
Pagi telah menjelma dan Cherin masih belum sadarkan diri. Diandra semakin khawatir bahkan tidak berhenti bicara dan memberikan Cherin semangat. Dokter Amira sudah menjelaskan sebelumnya kalau tubuh Cherin tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Hanya alam bawah sadar Cherin memang tidak bisa dipaksakan. Bisa saja Cherin mengalami koma jangka pendek atau bahkan jangka panjang.
Dokter Amira kembali menyarankan untuk mengajak Cherin bicara. Bahkan bukan hanya satu Dokter yang menangani Cherin, tetapi Erlan meminta beberapa Dokter terbaik agar Cherin segera siluman.
Diandra terus bercerita bahkan menceritakan masa kecilnya dan masa dimana dia begitu ingin menyusul sang ayah yang telah meninggal karena sudah tidak tahan hidup disiksa oleh Ibu juga Kakak tirinya. Namun karena Diandra tahu jika mati bukan satu-satunya jalan melarikan diri dari rasa sakitnya.
"Ya begitulah, Mbak kisah hidupku. Jadi seberapa sulit kamu untuk bangun, kamu harus tetap bangun, Mbak. Sebenarnya aku sangat ingin tahu bagaimana keadaan mereka setelah makan dari uang hasil menjual ku. Tapi kata orang yang membeliku, aku nggak perlu khawatir dengan mereka karena mereka nggak akan berani ganggu aku. Ya wajar ya, Mbak! Orang yang beli aku itu orang kejam." Diandra terkekeh sendiri jika mengingat masa-masa dimana Erlan sangat kejam padanya bahkan terus menyetubuhi Diandra sampai kesakitan.
Walaupun sekarang orang yang dimaksud Diandra itu kelewat bucin, tetapi dari lubuk hatinya tentu Diandra ingin bertemu dengan orang yang telah membesarkan dia. Sejahat apa pun Ibu juga Kakak tirinya, tetapi dulu saat Ayahnya masih hidup, mereka sangatlah baik. Sejahat-jahatnya mereka, pada kenyataannya mereka juga tetaplah keluarga yang Diandra punya sebelum hidup bahagia dengan keluarga barunya.
Erlan ikut terkekeh jika mengingat bagaimana perlakuan dirinya terhadap Diandra dulu. Namun Erlan tidak berani angkat bicara ataupun protes atas apa yang Diandra ceritakan pada Cherin karena takut merubah suasana hatinya.
Jio sudah pergi ke kantor dari beberapa menit lalu karena harus mengurus pertemuannya dengan Tuan Frendik. Erlan sebenarnya juga harus segera ke kantor, tetapi tidak tega meninggalkan Diandra di rumah sakit sendirian. Namun Diandra tahu seberapa penting pertemuan Erlan dengan Tuan Frendik. Akhirnya Diandra pun mengakhiri ceritanya pada Cherin.
"Mas, kamu kirim orang buat jaga Mbak Cherin. Takutnya Tuan Hanes itu kesini dan apa-apain Cherin. Kamu juga harus ke kantor, jadi aku pulang aja. Nanti sore kita kesini lagi setelah kamu pulang dari kantor."
Tentu Erlan sangat terharu dengan pengertian Diandra. Wanita di depannya itu memang patut untuk dipuji. "Kamu memang istri yang sangat istimewa, Sayang. Tahu aja aku nggak akan pergi kalau kamu disini," jawab Erlan seraya memeluk Diandra.
Erlan pun menghubungi seseorang untuk berjaga di rumah sakit. Erlan juga meminta dua asisten rumah tangga dari rumah Cherin untuk menjaga Cherin. Setelah kedatangan orang yang dipanggil, Erlan, akhirnya Diandra bisa tenang untuk pulang.
...***...
Meeting Erlan dengan Tuan Frendik harus diakhiri dengan paksa dan dilanjutkan oleh Jio karena Hanes sejak tadi teriak-teriak juga membuat keributan di kantor. Bahkan beberapa security tidak bisa menahan kemarahan Hanes.
__ADS_1
Erlan pun membiarkan Hanes untuk masuk ke ruangannya setelah meminta maaf pada Tuan Frendik untuk pindah ke ruangan lainnya. Sebagai bentuk berjaga-jaga juga, Erlan melaporkan keributan di kantornya pada polisi untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan.
"Dimana Cherin? Dimana kamu menyembunyikan wanitaku, hah!" teriak Hanes begitu menggelegar di ruang kerja Erlan.
"Duduklah! Bicara baik-baik!" jawab Erlan masih dengan nada santai.
"Aku tanya dimana wanitaku, Bajingann!" tanya Hanes lagi kali ini seraya menarik kerah baju Erlan yang sedang duduk santai.
Tentu saja Erlan tidak terima dengan sikap Hanes. Segera dia beranjak dari tempat duduknya dan memberikan bogeman di perut Hanes beberapa kali hingga Hanes tersungkur ke lantai sebelum Hanes yang memukulnya duluan.
"Gue udah sabar sejak tadi karena lo buat keributan di kantor ini. Sekarang lo bukannya sopan malah semakin berulah! Sekarang gue yang tanya, lo apain Cherin sampai dia pendarahan dan infeksi di bagian intimnya? Lo psikopat, hah? Atau lo maniak kelaminn? Cherin belum sadar bahkan kemungkinan dia bisa koma jangka panjang gara-gara, lo! Dia baru aja keguguran, brengsekk! Dan lo udah naikin dia dengan kejamnya! Mikir ... brengsekk, mikir pake otak lo!"
Teriak Erlan bahkan terdengar sampai ke luar ruangan. Amarah Erlan benar-benar meluap melihat Hanes yang syok khawatir dan begitu mencintai Cherin. Rasanya Erlan ingin kembali memberikan hadiah pukulan pada Hanes saat Hanes hanya diam saja menatap kemarahannya.
"Apa? Lo bilang, apa?" Erlan meraih kerah Hanes yang masih duduk di lantai dan langsung melayangkan tangannya mengarah ke wajah Hanes. Namun tangan itu tertahan saat raut wajah Hanes tiba-tiba berubah sendu.
"Aku nggak tahu. Sumpah aku nggak tahu bakal buat Cherin seperti itu. Aku benar-benar mencintainya. Saat aku tahu dia memesan tiket pesawat tanpa sepengetahuan ku, saat itu yang aku pikirkan hanya cara agar Cherin nggak kabur," jelas Hanes benar-benar menunjukkan wajah penyesalan.
Erlan pun melepaskan tangannya dan duduk di sofa kembali. Deru napasnya memburu karena luapan amarah. Beberapa kali Erlan mengatur napasnya agar amarahnya reda.
"Kamu tahu aku dibohongi istriku selama tujuh tahun lamanya. Saat kami melakukan pemeriksaan kesehatan, aku dinyatakan mandul, tapi dia terus memberiku semangat dan dia bilang akan tetap setia menemaniku. Tapi ... tapi ternyata dia yang nggak bisa hamil."
Hanes tertunduk. Erlan melihat ada tetesan air mata di lantai. Artinya Hanes sedang menangis. Erlan hanya diam menatap pria yang lebih tua darinya itu masih duduk lemas di lantai.
__ADS_1
"Aku frustasi karena nggak bisa melahirkan keturunan untuk keluargaku. Padahal mereka sangat berharap. Nenekku bahkan sampai meninggal saat tau aku dinyatakan mandul. Aku marah pada diriku sendiri dan akhirnya mulai menjajah banyak wanita selama lima tahun ini. Tapi nggak ada satu pun dari mereka yang hamil. Sedangkan dengan Cherin, aku baru melakukannya beberapa kali saja, tapi dia bisa hamil anakku. Hanya sayangnya aku terlalu bodoh sampai membiarkan anak itu pergi. Aku terpaksa melakukannya agar Cherin nggak bisa pergi dariku."
Hanes kini mendongak menatap Erlan. Pipinya basah dan matanya masih berkaca-kaca. Erlan melihat ketulusan seorang pria disana. Memang tidak akan ada yang tahu bagaimana perasaannya saat ini, apalagi dia juga baru kehilangan anak laki-lakinya.
"Tolong! Aku nggak akan begini kalau Cherin mau tetap di sisiku. Dia satu-satunya wanita yang bisa hamil denganku. Kamu nggak akan tau bagaimana rasanya kehilangan anak apalagi dia seorang laki-laki. Kamu nggak akan tahu bagaimana rasa putus asa ku saat wanita yang aku inginkan malah akan pergi. Berikan aku kesempatan, dan aku janji aku nggak akan macam-macam sama Cherin."
Tentu saja Erlan tersentuh dan tahu bagaimana perasaan Hanes kare dia juga pernah ada di posisinya. "Aku nggak tahu. Keputusan ada ditangan Cherin. Tunggu saja sampai dia sadar dan berdoalah agar dia cepat sadar juga mau menerimamu."
Hanes pun pergi setelah meminta maaf atas kekacauan yang dia perbuat. Bahkan langkah kakinya kini berbeda jauh dari sebelumnya. Hanes benar-benar terlihat putus asa.
........
Gimana ya? Hanes beneran cinta Cherin atau sandiwara ini? Kira-kira Cherin mau nggak ya sama Hanes?
Yuk tinggalin komentarnya π₯°
Eh iya, sekali lagi ya author bilang sama kalian yang baca kisah ini. KALAU KALIAN NGGAK SUKA, SILAHKAN SKIP TANPA MENINGGALKAN KOMENTAR YANG MEMBUAT AUTHOR MALES π APALAGI NINGGALIN BINTANG 1-4. UDAH DIBILANG KALAU BERKENAN TINGGALKAN HANYA BINTANG 5 MISKAH .......
Hari ini sebenarnya author mau π empat bab, tapi gara-gara ada bintang di bawah ini author jadi malesππ€§π
GIMANA DONG? BILANG BAGUS TAPI BINTANGNYA TULISAN KECEWA ππ AKU TUH JADI MALES TAU KARENA RANTING BINTANG AKU TURUN LAGI πππ
__ADS_1