
Diandra sejak tadi gelisah karena Ezra merengek terus-menerus. Padahal badannya tidak panas, tetapi apa yang dilakukan Diandra serba salah sejak pagi tadi hingga hampir waktunya jam makan siang. Asi tidak mau dan digendong juga tidak tenang. Kejadian itu hampir mirip saat Nenek Harni dilarikan ke rumah sakit. Bedanya Ezra nangis terus, sedangkan ini tidak. Dia hanya merengek.
"Duh ... Nak, kenapa sih? Apa terjadi sesuatu sama Mami? Ah ... sebaiknya Ibu telpon Oma ya, Nak?"
Diandra meraih gendongannya kemudian menggendong Ezra dibagian dadanya memposisikan tubuh mungil itu dengan nyaman lalu bergoyang ke kanan dan ke kiri agar Ezra seraya di ayun. Setelah Ezra cukup tenang, Diandra meraih ponselnya kemudian menekan tombol panggilan untuk Mami Hasna. Sayangnya hingga tiga kali panggilan itu terhubung, sang mami tidak menjawab.
Tentu dia tidak putus asa dan segera melakukan panggilan pada Meli. Walaupun pikirannya sudah kacau, Diandra berusaha untuk tenang dan tidak panik. Namun sama, Meli juga tidak mengangkat panggilan telepon dari Diandra. Kini tidak ada lagi rasa tenang karena mereka yang diluar negeri tidak menjawab panggilan teleponnya.
"Astaga! Kenapa sih?" Akhirnya Diandra menghubungi nomor Erlan. Lagi-lagi Diandra tidak mendapatkan jawaban dari telepon tersebut. "Ini kenapa sih semua orang nggak ada yang angkat telepon, Ibu. Kita ke kantor Ayah aja ya, Nak?" Diandra pun meraih tas kecilnya yang dia gantung di tempat gantungan tas kemudian mengisi dengan beberapa lembar uang juga memasukkan ponselnya setelah itu pergi menuju kantor Erlan bersama supir.
Tiba di kantor, Diandra dan Ezra menjadi pusat perhatian. Banyak karyawan yang gemas dengan kedatangan Diandra bersama Ezra untuk pertama kalinya. Ada yang menyapa Ezra dengan lambaian tangan dan senyum manis. Ada juga yang mencolek tangannya. Namun bayi kecil itu tidak merespon sama sekali.
Diandra pun masuk ke ruangan Erlan setelah bertanya pada resepsionis tentang Erlan. Untungnya Erlan sedang rapat. Diandra lega karena tidak terjadi sesuatu dengan suaminya.
Akhirnya dia kembali melakukan panggilan telepon pada Mami Hasna, ternyata tidak terjadi sesuatu juga pada Maminya di luar negeri dan akan kembali dalam dua hari. Diandra pun lega. Ternyata Ezra tidak memberikan firasat apa-apa sama seperti saat Nenek Harni jatuh sakit.
Tidak lama Diandra di ruang kerja Erlan. Suaminya beserta sang asisten masuk. "Loh, Sayang! Kok disini? Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Erlan yang baru masuk ruang kerjanya. Erlan cukup terkejut karena Diandra belum pernah ke kantor setelah dia melahirkan. Apalagi Diandra juga tidak memberikan kabar apa-apa atas kunjungannya.
"Nggak ada apa-apa, Mas. Ichan agak rewel aja, aku pikir terjadi sesuatu sama kamu. Soalnya dia nggak demam. Tapi merengek terus. Aku juga telpon Mami, disana Mami juga nggak kenapa-kenapa. Bingung aku, makanya aku kesini sama Ichan."
Erlan pun memeluk Diandra seraya mencium pipi kanan dan kirinya kemudian mencium pipi Ezra yang ada dalam gendongan Diandra. Erlan meraih Ezra dan mengangkat tubuh Ezra hingga di atas kepalanya. Ezra tertawa seraya menatap Ayahnya. Erlan tidak melihat wajah Ezra yang kata Diandra rewel. Ezra terlihat senang bermain dengan Erlan.
"Ezra pinter, mau jalan-jalan ya? Bocen ya di rumah teyus?" tanya Erlan saat Ezra ada dalam gendongannya. Namun Ezra kembali merengek. "Loh ... mau terbang kayak tadi ya? Oke ... kita terbang ya!" Erlan kembali mengangkat tubuh Ezra hingga di atas kepalanya dengan tawa riang yang diikuti oleh Ezra.
"Apa kita ajak jalan-jalan ya, Mas?" usul Diandra. Memang selama ini Ezra sama sekali belum pernah keluar rumah untuk jalan-jalan, kecuali ke rumah Cherin.
Apalagi setelah kepergian Nenek Harni, Diandra tidak ada kemauan pergi kemanapun bahkan ke mall. Mami Hasna juga tidak ada niat pergi karena mereka biasanya pergi bertiga. Jadi cukup aneh pasti pergi tanpa Nenek Harni.
"Boleh. Kita ke mall aja ya. Kebetulan aku juga udah nggak ada jadwal lain lagi. Lagian kamu juga belum pernah keluar rumah sejak Nenek nggak ada," sahut Erlan yang kembali bercanda dengan Ezra karena terus minta badannya diangkat tinggi-tinggi.
"Kak Jio nggak pa-pa ditinggal? Atau mau ikut aja?" tanya Diandra menatap Jio yang sejak tadi diam.
"Tidak apa-apa, Nona. Saya masih ada laporan yang harus dikerjakan. Lagian saya sudah terbiasa ditinggal begitu saja," jawab Jio membuat Erlan meliriknya sinis.
"Nyindir, lo? Kalau mau ikut jalan-jalan ya ikut aja. Jangan pake nyindir!" ujar Erlan. Jio pun mengangkat kedua bahunya seraya menahan senyum kemudian duduk di sofa.
"Baguslah kalau anda merasa tersindir. Kenyataannya begitu kok! Untung saja gaji sesuai, kalau tidak saya juga tidak mau," sahut Jio berlagak.
Beberapa hari ini Jio fokus menangani proyek bersama Erlan. Sejak malam menyedihkan itu, Jio menyerahkan semuanya pada Safira dan akan sedikit lebih sabar lagi dengan pernikahannya. Safira sudah berjanji akan berusaha membujuk Ibu Romlah. Untuk itu Jio menyibukkan diri dengan bekerja supaya sedikit bisa sabar. Kebetulan juga ada proyek yang harus dia dan Erlan kerjakan.
"Kabar Mbak Safira, gimana? Kok nggak ada kabar lagi setelah malam lamaran itu?" tanya Diandra tentu saja penasaran.
__ADS_1
"Entahlah, Nona! Saya pasrahkan semuanya pada Safira. Mungkin saya harus sedikit sabar saja melihat kemesraan kalian," jawab Jio sedikit lesu.
"Udah, Sayang! Biarin aja. Dia lagi mendapatkan ujian cinta. Yuk jalan!" Erlan pun keluar begitu saja dari ruang kerjanya.
"Kalau gitu kita pergi dulu ya, Kak!" pamit Diandra dan Jio hanya mengangguk.
...***...
Erlan dan Diandra tiba disebuah mall besar ditengah ibu kota. Mall itu tidak terlalu ramai karena memang bukan hari weekend. Hal pertama yang ingin Diandra lakukan adalah baby spa. Ezra belum pernah merasakan baby spa sama sekali sejak kelahirannya. Jadi Diandra mencari tempat yang cocok untuk anaknya melalui internet.
Namun belum Diandra masuk ke dalam mall tersebut, tiba-tiba terdengar suara teriakan orang meminta tolong karena ada copet. Awalnya Diandra hanya penasaran dengan teriakan seorang perempuan itu. Setelah Diandra melihat pencopet yang lari tidak jauh dari arah kedatangannya, Diandra sangat terkejut.
"Tunggu, Mas!" cegah Diandra saat Erlan baru saja turun dari mobil dan mulai melangkah karena tidak sabar ingin segera masuk untuk memanjakan anaknya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Erlan heran dan mengikuti ekor mata Diandra yang sedang melihat seorang pencopet yang dikejar.
"Itu ...." Diandra tidak melanjutkan bicaranya. Copet yang dia lihat sejak tadi sudah tertangkap dan dikeroyok oleh beberapa orang. Setelah itu coper tersebut digelandang ke kantor polisi.
Erlan masih tidak mengerti kenapa Diandra begitu tertarik dengan pencopet yang babak belur dan sedang ditarik paksa oleh orang-orang yang menangkapnya.
"Sayang ... kenapa? Udah biasa kalau disini tuh banyak pencopet dan pengemis. Yuk masuk, panas nih!" ajak Erlan seraya menggenggam tangan Diandra. Namun Diandra menahan tangan Erlan.
Sorot mata Diandra tidak lepas dari pencopet yang semakin lama semakin jauh jaraknya dari mereka. Erlan ikut menatap laki-laki yang umurnya sebaya dengannya. Erlan memang tidak terlalu ingat, tetapi Diandra pasti sangat ingat pada orang yang telah menyiksanya sejak kecil.
"Lalu ... kamu mau apa, Sayang?" tanya Erlan lirih dan merengkuh kedua bahu Diandra untuk memberikan rasa tenang. Hati Diandra terlalu lembut, dan benar saja kalau Diandra pasti akan menangis melihat Kakak tirinya itu keadaannya begitu menyedihkan.
Bukan hanya sang kakak tiri yang dia pikirkan. Namun Diandra juga memikirkan Ibu tirinya yang bernama Dona. Bagaimana keadaan mereka setelah menjual Diandra? Tentu Diandra sangat penasaran karena uang satu juta dollar itu bukanlah uang yang sedikit.
"Aku nggak tau, Mas. Tapi ... tapi kenapa ya hatiku sakit liat keadaan dia kayak gitu? Uang pemberian kamu pasti udah abis sampai dia nekat mencopet, Mas."
Erlan mengusap ujung kepala Diandra. Setelah laki-laki bernama Prasetyo itu sudah tidak terlihat lagi, Diandra memalingkan wajahnya menatap Erlan. Segera Erlan menghapus air mata yang berhasil membahasi pipi Diandra.
"Kamu memang terlalu baik dan lembut, Sayang. Kalau kamu merasa nggak tenang, kita samperin aja dia. Mungkin kamu juga butuh permintaan maaf darinya."
Diandra tidak langsung menjawab. Dia sedikit ragu juga bingung dengan perasaannya. Benar memang ada rasa tidak enak hati setelah melihat kakak tirinya. Walaupun dia begitu jahat, tetapi ada kenangan indah yang terlintas di masa kecilnya.
"Kalau kamu nggak keberatan, antar aku, Mas." Erlan tentu paham maksud Diandra. Dia segera membuka kembali pintu mobil agar Diandra masuk dan Erlan akan memenuhi permintaan istrinya. Kalaupun Pras tidak mau minta maaf, Erlan akan buat Kakak iparnya itu meminta maaf supaya Diandra tenang.
"Tapi ... aku sedikit takut, Mas!" kata Diandra ragu untuk masuk lagi ke dalam mobil.
"Ada aku, Sayang. Jangan takut!" Erlan pun mencium kening Diandra diiringi sebuah senyuman. Diandra mengangguk dan akhirnya mau masuk kembali ke dalam mobil untuk pergi ke kantor polisi terdekat.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk Diandra tiba di kantor polisi karena memang sangat dekat. Orang-orang yang membawa Pras juga baru saja keluar dari kantor polisi tersebut. Mereka pasti dimintai keterangan terlebih dahulu sebagai saksi.
Diandra masih sedikit ragu untuk turun dari mobil dan masih menatap pintu masuk kantor polisi yang ada di depan matanya. Ezra sendiri sudah tidak rewel sejak masuk ke dalam mobil saat dari kantor Erlan tadi.
"Ayo, Sayang! Ada aku, tenang aja!" Diandra pun mengangguk kemudian turun dari mobil.
Langkah kakinya pun tiba di dalam kantor polisi dan melihat sekeliling mencari keberadaan orang yang dia cari. Tiba-tiba ada seorang polisi yang menghampiri mereka. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya polisi tersebut.
"Kami mau menemui pencopet yang baru aja ditangkap, Pak," jawab Erlan dan polisi itu langsung paham.
"Mari, ikuti saya!" Erlan dan Diandra pun mengekor mengikuti langkah kaki polisi yang menunjukkan tempat sang kakak tiri ditahan.
Diandra ternyuh saat melihat Pras meringkuk dengan beberapa luka lebam diwajahnya akibat dikeroyok tadi. Polisi itu mempersilahkan Erlan dan Diandra kemudian pergi memberikan waktu untuk mereka mengobrol.
"Kak Pras," panggil Diandra dengan suara berat. Sang pemilik nama langsung menoleh dan terlihat raut wajah terkejut karena melihat adik tirinya ada di depan mata.
"Diandra," kata Pras lirih. Namun Diandra masih bisa mendengar. "Ka-kamu ... kamu disini?" tanya Pras sedikit gagap. Pras pun beranjak, kemudian kedua tangannya memegang jeruji besi yang memberi skak antara dia dan sang adik tiri.
"Hm. Ini aku, Kak. Kenapa keadaan kamu jadi seperti ini, Kak? Lalu ... lalu dimana Ibu?" tanya Diandra masih menatap lekat laki-laki bernama Prasetyo tersebut.
"Diandra ... maaf! Setelah apa yang aku dan Ibu lakukan, kamu ... kamu masih mau panggil aku Kakak? Maaf ... maaf untuk semuanya. Maafkan Kakak, Diandra! Kami ... maksudnya Kakak yang sebenarnya salah. Tolong ... maafkan Kakak!"
Pras pun tertunduk dengan genggaman tangan yang begitu erat di jeruji besi tersebut. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan rasa penyesalan yang mendalam dengan air mata yang belum pernah Diandra lihat selama ini. Benar kata Erlan bahwa Diandra butuh kata maaf. Buktinya hati Diandra tiba-tiba luluh, tetapi pada dasarnya Diandra memang pemaaf. Terbukti dia memaafkan Cherin yang jelas-jelas banyak salah juga padanya.
Diandra pun melangkah maju mendekati Pras. Entah kenapa tangannya tiba-tiba melayang hingga seperdetik kemudian tangan itu menggenggam tangan Pras. Tentu saja Pras terkejut lalu mengangkat kepala untuk menatap Diandra.
"Kak, aku maafin kamu. Aku juga akan maafin Ibu. Kalian keluarga yang juga pernah memberikan kenangan manis. Kamu juga pernah dengan tulus melindungi aku yang saat itu dikejar anjing." Diandra tersenyum walaupun ada tetesan air mata di kedua pipinya.
Pras segera menggenggam tangan Diandra dengan kedua tangannya. Wajahnya benar-benar terlihat penuh penyesalan. "Tolong ... tolong Kakak Diandra! Tolong keluarkan Kakak dari sini. Ibu ... ibu sedang sakit. Dia dirumah sakit dan butuh biaya untuk operasi. Kakak terpaksa mencuri karena Kakak nggak punya tempat untuk meminjam uang. Bantu kami Diandra, sekali ini saja! Tolong!" pinta Pras benar-benar memohon dengan sungguh-sungguh.
Diandra hanya mengangguk. Kemudian menatap Erlan dan suaminya pun mengangguk seolah paham apa maksud tatapannya. Erlan pun berlalu.
"Kakak tenang aja ya? Suami Diandra pasti bisa membantu mengeluarkan Kakak dari sini." Mendengar ucapan Diandra, Pras langsung ambruk dilantai dengan isak tangis yang semakin menjadi. "Kak! Sudah! Kalau Kakak mau berubah jadi lebih baik lagi, Diandra yakin semuanya pasti dipermudah, Kak!" kata Diandra seraya mengusap bahu Kakaknya.
Pras mendongak menatap Diandra yang menganggukkan kepalanya padanya. Benar-benar Diandra itu berhati malaikat sampai semua orang yang telah jahat padanya dimaafkan begitu saja. "Apa dia anakmu?" tanya Pras mengalihkan pandangannya pada Ezra yang sedang tersenyum menatapnya.
"Hm. Namanya Ezra. Nak ... itu Pakde, sapa dong!" Diandra pun melambaikan tangan Ezra pada Pras. Seketika itu Pras berdiri kembali dan memegang mengulurkan jari telunjuknya agar Ezra bisa memegangnya.
"Ganteng, kamu sangat beruntung punya ibu sebaik ini."
........
__ADS_1