
Erlan dan Diandra merayakan kebahagiaan mereka dengan mengadakan pesta barbeque di taman kecil di dekat rumah bersama dengan Nenek juga Maminya. Meli serta anak-anaknya pun ikut dalam kebahagiaan itu dan beberapa asisten rumah tangga. Sedangkan Jio harus menjemput klien dari luar negeri yang akan meeting dengan Erlan esok hari.
Pesta barbeque itu benar-benar memancarkan kebahagiaan yang tidak terhingga bagi Diandra. Masa-masa sulitnya sudah dia lewati dan kini hanya tinggal sedikit lagi, maka kebahagiaan mereka akan sempurna. Walaupun Diandra masih takut tidak bisa hamil, tetapi Erlan berkali-kali meyakinkan bahwa ada banyak cara untuk hamil dan tidak akan ada penyakit yang tidak ada obatnya.
Nenek Harni juga Mami Hasna bahkan terus memberikan dukungan penuh pada Diandra agar semakin semangat menjalani kehidupan ke depannya karena tidak ada yang tahu bagaimana takdir sang pencipta untuk mahluk ciptaan-Nya.
"Astaga! Mas! kenapa gosong begini?" Diandra terkejut melihat beberapa sosis yang berubah menjadi warna hitam. "Kalau nggak bisa bilang dong! Biar aku sama Mbak-Mbak aja yang bakar, kamu bantu bikin sausnya aja sana!" usir Diandra. Erlan malah cengengesan karena dia memang belum pernah bakar membakar barbeque, kecuali membakar hasratnya.
"Maaf! Aku pikir ini mudah, hehe!" jawab Erlan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mbak! Bantu aku dong!" teriak Diandra pada salah satu asisten rumah tangganya. Erlan pun pergi dan akhirnya Diandra yang menyelesaikan bakar membakar itu.
"Ya ampun, Erlangga! Kenapa itu mayones di campur ... oh Erlangga! Udah kamu sebaiknya diem aja. Duduk manis nanti tinggal makan aja," omel Mami Hasna kemudian memukul bahu Erlan beberapa kali.
"Aduh! Sakit, Mi! Emang kalau di campur kenapa? Kan lebih enak ada pedas ada manis," sahut Erlan benar-benar tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kamu nggak liat anak-anak Meli? Emang mereka mau kamu kasih saus cabe? Biar kepedesan terus diare?" gerutu sang Mami kembali memukul Erlan.
"Astaga! Jio ... kenapa kamu nggak ada disini sih? Kan jadi nggak ada yang bela aku," gumam Erlan yang kemudian menjauh dari kerumunan.
__ADS_1
"Kamu taunya makan aja, bair para wanita yang mengerjakan!" kata Mami Hasna masih mengomeli anaknya. Erlan hanya terkekeh karena marahi oleh istri juga Maminya.
Beberapa saat berdiri menatap layar ponselnya, Diandra menghampiri Erlan dengan setusuk daging lengkap dengan saus agar Erlan mencicipi hasil bakarannya. "Gimana? Enak kan? Yang pasti nggak gosong," ledek Diandra yang langsung mendapatkan cubitan di pipinya.
"Apa pun dari tangan istriku, pasti enak!" jawab Erlan dengan nada mendayu.
"Masa? Kalau aku pegang kotoran kucing, kamu mau makan juga?" tanya Diandra masih dengan nada meledek. Seketika Erlan langsung tersedak mendengar kata kotoran. Diandra pun tertawa terbahak-bahak. "Haha ... kenapa? Katanya semua dari tanganku bakal enak? Makanya kalau mau ngegombal itu dipikir baik-baik, huh!" Diandra pun kembali meninggalkan Erlan yang masih batuk-batuk tanpa memberikan suaminya minum.
Sebenarnya Diandra ingin sekali mengundang Cherin ditengah-tengah pesta barbeque itu agar ikut merasakan kebahagiaannya. Namun Erlan tidak setuju karena sang Nenek sangat tidak suka dengan kehadiran Cherin. Walaupun semuanya sudah berakhir, tetapi jika Cherin datang, maka sangat diyakini pesta itu tidak akan ada gelak tawa karena rasa canggung.
...***...
Cherin baru saja membuka mata. Hari itu benar-benar menjadi hari yang panjang karena harus menuntaskan pengaruh obat perangsangg yang masuk dalam tubuhnya. Apalagi Hanes juga mengkonsumsi obat kuat yang membuat Cherin sangat kewalahan karena lamanya durasi permainan panas mereka. Bahkan bukan hanya sekali mereka berdua melakukan itu.
"Nggak! Aku nggak boleh lemah. Aku pasti bisa bebas dari laki-laki psikopat ini," batin Cherin masih berusaha bangun. "Arrghh! Sakit sekali!" jerit Cherin dalam hati. Sekuat mungkin dia menahan rasa yang tidak biasa itu untuk buru-buru pergi sebelum laki-laki bejat bernama Hanes itu bangun.
Cherin segera memungut pakaian dan dengan cepat memakainya. Sayang Cherin tidak menemukan ponsel miliknya. Akhirnya Cherin mengabaikan benda pipih itu lalu berjalan menuju pintu dengan berpegang pada dinding. "Sialann! Bagaimana caraku berjalan," batin Cherin masih menahan rasa sakitnya.
Ternyata Cherin tidak hati-hati dan menendang benda entah apa itu hingga benda tersebut menabrak dinding dan menimbulkan suara yang membuat Hanes bangun. "Cherinna!" teriak Hanes yang langsung bangkit. Untungnya Cherin sudah di depan pintu dan segera membukanya. Kegugupan itu memberikan kekuatan pada Cherin.
__ADS_1
Hanes yang masih polos segera memakai baju untuk mengejar Cherin sebelum wanita itu lari jauh. Melihat cara berjalan Cherin, Hanes sangat yakin kalau Cherin tidak akan bisa keluar dari hotel itu.
Cherin amat sangat gugup bahkan keringat dingin mulai terlihat di keningnya. Tombol lift yang dia tekan tidak kunjung berwarna hijau. Cherin semakin takut jika Hanes berhasil mengejarnya.
Beberapa saat kemudian, pintu lift pun terbuka dan Cherin segera masuk. Disaat yang bersamaan, teriakan Hanes terdengar sangat mengerikan di telinga Cherin. Untungnya pintu lift itu segera menutup. "Ya Tuhan ... apa ini? Aku harus bagaimana sekarang?" gumam Cherin yang bingung harus kemana. Apalagi dia tidak membawa ponsel juga uang.
Lift terus turun dan hanya butuh beberapa detik saja pintu lift kembali terbuka. Cherin segera keluar dari dalam lift. Hotel itu cukup sepi. Bahkan tidak ada pelayan yang lalu lalang. Tentu hotel tersebut mengindahkan ketenangan untuk pelanggannya.
Cherin pun menyelusuri lorong dengan perlahan karena langkah kakinya benar-benar terbatas akibat rasa sakit di pangkal pahanya. "Bantu aku ... bantu aku ... siapapun tolong bantu aku!" gumam Cherin yang terus melangkah seraya celingukan mencari seseorang untuk dimintai tolong.
Beberapa saat melangkahkan kaki, Cherin hampir tiba di bagian resepsionis. Namun matanya yang tidak fokus ternyata membuatnya menabrak seseorang dan Cherin yang tidak seimbang pun tersungkur ke lantai.
"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya seorang pria yang suaranya sangat Cherin kenal. Segera Cherin mendongak menatap pria tersebut.
"Serjio! Syukurlah. Tolong aku! Bawa aku pergi dari sini!" pinta Cherin dan Jio segera membantunya berdiri. "Aw!" rintih Cherin bahkan meremass lengan Jio.
"Kamu kenapa, Cherin?" Jio keheranan dengan sikap Cherin.
"Tolong aku! Aku diperkosa Hanes," jawab Cherin yang kemudian menekan bagian perutnya karena sakit. "Aku ... aku nggak bisa jalan," lanjut Cherin.
__ADS_1
Secara bersamaan, diujung lorong yang cukup jauh, Hanes berteriak. "Cherinna Putri! Jangan lari kamu!" Jio segera membopong tubuh Cherin dan membawanya keluar dari hotel tersebut. Secepat mungkin Jio berlari menuju mobilnya dan pergi bersama Cherin.
........