
Sore harinya, Diandra minta pulang karena merasa semakin mual jika berada di rumah sakit terlalu lama. Bau khas rumah sakit membuatnya Diandra pusing. Ditambah lagi Erlan tidak mau menceritakan semua hal yang dia obrolan kan dengan Dokter Amira. "Sayang, kamu butuh dirawat. Tunggu sampai kamu benar-benar punya tenaga untuk berjalan ya? Baru kita pulang," bujuk Erlan, tetapi Diandra menggelengkan kepalanya.
Pada akhirnya Diandra pulang dengan banyak syarat dari Dokter Amira. Namun syarat itu juga hanya Erlan yang tahu, sedangkan Diandra, Nenek juga Mami Erlan tidak tahu menahu. Bahkan Diandra membujuk sang Nenek agar memberitahu apa yang sebenarnya Erlan sembunyikan, tetapi hasilnya tetap nihil karena sang Nenek memang belum tahu apa-apa.
Sesampainya di rumah, Diandra langsung rebahan di atas tempat tidur. Erlan begitu sabar melayani istrinya itu. Sama sekali tidak ada raut wajah lelah setelah melakukan penerbangan panjang dari London. "Mas, kamu pasti capek. Istirahat juga sini," kata Diandra menepuk tempat tidur di sisinya. Erlan tersenyum dan menurut.
"Kalau butuh apa-apa, jangan segan-segan ya?" ucap Erlan mendaratkan ciuman singkat di kening Diandra kemudian ikut merebahkan tubuhnya dengan memeluk istrinya.
"Iya, Mas. Oiya ... gimana kerjaan kamu di Inggris?" tanya Diandra yang sebenarnya ingin dia tanyakan sejak di rumah sakit.
"Udah beres kok. Nggak perlu khawatir. Lagian untuk apa kamu mikirin itu, lebih baik kamu pikirkan suami kamu ini, Sayang," bisik Erlan seraya memperat pelukannya. Diandra malah terkekeh merasakan manjanya sang suami.
"Lagi pengen pasti?" goda Diandra. Bukannya menjawab, Erlan malah menyembunyikan wajahnya di leher Diandra dan mencium leher tersebut.
"Masih belum boleh, Sayang," jawab Erlan terdengar sangat sedih. Diandra semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Dokter Amira. Diandra pun bangun dan duduk bersandar pada bantal. Erlan pun ikut duduk.
"Sama Dokter Amira nggak boleh? Kenapa nggak boleh? Kamu udah satu minggu nggak menyentuhku, Mas," tanya Diandra merasa bersalah. Dia tentu tahu pasti bagaimana keinginan suaminya itu.
"Takut kamu kesakitan, Sayang. Kita akan tunggu keputusan setelah kontrol kedua."
"Tapi itu masih satu bulan lagi, Mas? Terlalu lama. Aku nggak pa-pa, Mas. Kan kamu bisa pelan-pelan. Aku nggak tega sama kamu kalau harus nunggu selama itu." Erlan menggelengkan kepalanya dengan seulas senyum yang sekilas terlihat manis, tetapi Diandra tahu itu senyum manis yang palsu.
__ADS_1
"Nggak pa-pa, Sayang. Aku bisa pakai tangan kalau memang aku nggak bisa tahan,"
"Nggak boleh gitu, Mas. Kan ada aku."
"Boleh kok. Yang nggak boleh itu maksain diri sampai kamu kesakitan. Maafkan aku, Diandra Sayang. Maafkan aku karena selama ini aku selalu memaksakan napsuku padamu sampai kamu harus menahan rasa sakit itu."
Deg!
"Bagaimana kamu tahu, Mas?" Diandra cukup terkejut. Erlan kembali mendaratkan ciumannya di kening.
"Kamu harus banyak istirahat. Bedrest juga nggak masalah. Ada ba-"
"Jangan dipikirkan. Kita fokus pada kesehatan kamu dan calon anak kita, hm?" Erlan kembali mendaratkan ciumannya. Namun kali ini di sebelah pipi Diandra. "Tidur ya? Aku mau buat kopi dulu terus ada kerjaan sedikit. Setelah itu aku langsung kesini lagi. Nanti biar Mami yang nganter makan malam sama siapin obat kamu ya?"
Erlan pun beranjak dan mendorong perlahan tubuh Diandra agar kembali tidur. Setelah menarik selimut untuk istrinya, Erlan pun pergi keluar. "Ada yang aneh dengan sikapmu, Mas!" gumam Diandra yang ikut beranjak perlahan untuk mengikuti Erlan.
Di lantai bawah, Erlan bertemu dengan Mami juga Neneknya. Sejak dari rumah sakit tentu kedua wanita itu ingin bertanya dan ingin tahu seberapa apa yang terjadi dengan Diandra. "Jelaskan!" ucap Mami dengan nada marah.
Erlan menghela napas berat kemudian mendongak menatap tangga untuk memastikan jika Diandra tidak ikut keluar. Namun dia terlambat menyadari kalau Diandra sedang bersembunyi untuk menguping pembicaraannya dengan Nenek dan Mami Erlan.
"Tolong kalian rahasiakan masalah ini dari Diandra," kata Erlan lirih. Namun Diandra masih bisa mendengar itu dengan jelas.
__ADS_1
"Iya. Sebenarnya apa yang terjadi. Kenapa sikap kamu aneh sejak berkonsultasilah dengan Dokter Amira?" tanya Nenek sangat tidak sabar.
"Nek, pelan-pelan. Takut Diandra dengar," protes Erlan dan Neneknya pun menghela napas panjang.
"Udah, Ma. Kita dengerin dulu penjelasan Erlan," sahut Mami Hasna dan Nenek Harni pun pasrah.
"Diandra mengidap endometriosis," ucap Erlan membuat Nenek dan Mami membelalak terkejut mendengar kabar itu. Sedang Diandra yang tidak tahu menahu penyakit tersebut, segera masuk kembali ke dalam kamar dan mencari tahu lewat ponselnya.
Lewat pencarian google, Diandra menelusuri banyak artikel yang menyebutkan apa itu endometriosis. Diandra terkejut bukan main saat membaca setiap paragraf yang dia baca. Merasa tidak kuat untuk meneruskan membaca, Diandra meletakkan ponselnya kembali di atas nakas. Beberapa kali Diandra mengatur napas dan akhirnya mengambil ponselnya lagi untuk meneruskan membaca artikel yang belum selesai dia baca.
Semuanya yang ada di dalam artikel tersebut menyatakan apa keluhan Diandra selama ini. Dari haid yang sering sakit bahkan setelah berhubungan intim juga. Ada beberapa faktor lainnya dan semuanya itu benar-benar persis dengan apa yang Diandra rasakan selama ini.
"Kenapa begini ... kenapa ... kenapa saat aku ... nggak! nggak mungkin. Ternyata ... ternyata Mas Erlan telah menikahi wanita yang salah. Mas Erlan telah menikahi wanita penyakitan seperti aku. Ternyata ... ternyata aku wanita nggak berguna yang begitu merepotkan,"
Diandra tidak kuasa membaca lebih jauh informasi yang dia cari tadi. Kini ponselnya sudah jatuh dari tangan dan tergeletak di lantai. Diandra pun memeluk kedua kakinya lalu menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki tersebut. Air matanya mengalir dengan deras seakan tidak terima dengan takdir yang harus dia hadapi saat ini.
........
JANGAN LUPA MAMPIR SINI JUGA YA SAMBIL NUNGGU UPDATE 👇
__ADS_1