Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Melamar Safira


__ADS_3

Diandra merencanakan pesta barbeque demi mencari tahu kenapa Ibu Safira menolak Jio yang sudah terlihat begitu perfect itu. Diandra juga ingin tahu lebih banyak tentang Safira yang berhasil menaklukkan hati seorang Serjio yang terlihat lebih dingin dari pada Erlan. Akhirnya Diandra memutuskan meminta bantuan pada Cherin sekaligus mengundangnya untuk ikut berpartisipasi.


Walaupun Jio meminta tolong dengan rasa sungkan, tetapi Diandra mau melakukannya dengan senang hati bahkan Jio meminta agar pesta barbeque itu menjadi malam lamaran termanis dengan Safira. Diandra semakin semangat merencanakan konsep romantis untuk pasangan itu.


"Em aku belum paham sama orangnya, bisa bantu apa aku? Lagian si Jio ini emang sejak sekolah dingin, nggak pa-pa aku ikut andil? Nanti takutnya dia malah marah lagi sama aku?" Namun saat Cherin hampir menolak tawaran untuk membantu Jio, Diandra malah terkekeh mendengar bahwa Jio juga Erlan memang sudah dingin sejak masa sekolah.


"Udah ... tenang aja! Mbak Cherin bantu basa-basi aja nanti sama Mbak Safira. Biar dia juga nggak canggung kalau cuma aku aja yang deketin dia. Lagian Mbak Cherin pasti lebih tau konsep romantis buat lamaran."


Diandra tetap memaksa Cherin untuk membantunya. Namun saat mengatakan konsep romantis, kali ini Cherin yang terkekeh karena dia juga tidak pernah mendapatkan hal romantis saat lamaran.


"Lagian yang udah pernah dapet keromantisan kan kamu pas di Paris. Aku mana pernah dapet keromantisan dari si tua bangka itu," jawab Cherin yang memang hawanya masih saja kesal dengan Hanes karena bawaan bayi. Walaupun sebenarnya dia begitu menikmati kehamilan keduanya itu.


"Ish ... udah! Buruan kesini. Acaranya kan malam." Diandra masih tetap memaksa dibalik panggilan telepon tersebut hingga akhirnya Cherin pun mengiyakan.


...***...


Safira sedang mondar-mandir untuk mencari alasan pada Ibu Romlah atas kepergiannya. Biasanya dia memang sangat jarang pergi malam hari kecuali di musim liburan karena banyak turis yang berkunjung menikmati indahnya negara Indonesia. Namun saat ini bukan musim liburan. Ibu Romlah sendiri paham jadwal sibuk anak satu-satunya itu.


Saat akan ke luar negeri untuk menjual harga dirinya saja, Safira harus berbohong mati-matian bahkan meminta bantuan Bosnya secara langsung untuk mengirimkan pesan palsu kalau dia harus bekerja selama satu minggu full. Sedangkan saat ini untuk minta tolong kembali, rasanya tidak mungkin karena istri Bosnya itu tidak bisa dihubungi saat sore hingga pagi menjelma karena Jio mengajaknya pesta barbeque secara mendadak.


"Ampun! Masa harus kabur sih?" gumam Safira cukup kesal di dalam kamarnya sendiri. Detik demi detik terus berjalan dan Safira semakin panik karena tidak mendapatkan ide untuk pergi dari rumah. Ekor matanya terus melirik jam di dinding juga benda pipih yang sejak tadi dia pegang karena Jio terus mengirimkan pesan.


"Fira! Ibu mau ke rumah Pak Lurah," teriak Ibu Romlah yang membuat Safira langsung melotot terkejut serta kegirangan dalam hati. Segera dia keluar dari dalam kamar, tetapi dengan sikap biasa saja.


"Mau ngapain, Buk? Kok mendadak?" tanya Safira dengan wajah datar dan pura-pura mengantuk. Padahal kepergian sang Ibu adalah momen yang dia tunggu.


"Di suruh bantuin masak. Katanya males catering karena suka nggak sesuai masakannya sama lidah Pak Lurah. Sebenarnya udah dari kemaren bilangnya. Nanti malam anaknya Pak Lurah mau lamaran. Paling Ibu juga pulang besok pagi. Kamu nggak perlu nungguin Ibu ya? Kunci aja pintunya," jelas Ibu Romlah kemudian pergi tanpa curiga sama sekali jika Safira sedang merencanakan untuk pergi.


"Hm. Fira juga agak nggak enak badan. Kayaknya efek haid. Kalau gitu Ibu hati-hati. Jangan terlalu capek. Bantuin yang ringan-ringan aja nanti," kata Safira memberikan nasehat pada Ibunya tanpa menunjukkan niat kabur pada sang Ibu.


"Iya. Ibu pergi dulu." Ibu Romlah pun pergi dan dengan cepat Safira masuk mandi karena mobil yang menjemputnya hampir sampai. Benar-benar suatu keberuntungan atau bisa disebut semesta sudah merestui hubungannya dengan Serjio.


Setelah mandi, Safira mengenakan gaun yang di kirim oleh Jio menggunakan ojek online yang tiba beberapa menit sebelumnya. Bahkan Safira harus pura-pura datang bulan dan beralasan membeli pembalut demi untuk mengambil baju kiriman Jio itu.


Safira bukan wanita yang pandai merias diri karena tanpa make up pun dia sudah begitu cantik. Namun karena ini malam yang cukup spesial, Safira pun memberikan sedikit polesan diwajahnya. Setelah selesai bersiap, Safira mengenakan hoodie agar tidak menjadi sorotan para tetangga julid kemudian bergegas melangkah pergi sebelum mobil yang menjemput dirinya itu terlalu lama menunggu.


...***...


Diandra dan Cherin sudah mengatur semuanya. Taman kecil di sisi rumah itu terlihat mempesona dengan hiasan lampu-lampu dan beberapa pernik lainnya yang mendukung suasana malam menjadi semakin romantis.


Erlan dan Jio cukup terkesima dengan konsep yang di atur oleh Diandra juga Cherin di pesta barbeque tersebut. Bahkan asisten rumah tangga dan beberapa pegawai di rumah Erlan juga mengenakan seragam yang cukup unik bagi Jio. Dia tidak mau banyak tanya dan hanya mengikuti arahan dari Diandra harus melakukan apa saat Safira datang nanti.


"Istriku emang yang paling hebat!" bisik Erlan memuji Diandra pada Jio seolah sedang meledeknya agar Jio segera menikah. Apalagi usia mereka sama.


"Sialann!" jawab Jio lirih dan hampir memberikan pukulan pada Bos sekaligus sahabatnya tersebut. Namun Erlan memang tidak salah karena usia Jio sudah cukup matang dan pantas untuk segera menggendong bayi walaupun pada kenyataannya menggendong Ezra saja belum berani.


"Kak Jio, jangan lupa ya?" kata Diandra mengingat karena sebentar lagi Safira akan tiba.

__ADS_1


Kalau ada yang tanya dimana Ezra dan Cakra, mereka ada di dalam rumah bersama pengasuh karena jika ikut pesta barbeque bisa berbahaya untuk pernapasan sebab akan ada banyak asap nantinya. Jadi tempat aman adalah di dalam rumah.


Tidak lama, mobil yang menjemput Safira pun terparkir di halaman rumah Erlan. Beberapa orang yang sudah diatur oleh Diandra segera berbaris rapi sesuai instruksi begitu melihat mobil yang ditunggu-tunggu sejak tadi datang.


Safira cukup gugup menatap orang yang begitu fokus dengan kedatangannya dari jendela mobil yang masih tertutup rapat, tetapi dia tetap berusaha untuk enjoy kemudian melepaskan hoodie yang dipakai dan merapikan rambutnya. Segera Safira membuka pintu lalu turun dari mobil karena tidak mau membuat mereka yang menantikan kedatangannya menunggu terlalu lama.


"Duh ... deg-degan," gumam Safira mulai melangkah mendekati kerumunan yang memang sedang menunggunya. Matanya menyapu pemandangan yang membuat dirinya merasa sangat nyaman.


Jio yang tadinya fokus mengobrol dengan Erlan langsung terkesima dengan ekor mata yang melirik kedatangan calon istrinya tersebut. Senyum tipis pun mulai terpancar di sudut bibir seorang Serjio. Padahal bukan pertemuan pertama, tetapi entah kenapa Jio merasa setiap bertemu Safira jantungnya selalu berdebar lebih cepat. Mungkin itu yang disebut mabuk cinta.



Diandra segera menepuk bahu Jio yang malah melongo menatap kedatangan Safira. Padahal sudah diingatkan agar segera menyambut Safira begitu dia tiba. Bahkan Safira terlihat kesulitan berjalan dan seperti tidak terbiasa mengenakan high heels. Jio malah diam saja tanpa berinisiatif segera menyambut calon istrinya.


Safira hanya bisa memberikan senyuman termanis seraya mengangkat sedikit gaun yang dia pakai agar bisa melangkah dengan nyaman tanpa menginjak gaun tersebut. Namun tentu saja rasa gugup mengalahkan langkah kaki yang sudah dia lakukan dengan hati-hati hingga akhirnya Safira tersandung.


Tubuhnya terhuyung, tetapi dengan cepat Jio menangkap pinggang Safira dan pada akhirnya Safira jatuh ke dalam pelukan Jio.


Safira 26 Tahun



Diandra dan Cherin terlihat senang karena Jio dan Safira benar-benar pasangan yang begitu serasi. Kini seharusnya Jio mengatakan apa yang disampaikan oleh Diandra. Sayangnya Jio seperti menikmati momen pelukkan itu dan malah diam saja menatap kecantikan Safira.


"Ehem!" Diandra berdehem supaya Jio segera melepaskan pelukannya.


"Ah, untung aja nggak jatuh," kata Jio tiba-tiba jadi canggung seraya melepaskan pelukannya.


"Em ... gimana perjalanan kamu?" tanya Jio membuat Safira melongo karena bingung harus menjawab apa pertanyaan Jio itu.


"Haa?" jawab Safira seraya mengangkat satu alisnya.


Diandra dan Cherin kompak menempuh jidatnya sendiri. Seharusnya Jio itu memuji kecantikan Safira, bukan malah bertanya tentang perjalanannya. Tentu saja ibukota itu macet, memang perjalanan apa lagi yang akan dilalui Safira.


"Astaga ... kenapa Serjio ini begitu bodoh? Untuk apa bertanya seperti itu? Emang Safira lagi mudik? Seharusnya kan dia bilang, 'kamu sangat cantik malam ini, Sayang, bolehkah aku menggandeng mu dan mengenalkan mu pada keluargaku', biar Safira tersipu. Ini malah tanya perjalanan," gumam Cherin dan Diandra pun terkekeh.


"Sudah, Mbak! Biarin aja!" jawab Diandra masih mencoba menahan tawanya.


"Hei ... udah jangan pandang-pandangan terus. Buruan sini!" ujar Erlan berhasil mengalihkan perhatian Jio dan Safira.


"Ayo, Sayang!" Jio mengisyaratkan Safira untuk memeluk lengannya. Safira paham dan menurut.


"Hallo, Mbak Safira! Ini pertemuan kedua kita ya? Aku Diandra," sapa Diandra seraya mengulurkan tangannya dan Safira segera menjabat tangan Diandra diiringi senyuman manis.


"Hai, Nona Diandra! Senang sekali kita kembali bertemu. Anda sangat cantik malam ini," puji Safira melah membuat Diandra terkekeh. Seharusnya kata-kata itu diucapkan Jio padanya, bukan malah dia yang mendapatkan pujian basa-basi itu.


"Terima kasih," jawab Diandra seraya melirik Jio yang sedang menggaruk tengkuknya karena paham dengan tatapan Diandra.

__ADS_1


"Hai, Safira! Aku Cherin. Itu suami aku namanya Hanes. Panggil nama aja nggak pa-pa, nggak perlu formal. Kita semua keluarga disini." Cherin ikut mengulurkan tangan untuk berkenalan dengan Safira. Dengan senang hati Safira menyambut uluran tangan Cherin.


"Sesi perkenalan udah ya, gimana kalau kita biarkan Kak Jio melakukan rencananya," ujar Diandra membuat Safira sedikit bingung.


"Rencana?" ulang Safira menatap Jio kembali mengangkat satu alisnya.


"Ehem ... em itu ... sebenarnya aku memang hendak melamar kamu disini, Sayang." Jio kembali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Melamar? Kamu udah melakukan itu berkali-kali, Mas." Jio malah terkekeh. Namun dia tidak punya banyak waktu untuk basa-basi. Segera Jio duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan oleh Diandra dan Cherin. Di sisi kursi tersebut, ada sebuah gitar yang memang gitar itu milik Jio.


Saat sekolah, Jio pernah menjadi juara lomba menyanyi antar sekolah karena memang suaranya yang bagus dan dia begitu pandai bermain gitar.


"Ehem ...." Jio bersiap dengan posisi yang begitu menawan. "Lagu ini aku persembahkan untukmu, Safira." Jio pun mulai memetik senar gitarnya dengan penuh penghayatan.


Lagu Bandai Romantic Project yang berjudul "Melamarmu"


Di ujung cerita ini


Di ujung kegelisahanmu


Ku pandang tajam bola matamu


Cantik, dengarkanlah aku


Aku tak setampan Don Juan


Tak ada yang lebih dari cintaku


Tapi saat ini ku tak ragu


Ku sungguh memintamu


Jadilah pasangan hidupku


Jadilah ibu dari anak-anakku


Membuka mata dan tertidur di sampingku


Safira benar-benar tersipu malu sekaligus sangat bahagia mendengar tiap lantunan lagu yang dinyanyikan oleh Jio. Namun saat lagu itu hampir selesai, tiba-tiba Safira ingat dengan perkataan Ibunya untuk mengakhiri hubungan dengan laki-laki bernama Serjio tersebut.


Entah Safira harus jujur atau bagaimana, tetapi dia sendiri tidak tahu pasti apa yang membuat sang Ibu tidak setuju dengan pilihannya.


"Mbak, katanya kalian belum dapet restu ya dari Ibu?" bisik Diandra pada Safira sembari menikmati lagi yang dinyanyikan Jio.


"Iya, Nona. Saya ... saya juga tidak tahu kenapa Ibu menolak Mas Jio. Eh ... dari mana Nona tahu?" Tentu Safira terkejut karena dia belum mengatakan hal tersebut pada siapapun.


"Dari Kak Jio. Dia nggak sengaja denger percakapan kalian. Tapi satu hal yang pasti, berjuanglah kalian. Jangan ada hal yang kalian sembunyikan bahkan sekecil apa pun. Aku yakin Kak Jio bisa menjadi suami yang baik."

__ADS_1


Mendengar ucapan Diandra, Safira jadi merasa bersalah karena tidak jujur sejak awal. Namun setelah apa yang telah Jio ungkapkan lewat lagi yang begitu menyentuh itu, Safira pun bertekad akan mengatakan hal sebenarnya dan akan menghadapi apa pun yang terjadi bersama Serjio.


........


__ADS_2