
Suasana menegangkan di ruang rawat Cherin menjadi haru. Bahkan Nyonya Linda sampai menitikkan air matanya karena menyesal telah begitu termakan omongan Sandra. Begitu juga dengan Tuan Hendra yang selama beberapa tahun ini tidak mau bertemu dengan anaknya sendiri, penyesalan itu amat sangat dalam.
Hanes masih merasakan hangatnya pelukan itu bahkan begitu menikmati aroma tubuh kedua orang tuanya. Hanes benar-benar merindukan masa itu karena kabar kemandulan membuat Hanes jauh dari orang yang dia sayangi hingga harus menyembunyikan pernikahannya dengan Cherin.
"Maaf ... maaf karena selama ini kami selalu menyalahkan mu," ucap Tuan Hendra seraya menepuk-nepuk punggung Hanes.
"Ibu juga minta maaf ya? Ibu nggak tahu kalau ternyata ibu salah mempercayai Sandra," ujar Nyonya Linda yang ikut menepuk punggung Hanes.
Setelah cukup lama berpelukan, Hanes pun menyudahi suasana haru itu. Segera Hanes mengusap kedua pipi ibunya yang di aliri air mata. "Nggak ada yang perlu dimaafkan, Buk. Hanes bersyukur dengan ada masalah ini, kita bisa kembali bersama. Bukan hanya kita, tapi akan ada anggota baru diantar kita," kata Hanes mendapatkan anggukan dari kedua orang tuanya.
Erlan ikut terharu melihat bagaimana Hanes dan orang tuanya berbaikan. Begitu pula dengan Diandra dan Cherin yang tentu menitikkan air matanya karena bahagia. "Siapa tadi nama istri kamu?" tanya Nyonya Linda.
"Cherin, Buk!" jawab Hanes dengan senyuman manisnya. Nyonya Linda langsung berangkat dari tempat duduknya. Begitu juga dengan Tuan Hendra.
Diandra tahu tujuan kedua orang tua Hanes untuk mendekati Cherin. Segera Diandra mengundurkan kursi rodanya yang kemudian dibantu oleh Erlan. Cherin tentu sangat gugup kedua mertuanya akan mendekat. Dia bahkan salah tingkah untuk menyambut ibu mertua yang semakin dekat.
"Maaf ... maafkan ibu yang sudah berpikir yang tidak-tidak sama kamu, Nak!" ujar Nyonya Linda yang langsung memeluk Cherin. Tidak mau mengecewakan, Cherin pun membalas pelukan itu. Benar-benar terasa seperti ibu sendiri mendapatkan pelukkan dari orang tua. Sama rasanya saat dipeluk oleh Mami Hasna.
"Nggak, Buk! Nggak ada yang perlu dimaafkan. Yang lalu biarlah berlalu dan mari kita hidup dengan lembaran baru," jawab Cherin. Nyonya Linda pun mengangguk dalam pelukannya.
"Ayah juga harus minta maaf karena bicara yang tidak-tidak tentang kamu. Padahal Ayah belum kenal sama kamu," kata Tuan Hendra. Peluk menantu dan mertua itu pun semakin erat karena Tuan Hendra ikut memeluk Cherin.
Namun karena posisi yang tidak nyaman, Cherin pun mengaduh kesakitan karena bagian perutnya terlalu membungkuk. "Aw!" Sontak saja Tuan Hendra dan Nyonya Linda langsung melepaskan pelukannya.
"Ah, Ibu lupa kalau kamu belum pulih. Maaf, ibu terlalu terbawa suasana tadi. Kamu berbaring aja ya!" Nyonya Linda pun membantu Cherin untuk berbaring dengan sedikit meninggikan tempat tidur Cherin.
__ADS_1
"Terima kasih, Buk!" kata Cherin sangat senang mendapatkan perhatian dari ibu mertuanya.
"Lalu bagaimana dengan cucu, Ayah?" tanya Tuan Hendra tentu ingin bertemu dengan cucu laki-lakinya.
"Dia di NICU, Yah. Belum boleh sembarang orang menemuinya," jawab Hanes.
"Jadi maksud kamu ... Ayah ini orang sembarangan? Ayah ini Kakeknya, kenapa jadi orang sembarangan?" jawab Tuan Hendra malah membuat semua orang terkekeh.
"Ayah ... maksudnya hanya orang-orang tertentu yang boleh lihat. Kita belum diperkenankan buat melihat cucu kita pasti karena dia masih butuh penanganan khusus," sahut Nyonya Linda yang terlihat paham dengan maksud Hanes.
"Iya, maksudnya begitu, Yah!" kata Hanes seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Terus ... kenapa tadi kamu nawarin Ayah buat ketemu cucu ayah, Hah!" Tuan Hanes terlihat sedikit kesal karena merasa dipermainkan anaknya. Padahal mereka baru saja berbaikan.
"Dasar anak minta di timpuk! Mana fotonya?" Tuan Hendra melayangkan tangannya hendak memukul Hanes, tetapi dengan segera Hanes menyodorkan ponselnya sebelum tangan sang Ayah berhasil mendarat ditubuhnya.
"Wah ... mirip Hanes sedikit, Yah!" kata Nyonya Linda memperbesar tampilan layar ponsel tersebut.
"Tapi besarnya jangan sampe kayak dia, Buk. Ayah kapok! Semoga cucu kita kalem nggak banyak tingkah kayak Papanya," ujar Tuan Hendra membuat Hanes malu.
"Eh, Nona sebaiknya kembali ke kamar untuk istirahat. Takutnya disini kalian canggung," Hanes mendekati Erlan seraya menepuk bahunya karena tidak enak sejak tadi cuek pada mereka.
"Iya. Ini juga udah waktunya pumping ASI buat anak-anak. Kalau gitu kita kembali ke kamar, Mas!" ajak Diandra dan Erlan pun mengangguk.
"Terima kasih, Nona!" kata Hanes sedikit menundukkan kepala. Erlan dan Diandra pun keluar dari ruang rawat Cherin dengan rasa lega dan bahagia.
__ADS_1
...***...
Sore ini Diandra diperbolehkan pulang karena kondisinya yang semakin membaik. Dokter Amira menyarankan untuk istirahat di rumah agar lebih nyaman karena tentu dirumah sakit bau obat-obatan juga karbol yang menggangu pernapasan Diandra.
Walaupun berat hati, tetapi Diandra memang harus pulang demi menjaga kenyamanannya. Semakin nyaman dan pikirannya positif, maka semakin banyak ASI yang akan Diandra dapatkan. Apalagi dia menang harus mengeluarkan ASI lebih untuk Cakra.
Setelah meninggalkan beberapa kantong ASI, Diandra pulang tanpa berpamitan pada Cherin karena takut mengganggu keberadaan dengan mertuanya. Diandra tenang sekarang karena Cherin tidak akan merasa sendirian lagi.
"Jadi nanti ASI nya dianter ya, Mas?" tanya Diandra saat dalam perjalanan pulang.
"Hm. Nanti aku yang anter langsung sekalian jenguk Ezra, ya?" jawab Erlan seraya mengusap ujung kepala istrinya.
"Yahh ... aku nggak bisa jenguk dong?"
"Nggak pa-pa. Dokter Amira bilang Ezra nggak akan lama disana karena perkembangannya begitu pesat. Aku yakin nggak sampe satu minggu lagi dia bisa kumpul sama kita. Ibu harus sabar ya!" Diandra hanya tersenyum walaupun sorot matanya menunjukkan rasa sedih.
"Tapi aku lega, Mas. Mbak Cherin udah mendapatkan apa yang dia butuhkan selama ini. Suami yang mencintainya juga orang tua yang menyayanginya. Aku tenang sekarang, Mas. Bener-bener tenang! Kita dapat kebahagiaan kita masing-masing walaupun untuk mendapatkan semua itu begitu berat."
Erlan menepikan mobilnya dan segera melepaskan setbelt karena tidak tahan ingin memeluk Diandra. "Sayang ... terima kasih! Terima kasih atas perjuanganmu, Sayang! Terima sudah menjadi istri dan ibu dari anakku. Terima kasih telah menjadi masa depanku yang memang sangat layak aku perjuangkan. Terima kasih untuk semuanya. Semua hari berat yang telah kamu lalui."
Diandra tak kuasa menahan air matanya. Hari yang berat memang telah dia lalui. Diandra pun membalas pelukan Erlan seraya menangis tanpa suara. Bukan tangis kesedihan, tetapi tangis kebahagiaan yang patut dia dapatkan sebagai pemenang atas cobaan yang begitu berat. Semuanya benar-benar sudah terlewati bersama sang suami.
........
...Yang suka genre religi, mampir dong ke novel aku yang judulnya "JODOH YANG RUMIT" hehe ditunggu disana ya 😊...
__ADS_1