
Hari ini terasa sangat aneh untuk Diandra yang tidak bisa melihat Erlan di atas tempat tidur. Mungkin karena rasa cintanya mulai tumbuh, jadi Diandra merasa kehilangan Erlan walaupun sebenarnya laki-laki itu selalu membuatnya kesal.
Diandra pun mengecek ponsel dan melihat tidak ada pesan masuk dari suaminya. "Mungkin dia masih tidur ya? Jam di Inggris juga masih malam. Bisa aja dia baru sampai dan sedang istirahat." Walaupun Diandra gaptek, tetapi dia sempat bertanya pada Erlan bagaimana dia bisa mengetahui waktu di kota Inggris agar dia bisa gampang menghubungi Erlan tanpa mengganggu jam kerja dan istirahatnya.
Setelah keberangkatan Erlan, Diandra masih jadi rebutan Nenek juga Maminya untuk tidur bersama, alhasil mereka semua tidur di kamar Diandra bertiga. Sungguh membuat Diandra terkekeh jika mengingat hal tersebut.
Saat sarapan pagi juga masih dengan suasana rebutan, piring Diandra bahkan penuh karena Nenek juga Maminya melayani Diandra seperti seorang ratu saja. "Nenek ... Mami ... ini gimana Diandra mau makannya? Terlalu banyak. Perut Diandra nggak akan cukup!" kata Diandra terheran-heran.
"Mama sih ikut-ikutan,"
"Kamu itu yang harusnya ngalah sebagai anak,"
"Mana bisa begitu. Dimana-mana juga orang tua yang harusnya ngalah,"
"Mama 'kan udah tua, kamu yang muda yang ngalah dong,"
Diandra kembali memijat pelipis mendengar perdebatan kedua wanita di hadapannya. "Nek, Mi! Udah ... kita nggak akan sarapan kalau kalian terus berdebat. Diandra akan makan yang Diandra ingin makan saja, hm?" Akhirnya perdebatan itu berhenti dan sarapan pun berjalan dengan sunyi sampai tiba seorang wanita yang diundang oleh Nenek Harni datang menyapa.
Nenek Harni berencana untuk memberikan sahamnya di perusahaan pada Diandra karena Mami Hasna tidak mau berurusan dengan perusahaan, jadi saham itu akan diberikan pada Diandra, bukan Erlan. Sebenarnya Diandra menolak mentah-mentah, tetapi tentu saja sang Nenek malah marah dan mengancam akan bunuh diri saja kalau Diandra menolak pemberiannya.
"Udah, terima aja. Namanya juga rejeki," kata Mami mengiyakan.
__ADS_1
"Tapi Diandra cuma menantu di rumah ini. Mas Erlan lebih berhak, Nek. Lagian Diandra ini bukan dari keluarga yang setara dengan kalian. Pasti akan banyak pertentangan nantinya. Apalagi adik kandung Mami," kata Diandra masih ngotot untuk menolak.
Ya Diandra tahu diri pastinya sedang berada dari golongan mana karena semua orang kaya rata-rata melihat bibit, bebet dan bobot untuk dijadikan menantu. Sedangkan Diandra tidak memenuhi semua kriteria itu. Mendapatkan perhatian dan kasih sayang Nenek juga Maminya saja Diandra sudah merasa beruntung dan bersyukur.
Bagaimanapun Diandra tidak mau menerima saham lima puluh persen yang diberikan Neneknya itu. Padahal dengan kuasa tertinggi itu, dia bahkan bisa memecat suaminya karena Erlan hanya punya saham dua puluh persen dan Paman Sam yang dua puluh lima persen. Sedangkan Mami Hasna punya lima persen. Walaupun sedikit, Mami Hasna punya bagi hasil lebih dari empat puluh juta hanya untuk satu bulan saja. Kalau perusahaan sedang naik omsetnya, tentu Mami Hasna bisa mendapatkan lebih dari itu.
"Sudahlah, kamu fokus aja mempelajari apa yang di ajarkan Nona Meli ini. Dia sekertaris Nenek yang akan jadi sekertaris kamu nantinya," sahut Nenek dan Diandra hanya bisa menghela nafas panjang.
Akhirnya seharian itu Nona Meli mengajari Diandra semua hal yang berkaitan dengan perusahaan. Dia juga mengajari bagaimana menggunakan ponselnya untuk mengecek perkembangan perusahaan. Entah apa yang akan terjadi jika Erlan dan Paman Sam tahu masalah pemegang saham tertinggi itu, tetapi Diandra tidak bisa apa-apa selain menuruti apa kata Nenek juga Maminya.
...***...
"Iya maaf, Mas. Ini tadi Nenek nyuruh aku belajar biar jadi wanita mandiri dan nggak mudah dibodohi laki-laki katanya," jawab Diandra terlihat menahan tawanya.
"Astaga ... Nenek tua itu pikir aku akan membodohi kamu, apa?" protes Erlan masih dengan nada kesal.
"Ya siapa yang tahu kamu dapet perawan disitu dan buang aku, Mas!" kata Diandra langsung membuat Erlan sedih.
"Itu hal yang mustahil, Sayang. Jangankan memikirkan wanita lain, otakku ini isinya cuma nama kamu. Mana bisa aku memikirkan wanita lain. Baru satu hari saja rasanya aku akan gila jauh-jauh dari kamu,"
"Nggak usah gombal!"
__ADS_1
"Mana ada aku gombal. Kenyataannya begitu, kok!"
"Ya terserah kamu, Mas! Kamu udah makan belum, Mas?"
"Udah, tapi nggak ada yang seenak masakan kamu,"
"Haha ... dasar tukang gombal. Kalau gitu kamu cepet istirahat, Mas. Besok kita sambung lagi ya?"
"Nggak mau. Aku masih mau lihat wajah imut istriku."
"Tapi ponselku udah lowbat. Tadi aku lupa ngisi daya."
"Ya udah kalau begitu. Kamu tidur yang nyenyak ya, Sayang. Kita harus bertemu di alam mimpi dan bercinta,"
"Ya ampun otaknya kotor sekali! Mau aku bersihkan pake sapu lidi, Mas?" Belum Erlan menjawab, ponsel Diandra telah mati karena kehabisan daya. "Hah! Kasian dia," gumam Diandra setelah itu meletakkan ponselnya di atas nakas untuk di isi daya.
........
YUK MAMPIR JUGA KE NOVEL INI SAMBIL NUNGGU 🆙 MAS ERLAN DAN DIANDRA 👇
__ADS_1