Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Menata Kebahagiaan


__ADS_3

Hari pun berganti minggu dan bulan. Walaupun awalnya terasa sangat berat, tetapi semuanya bisa melewati masa-masa dimana Nenek Harni telah tiada untuk selamanya. Memang sebuah kematian itu adalah takdir yang tidak akan bisa ditolak siapapun. Entah muda maupun tua. Mengikhlaskan juga tidaklah mudah, tetapi mendoakan adalah satu-satunya cara untuk melepaskan rasa rindu yang begitu berat terhadap orang yang telah meninggalkan kita.


Hari ini adalah peringatan seratus hari almarhumah Nenek Harni. Sama seperti peringatan empat puluh hari, Diandra juga Erlan memanjatkan doa bersama dengan anak yatim dan fakir miskin disebuah gedung hotel berbintang lima. Acara itu cukup meriah karena bukan hanya puluhan anak yatim dan fakir miskin yang hadir, tetapi ada ratusan yang diundang.


"Gimana? Udah beres semua?" tanya Erlan pada Jio yang baru saja mendatanginya.


"Udah, Bos!" jawab Jio dengan bangga diri. Tentu saja kinerja Jio masih sama seperti sebelumnya, yaitu selalu bisa menyelesaikan tugas dan kewajibannya sebagai kaki tangan Erlan.


Setelah sederet acara demi acara selesai, Erlan, Diandra dan Mami Hasna pergi ke makam almarhumah Nenek. Disana, mereka memanjatkan doa serta menceritakan perasaan mereka masing-masing.


"Mamah, sebentar lagi ulang tahun Mamah. Tenang aja, nanti Hasna akan pergi ke tempat kelahiran Mamah ya? Hasna masih inget kok hal apa yang selalu Mamah lakukan disana. Hasna sangat rindu, Mah. Tapi Hasna tau kalau rindu ini nggak akan ada obatnya selain datang kemari. Hasna udah kuat kok menjalani hari tanpa Mamah. Walaupun berat tapi Hasna yakin kita akan bertemu pada saat terindah yang telah Tuhan siapkan."


"Nek, Erlan datang. Erlan juga baru aja melakukan hal baik yang selalu Nenek ajarkan, yaitu berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Terima kasih ya Nek udah meninggal kemewahan ini untuk kami semua. Erlan rindu Nenek. Semoga kelak kita bisa bertemu ditempat indah di sisi Tuhan."


"Nenek, Diandra udah bisa ikhlasin kepergian Nenek. Maaf ya Nek kalau Diandra sedikit bandel dengan berlama-lama sedih karena Diandra terlalu sayang sama Nenek. Tapi Mami sama Mas Erlan selalu kasih support Diandra. Padahal mereka juga butuh itu. Oiya ... Ichan udah makin pinter lo, Nek. Sekarang dia udah bisa tengkurap. Tapi Ichan sekarang nggak mau ditidurin, Nek. Dia lebih suka diberdiriin terus dia kayak mau loncat-loncat gitu. Pasti kalau Nenek masih ada Nenek bakal kewalahan karena tangan Nenek yang sering tremor. Nanti kalau udah saatnya, Diandra bakal bawa Ichan kemari ya, Nek! Kami semua sayang sama Nenek."


Setelah mencurahkan rasa rindu mereka pada almarhumah Nenek Harni, mereka pun menaburkan bunga juga beberapa botol air kemudian memanjatkan doa-doa. Puas melepaskan rasa rindu, mereka akhirnya pulang.


Hari yang berat satu persatu telah dilewati bersama. Erlan dan Diandra bahagia walaupun sebenarnya mereka juga sedih. Apalagi Paman Sam telah dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik juga kasus korupsi yang dia lakukan di perusahaan.


Sahamnya juga dicabut dan hanya disisakan 5% karena Erlan masih punya sedikit belas kasih untuk keluarga yang ditinggalkan yaitu istri Paman Sam juga adik Yansen. Sedangkan Yansen sendiri diizinkan berkerja di perusahaan, tetapi dengan jabatan rendah dan tanpa hak istimewa sama sekali karena Erlan membuat Yansen tidak bisa masuk perusahaan manapun selain di perusahaan keluarganya sendiri.


Kini semua orang sedang menata kebahagiaannya masing-masing. Jio yang akan melangsungkan pernikahan dengan Safira dan Cherin yang sedang kesal dengan Hanes karena bawaan anak kedua mereka.

__ADS_1


...***...


"Astaga ... Ezra!" geram Erlan karena Ezra mengompol dan membasahi kemeja kerjanya saat akan dipakaikan pempes. Sedangkan Ezra malah tertawa seolah sedang meledek Erlan.


"Kenapa sih, Mas?" tanya Diandra yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang ... dia ngompol! Masa tiba-tiba pipis kayak pancuran dan aja. Harusnya kan pipis kalau udah pake pempes," keluh Erlan dengan nada loyo sebab dia harus kembali mandi dan berganti baju karena tidak mungkin berangkat dengan pakaian bau pipis.


"Ish ... sama anak sendiri banyak protes. Anak cuma satu aja dimarahin kamu tuh! Udah sana buruan mandi!" seru Diandra kemudian mengambil alih Ezra yang masih belum memakai baju.


"Marahin dia, Sayang! Besok jangan diulangi lagi gitu. Kalau kayak gini kan Ayah bisa telat kerjanya terus kalau gaji Ayah dipotong sama Ibu, gimana?" protes Erlan tentu dengan nada manja.


Diandra tidak mendengarkan ucapan suaminya dan fokus memakaikan baju pada Ezra yang sejak tadi hau-hau dengan senyuman yang begitu manis. Dunia Diandra benar-benar teralihkan jika sudah melihat Ezra yang terus ngoceh dan tersenyum.


"Ih ... Sayang, jangan gitu dong! Aku udah puasa satu minggu loh karena kamu haid. Masa aku harus tidur diluar sih? Ezra ... Ayah minta maaf ya udah marah tadi sama Ezra. Ayah mau mandi ya, Ayah nggak bakal marah-marah lagi sama Ezra. Tapi bilang sama Ibu ya kalau jangan biarin Ayah tidur diluar, okey?"


Erlan pun mencium pipi Ezra yang sejak tadi terus tersenyum dan tertawa melihat tingkah laku kedua orang tuanya itu. Setelah bernegosiasi dengan sang anak, Erlan pun pergi mandi dan berganti pakaian.


...***...


Hanes benar-benar kewalahan dengan sikap Cherin karena kehamilan keduanya. Walaupun tidak mengalami ngidam mual muntah parah dan kandungan yang lemah seperti kehamilan Cakra, tetapi tetap saja hormon ibu hamil itu berbeda. Bahkan Hanes hampir sebulan tidak tidur dengan Cherin karena alasan tidak mood dan bau dengan tubuh Hanes walaupun Hanes sudah mandi bersih.


Bukan hanya itu sebenarnya sebab Cherin kesal dengan Hanes, tetapi karena Hanes tidak mendengarkan Cherin yang meminta dia untuk melakukan program hamil setelah Cakra sudah mulai berjalan. Namun Hanes tidak pernah tahan dan selalu mengeluarkan benihnya di dalam, bukan diluar seperti kemauan Cherin. Akhirnya kebobolan.

__ADS_1


"Udah, buruan makan! Atau ... em ... kamu nggak bakal dapet jatah selama sembilan bulan penuh," ancam Cherin karena tidak sabar melihat ekspresi wajah Hanes yang sedang memegang piring berisi cabai rawit dan belimbing wuluh.


Entah kenapa siang itu tiba-tiba dia ingin sekali mengerjai Hanes. Sebenarnya Cherin baru melihat di sosial medianya dan ada video seorang wanita luar negeri mukbang belimbing wuluh dicoelkan sambal. Niat jahat pun langsung terlintas dipikiran Cherin.


"Sayang ... ampun! Ini sih ngidam yang nggak masuk akal," protes Hanes yang sejak tadi ragu memakan apa yang ada di atas piring tersebut.


"Oh ... jadi kamu lebih suka anak kita ileran dari pada nurutin kemauannya?" Cherin pun melipat kedua tangannya dengan raut wajah marah.


"Turutin aja! Ibu nggak mau punya cucu ileran. Malu! Lagian orang ngidam memang banyak nggak masuk akalnya. Namanya juga bawaan bayi," sahut Nyonya Linda yang membenarkan kemauan Cherin.


"Kamu harus tanggung jawab, Mas! Jangan cuma semangat pas bikinnya aja! Cepet makan!" titah Cherin lagi dan Hanes hanya bisa pasrah dengan helaan napas panjang.


Akhirnya Hanes pun mengambil satu buah belimbing wuluh ditangan kanan dan satu buah cabai rawit ditangan kiri. Tangan kanan pun mulai terangkat dan mendekat ke mulut. Belimbing itu pun digigit dan nyes ... rasa asam langsung menjalar membuat Hanes merem melek merasakan kecutnya belimbing wuluh tersebut. Namun tangan kirinya juga harus terulur untuk memasukan cabai ke dalam mulutnya berbarengan dengan belimbing tersebut.


"Demi kamu, Nak!" seru Hanes merasakan rasa kecut, asem dan pedas di mulutnya. Cherin langsung tertawa puas melihat ekspresi wajah Hanes yang benar-benar lucu bagi dia.


"Astaga ... gemesin banget kamu, Mas. Haha!" Cherin benar-benar puas bisa mengerjai Hanes. "Lagi, Mas! Apaan sih baru satu gigitan udahan. Buruan itu masih banyak!" titah Cherin lagi dengan senangnya. "Cakra, liat deh Papa kamu, lucu ya? Gemesin banget sampe pengen nampol rasanya. Untung aja suami. Kalau tentang julid, pasti udah Mama tampol pake sendal jepit." Cherin bicara dengan Cakra yang ada di pangkuan Nyonya Linda. Cakra pun menanggapi ucapan Cherin dengan tawa.


"Sayang! Please! Ini asem pedes, dan ... aku ... ampun deh! Kamu tega banget sih!" keluh Hanes yang sudah tidak sanggup untuk melakukan gigitan kedua. Lidahnya terus menjulur karena rasa yang benar-benar membuatnya merinding. Apalagi syaratnya dia tidak boleh minum setelah itu.


"Jangan banyak ngeluh. Ibu juga suka liat ekspresi wajah kamu itu. Buruan! Dari pada adik Cakra ileran, nanti dibully gimana?" sahut Nyonya Linda lagi-lagi membuat Hanes kembali menghela napas panjang. Sedangkan Cherin terlihat menahan tawanya karena mendapatkan dukungan penuh dari ibu mertua.


"Nasib ... nasib! Sabar Hanes ... kamu harus sabar demi istri dan buah hati kamu!" gumam Hanes memberikan semangat untuk dirinya sendiri. Cherin dan Nyonya Linda hanya bisa menahan tawa melihat wajah lucu Hanes.

__ADS_1


........


__ADS_2