ezra dari sang perawat. Erlan dan Diandra hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali melihat tingkah nenek-nenek itu.


"Mah, Hasna aja yang gendong! Tangan Mamah nanti tremor, bahaya ish! Uluh-uluh cucu Oma ... lucu banget ya! Cini-cini ... Oma yang gendong," ucap Mami Hasna seraya merebut Ezra dari gendongan perawat.


"Kamu jahat banget sih! Mamah belum setua itu! Sini! Uyut aja yang dindong ya!" sahut Nenek Harni yang langsung merebut Ezra dari gendongan Mami Hasna.


"Aduh! Nenek ... Mami! Jangan rebutan gitu dong! Kan bisa gantian!" protes Erlan yang khawatir melihat anaknya menjadi bahan rebutan. Diandra dan Cherin hanya terkekeh. Di rumah nanti pasti Ezra bakal jadi rebutan dan Diandra hanya akan melihat pertengkaran yang lucu nantinya.


"Aku rasa Cakra juga bakal kayak gitu deh," bisik Cherin pada Diandra yang hanya dibalas senyuman.


"Kalian ini benar-benar seperti anak kecil yang rebutan permen aja! Udah-udah ... biar Ezra di gendong sama Ibunya. Dia lebih butuh Ibu daripada Nenek dan Mbah Uyut!" celetuk Erlan yang memang harusnya seperti itu. Akhirnya Ezra pun berpindah tangan lagi.


"Ichan ... syukurlah, akhirnya Ibu bisa gendong kamu, Nak! Gemesin banget cih anak Ibu," gumam Diandra, tetapi Erlan terlihat menghela napas berat.

__ADS_1


"Sayang ... dia Ezra! Ezra ... Ezra ... Ezra!" protes Erlan mengulang nama panggilan untuk anaknya. Diandra pun menatap Erlan dengan mata melotot tanda tidak boleh protes. "Baiklah! Terserah kamu! Hanya kamu yang boleh panggil 'Ichan' ya!" lanjut Erlan pasrah. Padahal baginya nama 'Ezra' sangatlah keren. Sedangkan 'Ichan' terdengar terlalu kekanak-kanakan.


"Lagian, kamu juga yang kasih nama 'Ichan'," gerutu Diandra masih fokus dengan bayi yang dia gendong. "Aunty mau gendong nggak?" tawar Diandra pada Cherin yang langsung mendapatkan gelengan kepala.


"Aku belum berani. Kemaren aku ikut kelas WOOP aja tetep belum bisa cara gendong bayi yang bener, takut ah!" jawab Cherin kembali menggelengkan kepalanya.


"Aunty nanti juga bisa kok gendong anak sendiri." Diandra mencondongkan tubuhnya agar Cherin bisa melihat wajah Ezra.


"Duh gemes banget, pengen nyubit deh!" ujar Cherin seraya menoel sebelah pipi Ezra. Dia tentu tidak berani mencium sembarangan. Apalagi Baby Ezra baru keluar dari NICU.


Cherin tahu jika dia tidak boleh asal mencium bayi yang baru lahir karena kulitnya masih sangat sensitif. Salah-salah bisa menimbulkan infeksi pada kulit andai tangan atau mulutnya tidak bersih. Tentu dia tahu karena selama beberapa hari di rumah, Cherin belajar banyak tentang cara merawat bayi.


"Enak aja main cubit!" protes Erlan yang terlalu over protektif. Padahal itu kata-kata wajar bagi seorang yang terlalu gemas melihat lucunya seorang bayi. Entah kenapa Erlan malah menanggapi celotehan Cherin sebagai hal yang serius.


"Astaga! Mbak Cherin cuma bercanda, Mas! Nggak mungkin juga nyubit beneran! Namanya juga gemes," sahut Diandra. Erlan terlihat tidak terima Diandra membela Cherin. Namun memang Diandra selalu membela wanita yang telah menjadi Kakak baginya itu.


"Iya, Uncle!" jawab Diandra dengan lembutnya.


"Cih, Uncle! Dia nggak pantes di sebut Uncle, Sayang!" Entah kenapa Erlan begitu sensitif sekali pagi itu. Seperti wanita yang datang bulan saja sejak tadi begitu over. Hanya sebuah protes saja yang dia lontarkan sejak tadi. Benar-benar membuat Diandra ingin memukul suaminya.


"Bangkee!" Hanes pun memukul bahu Erlan. Diandra terkekeh.


"Hei ... Kakek Hanes, jangan macam-macam atau ak-"


"Mas!" Diandra pun menyela.


"Lo selamat kali ini, Kakek Hanes!" ucap Erlan menatap tajam Hanes kemudian kembali fokus pada Diandra dengan raut wajah berbeda. "Sayang ... Ezra panggil Kakek aja, jangan Uncle, jelek!" kata Erlan dengan nada meledek. Sungguh Hanes ingin sekali kembali memukul Erlan.


"Sudah-sudah! Para Bapak aneh, kita harus pulang biar cucuku bisa istirahat," protes Nenek Harni yang memberikan pukulan di bahu Erlan.

__ADS_1


"Aw, sakit, Nenek!" keluh Erlan.


"Syukurlah ada yang mewakili," gumam Hanes langsung mendapatkan lirikan tajam dari Erlan. Diandra hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap sang suami. Walaupun terlihat kekanak-kanakan, tetapi raut wajah itu cukup lucu bagi Diandra.


Akhirnya Baby Ezra pun pulang karena memang harus segera pulang untuk beristirahat di rumah. Sedangkan Baby Cakra belum diperkenankan pulang karena berat badannya masih jauh dari kata ideal. Walaupun asupan ASI nya cukup, tetapi perkembangan Baby Cakra berbeda dengan Baby Ezra yang memang sudah waktunya lahir. Sedangkan Baby Cakra belum.


...***...


Kedatangan Ezra disambut hangat oleh beberapa asisten rumah tangga dan beberapa pekerja di rumah mewah itu. Calon Tuan Muda di keluarga Saputra tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka karena pada akhirnya pewaris di keluarga itu bisa berkumpul tengah-tengah mereka.


Sebagai rasa syukur yang mendalam, Erlan pun mengundang anak yatim dan fakir miskin untuk mengadakan santunan sekaligus akikah sang anak. Tentu tidak tanggung-tanggung acara tersebut karena begitu meriah layaknya sebuah pesta mewah sebagai tanda penyambutan pewaris tunggal dirinya. Erlan tidak membedakan kaum menengah ke bawah yang hadir disana. Rasa bahagianya tidak membuat Erlan sombong atas apa yang dia punya.


Suka, cita, tawa juga kebahagiaan tidak luput dari wajah-wajah yang sebelumnya diiringi dengan tetesan air mata. Benar-benar suatu kebahagiaan bagi Diandra bisa berada dititik yang rasanya tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata.


"Nenek nggak rela rambut Ezra di potong banyak gitu," bisik sang Nenek pada Diandra yang sedang berdiri melihat acara potong rambut Ezra.


"Nanti juga tumbuh lagi, Nek. Nggak pa-pa!" jawab Diandra diiringi senyum termanisnya. Sangat jelas terlihat bahwasanya Diandra bahagia bisa memberikan cucu di keluarga itu.


"Sayang, kita foto keluarga dulu, yuk!" ajak Erlan seraya merangkul pundak sang istri. Langkah kaki itu disusul oleh Nenek juga Maminya untuk melakukan sesi foto bersama. Mereka semua kompak mengenakan baju serba putih. Sang fotografer pun mengatur posisi yang cocok. Akhirnya Ezra berada di pangkuan Diandra yang duduk di sofa bersama Erlan. Sedangkan Nenek Harni ada di sisi kiri Erlan dan Mami di sisi kanan Diandra dengan posisi berdiri.


"Oke ... senyum yuk senyum. Em agak rapat sedikit ya ... hm, bagus! Siap! Lihat kamera semuanya! Satu ... dua ... tiga!"


Cekrek!


...***...


...Kopi dong kopi ngantuk banget nih mau lanjut ngetik kebahagiaan mereka semua 🤣...


...Soalnya banyak yang gak rela kalau cerita ini tamat sekarang 😬...

__ADS_1


__ADS_2