
Diandra tiba di rumah sakit, tetapi ketika tepat di depan pintu ruang rawat Nenek Harni, dia melihat Mami Hasna yang sedang menangis histeris dipelukan Erlan. Tangisnya begitu pilu hingga membuat langkah kaki Diandra perlahan melemah. Kedua matanya mulai terasa panas, dengan dada yang berangsur sesak.
"M-Mas!" panggil Diandra lirih. Erlan pun menoleh, hanya saja tidak memberikan respon apa pun selain sebuah cairan bening menetes di pipinya.
Diandra menggeleng pelan, "Ng-nggak," ucap Diandra diantara air mata yang mengalir tanpa dia sadari. Cherin bahkan segera merengkuh bahu Diandra, ketika dia terhuyung dan nyaris jatuh.
"Diandra, sabar!" kata Cherin berusaha menguatkan Diandra. Namun Diandra terus menggelengkan kepala, tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Erlan. Sungguh dia tidak mau menerima kabar apa pun selain kesembuhan sang Nenek.
Sementara Mami Hasna terus menangis dalam pelukan Erlan. Diandra benar-benar tak kuasa, dia putuskan untuk masuk ke ruang rawat sang Nenek tanpa permisi. Diandra melihat seorang Dokter sedang berbicara dengan perawat yang terlihat menulis apa yang dikatakan Dokter tersebut.
Setelah beberapa saat, Dokter memberikan perintah pada dua perawat di depannya dan perintah itu segera dilaksanakan.
Gelap, pandangan Diandra tiba-tiba hilang sesaat setelah melihat semua alat yang terpasang di tubuh Nenek Harni dilepas dan sang Nenek di tutup oleh selimut khas rumah sakit. Benar-benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi perasaannya saat ini, saat Nenek Harni dinyatakan meninggal dunia.
Jantungnya seperti diremat dengan paksa karena sakit sekali rasanya. "Mamah!" teriak Mami Hasna sempat terdengar sebelum akhirnya Diandra kembali pingsan.
Mami Hasna memeluk tubuh yang telah terbalut selimut itu dan tanpa hentinya menangis. Sedangkan Erlan langsung membopong tubuh Diandra untuk dibaringkan di atas sofa. Cherin pun menjaga Diandra dan Erlan kembali mendekati sang Nenek.
Kedua kakinya tiba-tiba lemas seketika dan melipatnya hingga membentur lantai. Erlan pun berlutut di sisi brankar Nenek Harni yang tubuhnya kini tertutup selimut.
Hanya ada suara tangis Mami Hasna disana. Kepergian sang Nenek benar-benar meninggalkan duka yang begitu mendalam bagi Erlan.
Kedua tangannya mengepal kuat dan otaknya seolah mendidih mengingat nama Samuel. Dia adalah penyebab kematian orang yang ikut merawat dan membesarkannya.
"Nek, ma-maafin Erlan," kata Erlan lirih bahkan nyaris tidak terdengar oleh siapapun. Kepalanya tertunduk dan serasa tidak bisa terangkat kembali.
"Aku ... turut berduka cita," ucap Hanes lirih dan membantu Erlan bangun kemudian memeluknya dengan harapan pelukan itu bisa memberikan Erlan ketegaran dan kekuatan untuk menghadapi musibah tersebut.
__ADS_1
Malam itu benar-benar menjadi malam yang tidak akan pernah terlupakan untuk semua orang yang menyaksikan Nenek Harni pergi untuk selama-lamanya. Bahkan malam itu akan menjadi saksi bahwa Erlan akan membalas perbuatan orang tamak yang bernama Samuel.
...***...
Pagi itu di rumah duka, karangan bunga ucapan bela sungkawa telah berjejer rapi. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita karena Erlan memang cukup tersorot oleh media. Cuaca mendung seolah ikut menyaksikan kesedihan keluarga Erlan atas kepergian Nenek Harni. Diandra masih setia duduk di sisi peti mati sang Nenek dengan mata merah dan bengkak.
Bukan hanya Diandra yang duduk di sisi peti mati itu, tetapi Mami Hasna juga duduk disana dengan setia menemani waktu terakhirnya bersama sang Mamah. Suasana duka itu benar-benar terasa begitu menyakitkan.
"Sayang, udah waktunya Nenek pergi!" kata Erlan meraba pipi Diandra seraya mengusap air matanya. "Kita relakan kepergian Nenek, hm? Nenek udah tenang, jangan antar Nenek dengan tangisan," lanjut Erlan malah membuat Diandra kembali menangis.
Tentu dia hanya sedang berpura-pura kuat karena jika Erlan ikut lemah, maka kedua wanita yang dia sayangi tidak akan ada yang menguatkan mereka.
"Apa nggak bisa sedikit lebih lama lagi, Er?" tanya Mami Hasna dan Erlan pun menggelengkan kepalanya pelan.
"Sudah waktunya dimakamkan, Mam! Kita harus berangkat sekarang, takut hujan nanti pas pemakaman." Mami Hasna kembali menangis saat Erlan tidak lagi memberikan dia waktu untuk lebih lama dengan sang Mamah. Terpaksa dia bangun menguatkan diri karena peti mati Nenek Harni akan diangkat dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
"Kalau kamu nggak kuat, kamu pulang aja ya? Biar aku sama Mami yang nganter Nenek."
"Nggak, Mas! Aku mau ikut. Aku mau liat Nenek disaat terakhirnya." Erlan paham dan akhirnya menuntun Diandra untuk masuk ke dalam mobil miliknya yang di ikuti oleh Mami Hasna yang dituntun oleh Jio. Mobil itu pun melaju menuju pemakaman.
...***...
Di tempat pemakaman umum, sebuah gundukan merah dengan taburan bunga tujuh rupa dan sebuah batu nisan yang terdapat foto Nenek Harni membuat Diandra semakin merasakan sesaknya dada. Erlan masih menahan tubuh itu agar tidak jatuh di tanah merah.
Mami Hasna masih menyiramkan air di atas gundukan merah dengan taburan bunga tersebut. Setelah itu meraba foto yang sedang tersenyum itu. Mami Hasna lebih kuat dari Diandra yang tidak bisa berjongkok untuk menaburkan bunga di makam sang Nenek.
"Mah, maafin Hasna kalau Hasna belum jadi anak yang baik selama ini. Terima kasih karena merawat dan menemani Hasna selama ini. Maafin Hasna juga karena cuma bisa anter Mamah sampai sini. Hasna baik-baik aja dan Hasna juga udah ikhlasin Mamah pergi untuk selamanya. Semoga kita bisa berkumpul kembali di tempat terindah di sisi Tuhan. Hasna sayang sama Mamah."
__ADS_1
Mami Hasna pun beranjak seraya menggandeng tangan Diandra. Para pelayat yang ikut mengantar ke tempat pemakaman umum juga sudah bubar satu demi satu.
"Kita pulang ya?" ajak Erlan. Diandra dan Mami Hasna kompak mengangguk.
Sayangnya, saat mereka semua telah pergi beberapa langkah, ada sosok yang tidak ingin mereka lihat. Siapa lagi kalau bukan Kakak Nenek Harni yaitu Paman Sam.
"Maaf, aku telat! Aku baru denger kalau keluargaku meninggal," ucap Paman Sam tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Erlan yang mendengar suara Paman Sam tiba-tiba merasa amarahnya bergejolak. Kedua tangannya mengepal kuat seakan siap untuk memberikan sebuah hantaman di tubuh pria yang mengaku keluarganya.
"Kau ... bukan bagian keluarga kami! Pergilah! Nenek tidak akan sudi didatangi oleh Kakak yang tamak sepertimu Samuel!" teriak Erlan mampu membuat beberapa orang yang akan pergi menghentikan langkah kaki mereka karena rasa ingin tahunya.
"Jaga mulutmu, Erlangga! Dia Kakek kandungmu. Orang yang ada hubungan darah denganmu," jawab Yansen tidak kalah tinggi suaranya dengan Erlan.
"Ck, aku lupa kalau aku masih punya Kakek. Tapi aku senang karena aku melupakan Kakek yang tamak dan tidak punya hati nurani seperti Papamu itu, Yansen!" Erlan hampir melayangkan tangannya, tetapi dengan cepat Jio menahan tangan itu karena takut ada awak media yang masih berkeliaran di sekitar pemakaman tersebut.
"Dasar nggak punya sopan santun! Apa ibumu itu nggak mengajarkan bagaimana cara menghormati orang tua?" Lagi-lagi Yansen bicara dengan nada tinggi membuat Erlan begitu muak.
Akhirnya Erlan melepas paksa tangan Jio yang menahan tangannya kemudian memberikan satu bogeman di pipi juga perut Yansen.
"Brengsekk!"
"Sialann!"
"Cukup!" Mami Hasna tentu tidak mau anaknya kenapa-kenapa. Jio yang mendapatkan perintah untuk melerai segera menarik dan menahan tubuh Erlan. "Paman, sebaiknya Paman minta maaf andai hidup Paman mau tenang!" ucap Mami Hasna kemudian segera menarik tangan Erlan untuk pergi dari pemakaman tersebut. Sedangkan Diandra, dituntun oleh Cherin dan Meli.
Tempat pemakaman umum itu hampir saja kembali ramai karena teriakan Erlan juga Yansen. Seandainya Mami Hasna tidak cukup sabar, maka sudah dipastikan akan ada baju hantam diantara keduanya sepupu tersebut.
........
__ADS_1