
Erlan berhasil mengeluarkan Pras dari penjara dengan jaminan. Pras yang masih segan dan canggung hanya bisa membungkuk sebagai tanda terima kasih.
"Nggak perlu sungkan! Kita adalah saudara," jawab Erlan seraya menepuk bahu Pras. Ada hal aneh yang ingin Pras ketahui tentang hubungan Erlan dan sang adik tiri karena yang dia ingat waktu itu seorang Erlan terlihat sangat kejam. Namun yang dia lihat saat ini, Erlan begitu mencintai Diandra.
Setelah berhasil keluar dari penjara, Pras memberikan alamat rumah sakit tempat ibunya dirawat. Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Erlan pun tiba di rumah sakit yang mereka tuju. Pras mengatakan jika Ibunya mengalami gagal jantung dan harus melakukan operasi pencangkokan.
Uang pemberian Erlan juga habis sebagian besar untuk berobat Ibu Dona selama ini. Namun penyakit itu tidak bisa disembuhkan walaupun Ibu Dona mendapatkan transparansi jantung. Hanya ada harapan bertahan hidup sedikit lebih lama.
"Dokter memang bilang penyakit ini nggak bisa sembuh, tapi Dokter bilang penyakit ini bisa diobati. Mungkin ini juga karma karena selama ini menyakiti orang yang seharusnya kami sayangi," ujar Pras seraya membuka pintu ruang rawat Ibu Dona.
Wanita berusia hampir setengah abad itu sedang terbaring lemah tak berdaya. Wajahnya yang mulai keriput itu terlihat pucat dengan beberapa alat yang menempel ditubuh. Diandra merasa iba walaupun selama ini sang ibu tiri tidak pernah iba padanya.
"Mah, ada tamu," bisik Pras membuat Ibu Dona membuka mata dengan beratnya. Iris mata itu langsung menangkap jelas wajah anak tiri yang selama ini dia siksa bahkan tega menjualnya demi sejumlah uang.
"Ibu ... apa kabar!" sapa Diandra melangkah perlahan setelah mengalihkan gendongan Ezra pada Erlan. Tangan Diandra pun meraih tangan Ibu Dona dan mengusapnya lembut. Wanita di depan Diandra itu pun menitikkan air mata karena tidak ada kebencian sama sekali dalam dirinya.
"Di-Dian-Diandra!" suara berat itu akhirnya keluar setelah beberapa saat Ibu Dona menatap Diandra yang begitu cantik dengan senyum tipis. Rasa ragu menyebut nama Diandra akhirnya sirna. Ibu Dona pun membalas genggaman tangan Diandra.
"Iya, Ibu! Diandra datang buat jenguk Ibu. Kak Pras udah cerita semuanya. Suami Diandra akan bantu pengobatan ibu. Tenang ya, Bu! Ibu pasti bisa sehat lagi," kata Diandra memberikan secercah harapan pada sang Ibu tiri. Sepertinya hanya hati malaikat saja tidak cukup julukan yang Diandra terima.
"Kenapa ... kenapa kamu begitu baik? Kamu benar-benar persis seperti ayah kamu. Maaf! Maafin Ibu atas semua perlakuan buruk Ibu selama ini. Bahkan ... bahkan setelah kami menjual mu, kamu masih mau panggil aku Ibu, Diandra? Kenapa kamu sangat baik? Ibu ... ibu benar-benar minta maaf!"
Ungkapan maaf yang tulus kembali Diandra dengar. Sungguh ... hatinya sangat lega bisa mendapatkan kata maaf dari Ibu Dona juga Pras. Suasana langsung menjadi sendu kare isak tangis ibu Dona juga Pras yang kembali ikut menangis menyesali semua yang telah terjadi.
Diandra pun mengusap air mata wanita yang sedang terbaring lemah itu. Dia sendiri tidak kuasa menahan air matanya, tetapi kebahagiaan yang dia dapatkan kali ini mampu melupakan hal buruk yang pernah terjadi diantara mereka.
Ibu Dona sedang berusaha mengangkat sebelah tangannya. Pras yang melihat itu membantu tangan sang Ibu agar bisa meraih apa yang ingin dia raih. Ternyata Dona ingin memeluk Diandra. Segera Diandra membungkuk dan memeluk Ibu Dona. Tangis kebahagiaan itu kembali pecah selama beberapa saat.
Erlan sangat terharu dan bangga mempunyai istri seperti Diandra. Semesta benar-benar sangat baik padanya karena dikelilingi wanita-wanita berhati malaikat termasuk Nenek Harni juga Mami Hasna. "Terima kasih, Tuhan," batin Erlan tiba-tiba ada setitik air mata yang juga menetes di pipinya. Dengan cepat dia mengusap air mata itu.
"Hu ... aaa ... laa ...." Suara Ezra membuyarkan suasana sendu menjadi rasa penasaran untuk Ibu Dona. Memang sejak tadi fokusnya tidak teralihkan pada Diandra sampai dia tidak sadar ada Erlan juga Ezra.
Diandra pun melepaskan pelukannya dan kembali mengusap air mata Ibu Dona. Kini Diandra tidak lagi menangis. Begitu juga dengan Ibu Dona. Diandra kemudian menghampiri Erlan yang jaraknya tidak terlalu jauh. Diandra mengajak Erlan untuk mendekati Ibu Dona yang sekarang statusnya ada Ibu mertuanya.
"Ibu ... ini suami Diandra. Pasti Ibu udah tahu. Dan ... anak kecil ini, namanya Ezra. Dia anak Diandra sekaligus cucu Ibu," papar Diandra membuat Ibu Dona kembali menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Salam kenal, Bu! Walaupun pertemuan pertama kita tidak Dalma keadaan baik, tapi saya harap dengan pertemuan kedua ini, kita bisa menjalin hubungan baik," sapa Erlan dan Ibu Dona menganggukkan kepalanya.
Pras yang sejak tadi diam di sisi lain Ibunya, kini mendekati Diandra lalu mengusap ujung kepala sang adik. Hal itu pernah dia lakukan sebagai tanda rasa aman karena terlepas dari kejaran anjing. Namun itu adalah pertama dan terakhir yang Pras lakukan. Hingga Ayah Diandra meninggal, Pras hanya memberikan luka batin untuk Diandra.
"Terima kasih, Dik! Kami tanpa kamu benar-benar bukan apa-apa. Seharusnya kami sadar dari dulu kalau kamu itu bukan wanita biasa. Terima kasih untuk semua kebaikan yang kamu berikan," ujar Pras diiringi senyuman.
Diandra tak kuasa menahan rasa haru itu mengingat kenangan indah yang Pras berikan semasa kecil. Segera Diandra memeluk Pras yang langsung dibalas pelukannya oleh sang Kakak. Walaupun hanya Kakak tiri, tapi Pras pernah berperan sebagai Kakak kandung.
"Iya, Kak! Diandra memaafkan semua kesalahan Kakak. Diandra yakin Kakak juga sebenarnya hanya khilaf. Buktinya Kakak kembali jadi Kakak Diandra, bukan?"
Pras lagi-lagi menangis. Sungguh, rasanya dia benar-benar bahagia dan juga lega karena memang sejak lama dia ingin menemui Diandra untuk minta maaf. Namun Pras tidak tahu keberadaan Diandra. Pernah dia bertanya tentang Erlan yang dia lihat di koran, tetapi malah mendapatkan hinaan dan ledekan dari orang yang dia tanyai.
"Aku juga mau dipeluk, Kak! Aku juga mau merasakan bagaimana hangat pelukkan seorang Kakak," ucap Erlan membuat Pras semakin terharu.
Diandra pun melepaskan pelukannya kemudian mengambil alih Ezra dari gendongan Erlan. Setelah itu Pras segera memeluk Erlan seraya menepuk-nepuk punggungnya.
Erlan ikut bahagia karena dia juga bisa merasakan bagaimana pelukan seorang Kakak yang belum pernah dia rasakan karena hanya anak tunggal. Seharusnya dia mendapatkan pelukkan seorang Kakak dari Yansen, nyatanya Yansen malah menjadi tamak dan hubungan yang terjalin diantara mereka tidaklah baik.
"Ibu juga mau dipeluk oleh menantu, Ibu," ujar Ibu Dona yang sudah merentangkan kedua tangannya hendak menyambut pelukkan Erlan. Setelah memeluk Pras, Erlan segera memeluk Ibu mertuanya. "Terima kasih, Tuan Erlan!" Mendengar namanya dipanggil Tuan, Erlan pun melepaskan pelukan tersebut.
"Kenapa panggil Tuan, Buk? Aku anak menantu Ibu, jadi seharusnya aku dipanggil 'Nak' bukan 'Tuan' dong!" keluh Erlan dan langsung disambut dengan gelar tawa.
Erlan pun kembali memeluk Ibu Dona. Cukup lama sampai pelukan itu benar membuat Ibu Dona berhenti menangis. "Sama-sama, Buk! Sebenarnya aku yang harusnya berterima kasih karena memberikan bidadari." Erlan pun melepaskan pelukan itu.
"Sekarang Omanya Ichan udah lengkap ya? Ada Oma Hasna sama Oma Dona. Wah ... Ichan pasti makin seneng ya bakal diasuh sama dia Oma," seru Diandra seraya melambai-lambaikan tangan Ezra pada Ibu Dona.
"Katanya namanya tadi Ezra, kenapa jadi Ichan?" tanya Pras heran.
"Iya ... soalnya aku suka panggil dia Ichan, Kak. Namanya lengkapnya Ezra Ichan Saputra. Kalau yang lain panggil Ezra, tapi kalau Ibunya panggil Ichan, lebih lucu aja," jelas Diandra dan Pras hanya mengangguk.
"Pakde nggak mau gendong?" tanya Erlan. Namun Pras malah terkejut.
"Nggak-nggak! Nggak mau! Takut jatuh. Aku belum pernah gendong anak sekecil itu." Pras sedikit mundur karena dia memang tidak berani dan belum pernah menggendong anak kecil.
Jangankan untuk mengendong, untuk menyukai anak kecil saja dia tidak pernah. Pras bahkan sering membentak dan marah-marah jika ada anak-anak yang bermain lato-lato di dekatnya.
__ADS_1
"Kan calon bapak, harus belajar dong gimana caranya gendong bayi, biar bisa bantu ngasih nantinya," kata Erlan seraya menepuk bahu Pras. Ucapan Erlan membuat Pras cengengesan.
"Gimana mau jadi bapak? Hidupku aja berantakan begini. Siapa juga yang mau sama laki-laki pengangguran dan urakan begini? Ada-ada aja!" elak Pras yang sebenarnya dia juga ingin sekali menikah. Namun selama ini yang dia temui hanyalah wanita malam.
Sebejat dan sejahat apa pun seorang laki-laki, sudah pasti untuk menikah dia akan memilih istri yang baik yang bisa mendidik anak-anak kelak dengan baik pula. Begitu juga dengan harapan Pras yang sangat menginginkan wanita baik-baik yang menjadi istrinya kelak. Syukur-syukur seperti Diandra, itu hanya harapan.
"Ada! Setiap orang sudah mendapatkan takdir masing-masing. Tuhan juga sudah menentukan pasangan hidup untuk menemani tua kita, jadi ... jangan pesimis, Kak! Perbaiki diri dan yang baik juga akan datang dengan sendirinya," kata Erlan dengan bijaknya.
"Iya. Semoga saja aku juga dapat istri yang baik dan mau menerima aku apa adanya," jawab Pras masih dengan wajah sedih.
"Ibu akan doakan anak-anak ibu mendapatkan yang terbaik juga mendapat kebahagiaan yang abadi," sahut Ibu Dona.
"Terima kasih, Mah!" Pras pun memeluk Ibunya. "Kebaikan apa yang kita lakukan ya, Mah? Sampai-sampai Tuhan begitu baik sama kita dan memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri. Pras sangat lega, Mah. Pras bahagia Mamah bisa berobat dan yang lebih membuat Pras bahagia adalah mendapatkan maaf dari Diandra," ucap Pras dan Ibu Dona juga merasakan hal yang sama dengan anaknya.
"Sudah, Kak! Semuanya sudah kembali seperti semula," ucap Diandra seraya mengusap punggung Pras yang masih memeluk Ibu Dona. Pras pun memeluk Erlan dan Diandra bersamaan.
"Kakak yakin, ucapan seribu terima kasih pum nggak akan cukup untuk kalian. Semoga kalian selalu bahagia."
...***...
Setelah selesai mengurus administrasi dan Ibu Dona dipindah ke rumah sakit yang lebih bagus, Erlan dan Diandra pamit pulang karena waktu juga sudah hampir sore. Apalagi mereka belum sempat makan siang. Ezra juga tidur begitu pulas setelah menjalani hari yang panjang.
Diandra berpikir jika rewelnya Ezra adalah pertanda bahwa Oma satunya sedang sakit, bukan Oma yang sedang ada diluar negeri. Nyatanya Ezra bisa tidur pulas dan tidak rewel lagi.
Diandra benar-benar senang karena Ezra begitu pekak terhadap orang-orang yang dicintai Diandra. Padahal Ezra dan Ibu Dona belum pernah bertemu. Hanya saja Diandra memang pernah bercerita sedikit tentang mereka.
"Mas, mampir makan ya? Aku laper banget!" pinta Diandra dan Erlan sampai terkejut karena melupakan makan siangnya.
"Astaga ... maaf, Sayang. Ya ampun ... kenapa aku bisa lupa begini sih! Ibu menyusui harusnya nggak telat makan. Maaf ya, Sayang!" jawab Erlan benar-benar lupa dengan jam makan siang yang sudah lewat tiga jam itu.
"Iya, nggak pa-pa. Kamu kan sibuk ngurus keluarga aku tadi,"
"Keluarga aku juga dong!"
"Iya, keluarga kita!" Erlan pun tersenyum kemudian menepikan mobilnya disebuah mall yang untungnya saat itu mereka langsung bisa makan.
__ADS_1
........
...Detik-detik tamat nih! Mungkin sekitar lima bab lagi cerita ini bakalan tamat. Nah buat pengejar give away, siap-siap ya 😀...