
Hari-harinya yang Diandra lalui sangatlah berat. Detik demi menit dan jam yang dia lewati dibuat setegar dan sekuat mungkin. Untungnya ada dukungan dan support dari Nenek juga Mami yang membuat Diandra bisa selalu bisa berpikir santai walaupun terkesan memaksa. Terlebih lagi sang suami Erlan yang selalu sabar dan memberikan energi positif pada Diandra.
Sejujurnya Diandra kasian dengan Erlan yang selalu menahan hasratnya demi dia juga calon anaknya. Walaupun Diandra selalu memaksa melakukan hubungan intim dan hendak membantunya saat dia benar-benar ingin, Erlan selalu menolak. Erlan sendiri masih menyalahkan dirinya atas sikap dia yang begitu kejam menggauli Diandra, mana mungkin dia sanggup mengulangi hal yang sama terhadap Diandra sampai kondisi istrinya itu benar-benar membaik.
Tidak bisa dipungkiri jika rasa kecewa dan sedih dalam lubuk hati Diandra tidak serta merta hilang begitu saja. Rasa khawatir adalah temannya di setiap waktunya. Tentu bukan hal mudah untuknya menerima kenyataan bahwa Dokter memvonis endometriosis dalam rahimnya. Namun Diandra juga tidak akan membiarkan dirinya menyerah atas takdir yang harus dia jalani.
Saat kontrol pertamanya tiba, Diandra begitu takut untuk mendengarkan secara langsung penjelasan sang dokter. Bahkan rasanya lebih takut dari pada membaca artikel yang dia dapat dari internet.
"Ini bisa dikatakan kista, Ibu Diandra. Kista ini memang akan tumbuh seiringan dengan kehamilan Ibu Diandra nantinya. Tapi bisa hilang dengan sendirinya, kok. Namun walaupun begitu harus terus diawasi perkembangannya," jelas Dokter Amira pada Diandra yang begitu antusias dan serius mendengarkan.
__ADS_1
"Jadi bukan endometriosis, Dok?" tanya Diandra memastikan penyakitnya.
"Saya tidak bisa mengatakan tidak karena butuh pemeriksaan lebih lanjut tentang hal ini," jawab Dokter Amira.
"Tapi ... saya punya itu kan, Dok? Semuanya menjurus ke sana, Dok. Jadi saya punya itu atau tidak?" desak Diandra dan Dokter Amira mengangguk. Erlan langsung menggenggam tangan Diandra. Hanya dengan sebuah anggukan saja Diandra merasa jatuh dari tebing yang sangat tinggi.
"Tapi ada kabar baiknya yaitu Ibu Diandra masih bisa hamil. Sedangkan banyak sekali kasus seperti ini dan pasien tersebut belum bisa hamil bahkan kemungkinannya bisa mandul. Jadi kehamilannya ini harus di jaga baik-baik, ya. Setelah melahirkan kita akan observasi lagi. Untuk sekarang Ibu Diandra harus fokus dengan kehamilannya ya? Jangan sampai terganggu dengan hal negatif lain," jawab Dokter Amira.
"Sayang ... satu-satunya tanyanya. Dengerin Dokter," kata Erlan menyela.
__ADS_1
"Iya nggak pa-pa, Pak. Untungnya apa yang dikhawatirkan tidak terjadi. Kantong kehamilannya sudah terisi dan ukuran janin juga normal. Namun kita harus lihat perkembangannya setelah dua minggu lagi karena ini adalah kehamilan yang beresiko makanya kita periksa setiap dua minggu ya?" jawaban dari Dokter Amira membuat Diandra merasakan sebuah angin segar.
"Seminggu sekali bahkan setiap hari juga nggak apa-apa, Dok. Asal kesehatan anak dan istri saya terjamin," cerca Erlan dan hanya mendapatkan senyuman dari Dokter Amira.
"Mas ... nggak gitu juga kali. Sabar, kamu bilang harus dengerin Dokter," bisik Diandra yang sedikit malu dengan sikap Erlan.
"Ingat ya, jangan terlalu capek karena ini harus benar-benar di jaga. Saya sarankan untuk kembali bedrest," kata Dokter Amira pun memberikan resep obat.
"Tenang saja, Dok. Saya akan gendong kemanapun istri saya akan berjalan, bahkan ke kamar mandi sekalipun, Dok," jawab Erlan membuat Dokter Amira terkekeh.
__ADS_1
"Mas!" panggil Diandra diiringi cubitan di paha.
........