
Erlan dan Diandra sedang menikmati waktu berdua mereka di balkon dengan secangkir kopi juga roti bakar dengan selai nanas dan stroberi yang dibuat oleh Diandra sendiri. Sedangkan Ezra sedang bersama Mami Hasna karena saat ini teman Mami Hasna hanyalah Ezra.
Sejak beberapa menit lalu, Diandra terus mengingatkan kisah cinta mereka berdua. Bahkan Diandra sempat beberapa kali terkekeh sambil memukul Erlan juga sempat meneteskan air mata saat masa sulitnya menahan perlakuan Erlan yang kejam diawal pernikahan mereka.
"Udah dong, kita udah bahagia dan punya Ezra sekarang. Paling penting juga ... kita ini saling cinta loh sekarang. Ini juga kencan pertama kita setelah beberapa bulan hampir nggak ada waktu berdua begini. Masa kamu cuma mau ingetin gimana jahatnya aku dulu, hmm tega!"
Sebenarnya Erlan begitu menikmati obrolan dan waktu yang santai bersama Diandra yang sejak tadi hanya membahas perlakuan jahat Erlan. Padahal dia tidak lama melakukan hal yang diceritakan Diandra karena sudah menyadari rasa cintanya dan pada akhirnya dia juga yang bucin duluan.
"Iya, Mas! Suka aja sih sebenarnya kamu tiba-tiba datang bawa buket bunga mawar pas aku lagi nikmatin sunset di balkon ini terus kamu panggil aku sayang lagi. Abis itu kamu nyatain cinta yang menurutku sangat mustahil padahal," ujar Diandra kini Erlan yang terkekeh.
Memang benar itu adalah hari dimana Erlan sadar jika dia mencintai Diandra. Erlan tiba-tiba ingat dengan Cherin. Hari itu juga Cherin yang merebut buket bunga pertama yang akan dia berikan pada Diandra. Raut wajah Cherin dengan Diandra jauh berbeda saat itu. Benar-benar tidak disangka sampai detik ini hubungan mereka malah jadi seperti saudara setelah berpacaran selama lima tahun bahkan beberapa kali berhubungan intim. Apalagi Cherin akan mempunyai anak kedua.
"Eh, Sayang … aku lupa mau bilang sesuatu. Tapi kamu jangan marah ya?" Erlan ingat jika dia belum mengatakan masalah Jio dengan Safira. Waktu begitu tidak memungkinkan untuk menceritakan kisah Jio yang melakukan cinta satu malam dengan Safira di luar negeri.
"Ya … tergantung!" jawab Diandra seraya menyeruput kopinya.
"Tapi aku yakin kamu nggak akan marah," kata Erlan begitu yakin karena menurutnya kisah Jio dan Safira itu lucu. Walaupun Diandra hanya pernah bertemu satu kali dengan Safira saat pemakaman almarhumah Nenek Harni, tetapi Diandra sudah bisa menebak jika Safira itu wanita baik-baik. Padahal dia ingin mengenal lebih jauh tentang Safira. Sayangnya Jio yang akan melamar Safira tidak mau ditemani.
"Ya udah buruan kalau mau cerita. Kopinya minum dulu, udah agak dingin nih!" sahut Diandra seraya memberikan cangkir kopi milik Erlan. Sebelum bercerita, Erlan juga meneguk kopinya yang memang mulai dingin. Erlan meletakkan kembali kopi tersebut dan siap untuk menceritakan kisah lucu antara Jio dan Safira.
"Jadi … Jio dan Safira terjebak cinta satu malam waktu kita di luar negeri. Yang lebih berkesan lagi, Safira ini cinta pertama Jio waktu masih sekolah, lucukan? Beruntungnya yang tidur dengan Safira bukan aku malam itu, tapi Jio. Perawan lagi! Jio beruntung kan? Makanya Jio nggak mau nunda pernikahannya."
Kata demi kata yang terlontar dari mulut Erlan membuat Diandra salah paham. Tiba-tiba tangan Diandra ingin sekali melayang dan mendarat di mulut manis suaminya itu. Dia malah berpikir Erlan itu laki-laki kurang beruntung yang tidak jadi tidur dengan wanita secantik Safira. Walaupun Diandra belum tahu pasti bagaimana Jio dan Safira bisa tidur berdua, seketika itu juga Diandra langsung merubah raut wajahnya menjadi sinis.
Erlan yang sejak tadi begitu semangat dengan terus tersenyum saat menceritakan kisah cinta sahabatnya itu, tiba-tiba jadi salah tingkah saat Diandra sedang menatapnya sinis. Padahal baginya lucu, tetapi bagi Diandra hal itu adalah pemikiran yang kotor dan memuakkan.
__ADS_1
"Jadi kamu menyesal karena bukan kamu yang tidur dengan Safira, Mas?" tanya Diandra dengan geramnya.
"Waduh … aku salah ngomong ya?" batin Erlan seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jawab! Kamu nyesel nggak bisa mencicipi nikmatnya rasa perawan, hah!" Lagi-lagi Diandra bertanya dengan geram bahkan mengepalkan kedua tangannya dengan sorot mata membunuh. Kedua tangan itu ingin segera mendarat di tubuh Erlan.
"Bu-bukan! Bu-bukan begitu maksudnya!" Erlan langsung gugup. Bahkan dia bingung mau mengatakan apa lagi karena takut salah bicara dan memperkeruh suasana.
"Kenapa kamu tiba-tiba jadi gagap? Bilang aja iya! Kalau bukan, lalu maksudnya apa? Kak Jio beruntung dan kamu nggak beruntung, gitu kan? Ngaku! Itukan maksud dan tujuan pembicaraan kamu, Mas!" Diandra akhirnya menggebrak meja yang ada di sisinya hingga cangkir kopi dan roti bakar yang ada dia tas meja tersebut hampir tumpah dan jatuh.
"Astaga!" Erlan kaget sampai mengelus dadanya beberapa kali seraya menggelengkan kepalanya. "Aku udah pernah dapet perawan, Sayang. Dan …." Erlan langsung menutup mulut saat melihat rahang istrinya mengeras.
"Oh … enak ya kamu udah pernah beli perawan dan mencicipinya sesuka kamu? Mentang-mentang banyak duit, kamu jajan diluar sembarangan! Kamu beli harga diri wanita dengan uang kamu, hah! Dasar buaya buntung!" pungkas Diandra benar-benar semakin salah paham dengan perkataan Erlan.
Erlan pun beranjak dari tempat duduknya dan segera berlutut di depan Diandra kemudian menggenggam kedua tangan Diandra. Kini tidak ada kegugupan dalam hatinya karena harus benar-benar bisa mengatasi induk singa yang sedang marah karena salah paham.
"Jadi … Paman Sam sengaja melakukan itu dan ingin merusak rumah tangga kita, Mas. Berarti Nenek waktu itu …." Diandra menggantungkan ucapannya. Dia sekarang paham berita apa yang membuat Nenek tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal karena memang dia belum sempat bertanya perihal tersebut.
"Heem. Paman Sam menuduhku berselingkuh di luar negeri. Saat itu pasti Nenek sangat khawatir denganmu dan Ezra kalau aku benar-benar selingkuh. Seharusnya Nenek tau itu hal yang mustahil. Tapi Paman Sam menyodorkan sebuah foto saat aku sedang memeluk wanita di bandara. Padahal itu nggak sengaja dan aku udah punya firasat wanita itu menabrak ku dengan sengaja. Paman Sam juga yang membuat keributan di anak perusahaan di luar negeri. Aku nggak pernah tidur dengan wanita lain yang masih perawan selain kamu … dan … em, Cherin. Tapi … tapi saat itu Cherin udah nggak perawan."
Salah sangka Diandra pun kini berubah menjadi penyesalan karena memikirkan hal yang tidak-tidak tentang suaminya yang begitu setia tersebut. Namun kini pikirannya berubah kembali saat dia menyebut nama Cherin adalah daftar wanita yang pernah tidur dengannya bahkan membahas masalah keperawanan.
"Heh! Dasar buaya! Kamu pasti pernah membandingkan kenikmatan yang kamu dapat dari aku dengan rasa yang kamu dapat dari Mbak Cherin kan?" Erlan kembali bingung mendengar perkataan Diandra. Pada dasarnya memang itu adalah hal pertama yang membuat Erlan jatuh cinta pada Diandra.
"Nggak! Iya! Aduh ... maksudnya bukan begitu, Sayang."
__ADS_1
"Halah! Nggak ... iya ... yang manalah yang benar?"
"Sayang ... aku tuh cinta kamu karena kamu berhasil merebut hati Nenek juga Mami. Bahkan aku selalu diancam akan dikeluarkan dari daftar KK. Ish ... kamu itu over thinking terus, mau aku makan?"
Erlan harus bisa mengalihkan perhatian Diandra agar tidak lagi membahas masalah keperawanan lagi. Bisa-bisa dia lagi yang akan kenak imbasnya dan malah susah membujuk Diandra nantinya. Tentu dia tidak mau jika harus kembali puasa karena mood Diandra yang berantakan.
"Eleh ... kamu mau coba mengalihkan pembicaraan kita kan? Kamu pikir aku ini Diandra yang dulu yang bisa kamu bodohi?" Diandra pun melepaskan tangan Erlan yang sejak tadi menggenggam tangannya.
Erlan lupa jika istrinya itu benar-benar menjadi wanita yang sangat cerdas karena didikan Meli. Akhirnya Erlan hanya pasrah dan mengehela napas panjang kemudian bangkit. Sayangnya karena terlalu lama berlutut, kakinya menjadi kram.
Raut wajah Erlan yang kesakitan seketika membuat Diandra khawatir. "Aw!" rintih Erlan.
"Mas ... kamu nggak pa-pa?" Diandra pun menangkap tubuh Erlan yang hampir terhuyung ke lantai. "Lagian ngapain sih lama-lama berlutut. Ayo duduk!" Diandra pun memapah Erlan perlahan untuk duduk kembali di kursi lalu menarik kursinya agar kedua kaki Erlan bisa selonjoran.
Diandra dengan pelan memijat kaki Erlan. Raut wajah khawatir yang terpancar jelas di wajah Diandra membuat Erlan sangat gemas. Erlan pun menendang kursi yang di depannya kemudian meraih tangan Diandra agar mereka berdua berdiri.
"Ish ... kamu pura-pura ya? Kamu sengaja kesakitan pasti, biar aku nggak marah kan? Dasar buaya!" cetus Diandra kini kembali kesal dengan kepura-puraan Erlan. Padahal Erlan tidak pura-pura karena melihat cinta tulus Diandra tiba-tiba rasa sakit itu hilang begitu saja.
"Sayang ... duniaku benar-benar akan gelap kalau nggak ada kamu. Bagaimana mungkin aku bisa hidup tanpa bidadari tak bersayap seperti kamu di dunia ini, hm!"
"Gombal!"
"Aku benar-benar mencintaimu, Diandra Ayunda. Erlangga Saputra benar-benar cinta mati dengan wanita bernama Diandra Ayunda."
Tentu saja Diandra langsung tersipu malu mendengar sanjungan dari Erlan. Rasa yang rasanya sudah lama tidak Diandra rasakan. Menghabiskan waktu berdua dengan pasangan dan terus menerus mengungkapkan rasa cinta pada pasangan memang akan membuat cinta dan kasih sayang itu terus bertumbuh walaupun usia pernikahan yang semakin bertambah.
__ADS_1
........