Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Masalah Perusahaan


__ADS_3

Setelah berjemur dengan Ezra, Erlan pun bergegas pergi ke kantor karena Jio mengatakan ada hal penting yang harus segera diselesaikan. Apalagi hal penting itu juga berkaitan dengan Paman Sam. Sejak Diandra divonis sakit endometriosis dan Erlan fokus dengan keadaan Diandra, sang Paman selalu cari masalah bahkan belum menjenguk Ezra sama sekali hingga saat ini. Pembagian saham yang diputuskan oleh Nenek Harni memang memberatkan Kakak kandung sang Nenek karena merasa punya hubungan darah, sedangkan dengan Diandra tidak punya hubungan darah.


Jio sendiri sudah berusaha keras membantu di perusahaan bahkan Jio sering dilimpahkan pekerjaan oleh Erlan demi mendahulukan Diandra dan Ezra, hal itulah yang menyebabkan Paman Sam menuding kinerja Erlan buruk di perusahaan karena tidak bertanggung jawab karena terus mewakilkan urusan perusahaan pada Jio.


"Kenapa baru kali ini Paman Sam protes, Mas? Apa Nenek tau masalah ini?" tanya Diandra seraya memakaikan dasi pada Erlan.


"Anak Paman Sam baru aja menyelesaikan kuliah S3 diluar negeri. Aku pikir ini cara dia buat menggeser posisi aku, Sayang. Tentang Nenek, jangan sampai tahu masalah ini. Aku takut akan menggangu kesehatannya. Kalau masalah ini belum kelar juga, aku yakin kamu juga akan dipermasalahkan tentang kelayakan posisi kamu nanti," jelas Erlan lalu mencium kening Diandra.


"Tapi aku khawatir, Mas!"


"Sayang, kamu bisa diskusi dengan Meli masalah ini secara diam-diam. Kamu tau sendiri kondisi Nenek seperti itu. Kamu tanya sama Meli apa yang harus kamu lakukan jika ada masalah seserius ini, dia pasti paham. Meli udah bekerja sama Nenek bertahun-tahun." Diandra mengangguk.


Setelah siap, Erlan tak lupa mencium sebelah pipi Ezra yang sedang tertidur pulas. Erlan pun pamit dan mengatakan untuk tidak khawatir dengan masalah perusahaan. Apalagi mengatakan masalah ini dengan sang Nenek karena kondisinya juga tidak sedang baik-baik saja.


...***...


Erlan dan Jio sedang berdiskusi masalah penting yang terjadi dianak cabang perusahaannya yang ada di luar negeri. Memang Erlan sudah lama tidak pergi kesana sejak Diandra sakit. Namun Jio berhasil menemukan kejanggalan yang terjadi di perusahaan itu dan diyakini jika itu ulah Paman Sam.


"Kerugiannya sampai segini banyak? Padahal terkahir aku kesana semuanya udah baik-baik aja, hebat banget bisa langsung anjlok begini," kata Erlan yang tidak percaya dengan laporan data dari anak cabang perusahaannya di luar negeri.


"Kalau begini Bos harus kesana. Dan mungkin akan butuh waktu beberapa hari untuk menyelesaikan masalah ini. Tapi saya takut jika kepergian Bos kesana akan dimanfaatkan oleh Tuan Sam."


"Kamu benar. Aku hanya takut dengan kesehatan Nenek. Kalau Diandra mungkin dia akan baik-baik saja, tapi Nenek ... aku ragu kondisinya akan baik-baik saja."


Diskusi dengan Jio juga tidak mendapatkan titik terang selain Erlan memang harus pergi keluar negeri. Bahkan Erlan bulak-balik menganalisa data dari perusahaan di luar negeri tersebut. Jika dilepaskan juga terlalu sayang karena dari sana juga banyak meraup keuntungan. Apalagi sang paman cukup cerdas menjatuhkan perusahaan tersebut demi menyingkirkannya sebagai CEO.

__ADS_1


Dalam keseriusan mereka, Jio mendapatkan panggilan masuk dari seseorang yang memang diminta untuk menyelediki kelakuan anak Paman Sam yang bernama Yansen. Entah kenapa memang Jio merasa ada hal yang mengganjal dengannya. Secerah harapan terlihat jelas diwajah Jio saat panggilan itu terputus.


"Kenapa kamu terlihat senang?" tanya Erlan menatap Jio curiga.


"Bos, ada kabar bagus. Ternyata Yansen diluar negeri suka main perempuan dan sering datang ke klab malam. Yansen juga sempat ditangkap polisi disana karena memakai obat terlarang. Tapi kasus itu ditutup rapat. Untungnya suruhan yang saya kirim bisa mendapatkan informasi yang valid. Buktinya juga sudah jelas. Kabar ini bisa kita jadikan senjata, Bos."


Erlan ikut senang mendengar kabar tersebut. Tentu saja Yansen tidak ada kelayakan untuk memimpin perusahaan apalagi menggantikan posisi Erlan jika punya riwayat buruk seperti itu. Erlan dan Jio pun mengatur rencana untuk keberangkatan mereka ke luar negeri demi menyelamatkan anak perusahaan yang ada diluar negeri tersebut.


...***...


"Aku nggak masalah. Nona Diandra juga banyak membantu istriku. Apalagi dia juga ibu susu Cakra." Hanes dan Erlan sepakat untuk bertemu di sebuah cafe dengan room private karena dia takut gerak-geriknya diawasi oleh sang paman.


Erlan berencana menitipkan Diandra pada Hanes dan tinggal dirumahnya selama Erlan pergi ke luar negeri. Hanes tentu saja setuju dengan rencana itu karena bisa dipastikan Cherin akan sangat senang mempunyai teman.


"Terima kasih. Tapi pastikan mereka nggak akan keluar rumah sampai aku benar-benar pulang dari luar negeri. Paling lama aku harus disana satu mingguan."


Akhirnya sudah diputuskan jika Diandra akan tinggal di rumah Hanes demi keamanannya. Walaupun masalah ini belum dibicarakan dengan orang yang bersangkutan, tetapi Diandra mau tidak mau harus setuju.


...***...


"Mbak Meli yakin masalah sampai seberat itu?" Diandra benar-benar tidak habis pikir jika pembagian saham perusahaan warisan sang Kakek akan menjadi serumit itu.


Meli sedang menjelaskan bagaimana fatalnya masalah tersebut hingga Erlan akan dilengserkan dari perusahaan dan kemungkinan besar Yansen lah yang akan menggantikan posisi Erlan sebagai CEO jika Erlan tidak bisa mengatasi masalah perusahaan tersebut. Walaupun diluar negeri perusahaan itu hanya anak cabang, tetapi cukup berpengaruh dengan saham dibeberapa perusahaan anak cabang lainnya.


Awalnya sang Nenek curiga karena Meli diundang secara tiba-tiba oleh Diandra. Sedangkan tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang pekerjaannya. Namun Diandra berhasil meyakinkan sang Nenek dengan alasan ingin membicarakan masalah anak karena Meli lebih berpengalaman mengurus anak.

__ADS_1


"Aku lepaskan aja deh saham aku itu ke Paman Sam. Dari pada kayak gini, lebih baik kasih aja. Lagian suami aku udah cukup kaya dengan jabatan CEO nya itu. Aku khawatir sama suami aku, Mbak. Dia udah berjuang keras demi aku, sekarang malah gara-gara aku dia kena masalah. Sama Paman sendiri lagi."


Tentu saja sebelum mengalihkan saham pada Diandra, sang Nenek sudah banyak pertimbangan tentang masalah tersebut. Selain Kakaknya yang cukup tamak, suaminya dulu mengembangkan perusahaan tanpa bantuan darinya. Masih untung suaminya itu memberikan saham padanya sebagai tanda kekeluargaan.


"Begitu, Nona. Jadi Nyonya tidak sembarang melimpah tanggung jawab ini pada Nona. Nyonya juga percaya kalau Nona bukan wanita yang gila harta, makanya tanpa pikir panjang Nyonya menyerahkan semua itu pada Nona. Kita harus tahu bagaimana keputusan Tuan Muda tentang masalah ini. Saya yakin Tuan muda sudah memikirkan jalan yang terbaik untuk masalah ini. Apalagi ada Tuan Serjio yang sangat cerdas di sisi Tuan Muda."


Diandra cukup senang dengan penjelasan Meli. Walaupun sebenarnya dia juga khawatir dengan kesehatan sang Nenek jika tahu masalah ini. Namun berkali-kali Meli meyakinkan kalau Erlan pasti bisa mengatasi semuanya dengan baik.


...***...


Erlan pulang lebih cepat dari biasanya. Setelah bertemu dengan Hanes, Erlan memutuskan untuk pulang sedangkan Jio kembali ke kantor. Diandra yang sedang menikmati waktu sore di gazebo halaman rumahnya bersama Nenek juga Mami, cukup heran karena Erlan datang lebih cepat bahkan dengan raut wajah bahagia.


"Kayak abis dapet jackpot aja sumringah gitu," ledek sang Mami menatap Erlan yang menghampiri mereka. Namun Erlan tidak langsung menjawab melainkan mengulurkan tangannya pada Ezra.


"Eh, main pegang-pegang aja. Mandi dulu sana! Nggak boleh pegang sembarangan!" ucap sang Nenek membuat Erlan seketika merubah raut wajahnya.


"Kalau gitu pegang ibunya aja, muach!" Erlan menangkup kedua pipi Diandra dan mencium bibirnya dihadapan nenek juga sang mami tanpa rasa malu sama sekali.


"Astaga!" kompak Nenek dan Maminya. Erlan pun bergegas masuk ke rumah untuk membersihkan diri.


"Diandra, kamu harus sabar menghadapi Erlan yang mirip anak kecil itu. Padahal kalau diluar rumah dia nggak terlihat kekanak-kanakan," kata Nenek Harni. Entah kenapa nasehat sang Nenek terdengar berbeda di telinga Diandra.


"Iya, Nek. Tapi Diandra suka kok manjanya Mas Erlan. Diandra merasa kalau Diandra selalu dibutuhkan sama Mas Erlan." Nenek Harni pun tersenyum. Seolah terpancar sebuah kebahagiaan dan keberuntungan.


"Oiya, gimana kalau kita jalan-jalan, Mah? Udah lama kita nggak jalan-jalan loh. Baby Ezra juga pasti pengen keluar rumah. Bosen dia yang diliat langit-langit rumah terus," usul Mami Hasna.

__ADS_1


"Iya, tapi Ezra belum empat puluh hari. Lagian bayi tempatnya di rumah. Dia juga belum bisa liat dengan jelas. Nanti kalau udah tiga bulan, baru kita ajak jalan-jalan." Jawaban Nenek Harni membuat Mami Hasna kecewa. Namun memang itu yang terbaik untuk Ezra yang baru berumur satu bulan.


........


__ADS_2