
Safira yang sedih karena harus berbohong pada Jio tiba-tiba merasa geram saat Jio berpamitan untuk menolong Ayu bahkan menunjukkan chat yang dikirimkan Ayu. Tentu saja Jio tidak mau merahasiakan hal sekecil apa pun pada calon istrinya itu walaupun dia tahu jika Safira sedang membohonginya. Akhirnya Safira memutuskan untuk ikut menolong Ayu.
"Jio! Untungnya kamu datang. Tanganku tremor," kata Ayu segera meraih tangan Jio agar dia tahu kalau dirinya sedang tremor karena ketakutan tanpa melihat bahwa Safira ada di belakang Jio.
"Tolong ... singkirkan tangan anda, Nona!" ujar Safira menepis kasar tangan Ayu yang masih menggenggam tangan Jio.
"Ngapain sih kamu ikut segala?" pekik Ayu tidak terima dengan sikap Safira yang sedang menatap sinis dirinya.
"Katanya kamu butuh pertolongan, ya aku ikutlah. Lagian aku mau jagain calon suami aku dari godaan setan yang terkutuk!" sahut Safira dengan nada ketus seraya memeluk lengan Jio.
"Kam- ... agrh! Sudahlah! Orangnya di belakang mobil, pingsan. Aku nggak kuat angkat dia ke dalam mobil." Ayu hanya bisa menghentakkan kakinya seraya melangkah menuju bagian belakang mobil karena kesal dengan sikap Safira, tetapi harus dia tahan demi mendapatkan Serjio.
Akhirnya Jio dan Safira mengikuti Ayu yang berjalan ke bagian belakang mobilnya. Benar saja di belakang mobil tersebut ada seorang remaja sedang tergeletak di tanah. Namun sayangnya Safira kenal dengan remaja tersebut.
"Dia bener-bener kamu tabrak?" tanya Safira masih dengan nada ketus.
"Lu kira gue bunuh? Jio ... buruan anterin kami ke rumah sakit. Aku nggak bisa nyetir kalau panik begini," mohon Ayu hendak meraih tangan Jio, tetapi dengan cepat Safira menepis kembali tangan Ayu.
"Aku bantu masukin mobil kamu." Jio hendak membopong tubuh remaja tersebut, hanya saja Safira malah menahannya. "Kenapa, Sayang?" tanya Jio sedikit heran.
"Dia cuma pura-pura!" jawab Safira kemudian duduk berjongkok di sisi remaja yang pingsan tersebut.
__ADS_1
"Heh! Lu mau anak itu mati disitu!" pekik Ayu benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi amarah karena dia akan merusak rencananya.
"Jer, kamu mau bangun atau mau Kak Fira panggilkan Om Gerry?" ucap Safira seraya menepuk bahu remaja yang bernama Jerry tersebut.
"Argh! Iya ... aku bangun, Kak!" jawab Jerry lalu membuka mata dan bangun dari kepura-puraan nya. Jerry memang dibayar oleh Ayu untuk pura-pura pingsan dengan beberapa lembar uang merah. "Maaf, Kak! Aku pergi dulu. Aku males berurusan sama Om Gerry. Dan ... terima kasih bayarannya," sambung Jerry dan pergi begitu saja.
"Ternyata kamu masih sama," kata Jio kemudian meraih tangan Safira dan hendak beranjak dari tempat tersebut.
"Tunggu, Jio! Aku mencintaimu. Sejak dulu bahkan hingga sekarang. Aku sengaja pulang untuk mencarimu, Serjio!" ungkap Ayu membuat Safira menyunggingkan senyum kemudian kembali menatap Ayu.
"Apakah anda tidak lihat kalau laki-laki bernama Serjio ini sudah punya calon istri? Menyedihkan!" ujar Safira masih begitu ketus.
Sebenarnya Jio sudah tahu dari awala apa maksud Ayu sebenarnya saat melihat letak parkir mobil Ayu yang tidak memungkinkan jika mobil itu bisa menabrak seseorang walaupun dalam keadaan mundur. Bahkan dulu saat sekolah saja Ayu pernah pura-pura pingsan demi mendapatkan perhatian kapten basket yang Jio lupa nama orang itu.
Jio dan Safira pun berlalu. Sedangkan Ayu lagi-lagi hanya bisa menghentakkan kakinya beberapa kali sebagai ungkapan amarahnya. Ada sebuah rencana licik yang terbesit dalam otak wanita cantik tersebut. "Yang menikah aja bisa cerai, dan kamu coba-coba mengatakan nggak tertarik denganku, cih! Liat aja, Jio!" gumam Ayu kemudian pergi dari tempat mengesalkan itu.
...***...
"Terima kasih udah menunjukkan rasa cemburu kamu yang gemesin itu," kata Jio seraya mengusap ujung kepala Safira. Keduanya berhenti di ujung gang sebelum rumah Safira.
Dari lubuk hati yang paling dalam, sebenarnya Safira ingin sekali mengatakan apa yang Ibu Romlah katakan karena Jio sendiri jujur padanya tentang Ayu. Namun Safira yang memang sudah mencintai Jio, benar-benar takut Jio tiba-tiba merelakan dia dan pergi menjauh.
__ADS_1
"Maafin masalah ibu ya? Kamu udah jauh-jauh kemari, tapi rencana kita berantakan. Aku ... aku bener-bener minta maaf. Kamu hati-hati di jalan," ujar Safira seraya tertunduk kemudian segera berlari masuk ke dalam rumah. Kedua matanya tak kuasa untuk menahan cairan bening yang akan segera keluar.
"Ngapain sih kamu nangis segala? Buang tuh semua barang-barang yang ada di paper bag di kursi itu. Mata Ibu sakit liatnya," kata Ibu Romlah yang akan keluar dari rumah dan tiba-tiba Safira malah masuk rumah.
Melihat ibunya yang akan keluar, Safira semakin takut jika Jio masih di luar dan malah akan bertemu dengan ibunya. Safira pun menahan Ibu Romlah dengan mengunci pintu rumahnya dan kunci itu dia masukan ke dalam saku baju yang dia pakai.
"Ibu mau kemana?" tanya Safira basa-basi. "Safira tetap akan menikah dengan Mas Jio, Buk! Apa pun yang terjadi Safira harus menikah dengannya," lanjut Safira kemudian menghampiri beberapa paper bag yang ada di kursi untuk dia pindahkan.
"Bawa sini kuncinya, Safira! Ibu mau ke warung. Mau cari lauk!" kata Ibu Romlah menyodorkan tangannya.
Safira mencium aroma wangi dari satu paper bag yang dia pegang. Begitu di buka, ternyata ada makanan yang isinya nasi dengan lauk beef teriyaki juga es teh. Jio memang membeli tiga menu itu untuk makan siang mereka karena tidak mau merepotkan saat tiba di rumah.
"Tas ini isinya nasi, Buk. Kita juga tadi masak ayam goreng. Ibu bohong kan kalau mau pergi ke warung?" Kini Safira bisa menebak jika Ibunya itu akan menyusul Jio.
Ibu Romlah hanya membuang muka lalu masuk ke dalam kamar. Safira sudah tahu dan bisa menebak tujuannya yang akan keluar rumah.
"Ibu!" panggil Safira demi menahan sang Ibu karena dia masih butuh penjelasan. Namun sayangnya Ibu Romlah sudah masuk kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Safira tidak bisa bicara apa-apa lagi selain hanya bisa menghela napas berat. "Sebenarnya ada apa antara ibu denganmu, Mas!" gumam Safira tanpa mengalihkan pandangannya dari paper bag yang dia tenteng.
Pada akhirnya dia mengalah dan akan membicarakan tentang pernikahannya setelah amarah ibunya mereda. Safira sangat berharap sang Ibu bisa berubah pikiran dan memberikan restu atas hubungannya dengan Jio.
........
__ADS_1