Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Cherin Dan Hanes


__ADS_3

Cherin sudah diperbolehkan untuk pulang dan sebenarnya dia yang memaksa untuk pulang karena bosan di rumah sakit. Bukan hanya itu saja, tetapi Cherin juga tidak mau merepotkan Diandra yang jelas-jelas akan kembali ke rumah sakit jika dia tetap disana.


Setelah saling memaafkan, Cherin sudah berjanji akan merubah hidupnya dan tidak akan pernah muncul lagi dihadapan Erlan juga Diandra. Kebaikan Diandra benar-benar merubah sikap Cherin menjadi lebih baik lagi. Awalnya Erlan memberikan selembar check kosong pada Cherin untuk keperluan dia kedepannya, tetapi tentu Cherin menolak dengan alasan uang yang kemaren dari mereka masih ada dan Cherin tidak mau lagi meminta uang.


"Kenapa aku bisa hidup sendiri di dunia ini? Apa iya aku harus kembali ke rumah itu?" gumam Cherin begitu siap keluar dari ruang rawatnya. Beberapa kali Cherin menghela napas dan bingung harus pulang kemana sedangkan rumah pemberian Erlan terlalu besar juga disana dia begitu kesepian. Ditambah lagi dia tidak akan bisa menggaji orang-orang yang bekerja disana.


Saat ini, Cherin belum memikirkan untuk kembali menjadi model lagi karena selain kesehatannya belum sepenuhnya pulih, Cherin malas mendengarkan teriakan orang dan banyak sekali peraturan yang harus dia turuti.


"Aku akan antar kamu pulang," kata seseorang yang tidak asing di telinga Cherin. Segera Cherin berbalik badan dan tentu cukup terkejut melihat Hanes ada diambang pintu dengan raut wajah berbeda.


"Apa anda nganggur, Tuan? Bisa-bisanya anda mengantarkan wanita murahann seperti saya?" jawab Cherin seraya menyunggingkan senyum kemudian melewati Hanes begitu saja.


"Cherinna!" panggil Hanes seraya menahan tangan Cherin. Terpaksa Cherin menghentikan langkahnya. Hanes pun berdiri tepat di depan Cherin dengan wajah penuh penyesalan. "Menikahlah denganku!" pinta Hanes dengan tulusnya seraya mencium punggung tangan Cherin.


Bukannya terbuai, Cherin menepis kasar tangan Hanes dan segera keluar dari rumah sakit tersebut. Hanes tidak tinggal diam dan terus membututi Cherin hingga Cherin akan menghentikan sebuah taksi, barulah Hanes menarik tubuh Cherin dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tolong! Lepaskan saya!" pinta Cherin dengan lirihnya.


"Aku serius! Maaf jika selama ini aku berbuat buruk padamu. Naiklah ke mobilku dan kita bicarakan ini baik-baik, hm?" kata Hanes masih memeluk Cherin. Mau tidak mau Cherin pun mengangguk dan keduanya pun masuk ke dalam mobil Hanes. "Sekali lagi maaf atas sikap buruk ku. Aku ingin menikahimu," lanjut Hanes saat keduanya telah duduk di dalam mobil.


"Anda pikir saya wanita apa mau menikahi laki-laki beristri? Maaf, saya tidak akan pernah menikah dengan laki-laki yang sudah beristri!" tegas Cherin menatap kesal Hanes.


"Aku akan bercerai dengan istriku. Dia telah membohongiku selama bertahun-tahun. Ternyata memang nggak ada masalah denganku. Aku baru saja selesai periksa kesehatan. Aku ... aku menyesal karena membiarkan anak kita meninggal. Anak itu benar-benar lucu. Pantas saja aku begitu nggak rela saat melihat janin di dalam tabung itu tanpa nyawa," papar Hanes. Entah kenapa tatapan Hanes menjadi lebih hangat dari sebelumnya.


"Apa saya boleh pergi sekarang? Sebaiknya saya naik taksi aja, Tuan Hanes," kata Cherin hendak membuka pintu mobil. Namun secepat kilat Hanes menguncinya. Cherin pun kembali menatap Hanes. "Saya mau pergi, tolong buka pintunya!" ucap Cherin masih menahan amarahnya.


Beberapa saat berlalu tanpa ada kata dari keduanya. Baik Cherin dan Hanes masih saling beradu mata untuk beberapa menit. Hanes pun menurunkan kursi Cherin hingga kursi itu datar dan Hanes menindih tubuh Cherin. "Tuan! Apa anda gila?" teriak Cherin tentu tidak dihiraukan Hanes.


Segera Hanes menyambar bibir manis Cherin dengan penuh kelembutan. Ciuman manis dan hangat itu pun terjadi. Perlakuan Hanes benar-benar berbeda dari sebelumnya yang selalu menyesap bibir Cherin dengan penuh napsu. Kali ini Hanes melakukan dengan penuh kelembutan. Namun tidak lama karena tentu dia tahu bagaimana kondisi Cherin dan dia juga tidak mau menyakiti Cherin.


"Aku mencintaimu, Cherinna Putri. Aku benar-benar ingin menikah denganmu dan mari kita bahagia bersama," ucap Hanes lagi seraya mengecup kening Cherin. Setelah puas ada di atas tubuh Cherin, Hanes kembali ke tempat duduknya dan membiarkan Cherin berbaring.

__ADS_1


Cherin yang canggung pun memiringkan tubuhnya. Dia pasrah mau dibawa kemana oleh Hanes. Cherin pikir itu lebih baik dari pada pulang ke rumah pemberian Erlan. Rumah itu akan dia jual dan uangnya bisa dibelikan rumah lebih kecil karena dia juga hanya sebatang kara. Hari ini dia akan mengikuti Hanes kemana pun itu.


Ternyata laju mobil tidaklah lama. Belum ada satu jam, mobil yang dikemudikan Hanes sudah berhenti dan akhirnya Cherin pun bangun. "Hotel? Tuan Hanes yang terhormat, saya baru saj-" belum kata itu selesai, Hanes membekap mulut Cherin dengan sebuah ciuman singkat.


"Istirahatlah disini terlebih dahulu sampai aku dapat rumah yang cocok untuk kamu. Aku juga akan mengurus perceraian dengan istriku, jadi sampai aku menjemputmu, tetaplah di sini," jelas Hanes kemudian turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Cherin. "Kita turun!" Hanes mengulurkan tangannya. Namun Cherin memilih untuk turun sendiri.


Ternyata Hanes sudah memesan kamar di hotel itu karena mereka berdua langsung menuju kamar tanpa kebagian resepsionis terlebih dahulu. Cherin tidak banyak tanya dan hanya mengekor pada Hanes.


Tiba di kamar, Hanes segera membopong tubuh Cherin kemudian menidurkannya perlahan di atas tempat tidur dan kembali memberikan kecupan singkat di kening. Sungguh, kali ini Cherin benar-benar terbuai dengan sikap lembut Hanes. Laki-laki yang selama ini menjadi teman ranjangnya demi sebuah popularitas, kini bersikap lembut layaknya seorang suami yang mencintai istrinya.


"Kalau butuh apa-apa tinggal bilang ya? Di kulkas isinya udah penuh, tapi kalau kamu mau yang lain tinggal telpon aja bagian resepsionis," kata Hanes yang hendak pergi dari kamar itu.


"Kenapa?" tanya Cherin tiba-tiba dan Hanes kembali berdiri di sisi tempat tidur. "Kenapa sekarang? Kenapa nggak dari kemaren? Andai dari kemaren, mungkin anak itu bisa aku lahiran kan dan aku besarkan. Aku udah bisa merasakan pergerakannya, tapi kenapa sek-" Lagi-lagi Cherin mendapatkan ciuman singkat di bibirnya.


"Maaf! Aku benar-benar akan memperbaiki hubungan kita. Aku nggak akan menyia-nyiakan waktu ini. Aku bersungguh-sungguh. Sekarang jangan pikirkan apa pun yang buat kamu sedih, hm? Istirahatlah! Aku akan kembali besok." Hanes pun benar-benar pergi setelah berhasil memporak-porandakan perasaan Cherin.

__ADS_1


........


__ADS_2