
Diandra kembali ke kamar dan Erlan masih duduk di sisi tempat tidur dengan memainkan ponselnya. Segera Erlan menghampiri sang istri dan memeluknya begitu Diandra masuk. "Sayang, kenapa lama sekali, hm?" tanya Erlan seraya menenggelamkan kepalanya di leher Diandra.
"Tadi ngobrol dulu sama Nenek, Mas," jawab Diandra dengan nada dingin. Erlan cukup terkejut kemudian melepaskan pelukannya dan berdiri di depan Diandra. "Nenek ... sudah tahu masalah Cherin yang hamil anak kamu," ucap Diandra lirih.
"Nenek baik-baik aja?" tanya Erlan dengan nada khawatir.
"Hm. Nenek terlihat sangat baik bahkan meminta aku untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut," jawab Diandra kemudian beralih berbaring di atas tempat tidur. Erlan segera menyusul dan memeluknya Diandra kembali. "Andai itu anak kamu, aku yakin kamu akan sangat merasa bersalah atas kematiannya, Mas. Apalagi atas perilakumu pada Cherin. Dari rasa bersalah itu bisa saja akan tumbuh cinta lagi antara kamu dan dia," lanjut Diandra membuat Erlan mengeratkan pelukannya.
"Nggak, Sayang. Aku sudah bilang banyak kali sama kamu 'kan? Aku hanya akan mencintaimu. Kamu adalah masa depanku. Aku nggak akan pernah nyakitin kamu lagi dengan menjalin hubungan bersama wanita lain. Ya ... aku memang akan bertanggung jawab atas perlakuan jahat ku pada Cherin andai memang itu anakku, tapi aku nggak akan pernah menjalin atau menumbuhkan rasa yang sudah menjadi milikmu seutuhnya," jawab Erlan kemudian mencium leher Diandra.
Sebenarnya kata-kata Erlan memang sangat indah di dengar telinga. Tentu saja dia tersanjung atas kesetiaan suaminya itu. Hal yang paling dia syukuri karena mendapatkan Erlan yang begitu tulus mencintai dirinya. Walaupun begitu, rasa bersalah Diandra tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi Diandra masih memikirkan Cherin yang sendirian menahan rasa sakitnya.
"Terima kasih ya Mas atas kesetiaanmu. Aku sangat bersyukur dan percaya apa yang kamu katakan adalah sebuah kebenaran," kata Diandra membuat Erlan segera membalikkan tubuhnya.
"Sayang ... dengar! Sejak aku menikahimu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, apa pun yang terjadi padamu, aku hanya akan mencintaimu. Dan kamu juga jangan pernah coba-coba meninggalkanku, termasuk saat kebenaran jika anak yang meninggal itu anakku. Kamu bilang waktu itu 'jangan nangis, Mas! Kita akan melewati semua ini bersama. Aku percaya padamu karena kamu juga begitu percaya padaku', jadi ... awas saja kalau kamu nggak pegang kata-katamu, hm?"
Diandra tersenyum. Ya ... dia memang mengatakan itu saat memberikan Erlan semangat. Namun hatinya kembali ragu ketika Cherin begitu yakin dengan kehamilannya. Entah kenapa sekarang dia jadi berpikir bahkan dirinya masih labil. Seharusnya memang mereka berdua saling menguatkan satu sama lain karena seperti yang pernah dikatakan Meli, bahwa Erlan juga tidak mengkhianati cintanya.
"Kapan aku bilang begitu?" tanya Diandra pura-pura amnesia. Tentu saja dia hanya mengejek saja.
"Dasar wanita!"
"Kenapa?"
__ADS_1
"Memang benar kalau wanita itu sangat aneh."
"Kok kamu bilang gitu sih?"
"Iya. Wanita itu bisa lupa dengan tali rambutnya yang padahal baru saja dia pakai. Tapi dia akan sangat ingat dengan perkataan laki-laki yang menyakitinya di tanggal tujuh, bulan tujuh dan ... tujuh tahun yang lalu," kata Erlan seketika Diandra tertawa terbahak-bahak. "Apa yang lucu? Itu benar dan sudah diriset oleh ilmuan," lanjut Erlan membuat Diandra semakin mengeraskan tawanya.
"Ternyata suamiku bisa ngelucu juga," sahut Diandra masih terus tertawa.
"Ingat, suamimu ini serba bisa. Apalagi paling bisa memuaskan istrinya," ujar Erlan dengan bangganya.
"Terus?" Diandra seketika diam seraya menatap Erlan dengan satu alis yang terangkat.
"Terus bercinta dong. Di kantor tadi kita nggak jadi enak-enakan, loh," goda Erlan dengan berbisik di telinga Diandra.
"Oh ya ampun ... aku yakin kamu nggak akan pernah lupa dengan hal semacam itu, Mas!" jawab Diandra kemudian memutar bola matanya malas. Segera dia ingin kembali memunggungi Erlan, tetapi secepat kilat Erlan menahan tubuh Diandra dan menindihnya. "Tidur! Ini udah lewat tengah malam," kata Diandra dengan raut wajah kesal.
Ciuman panas pun tidak bisa terhindarkan. Kedua tangan Erlan juga tidak mau hanya berdiam diri tanpa bekerja. Seketika itu juga kedua tangannya meremass apa yang kenyal di dada Diandra diiringi suara desahann yang semakin membangkitkan gairah.
Diandra pasti tidak akan mampu melawan rayuan Erlan karena laki-laki itu memang selalu bisa memuaskannya. Apalagi saat rasa yang benar-benar nikmat dan nyaman itu dia dapatkan dari suaminya.
...***...
"Mas, kita jenguk Cherin dulu ya? Aku juga buatin sarapan untuknya," pinta Diandra yang baru saja masuk kamar. Padahal Erlan sudah bersiap akan ke kantor. Memang saat bangun tidur tadi, Erlan tidak melihat Diandra di sisinya. Ternyata dia membuat sarapan pada wanita yang jelas-jelas mencoba merebut Erlan darinya.
__ADS_1
"Ngapain sih repot-repot kesana? Di rumah sakit juga udah disiapin sarapan. Hasil tes DNA juga paling cepet dua hari lagi. Males ah!" jawab Erlan masih sibuk memakai dasi. Kedua mata mereka bertemu dari pantulan cermin. Diandra tersenyum manis.
"Kamu tahukan di rumah sakit itu makanan nggak enak, Mas. Makanya aku buatin Cherin sarapan," jawab Diandra dengan santainya seraya mendekati Erlan.
Erlan pun menghela napas berat seraya memutar bola matanya malas kemudian berbalik badan tanpa peduli lagi dengan dasi yang dia pasang tadi. "Dia di kamar VVIP, Sayang ... nggak mungkin di kamar sebagus itu makanannya nggak enak," sahut Erlan mencoba menahan rasa kesalnya tas kebaikan yang akan Diandra lakukan.
Lagi-lagi Diandra tersenyum manis kemudian semakin mendekati Erlan dan membantu memakaikan dasi yang belum selesai Erlan pakai. Senyuman manis itu mampu membuat Erlan pasrah. "Kalau gitu kamu cukup antar aku aja, Mas. Kamu bisa ke kantor dan aku ke rumah sakit kalau memang kamu nggak mau ikut menemui Cherin." Perkataan Diandra tidak mampu membuat Erlan berkata tidak.
"Kenapa kamu begitu baik sama dia, Sayang? Jelas-jelas dia cukup jahat sama kamu yang terang-terangan mau merebut ku darimu," tanya Erlan seraya merengkuh bahu Diandra.
"Ngapain juga aku berebut laki-laki yang jelas-jelas dia udah cinta mati sama aku? Kurang kerjaan sekali," sahut Diandra dengan begitu percaya diri.
"Jangan bikin aku gemas, Sayang!" kata Erlan sambil menekan kedua tangannya yang masih di bahu Diandra.
"Oya? Kamu mau temenin aku ke rumah sakit nggak kalau aku kasih kamu gaya itu?" goda Diandra seraya meniupkan angin cinta di wajah Erlan. Rasa panas ditubuh Erlan pun menyerang.
"Sayang ...."
"Hm ... jadi nggak mau?" tanya Diandra dengan nada menggoda dan kedipan sebelah mata.
"Mana mungkin nggak mau." Seketika itu juga Erlan langsung membopong tubuh Diandra untuk bergulat di atas tempat tidur.
........
__ADS_1
...Hus ... sapu dulu ... biar nggak ngeres 🤣...
...Kemungkinan aku cuma 🆙 satu bab ini aja, jangan terlalu berharap aku 🆙 lagi ya karena ada real life yang super rempong 🥲🤧...