Nikah Paksa Dengan CEO Kejam

Nikah Paksa Dengan CEO Kejam
Kecewa Lagi


__ADS_3

Baik Erlan maupun Diandra masih tetap diam menatap wanita yang kini sedang menyunggingkan senyum pada mereka berdua. "Hei! Kenapa kalian terkejut? Oh … Honey, kamu nggak lupa kan kalau pacar kamu ini punya kontrak kerja disini. Well … sebenarnya gue kesini bukan untuk kerja, tapi untuk …."


"Kamu bisa pergi dari sini jika tidak punya urusan lain, Nona Cherin!" sela Diandra sebelum Cherin melanjutkan bicaranya. Bukannya pergi, Cherin malah tertawa terbahak-bahak.


"Cherin! Aku udah bilang, kita nggak ada urusan lain lagi kedepannya. Kita udah selesai dan silahkan kalau kamu mau fokus dengan karir kamu!" sahut Erlan membuat Cherin semakin mengeraskan tawanya.


"Haha … Tuan Erlangga Saputra, apa anda tidak sedih telah kehilangan anak anda? Ups! Tapi tenang aja, aku akan kasih pewaris buat Nenek juga Mami tercinta kamu itu karena Cherinna ini sedang hamil anak Erlangga Saputra," jawab Cherin dengan sombongnya.


Sontak saja kabar itu membuat Erlan dan Diandra syok. Seketika tubuh Diandra tiba-tiba lemas dan hampir saja ambruk. Untungnya dengan cepat Erlan menahan tubuh Diandra.


"Haha … kenapa? Mau pingsan? Ya … sebenarnya aku kesini untuk menyelesaikan pekerjaanku supaya saat hamil besar aku nggak perlu kesini lagi. Dan … ya, aku hamil empat bulan. Kamu lihat, Honey! Perutku udah nggak rata lagi." Cherin mengusap lembut perutnya yang mulai menonjol. "Di dalam sini ada anak kita yang akan jadi pewaris kamu. Anak yang kamu idamkan itu sedang aku kandung. Udahlah … kamu cepet nikahin aku dan buang istri penyakitan seperti wanita itu! Lagian dia juga sulit hamilkan?"


Cherin menatap Diandra dengan mata melotot kemudian menyunggingkan senyum. Wajahnya benar-benar terlihat bagai pemenang. Tadinya kabar itu akan dia sampaikan setelah tiba di Indonesia dan di hadapan keluarga Erlan. Namun karena kebetulan mereka semua bertemu, jadi Cherin langsung saja menyampaikan berita itu karena tidak sabar melihat ekspresi wajah Diandra.


Tentu saja Cherin sangat bahagia dengan kehamilannya. Apalagi saat tahu kabar jika Diandra divonis endometriosis dan kemungkinan hamil sangat kecil. Cherin benar-benar mendapatkan apa yang dia mau.


"Sayang," Erlan terlihat sangat sedih saat tiba-tiba Diandra menggeser posisinya dan tidak mau disentuh. "Tolong … jangan begini. Aku … aku nggak …."


"Nggak apa, Mas!" teriak Diandra menatap Erlan dengan mata yang sudah memerah.


"Hei … kalian jangan bertengkar disini. Apa kalian nggak malu habis romantis-romantisan terus bertengkar, heh! Lucu sekali. Udah kalian balik aja ke kamar, terus langsung pulang ya? Kita akan bertemu di Indonesia, bye!" Cherin melambaikan tangannya dan pergi begitu saja. Tentu saja dengan rona wajah yang sangat bahagia.


Diandra tak kuasa lagi untuk menahan air matanya. Segera dia berlari menuju hotel. Erlan mengejar dan segera menarik tubuh Diandra ke dalam pelukannya. "Sayang, dengarkan aku! Aku bersumpah jika aku nggak pernah mengeluarkan benihku padanya. Buktinya selama lima tahun aku …." Diandra segera melepaskan pelukan Erlan dengan sangat kasar.

__ADS_1


"Apa? Kamu mau bilang selama lima tahun kamu tidur setiap hari dengan wanita itu dan baru kali ini dia hamil? Kamu sengaja buat dia hamil agar Nenek dan Mami merestui kalian bukan? Aku cuma pelarian sesaat kan? Harusnya sejak awal aku nggak perlu percaya dengan kata-kata cinta kamu itu, Mas. Aku benar-benar bodoh!" Diandra kembali melangkahkan kaki menuju hotel.


Erlan tidak bisa bicara apa-apa lagi karena akan percuma jika Diandra sedang marah. Akhirnya Erlan hanya mengekor pada istrinya karena yang membawa kartu akses masuk kamar adalah dia.


Tiba di depan kamarnya, Erlan segera membuka pintu dan begitu Diandra masuk, ia segera meraih ponsel untuk menghubungi Meli. "Sayang, dengarkan aku dulu, please!" bujuk Erlan, tetapi Diandra tidak mau mendengarkan bahkan menatap Erlan.


"Hallo, Mbak Meli ada dimana?" tanya Diandra pada Meli dalam panggilan telepon. "Oh, tolong jemput a-"


"Meli, kamu jangan dengarkan Diandra. Kita baik-baik saja dan kamu tetap di rumah!" ucap Erlan setelah merebut ponsel Diandra dan mematikan ponsel tersebut lalu membuangnya ke sembarang arah.


"Mas!" teriak Diandra kini menatap sinis suaminya.


"Sayang, please! Aku berani bersumpah demi apa pun kalau aku hanya mencintai kamu."


"Nggak! Sayang, tolong tenang dulu."


"Nggak! Aku mau pulang sekarang juga. Setelah tiba di rumah, ceraikan aku dan menikahlah dengan wanita yang mengandung anak kamu, Mas."


"Aku nggak akan menceraikan kamu, Sayang. Aku sungguh mencintaimu."


"Lalu kamu mau menyiksaku dengan hubungan antara anak kamu dengan wanita lain?"


"Sayang …."

__ADS_1


"Aku bilang aku mau pulang!" Erlan pun diam dan akhirnya memesan tiket untuk pulang. Rencana Erlan berantakan karena kedatangan Cherin. Padahal baru satu malam mereka di Paris dan masih banyak hal yang akan Erlan lakukan untuk Diandra, tetapi dengan terpaksa semua itu dibatalkan dan memilih untuk kembali ke Indonesia.


...***...


Sepanjang perjalanan, Diandra tidak bicara apa-apa lagi bahkan tidak minum ataupun makan sedikitpun. Diandra terus memalingkan wajahnya atau memilih untuk pura-pura tidur. Saat tiba di rumah, Nenek dan Maminya kebetulan sedang ke luar kota, jadi tidak tahu jika Diandra sudah pulang.


Diandra sama sekali tidak bicara sepatah katapun dan memilih untuk langsung tidur lalu menutup semua tubuhnya dengan selimut. Erlan hanya bisa mendengus pasrah melihat istrinya yang sangat kecewa.


Akhirnya Erlan meninggalkan Diandra di kamar dan pergi ke ruang kerja untuk menghubungi Jio. Tempo hari Erlan meminta Jio untuk menyelidiki Cherin karena Erlan merasa Cherin telah berhubungan badan dengan laki-laki lain, tetapi karena Erlan fokus dengan Diandra dan tumpukan pekerjaan, dia lupa akan hal itu.


Namun saat mendengar jawab Jio, Erlan semakin marah karena ternyata Jio tidak menyelidiki Cherin apakah punya hubungan dengan laki-laki lain atau tidak karena Jio merasa Erlan sudah bahagia dengan Diandra jadi hal itu tidaklah penting.


"Gila lo! Sekarang juga aku mau tahu semua tentang Cherin. Aku yakin bayi yang dikandung Cherin bukan anakku," teriak Erlan kemudian membuang semua benda yang ada di meja termasuk laptop dan beberapa berkas penting.


Erlan benar-benar merasa akan gila atas kabar kehamilan Cherin. Apalagi sikap Diandra yang semakin menyiksanya. Erlan sangat khawatir dengan kondisi Diandra. "Sialann! Bagaimana jika kondisi Diandra tiba-tiba drop gara-gara ini?" batin Erlan seraya mengepalkan kedua tangannya dan memukuli meja kerja beberapa kali. Dengan wajah yang menahan amarah, Erlan pun pergi untuk mencari bukti jika kehamilan Cherin tidak ada sangkut pautnya dengan Erlan.


........


Jangan lupa tinggalkan komentarnya.


Yuk mampir juga kesini ya sambil nunggu update, ceritanya nggak kalah seru loh 😊👇


__ADS_1


__ADS_2