
Tiba di rumah sakit, Erlan cukup terkejut karena ternyata Cherin juga salah satu pasien Dokter Amira. Memang Cherin tidak pernah meminta Erlan untuk mengantar dirinya saat waktunya cek kandungan. Erlan selalu membebankan semua itu pada asisten rumah tangga dan hanya memberikan biayanya saja.
Tentu bukan tanpa alasan karena Erlan benar-benar ingin menjaga perasaan Diandra. Ditambah lagi dia tidak mau tertipu kembali, apalagi kehamilan Cherin dijadikan alasan. "Iya, Pak. Nona Cherin ini memang salah satu pasien saya. Beberapa hari lalu dia mengeluh sering kram di bagian perut. Saya sudah curiga, tetapi dia tetap ingin mempertahankan bayinya. Jadi saat itu saya hanya memberikan obat dan vitamin. Tapi sepertinya kecurigaan saya benar terjadi," jelas Dokter Amira menunjukkan sebuah hasil usg atas kandungan Cherin.
"Maksudnya apa ini, Dok?" Erlan tentu tidak paham dengan gambar empat dimensi yang disodorkan padanya.
"Janin Nona Cherin tidak berkembang, Pak. Itu yang membuat sang Ibu sering kram di perut dan keluar flek hitam seperti saat ini. Nona Cherin harus segera melakukan kuretasi karena bayinya tidak bisa bertahan," jelas Dokter Amira membuat Erlan tiba-tiba lemas. Rasanya sama seperti saat mendengar kabar dia Diandra saat itu. Sedangkan Diandra sendiri ikut sedih mendengar hal tersebut.
"Kenapa janin bisa tidak berkembang, Dok?" tanya Diandra penasaran.
"Ada banyak faktor yang membuat janin tidak berkembang. Misalnya kesehatan sang ibu sebelum hamil, hipertensi, merokok, minum alkohol atau bisa juga faktor Genetik," jelas Dokter Amira tentu semua hal itu memang sering Cherin lakukan apalagi minum alkohol, tetapi untuk faktor genetik tidak bisa dipastikan apakah ada keturunan di keluarga Cherin.
"Lakukan yang terbaik untuknya, Dok. Tapi … apa bisa saya melakukan tes DNA? Saya harus memastikan sesuatu," pinta Erlan dan mendapatkan persetujuan dari Dokter Amira. Setelah itu Cherin dibawa ke ruang operasi. Sejak di rumah, Cherin sudah tidak sadarkan diri bahkan wajahnya sangat pucat. Diandra cukup kasihan melihat keadaan Cherin. Sebagai sesama wanita, tentu dia tahu bagaimana perasaan Cherin nanti saat tahu anaknya tidak bisa dibesarkan.
...***...
Erlan meminta Jio untuk menghubungi Hanes dan meminta agar pria tersebut datang ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Walaupun mungkin itu terkesan keterlaluan, tetapi bagi Erlan status anak itu harus jelas siapa ayah dari bayi yang dikandung Cherin. Tentu saja itu sangat penting baginya.
Awalnya Hanes menolak permintaan Erlan, tetapi karena rasa penasaran, akhirnya Hanes menyetujui untuk datang ke rumah sakit dan melakukan tes DNA.
Usia kandungan Cherin masuk minggu ke dua puluh dua, tentu saja anak itu sudah berbentuk lengkap dengan ukuran sebesar buah mangga bahkan beratnya mencapai 450 gram dan berjenis kelamin laki-laki. Bentuknya jauh lebih besar dari anak yang meninggal sebelumnya. Erlan benar-benar ingin menangis saat melihat anak yang ada di dalam sebuah tabung sama seperti anak yang meninggal sebelumnya. Wajahnya cukup imut dengan bibir mungil yang nyaris terlihat sedang tersenyum.
Di ruang tunggu, Erlan dan Diandra duduk menatap anak yang sudah tidak bernyawa itu. Tidak lama kemudian, Hanes datang. "Kenapa anda begitu memaksa saya datang?" tanya Hanes yang mengundang rasa penasaran Diandra. Namun dia belum berani bertanya siapa pria yang terlihat dingin itu.
__ADS_1
"Lihatlah, dia laki-laki," kata Erlan seraya memberikan tabung berisi bayi yang sudah meninggal. Hanes menerima tabung tersebut walaupun ada rasa enggan di benaknya. Hanes pun menatap bayi mungil itu bahkan mata Hanes nyaris berkaca-kaca karena tidak tega melihatnya. "Kita akan melakukan tes DNA terlebih dahulu sebelum menguburkannya. Tataplah dengan puas sebelum dia dikuburkan," lanjut Erlan dan Hanes tiba-tiba membawa tabung itu dalam pelukannya.
Pernikahan yang terlampau cukup lama tanpa membuahkan anak membuat hatinya begitu sedih melihat nyawa tidak berdosa itu telah meninggal. Entah kenapa hatinya merasa sakit bahkan ingin rasanya memeluk bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.
Setelah puas, Hanes memberikan kembali tabung tersebut dan keduanya pergi menuju laboratorium bersama untuk melakukan tes DNA. Ragu memang Hanes melangkah karena dirinya telah dinyatakan mandul oleh Dokter. Bahkan sebelumnya tidak ada wanita yang hamil dari sekian banyaknya wanita yang dia tiduri untuk melepas penat karena istrinya sering sakit.
...***...
"Ouh!" rintih Cherin menahan rasa sakit dibagian perut juga pangkal pahanya. Matanya begitu berat untuk terbuka, tetapi dia paksa. "Di … mana …." Cherin begitu lemah, bahkan hanya untuk menoleh saja kepalanya sangat pusing.
"Kamu di rumah sakit," jawab Diandra yang kemudian berdiri di sisi brankar Cherin.
"A-a-ap-apa ya-yang …." Suara Cherin begitu berat. Diandra tahu apa yang ingin dia tahu.
"Kamu keguguran. Bayimu tidak berkembang dan terpaksa harus di kuret," jelas Diandra seketika membuat Cherin menitikkan air matanya.
"La-lalu, di-dim-"
"Dia sudah dikuburkan. Kamu bisa menjenguknya saat keadaanmu membaik. Sekarang istirahatlah. Karena kamu sudah sadar, aku dan Mas Erlan akan pulang. Kalau kamu butuh apa-apa, kamu bisa pencet tombol hijau itu dan perawatan akan datang," ucap Diandra kemudian memeluk lengan Erlan.
"Hm," jawab Cherin tanpa menoleh dan menatap mereka berdua.
...***...
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Diandra terlihat sedih. Dia merasa bersalah karena meninggalkan Cherin sendiri di rumah sakit. Rasa sedihnya tidak bisa dia sembunyikan entah itu bayi Erlan atau bukan. Yang pasti Diandra pernah ada di posisi Cherin saat ini.
"Sayang, kenapa, hm?" tanya Erlan masih fokus mengemudi.
"Apa kita jahat, Mas? Dia kesakitan sendiri disana dan kita meninggalkan dia," Diandra tak kuasa menahan air matanya.
"Entahlah. Aku belum bisa memastikan apa pun sampai tes DNA itu keluar," jawab Erlan nampak tidak merasa bersalah sama sekali. Padahal melakukan tes DNA itu saja sebenarnya hal yang cukup jahat bagi Diandra.
"Tapi … siapa pria tadi, Mas?" Diandra tidak sempat bertanya sebelumnya tentang Hanes.
"Dia salah satu teman tidur Cherin. Makanya aku minta dia untuk ikut melakukan tes DNA. Aku pernah bertemu dengannya saat akan ke apartemen Cherin," jelas Erlan membuat Diandra kembali bertanya.
"Terus kenapa pria itu ragu, Mas? Aku liat dia cukup terpaksa mau melakukan tes DNA,"
"Hm, karena dia dinyatakan mandul oleh Dokter,"
"Kalau dia mandul, kenapa kamu paksa dia buat lak-"
"Sayang … sudahlah. Jangan sampai masalah ini kita bawa ke rumah. Kita hanya perlu menunggu hasilnya. Ada banyak alasan kenapa aku meminta Tuan Hanes melakukan tes DNA, jadi kita tunggu saja, hm?" Akhirnya Diandra tidak bertanya lagi dan memilih diam hingga tiba di rumah.
........
...JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE KOMENTARNYA DAN BINTANG 5 YAH 😘...
__ADS_1
...Eits ... jangan lupa mampir loh ya ke karya yang tak kalah seru juga, cek 👇...